Sanak Dedi sarato Sanak Sa Palanta nan Ambo Hormati Sato saya sakaki.
Jokowi/Solo dalam beberapa tahun terakhir ini memang merupakan salah satu "bintang" dalam pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah. Di luar dari berita yang dicopas dari web solopos itu, MBM TEMPO 26/XXXVIII 17 Agustus 2009 meletakkan Kota Solo di tempat teratas dari sembilan kabupaten/kota yang dipilih majalah itu sebagai bintang otonomi daerah . Sementara majalah yang sama pada tahun sebelumnya menobatkan Jokowi-teratas--dari 10 bupati atau wali kota sebagai "Tokoh Tempo" dalam tahun tersebut. Bulan April yang lalu Depdagri mengumumkan 23 pemerintah daerah tingkat provinsi, kabupaten, dan kota, yang menyabet perhargaan sebagai pemda dengan kinerja terbaik. Evaluasi yang dilakukan berdasarkan didasarkan pada Peraturan Pemerintah No 6/2008 Tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah, menggunakan 173 indikator. Indikator-indikator itu antara lain, penyusunan APBD tepat waktu, laporan keuangan daerah wajar tanpa pengecualian, pelayanan publik, peningkatan daya saing, serta dan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Solo kembali menempati tempat teratas dari 10 Kota dengan kinerja terbaik. Tetapi ada yang menarik di sini. Di antara 10 Kota dengan kinerja terbaik, ada Sawahlunto, di urutan enam, di atas Probolinggo, Mojokerto, Sukabumi dan Bogor. Yang tidak kalah menarik pula, Sawahlunto tidak hanya mewakili Sumatra Barat, tetapi juga "mewakili"seluruh provinsi di luar pulau Jawa + provinsi Banten. Walikota Sawahlunto Amran Nur, belakang ini memang sering menuai pujian, antara lain karena dianggap berhasil menjadikan Kota Sawahlunto dari Kota Arang menjadi kota wisata melalui pengembangan sarana yang tidak "mewah" dan "wah" seperti waterboom. Dengan tetap mengapresiasi tinggi pencapaian yang diperoleh Solo di bawah Walikota Jokowi, kita tidak perlu terlalu berkecil hati. Sumatra Barat sedang, sudah dan Insya Allah akan melahirkan pimpinan daerah yang visioner, inovatif dengan elan seperti Jokowi--dengan catatan siapapun yang memimpin provinsi/kabupaten/kota di Sumatra Barat ke depan tidak akan melakukannya dengan mudah, karena besarnya tantangan internal dan eksternal yang harus dihadapi Melihat ke belakang, dulu ada Pak Masriadi Martunus, mantan Bupati Kabupaten Tanah Datar yang di bawah kepemimpinannya, Kabupaten Tanah Datar dinyatakan oleh lembaga 'International Partnership' dan Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia sebagai satu dari tujuh kabupaten terbaik dari 400 lebih kabupaten dan kota di Indonesia. Bahkan LIPI menobatkan kabupaten terkecil di Sumbar itu sebagai satu dari empat daerah paling berprestasi dan berhasil melaksanakan otonomi daerah. Pak Gamawan Fauzi--terutama sewaktu masih menjadi Bupati Kabupaten Solok prestasinya juga cukup mengkilap atas upaya kerasnya menerapkan pemerintah yang bersih dan tata pemerintahan yang baik selama dua periode jabatan di kabupaten yang dipimpinnya. Atas prestasinya itu, beliau dan dan Koordinator Forum Peduli Sumatera Barat Saldi Isra, menerima anugerah Bung Hatta Anti Corruption Award dalam tahun 2004. Mantan Bupati Kabupaten Agam Bupati Agam Aristomunandar juga melakukan beberapa terobosan dalam pembangunan perekonomian nagari. Beliau, antara lain, memperoleh PERFORM Award karena perhatian dan dukungan beliau terhadap pemberdayaan pengrajin sulaman di Ampekangkek. Gagasan dan insiatif beliau membangun BMT Nagari, IMHO, sangat fenomenal. Walaupun belum pernah mendapat penghargaan resmi, langkah strategis yang dilaksanakan Walikota Padangpanjang waktu ini Suir Syam melalui pembebasan biaya pendidikan sampai tingkat SLTA serta pengasuransian seluruh warganya untuk memperoleh layanan kesehatan gratis pada sejumlah rumah sakit dan puskesmas di daerah itu, tentu pula tidak dapat dipandang dengan setengah mata. Kalau ditarik lebih ke belakang lagi ada Pak Azwar Anas, yang ketika menjabat gubernur, menjadikan Sumatra Barat satu-satunya provinsi di luar Pulau Jawa yang pernah menyabet penghargaan 'Parasamya Purnakarya Nugraha' yang merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan negara kepada provinsi semasa 'orde baru' yang pelaksanaan Pembangunan Lima Tahunnya dinilai paling berhasil. Akan tetapi saya yakin penghargaan tersebut akan tidak akan pernah dapat diperoleh tanpa adanya Gubernur Harun Zain yang memimpin Sumatra Barat sebelumnya. Output beliau memang bukan sesuatu yang 'tangible', tetapi beliau sangat berjasa dalam merajut kembali modal sosial masyarakat Sumatra Barat yang 'terkoyak' pascaperistiwa PRRI. Dan itu beliau lakukan dalam kesulitan yang tinggi. Pak JK, seperti dikutip Padang Today Kamis, 16/09/2010, tidak ragu mengatakan bahwa Harun Zain adalah salah satu bukti bahwa Sumbar memiliki SDM yang bagus dan bisa diandalkan untuk kemajuan Sumbar ke depan. Last but not least, mantan Bupati Padang Pariaman Anas Malik tentunya tidak dapat ditinggalkan jika berbicara mengenai tokoh-tokoh yang pernah dan berhasil memimpin di Sumatra Barat. Rasanya tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Pak Harun Zain pantas--minimal--memperoleh hadiah Magsaysay untuk perdamaian, sedangkan Pak Anas Malik untuk lingkungan hidup. Wallahualam bissawab Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 68-), asal Padangpanjang, tinggal di Depok . <http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/144492;_ylc=X3oDMTJzZzM4cnR nBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzExMjAxMjcEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MzI5NzI5BG1zZ0lkAzE0NDQ 5MgRzZWMDZG1zZwRzbGsDdm1zZwRzdGltZQMxMzA2ODE1MTAy> [R@ntau-Net] Solo Memang Beda Posted by: "Dedi Nofersi" <mailto:[email protected]?Subject=%20Re%3A%20%5BR%40ntau-Net%5D%20Solo%20Me mang%20Beda> [email protected] Mon May 30, 2011 7:22 pm (PDT) Assalamu'alaikum dunsanak sapalanta. Manonton Joko Widodo (Jokowi) si Walikota Solo di Metro-TV, yo tamanuang awak deknyo. Sambia mangkayalkan kalau saandainyo ado pulo nan bantuak baliau di kampuang kito. Mudah-mudahan sajo adolah handaknyo, mumpung kan masih angek dek karano masih banyak nan baru jadi Gubernur, Wali, dan Bupati. Ambo yakin banyak diantaro kito nan sato manonton acara "MTN" nan Hostnyo Tanri Abeng tu, jo bintang tamunyo Jokowi Kito berharap baliau-baliau tu bisa mampabaharui niat (renew mission statement) nyo sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. (note: jan abdy bahaso Aceh nan artinyo "makan"). Dibaruah ambo copas carito dari web solopos. <http://edisicetak.solopos.com/berita.asp?kodehalaman=h29&id=113628> http://edisicetak.solopos.com/berita.asp?kodehalaman=h29&id=113628 Wassalam, ///// Dedi N - 49"In Islam has a peaceful and happiness" Asal: Kotogadih, Sunua, Kurai Taji, Pariaman. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
