Bab 10 : APAKAH DAJJAL ITU ORANG ATAUKAH BANGSA ? 

Memang benar bahwa kebanyakan Hadits menggambarkan seakan-akan Dajjal itu orang 
yang bermata satu, yang di dahinya terdapat tulisan Arab yang terdiri dari 
huruf kaf, fa' dan 
ra' (atau kafara, artinya kafir), dan yang membawa keledai, sungai dan api. 
Tetapi jika 
Hadits-hadits itu kita cocokkan dengan uraian Al-Qur'an, maka akan nampak 
dengan 
jelas, bahwa Dajjal bukanlah nama orang, melainkan suatu bangsa, atau lebih 
tepat lagi, 
segolongan bangsa. 
 
Dengan tegas Al-Qur'an mempersamakan Dajjal dengan bangsa-bangsa Kristen, dan 
lagi, 
Al-Qur'an menyatakan bahwa Dajjal dan Ya'juj wa-Ma'juj bukanlah dua jenis 
makhluk yang 
berlainan, karena fitnah yang ditimbulkan oleh mereka itu disebutkan 
bersama-sama. 
 
Kami juga mempunyai bukti dari kitab Bible yang menerangkan, bahwa Ya'juj 
wa-Ma'juj 
adalah bangsa-bangsa Eropa. Dengan demikian teranglah bahwa Dajjal juga berarti 
bangsa. Sebagaimana telah kami terangkan di muka, fitnah Dajjal itu bersumber 
pada 
menangnya agama Kristen. 
 
Ada sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang membuktikan bahwa 
Dajjal 
itu bukan orang melainkan bangsa, sebagaimana Roma dan Persi yang diuraikan 
dalam 
Hadits itu bukanlah tempat melainkan bangsa. Hadits itu berbunyi sbb:
 
"Rasulullah SAW bersabda: Kamu akan bertempur dengan Jazirah Arab, dan Allah 
akan 
memberi kemenangan kepada kamu, lalu kamu akan bertempur dengan Persi, dan 
Allah 
akan memberi kemenangan kepada kamu; lalu kamu akan bertampur dengan Roma, dan 
Allah akan memberi kemenangan kepada kamu; lalu kamu akan bertempur dengan 
Dajjal, 
dan Allah akan memberi kemenangan kepada kamu".
 
Di sini pertempuran dengan Dajjal diuraikan dengan kalimat yang sama seperti 
pertempuran dengan Arab, Persi dan Roma. Ini menunjukkan bahwa Dajjal adalah 
bangsa, 
seperti halnya Arab, Persi dan Roma. Boleh jadi yang diisyaratkan di sini ialah 
Perang 
Salib, tetapi mungkin pula mengisyaratkan peristiwa yang terjadi di dunia pada 
zaman 
sekarang. Namun satu hal sudah pasti, yakni bahwa menurut Hadits ini, Dajjal 
berarti 
bangsa atau segolongan bangsa; seperti halnya Persi atau Roma.
 
Tetapi masih saja harus dijelaskan, mengapa dalam Hadits dijelaskan seakan-akan 
Dajjal 
itu orang. Sebagaimana telah kami terangkan, semua ramalan Nabi Suci itu 
didasarkan 
pada ru'yah atau kasyaf (visiun), dan dalam ru'yah atau kasyaf, suatu bangsa 
hanya 
digambarkan sebagai orang-seorang. Sebenarnya, bangsa itu dikenal dari 
ciri-cirinya; dan 
dalam ru'yah, ciri-ciri ini hanya dapat diperlihatkan dalam bentuk 
orang-seorang. Bahkan 
dalam bahasa sehari-hari, bangsa itu diajak bicara bagaikan orang. Misalnya, 
Al-Qur'an 
mengajak bicara bangsa Israil, seakan-akan bangsa Israil itu orang. Bacalah 
misalnya, 
ayat Al-Qur'an berikut ini:
 
"Wahai kaum Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang Aku berikan kepada kamu, 
dan 
bahwa Aku memuliakan kamu di atas sekalian bangsa" (2:47).
 
Kaum Bani Israil yang diperingatkan di sini ialah mereka yang hidup pada zaman 
Nabi 
Muhammad SAW, tetapi peristiwa yang dimaksud ialah yang terjadi pada zaman nabi 
Musa, atau beberapa abad sesudah beliau. Kenikmatan yang teruraikan dalam ayat 
ini 
telah diberikan, kepada kaum Bani Israil zaman dahulu, tetapi ayat Al-Qur'an 
ini ditujukan 
kepada kaum Bani Israil zaman sekarang yang sedang dalam keadaan hina dan 
suram. 
Tetapi seluruh kaum Bani Israil ini dikatakan bagaikan satu orang. 
 
Demikianlah seluruh bangsa Dajjal diperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam 
ru'yah bagaikan satu orang, padahal Dajjal seperti yang digambarkan oleh 
Al-Qur'an 
menunjukkan bahwa Dajjal adalah segolongan bangsa yang ciri-ciri khasnya sudah 
dikenal.

Barang siapa hafal sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir Surat Al-Kahfi
ia akan selamat dari (fitnahnya) Dajjal 

 

Bab 11 : GAMBARAN DAJJAL MENURUT AL-HADITS 

Segala macam keistimewaan yang kami lihat pada peradaban Barat sekarang ini, 
semuanya cocok dengan ciri-ciri Dajjal yang dilihat oleh Nabi Muhammad SAW 
dalam 
ru'yah. Memang benar bahwa bangsa-bangsa ini mempunyai sedikit perbedaan satu 
sama 
lain, tetapi ada satu hal yang semuanya sama. Dan ciri yang sama inilah yang 
digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam memberi gambaran tentang Dajjal. 
 
Kami hanya akan mengutip Hadits-hadits yang menguraikan ciri-ciri Dajjal. 
Marilah kita 
mulai dengan Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari :
 
1. "Dan aku melihat orang yang berambut ikal pendek, yang mata-kanannya buta 
Aku 
bertanya: Siapakah ini? Lalu dijawab, bahwa ia adalah Masihid - Dajjal" 
(Bukhari 77:68,92)
 
2. "Awas! dia pecak (buta sebelah)… dan diantara dua matanya, tertulis 
'Kafir'…" (Bukhari 
93:27).
 
Dari gambaran tersebut dapatlah kami catat:

1. Bahwa mengenai bentuknya, Dajjal digambarkan berbadan kekar. 

2. Bahwa roman-mukanya putih dan mengkilat.

3. Bahwa rambut kepalanya pendek dan ikal.
 
Tiga gambaran ini cocok sekali derigan bentuk orang-orang Eropa pada umumnya. 
Mereka 
itu pada umumnya berbadan kekar; bertubuh baik dan kuat; rambutnya pendek dan 
ikal, 
sampai-sampai wanitanya pun memotong pendek rambutnya; kulit mereka putih dan 
mengkilat. Jadi, gambaran tentang ciri-ciri Dajjal tersebut, cocok sekali 
dengan 
perwujudan orang-orang Eropa.
 
Adapun dua ciri lainnya, yakni, bahwa mata kanan Dajjal buta, dan pada dahinya 
tertulis 
kaf, fa'dan ra' atau kaflr, ini menggambarkan keadaan rohani Dajjal yang 
sebenarnya. 
Sebagaimana telah kami terangkan, Dajjal menggambarkan suatu bangsa. Sebagai 
bangsa, tak mungkin semuanya buta mata jasmaninya. 
 
Selain itu, Dajjal yang digambarkan buta mata kanannya, mata-kiri Dajjal 
digambarkan 
bersinar gemerlapan bagaikan bintang. Dengan perkataan lain, mata-kanan Dajjal 
digambarkan hilang cahayanya, tetapi mata-kirinya bersinar terang. Penjelasan 
yang 
diberikan oleh Imam Raghib tentang mata Dajjal yang buta sebelah kanannya, 
sungguh 
ilmiyah sekali. Pada waktu menjelaskan arti kata al-Masih, beliau menerangkan 
bahwa 
kata masaha berarti menghapus sesuatu, lalu beliau menambahkan keterangan sbb:
 
"Diriwayatkan bahwa mata-kanan Dajjal hilang penglihatannya, sedangkan nabi 
'Isa mata-
kiri beliaulah yang hilang penglihatannya; dan ini berarti bahwa Dajjal tak 
mempuyai sifat-
sifat akhlak tinggi, seperti misalnya kearifan, kebijaksanaan dan rendah hati; 
sedangkan 
nabi 'Isa tak mempunyai kejahilan, keserakahan, kerakusan dan sebagainya yang 
termasuk jenis akhlak yang rendah".
 
Jadi, gambaran Dajjal buta mata-kanannya janganlah ditafsirkan secara harfiyah, 
melainkan secara kalam ibarat, yakni harus diartikan bahwa Dajjal tak mempunyai 
akhlak 
yang baik.
 
Bahwa dua mata manusia itu, yang satu digunakan untuk melihat hal-hal yang 
berhubungan dengan kerohanian dan agama, dan yang satu lagi digunakan untuk 
melihat 
hal-hal yang berhubungan dengan kebendaan dan keduniaan. Oleh karena hal-hal 
yang 
berhubungan dengan agama dan kerohanian itu lebih tinggi kedudukannya daripada 
hal-hal 
yang berhubungan dengan kebendaan dan keduniaan, maka buta mata kanan Dajjal 
berarti bahwa Dajjal sedikit sekali perhatiannya terhadap hal-hal yang 
berhubungan 
dengan agama atau kerohanian, dan ini cocok sekali dengan apa yang dialami oleh 
bangsa-bargsa Eropa sekarang ini. 
 
Seluruh parhatian mereka ditujukan kepada hal-hal yang berhubungan dangan 
kebendaan 
dan keduniaan dan kemajuan mereka dalam bidang ini tak ada bandingannya. Inilah 
yang 
dimaksud dengan apa yang diuraikan dalam Hadits, bahwa mata-kiri Dajjal 
bersinar 
gemerlapan bagaikan bintang. Artinya, Dajjal mampu melihat segala macam barang-
barang duniawi, yang bangsa-bangsa lain tak mempunyai pengertian tentang itu. 
Tetapi 
mata rohani Dajjal tak mempunyai penglihatan yang tajam, karena semua kekuatan 
Dajjal 
dihabiskan guna kepentingan urusan duniawi. Sukses Dajjal yang tak ada taranya 
dalam 
urusan duniawi mengakibatkan buta sebelah. Penjelasan ini sungguh mengagumkan 
dan 
cocok sekali dengan apa yang dikatakan oleh Al-Qur'an tentang bangsa-bangsa 
Kristen:
 
"Orang-orang yang usahanya menderita rugi dalam kehidupan dunia, dan mereka 
mengira 
bahwa mereka amat pandai dalam membuat barang-barang" (18:104)
 
Hadits Nabi melukiskan hal ini dengan kalam ibarat, bahwa mata kiri Dajjal, 
yaitu, mata-
duniawi bersinar gemerlapan bagaikan bintang. Adapun keadaan rohani 
bangsa-bangsa 
Dajjal Allah berfirman sbb:
 
"Mereka adalah orang-orang yang mengkafiri ayat Tuhan, dan (mengakhiri) 
perjumpaan 
dengan Dia" (18 : 105).
 
Hadits Nabi menjelaskan hal ini dengan caranya sendiri, yaitu, bahwa mata-kanan 
Dajjal 
tak mempunyai kekuatan untuk melihat ayat Tuhan.
 
Tanda Dajjal yang lain, yakni tulisan kafara atau kafir pada dahinya ini 
berkenaan pula 
dengan keadaan rohaninya. Jika orang berkata, bahwa pada dahi seseorang 
terdapat 
tulisan anu, ini sama artinya dengan mengatakan, bahwa anu itu adalah fakta 
senyata-
nyatanya bagi dia. Maka dari itu, uraian Hadits bahwa pada dahi Dajjal terdapat 
tulisan 
kafir, ini hanyalah berarti bahwa kekafiran itu merupakan kenyataan yang 
senyata-
nyatanya bagi dia. 
 
Kata-kata Hadits itu sendiri sudah menerangkan; bahwa demikian itulah nyatanya. 
Pertama-tama, Hadits menerangkan bahwa tiap-tiap mukmin dapat membaca tulisan 
itu; 
jadi bukan tiap-tiap orang dapat membaca tulisan itu. Lalu ditambahkan kata 
penjelasan 
tentang orang mukmin itu, yakni, "baik ia buta huruf atau mengerti tulis 
menulis." Artinya, 
tiap-tiap orang mukmin dapat memahami tulisan itu, baik ia mengerti 
tulis-menulis atau 
tidak. 
 
Sudah terang, bahwa tulisan yang dapat dibaca oleh tiap-tiap orang mukmin, baik 
ia 
mengerti tulis-menulis atau buta huruf, tak mungkin berwujud kata-kata atau 
huruf. Jika 
tulisan itu berwujud kata-kata atau huruf, niscaya tak dipersoalkan lagi apakah 
pembacanya mukmin atau kafir, demikian pula tak perlu dinyatakan bahwa orang 
mukmin 
dapat membaca tulisan itu sekalipun ia buta-huruf. 
 
Kepandaian membaca tulisan, tak ada sangkut pautnya dengan urusan iman. Setiap 
orang yang tak buta huruf pasti dapat membaca tulisan, sedangkan orang buta 
huruf, 
sekalipun ia orang mukmin sejati, ia tetap tak dapat membaca tulisan. Oleh 
karena itu, 
tulisan yang dimaksud bukanlah tulisan biasa, melainkan menifestasinya 
perbuatan 
seseorang. Pernyataan bahwa tulisan itu hanya dapat dibaca oleh orang mukmin 
saja, ini 
berarti, bahwa orang kafir tak pernah sadar akan kekafirannya, sehingga 
membutuhkan 
mata orang mukmin untuk membaca buruknya kekafiran mereka.
 
Barang siapa hafal sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir Surat Al-Kahfi
ia akan selamat dari (fitnahnya) Dajjal 
 
Bersambung ke bab 12
 
Billahil hidayah wat taufiq
 
Wassalam
 
St. Sinaro

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke