Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

KERETAPI, RIWAYATMU DULU (2)
 
Lokomotipnya
berwarna hitam kelam. Hitam pekat. Kalau sedang berjalan dia mengepulkan asap
yang juga berwarna hitam pekat. Masyarakat menyebutnya kepala keretapi. Di
bagian bawahnya berjejer 6 pasang roda besi. Ada diantara roda besi itu yang 
tidak
menyentuh rel tapi berputar menarik-ulur sebatang tuas. Di bagian belakang
kepala keretapi itu terdapat kabin untuk masinis dan stokar. Ada beberapa buah 
panel (entah berapa
jumlahnya) di dalam kabin itu. Ada kemudi dengan bulatan lebih kecil dari 
bulatan setir
mobil. Ada tuas rem. Ada tangkai tuter yang tergantung ke langit-langit yang
kalau ditarik akan terdengar bunyi cuitan melengking. Di bagian depan kabin itu
ada tungku besar. Secara berkala stokar
memasukkan batubara ke dalam tungku berapi itu. Di sebelah depan kabin masinis
ada ketel air besar. Ketel itu diisi air dari pancuran yang tersedia di stasiun
besar, seperti stasiun Bukit Tinggi.  Bagian
sebelah depan (rasanya bukan semuanya merupakan ketel) berdimensi bulat
memanjang, dengan tiga buah tonjolan ke arah atas. Tonjolan paling depan adalah
cerobong asap yang tidak berhenti mengepulkan asap hitam.
 
Adatiga generasi kepala keretapi yang terlihat di atas rel antara Padang sampai 
Paya Kumbuh
di tahun-tahun terakhir keberadaan keretapi uap itu di Negeri Awak. Generasi
pertama bertahun pembuatan sebelum tahun 1900. Sosoknya lebih kecil dan lebih
ramping. Dengan kata lain, kelasnya memang lebih ringan. Ciri lainnya adalah
cerobong asapnya yang lebih tinggi.  Dan
suara lengkingan cuitnya keras dan kecil menyelekit. Di tahun-tahun 60an, jenis
ini masih beroperasi tapi hanya di sekitar Padang. Untuk mendaki di Lembah Anai
sepertinya sudah tidak dipercaya.
 
Generasi
kedua bertahun pembuatan sesudah tahun 1900an. Ada yang tahun 1902, 1905 dan 
1908.
Penampilannya lebih gemuk. Mungkin juga cc nya (kalau istilah mobil) lebih besar
dari generasi pertama. Cerobong asapnya
lebih rendah, sama tinggi dengan dua tonjolan lain (entah apa fungsi kedua
tonjolan lain ini). Cuitannya kurang melengking dibandingkan dengan yang
pertama tadi. Dengusannya waktu mulai bergerak ‘menakutkan’ disertai dengan
hembusan uap putih ke kiri dan ke kanan, terlebih-lebih ketika menarik beban
lebih berat. Dengusan berat itu juga dikeluarkannya ketika tertatih-tatih 
mendaki
pendakian Dama (dengan rel bergigi) antara Padang Tarok dan Baso atau di
pendakian Koto Baru arah ke Padang Panjang. Melihat keretapi yang
mendengus-dengus itu menyesakkan nafas sementara orang. Sehingga orang itu
disindir, keretapi yang mendaki, kenapa nafas awak yang sesak.
 
Yang
terakhir adalah generasi yang jauh lebih muda, kelahiran tahun 60 an. Mirip
dengan yang kedua. Bedanya, cerobong asapnya tidak berbentuk bulat tapi sedikit
menyerupai kotak persegi. Persegi yang dihaluskan tentu saja. Jenis ini tidak
‘mencuit’ tapi ‘menggerang’ karena bunyi tuternya bernada ‘ooongngng’. Generasi
terakhir ini datang bersamaan dengan gerbong baru sebagai pampasan perang dari
Jepang. Karena kedatangannya berdekatan waktunya dengan penyelenggaraan Ganefo
di Jakarta, keretapi berloko baru dan bergerbong baru itu dijuluki keretapi
Ganefo. Keretapi ini dijalankan pulang pergi antara Paya Kumbuh dan Padang 
dalam sehari.
Sementara keretapi regular dari Bukit Tinggi ke Padang diperjalankan satu arah 
dalam sehari.
 
Gerbong
kereta yang oleh masyarakat disebut daresi (agak-agaknya berasal dari bahasa
asing, mungkin bahasa Belanda) ada bermacam-macam ukuran. Semua bercat hijau
tua di bagian luar. Ada yang agak panjang dan ada yang lebih pendek. Di atas 
pintu masuk tertempel
pelat menunjukkan kapasitas tempat duduk yang tersedia di dalam daresi itu.
Dinding dan bagian dalam semua terbuat dari kayu. Begitu juga dengan
bangku-bangku tempat duduk. Bagian dalam daresi dibedakan untuk kelas dua dan
kelas tiga. Kelas dua dengan bangku berorientasi menghadap ke depan dan ke
belakang berhadap-hadapan. Tempat duduknya dari anyaman rotan. Di dalam daresi 
jenis
ini ada peturasan atau kakus. Daresi kelas tiga mempunyai tiga jejer bangku
memanjang. Dua bangku dengan sandaran ke dinding di kedua sisi daresi dan satu
bangku lagi di tengah tanpa sandaran. 
 
Gerbong keretapi Ganefo adalah seperti gerbong yang
kita lihat sekarang. Semua sama panjangnya dan semua tempat duduknya menghadap
kedepan atau ke belakang berhadap-hadapan.
 
Di
tahun-tahun terakhir sudah tidak ada perbedaan kelas. Penumpang boleh naik ke
daresi mana saja. Di daresi dengan bangku memanjang (bekas kelas tiga), bangku
di tengah yang tanpa sandaran seringkali jadi tempat meletakkan barang dagangan
para pedagang. Di atas tempat duduk ada pula rak tempat meletakkan barang.
Daresi ini mempunyai jendela kayu yang bisa ditutup. Biasanya ditutup dengan
menurunkan daun jendelanya kalau hari hujan. Pintu masuk ke ruang penumpang
terletak di kedua ujung daresi. Sebelum masuk ke ruang penumpang ada bordes 
dengan anak tangga  di kedua sisinya
pula. Di
bordes bagian luar yang dibatasi oleh pagar besi ada tuas rem. Ada dua macam
tuas rem. Tuas panjang yang ditarik melengkung pada sumbunya dan tuas berupa
engkol yang dapat diputar.  Di setiap daresi
ada seorang petugas tukang rem, yang akan melakukan tugasnya sesuai dengan kode
dari masinis melalui cuitan.
 
Rangkaian
keretapi juga membawa gerbong barang. Biasanya disebut gerobak. Gerobak ini
terbuat dari besi. Pintunya di tengah-tengah dan ukuran pintunya besar. Tidak
ada bangku tempat duduk di dalamnya. Bedanya lagi, setiap gerobak hanya
mempunyai satu bordes, yang juga dilengkapi dengan tuas rem. Gerobak khusus
untuk membawa batu bara berbeda lagi bentuknya. Jenis ini lebih menyerupai bak
atau kotak persegi tanpa atap. Ada lagi pula gerobak tanpa dinding dan tanpa 
atap. Jadi hanya berupa sebuah dek.
Entah untuk apa kegunaannya.
 
Urut-urutan
rangkaian yang umum adalah kepala keretapi di depan, diikuti dengan rangkaian
beberapa buah daresi lalu dibagian paling belakang diletakkan beberapa buah
gerobak. Di stasiun tujuan, sebelum kembali ke stasiun asal kepala keretapi
tentu harus pindah posisi, agar tetap berada di depan. Pada waktu itu lokomotip
ini akan memindahkan juga posisi gerobak-gerobak kebagian belakang. Pekerjaan
memindahkan ini disebut langsir. Lokomotip sibuk maju mundur mengatur ulang
rangkaiannya.
 
Adabeberapa macam tempat pemberhentian keretapi. Yang
paling kecil namanya stoplat. Disini ada loket tempat membeli karcis dan
ruangan tunggu kecil. Dan pelataran peron, ditembok, tempat penumpang menaiki
kereta. Di Biaro dekat kampungku ada stoplat.
 
Pemberhentian
kedua dinamai stasiun kecil. Disini ada rel ganda. Fungsi utamanya untuk 
memfasilitasi
dua rangkaian keretapi berselisih. Satu rangkaian bisa menunggu di rel kedua 
ketika
rangkaian lain lewat. Karena ada rel ganda maka di stasiun kecil kepala kereta
bisa langsir. Ciri lain, stasiun kecil mempunyai tiang bendera sinyal. Kereta
baru boleh memasuki stasiun kalau bendera merah sudah naik. Kalau belum maka
keretapi itu harus menunggu. Contoh stasiun kecil ini adalah Tanjung Alam
 
Berikutnya
adalah stasiun menengah. Contohnya stasiun Baso. Sama seperti stasiun kecil,
disini juga ada rel ganda bahkan ada beberapa buah. Diantaranya tempat 
meletakkan
atau memarkir daresi atau gerobak yang tidak ikut ditarik. Ciri lain, stasiun
menengah mempunyai pancuran air tempat menambah persedian air dalam ketel uap.
Dan biasanya di komplek stasiun ada restoran kecil. 
 
Lalu ada stasiun besar. Tentu saja yang lebih besar
dari stasiun menengah. Banyak daresi dan gerobak disini. Lokomotip mangkal
disini di waktu malam. Dan ada lebih dari satu lokomotip. Stasiun Bukit Tinggi
adalah stasiun besar. Kami mengenalnya dengan nama stasiun gadang.
 
Berikutnya,
stasiun yang lebih besar lagi dan merangkap bengkel. Contohnya yang di Padang
Panjang.
 
Untuk
menompang keretapi, penumpang harus membeli karcis. Seharusnya setiap penumpang
punya jatah tempat duduk meski tidak ditandai di karcis. Tapi adakalanya
penumpang keretapi itu penuh sesak. Terutama pada hari-hari pekan. Boro-boro
dapat tempat duduk, banyak penumpang yang terpaksa berdiri bahkan sampai di
bagian luar daresi atau di bordes. Bahkan ada yang kebagian sekedar tempat
berpijak alakadarnya dan tempat bergantung alakadarnya. Tidak terlalu masalah
karena jarak yang akan ditempuh tidak terlalu jauh. Karena sudah 
berselingkit-pingkit ini mulai ada yang
malas membeli karcis. Ketika diperiksa kondektur, dibayar saja langsung ke
kondektur. Dengan uang. Kondektur itu ternyata senang-senang saja. Maka di
hari-hari pekan, tangan kondektur menggenggam uang kertas setumpuk besar.
 
Ketika
turun dari kereta, karena rangkaian cukup panjang, ada resiko penumpang turun
cukup jauh dari stoplat. Cukup jauh dari jalan menuju kerumah masing-masing.
Yang tidak sabaran belajar turun ‘talen’. Artinya meloncat turun ketika kereta
masih berlari cukup kencang. Anak-anak muda biasanya menyenangi atraksi ini.
Beradu berani siapa yang paling jagoan turun talen. Yang paling hebat yang
mampu turun persis di depan stoplat. Perlu latihan untuk mampu turun talen. Dan
perlu keberanian tentu saja.
 
Anak
muda yang talen-talen itu jarang yang membeli karcis. Mula-mula mereka membeli
tiket berlangganan atau abonemen. Ketika kondektur menanyakan karcis, cukup
menjawab abonemen sambil menunjukkan tiket abonemen itu.  Kondektur tidak 
menanya lebih jauh. Tapi
adakalanya kondektur memeriksa lebih teliti. Ketahuanlah bahwa abonemen itu
sudah kadaluarsa berbulan-bulan. Paling-paling kalau ketahuan seperti itu anak
muda talen itu membayar dengan uang tunai. Uang yang biasanya dipakai untuk
membeli rokok.
 
Parapelanggan atau penumpang rutin keretapi sering mempunyai ciri agak
khas. Bajunya bolong-bolong, bekas terbakar pecahan bara. Resiko yang juga
sering dihadapi penumpang kelas bordes (yang jarang membeli karcis) adalalah
kelilipan pecahan bara. Matapun merah karenanya.
 
 
                                                                        *****
 
Wassalamu'alaikum
 
Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H, 
Jatibening - Bekasi


________________________________
From: sjamsir_sjarif <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, June 5, 2011 12:24 AM
Subject: [R@ntau-Net] Re: KA Legendaris "Mak Itam" Ramaikan Tour de Singkarak

Angku Riri, 

Ambo caliak Iko ado gambar-gambar Mak Itam dari Ambarawa.
http://www.internationalsteam.co.uk/ambarawa/locos.htm

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke