Putu Setia adalah mantan wartawan Tempo , yang banyak  menulis tentang masalah 
sprituil , dihari tua beliau ditasbihkan menjadi Pemangku dan meninggalkan 
kehidupan duniawi . Ada satu lagi tulisannya yang pernah dimuat di Tempo 
Interaktif mengenai pandangannya tentang keberadaan Ahmadiah di Indonesia . 
Bisa dilihat di : 


http://www.tempointeraktif.com/hg/carianginKT/2011/02/13/krn.20110213.227018.id.html?page=3

ZulAmry Piliang , 62 th 9 bln +..



________________________________
Dari: Darwin Chalidi <[email protected]>
Kepada: Rantau Net <[email protected]>
Dikirim: Kamis, 9 Juni 2011 7:34
Judul: [R@ntau-Net] Pancasila Sabtu, 28 Mei 2011 | 23:48 WIB By Putu Setia 
(Dari Bali)


Sanak Palanta RN, ambo tertarik pulo coppas dari milis tetangga mengenai 
Pancasila dari wong Bali

Pancasila
Sabtu, 28 Mei 2011 | 23:48 WIBPutu Setia 

Menjelang 1 Juni, orang sibuk bicara Pancasila sebagai dasar negara. Pekan 
lalu, Mahkamah Konstitusi menjadi tamu para petinggi negara yang membicarakan 
betapa pentingnya kelahiran Pancasila diperingati.

Apakah ini juga buah reformasi? Pada masa Orde Baru, Soeharto tak sudi 
merayakan kelahiran Pancasila karena lebih tertarik pada kesaktian 
Pancasila--padahal semua orang tahu tak ada yang sakti kalau tak pernah 
dilahirkan. 
Namun di era reformasi pula Pancasila mulai dilupakan, setidaknya pengamalannya 
luntur. Pancasila tak lagi diajarkan secara khusus, sehingga para rektor di 
Jawa Timur meminta agar Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) 
diajarkan kembali.

Saya setuju Pancasila diajarkan, tapi kurang sreg P4 dihidupkan, meskipun saya 
alumnus penataran P4 tingkat nasional angkatan ke-145. P4 penafsirannya terlalu 
mutlak dan kurang menghargai dialog. Tapi itu urusan Ketua MPR, Ketua DPR, 
presiden, dan petinggi lainnya.

Yang hendak saya katakan, pengamalan Pancasila sudah jauh merosot. Sekarang ini 
perikehidupan--ini bahasa penataran--menyimpang dari Pancasila, baik di tingkat 
elite maupun lapisan bawah. Yang banyak diamalkan justru "Pancasala". Sala, 
seperti halnya sila, adalah bahasa Jawa kuno yang artinya salah. "Lima 
kesalahan" inilah yang kini banyak diamalkan.

Apakah itu? 
Sala pertama: keuangan yang mahakuasa. Uanglah yang membuat orang berkuasa dan 
mempertahankan kekuasaan. Untuk menjadi bupati, gubernur, presiden, dan wakil 
rakyat perlu uang. Menjadi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia saja perlu 
miliaran uang untuk menyogok wakil rakyat. Menurut akal sehat, tak masuk akal, 
bagaimana mengembalikan uang itu dengan gaji yang diperoleh? Tapi itu yang 
terjadi, korupsi semakin marak. Memalukan luar biasa.

Sala kedua: kemanusiaan yang batil dan biadab. Menurut kamus, batil artinya tak 
benar. Banyak perilaku kita yang tak benar dan kebiadaban terjadi di mana-mana. 
Teroris menjadi ancaman, perampok seenaknya menembak tewas polisi, rumah ibadah 
dirusak dengan beringas. Antara Mahfud Md. dan Muhammad Nazaruddin, siapa yang 
batil? Meski secara "perasaan" gampang ditebak--yang kabur biasanya tak 
benar--secara hukum, perdebatannya panjang. Ini skandal moral.

Sala ketiga: perseteruan Indonesia. Orang gampang berseteru. Buaya berseteru 
dengan cicak, es lilin berseteru dengan es kopyor. Andi Mallarangeng berseteru 
dengan Nazaruddin, Muchdi Pr. berseteru dengan Suryadharma Ali. Padahal 
semuanya satu partai dan semuanya bicara partainya solid. Memilih Ketua Umum 
PSSI saja ributnya setengah modar, padahal siapa pun yang terpilih tak akan 
membuat Indonesia juara dunia. Ini memprihatinkan.

Sala keempat: kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah keraguan dalam 
permusyawaratan semu. Semua langkah yang diambil berdasarkan keraguan. 
Menaikkan harga Premium takut, tapi tetap mengimbau pemilik mobil membeli 
Pertamax. Petinggi partai semua ngomong: koalisi solid, tak ada perpecahan, 
nyatanya itu semu. Ini memuakkan.

Sala kelima: kesenjangan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ini tak perlu 
diulas, capek. Wakil rakyat membuat gedung mewah, anak-anak rakyat--yang jadi 
ketua rakyat--gedung sekolahnya roboh. Gaji wakil rakyat Rp 54 juta--di luar 
komisi proyek, uang reses, sangu studi banding, dan penghasilan makelar 
anggaran--sementara gaji guru honorer, termasuk yang mengajarkan Pancasila, Rp 
200 ribu.

Pertanyaan untuk elite kita: betulkah kalian mau kembali ke dasar negara 
Pancasila kalau kenyataan yang kalian amalkan "Pancasala"? Beri teladan dong, 
jangan omong doang

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke