Padang Today, Pendapat Pembaca, Kamis, 02/06/2011 - 11:31 WIB Oleh : Zulfadli
http://www.padang-today.com/?mod=opini&today=detil&id=410 Dalam perjalanan sejarah masyarakat Minangkabau mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan proses kemerdekaan Indonesia. Sederet intelektual yang berasal anak halal rahim Minang berkontribusi besar dalam transformasi menuju Indonesia merdeka. Sebut saja seperti Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Agus Salim, M Yamin, Syafruddin Prawiranegara. Ironisnya, peran yang dimainkan oleh para tokoh yang berasal dari rahim Minangkabau tersebut, tidak berbanding lurus terhadap peran yang mereka dapatkan setelah pencapaian Indonesia merdeka. Mereka dianggap "kalah" bersaing dengan etnis-etnis lain, terutama dominasi etnis Jawa dalam struktur pemerintahan Republik Indonesia. Karena itu, sejarawan Audrey Kahin mengatakan, kalau sejarahnya orang Minangkabau adalah sejarahnya orang-orang kalah. Disertasi Kahin itu semakin mengukuhkan bahwa sejarah tentang Sumatera Barat memang sejarah tentang kesedihan yang berkepanjangan, it is a sad history. Lantas, apakah sejarah kesedihan yang terjadi di Minangkabau juga terjadi hari ini atau di masa mendatang? Menarik sebetulnya dari hasil diskusi yang dilakukan oleh komunitas Limpapeh Institute, bahwa problem terbesar di Sumatera Barat saat ini adalah redupnya etos intelektual. Selama ini kita kenal bahwa di Minangkabau memiliki etos berdagang yang kuat, etos merantau tinggi, dan etos intelektual yang cerdas. Etos intelektual saat ini sedang mengalami krisis akut yang ditandai dengan minimnya intelektual yang mempunyai peran besar dalam memajukan masyarakatnya. Etos intelektual dikalahkan, bahkan dipinggirkan dengan etos berdagang, dan etos merantau. Maka tak heran paradigma berpikir masyarakat Minang cenderung pragmatis-realistis. Padahal kita tahu, sejarahnya orang Minangkabau ditandai etos intelektualnya yang berkarakter. Hal ini terbukti dalam pentas sejarah, tatkala Hatta melepaskan jabatan prestisiusnya sebagai wakil presiden karena berseberangan ideologis dengan Soekarno, begitu juga Bahder Djohan mengundurkan diri sebagai rektor UI, karena tidak setuju dengan tindak kekerasan yang dilakukan pemerintah terhadap pemberantasan PRRI. Tak pelik lagi, Tan Malaka meninggalkan teman-temannya karena tidak sepakat dengan konsep strategi revolusi mencapai Indonesia merdeka, Buya Hamka rela mengundurkan diri sebagai ketua MUI, karena tidak setuju dengan kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah. Sebagai intelektual yang berasal dari daerah yang masyarakatnya dirundung a sad history berkepanjangan amatlah berat. Apalagi a sad history tersebut berkait-kelindan dengan kebanggaan pada kejayaan masa lalu. Bayangan masa lalu yang gemilang dan masa silam yang sial membias silih berganti di setiap pelupuk mata orang Minang. Sungguh-sungguh paradoksal yang ambigu. Lantas, kebanggaan apalagi yang bersisa dari cerita panjang tentang a sad history yang beruntun menimpa masyarakat Minang? Tanggung jawab intelektual Minang tentunya tidak ingin mengalami situasi paradoksal sebagaimana yang dialami para pendahulunya. Sebagai intelektual tentunya ia juga tidak akan membiarkan masyarakatnya larut dalam masa lalu: apakah itu yang membanggakan ataupun yang menyedihkan. Bagaimana menyikapi perubahan yang sedang pasang tersebut intelektual Minang saat ini, agar dapat memainkan perannya secara signifikan di masyarakat? Pertama, mengikis secara perlahan sikap apologetik, yang cenderung membanggakan masa lalu. Yang perlu dilakukan adalah merekonstruksi dan merancang (social engineering) masa depan masyarakat Minang yang lebih baik. Bukannya ditanggapi dengan apologetik, dan senjatanya orang-orang yang kalah-meminjam istilahnya James Scott. Karena kita tidak boleh menjawab masa lalu untuk persoalan hari ini. Kedua, mengkritisi setiap kebijakan yang digulirkan pemerintah daerah atau fenomena yang ganjil di tengah masyarakatnya. Fenomena otonomi daerah yang di Sumatera Barat diejawantahkan dengan mengusung paket baliak ka nagari. Di satu sisi kita akui, bahwa baliak ka nagari sedikit banyaknya dapat mengobati harapan yang telah punah akibat kepungan potret a sad history. Namun di sisi satu lagi, paket baliak ka nagari telah membuat masyarakat Sumatera Barat salah dalam mengartikan otonomi daerah. Yang tertanam di benak setiap orang Sumatera Barat bahwa kehidupan yang ideal adalah kehidupan seperti yang telah dipraktikan oleh pendahulunya. Kita tidak menampik sistem pemerintahan nagari mampu dan berhasil membawa masyarakat Minang tradisional mencapai yang dicitakannya. Namun, dengan situasi dan tantangan yang berbeda, apa mungkin kita menerapkan sistem pemerintahan nagari seperti dulu itu tanpa adanya inovasi cerdas di sana-sini. Selain itu, yang perlu dikritisi adalah ekses negatif dari praktik otonomi daerah yang salah tafsir, seperti hidupnya kembali imperium ninik-mamak yang tak kalah kejamnya dari politik penyeragaman yang dilakukan rezim Orde Baru. Ketiga, mengawal perubahan dengan cerdas. Intelektual Minang harus membuat advokasi tandingan untuk mengimbangi kecenderungan membanggakan kejayaan masa lalu leluhurnya dengan menunjukkan bahwa orang Minang dulu banyak mamacik karena mereka mengambil kemajuan adalah apinya, dan bukan abunya. Mengambil dari modernitas spiritnya, dan bukan menenggak residunya. Kalau masyarakat Minang gagal melakukan provokasi yang bernuansa self-critic society, tidak tertutup kemungkinan potret a sad history akan berulang lagi di Sumatera Barat dalam bentuk yang berbeda. Kegagalan melakukan counter attack, barangkali, sebentuk pengkianatan intelektual, la trahison des clerc-meminjam istilah Julien Benda, sekalipun dalam bentuknya yang paling minimalis. Berkembangnya intelektual Minang pada masa dahulu karena banyak media komunikasi yang berkembang saat itu. Dan, memperluas kelompok-kelompok sosial yang berbasiskan komunitas yang mempunyai perhatian terhadap dunia intelektual. Seperti kelompok kajian sastra, kelompok pembaca buku, seni, budaya, banyak jurnal penerbitan, dan koran dan lain sebagainya. Diharapkan, dengan lahirnya kelompok-kelompok ini bisa mengembalikan citra Sumatera Barat sebagai gudang lahirnya para ilmuwan. Supaya kita tidak menjadi generasi, seperti yang digundahkan oleh Bung Hatta "Abad besar telah datang, tapi kita menemukan generasi yang kerdil".(*) *) Zulfadli Peneliti di Pusat Kajian Sosial dan Kebijakan Publik (PKSKP) -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
