Buat Ajo, dan warga Pariaman,
 
Sebaik mendengar hari pertama tentang lulusan SMA 1 Pariaman ini, kami dari 
FORAHMI langsung bergerak, dan besoknya terkumpul sumbangan lumayan saya kalau 
gak salah dilaporkan sampai 20 juta, dan telah disumbangkan kesemua anak anak 
tersebut melalui Kepsek di Pariaman oleh utusan FORAHMI sdr. Ali Unan.
 
Dan anak anak tersebut langsung berangkat mendaftar ke masing masing 
Universitas tujuan mereka,
 
sedikit info,
 
wassalam,
dasriel

--- Pada Rab, 25/5/11, ajo duta <[email protected]> menulis:


Dari: ajo duta <[email protected]>
Judul: [R@ntau-Net] Empat Mahasiswa Undangan dari SMAN 1 Pariaman Terancam 
Batal karena Miskin
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 25 Mei, 2011, 8:55 AM






  



Iko ciek lai soal nan samo. 



  








Empat Mahasiswa Undangan dari SMAN 1 Pariaman 
Terancam Batal karena Miskin
 Padang Ekspres • Rabu, 25/05/2011 10:10 WIB • zikriniati zn • 72 klik

Kemiskinan membelit kehidupan mereka berempat. Dalam serba kekurangan, mereka 
berhasil membuktikan diri sebagai pelajar berprestasi. Tertera sebagai 
mahasiswa undangan di perguruan tinggi negeri papan atas, namun nasib memberi 
mereka liku yang pahit. Karena tidak tak punya biaya, mereka terancam batal 
kuliah.

Empat siswa SMAN 1 Pariaman diterima sebagai mahasiswa undangan melalui jalur 
”Bidik Misi” di tiga perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia. Mereka 
adalah Hendri, diterima di Fisika Universitas Indonesia (UI), Adilla Sari di 
Psikologi UI, Amalia Roza pada Teknologi Pangan Universitas Padjajaran dan 
Annisa Amelia, Pendidikan Akuntansi Universitas Medan (Unimed).

Mestinya, keempat anak bangsa ini bersuka cita merayakan prestasi belajar 
mereka. Namun, hingga hari ini, mata mereka masih lembab oleh air mata. 
Pasalnya, tiga hari lagi, tepatnya Jumat (27/5), mereka harus sudah ada di 
kampus yang ”mengundang” mereka sebagai mahasiswa pilihan. Artinya, untuk 
sampai ke perguruan tinggi sasaran mereka tersebut, ternyata membutuhkan biaya. 
Sementara, orangtua mereka miskin, dengan apa tiket pesawat atau ongkos ke sana 
didapat. Untuk makan sehari-hari saja susahnya minta ampun.  

Dengan kesedihan dan gundah hati yang dalam, keempat ”anak hebat” ini menghadap 
Zalmiruddin, kepala sekolah mereka di SMAN 1 Pariaman. Di hati dan pikiran 
mereka mulai tertanam ragu, apakah mungkin bisa mengubah nasib dengan kuliah di 
negeri orang sementara badan diri dalam kemiskinan yang tak terbantahkan. 
Bayangan kelam seakan menyungkup mata mereka dalam melihat masa depan.

”Maaf Pak, saya mundur saja, tidak jadi kuliah, orangtua betul-betul tidak 
punya biaya untuk keberangkatan saya. Sudah kami coba pinjam ke tetangga, 
tetapi hingga hari ini belum dapat,” ujar Hendri serak. Siswa yang berhasil 
lulus di Fisika UI tersebut kemudian menunduk dan menyeka air matanya, di 
ruangan kepala sekolah, kemarin. Sang kepala sekolah tak bisa menyembunyikan 
kemurungan hatinya. Ia pun terlihat sedih, dan berpikir (tapi lebih banyak 
berharap), semoga ada jalan keluar untuk keempat anak-anaknya ini. Ia bisa 
merasakan kepedihan hati siswanya yang bercita-cita tinggi.

Hendri dan tiga teman lainnya memang lulus sebagai mahasiswa undangan lewat 
jalur Bidik Misi. Dengan jalur ini, nantinya ia tidak perlu memikirkan uang 
kuliah dan pemondokan, karena ditanggung pemerintah. Namun untuk biaya 
keberangkatan ke Jakarta, jelas ia harus mengusahakan sendiri, karena itu di 
luar tanggungan pemerintah.

Hendri sendiri berasal dari keluarga sangat miskin, bertempat tinggal di 
Marabau Pariaman. Hendri meraih nilai UN 47,50. Ayahnya, Ilyas, seorang buruh 
tani yang harus menafkahi sembilan anaknya. Penghasilan sang ayah, hanya bisa 
memenuhi sekadar kebutuhan hari-hari. Hingga saat ini, Hendri dan delapan 
saudaranya harus bertahan hidup di gubuk reot, berlantai tanah. Saat tidur, 
mereka pun hanya mengandalkan tikar lusuh yang biasa digunakan orang untuk 
menaruh daging kurban pada saat Idul Adha.

Tidak jauh beda dengan Hendri, Adila Sari yang lulus di Psikologi UI juga 
demikian. Anak bungsu dari delapan bersaudara yang juga anak yatim tersebut, 
hingga saat ini belum menemui solusi masaah biaya keberangkatannya. Betul, ia 
memiliki tujuh orang kakak, namun hidup mereka tidak jauh lebih baik, sehingga 
ia pun tidak bisa berharap banyak.

Langganan juara sejak sekolah dasar ini, selama ini hanya mengandalkan beasiswa 
dan zakat dari Bazda Pariaman, untuk menyelesaikan pendidikannya hingga sekolah 
menengah. Rumahnya pun tidak lebih baik dari empat rekan-rekannya. Warga Sungai 
Sariak Padangpariaman ini, tinggal di rumah semi permanen, tanpa fasilitas 
hiburan apa pun.

”Annisa Amelia yang lulus di Pendidikan Akuntansi Unimed juga menyatakan 
mundur, karena orangtuanya tidak mampu. Namun kami bilang jangan patah 
semangat, mudah-mudahan ada jalan. Sayang anak secerdas dia mengabaikan 
kesempatan melanjutkan pendidikan,” ujar Kepala SMAN 1 Pariaman didampingi 
Wakasek Kesiswaan Azma, kemarin. Realita empat siswa ini, membuat suasana 
memang menjadi terasa pilu.

Sementara, Amalia Roza yang lulus di Unpad sudah berangkat, karena kemarin 
merupakan jadwal terakhir pendaftaran di Unpad. Ia berangkat dengan biaya 
pinjaman dari tetangga dan dibantu sumbangan majelis guru SMAN 1 Pariaman. 
Warga Pauh Timur Kota Pariaman tersebut, ayahnya, Agusti Anwar, 47, buruh 
serabutan yang juga harus membiayai sekolah empat orang adiknya. Ia berangkat 
dengan mengenakan pakaian sekolah yang lusuh dan beberapa helai pakaiannya. 
Baginya yang penting berangkat dan mendaftar dulu. Untuk urusan lainnya, ia 
yakin bakal ada ”malaikat penolong”.

Sebenarnya, masih ada dua orang lagi peraih mahasiswa undangan jalur Bidik 
Misi, Afriani Fitri yang lulus di Matematika Unand serta M Rizki Dharmawan yang 
lulus di Fakultas Sistem Informatika Unand. Keduanya sama-sama miskin. Namun 
karena lokasi kampusnya masih berada di Sumbar, para guru berusaha 
menanggulangi biaya transportasi mereka.

Keempat siswa SMAN 1 Pariaman ini, ketika ditanya, hanya berharap uluran tangan 
agar mereka bisa ”terbang” ke kampus tujuan masing-masing. Tentu, tangan-tangan 
mulia para dermawan, salah satu yang bisa memudahkan mereka menapaki langkah 
awal meraih masa depan, sangat diharapkan. Hal ini tentu agar kemiskinan bukan 
semacam kutukan turun temurun dalam kehidupan keluarga mereka, karena mereka 
kelak mampu mengubah nasib karena pendidikan yang baik.

Hendri, Adilla, Amalia dan Annisa sangat membutuhkan biaya keberangkatan, 
paling lambat Jumat lusa. Jika tidak, impian mereka tentang perguruan tinggi 
harapan, kerja keras dan prestasi belajar yang sungguh-sungguh, sebuah dunia 
yang lebih baik di masa depan, akan pupus. Mereka akan menyesal, bersedih tak 
berkesudahan, karena merasa negara ini, bangsanya, tidak berpihak pada anak 
miskin yang pintar.

Nah, tegakah kita membiarkan mereka, sementara mereka mampu bersaing untuk 
menjadi yang terbaik di negeri ini? Jangan biarkan mereka bersedih, uluran 
tangan kita, bakal membuat air matanya terhapus bahagia, karena mereka merasa 
tidak sendiri. (***)
[ Red/Redaksi_ILS ]



__._,_.___

Reply to sender | Reply to group | Reply via web post | Start a New Topic 
Messages in this topic (1) 
Recent Activity: 

New Members 3 
Visit Your Group 

MARKETPLACE


Find useful articles and helpful tips on living with Fibromyalgia. Visit the 
Fibromyalgia Zone today! 



Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the 
Yahoo! Toolbar now. 
 
Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe • Terms of Use


. 

__,_._,___


-- 

Wassalaamu'alaikum
Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
gelar Bagindo, suku Mandahiliang,
lahir 17 Agustus 1947.
di Nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman.
rantau: Deli dan Jakarta, kini Sterling, Virginia-USA
------------------------------------------------------------
"Kepedulian sanak terhadap anak-anak nagari ditunggu. Mari sisihkan rejeki kita 
Rp.250.000 untuk satu paket baju seragam bagi anak-anak yang tak bersekolah, 
hanya karena tak sanggup beli baju seragam". Transfer infaq sanak ke rek YPRN 
No. 0221919932 Bank BNI
 
 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke