Bab II : A. Pendapat Pertama: Nabi Isa Telah Wafat & Tidak Akan Turun ke Bumi
 

Pendapat yang mengatakan bahwa Nabi Isa as. telah wafat, merujuk pada 
penafsiran Al-
Qur'an, sebagaimana firman-Nya:

"(Ingatlah) tatkala Allah ber firman, 'Hai Isa, sesungguhnya Aku akan 
menyampaikan 
kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu 
dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di 
atas 
orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah 
kembalimu, 
lalu Aku akan memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang kamu perselisihkan 
padanya'..." (Ali Imran: 55).
 
"Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan 
kepadaku (mengatakan)nya yaitu, 'Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.' Dan 
adalah 
aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada diantara mereka. Maka 
setelah 
Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau Maha 
Menyaksikan segala sesuatu." (al-Maa'idah: 117)
 
Berkaitan dengan surat al-Maa'idah ayat 117 maka timbul penafsiran kata 
tawaffaitani-
tawafa, yatawaffa, mutawaffi, yang artinya 'mematikan, mencabut nyawa atau 
mewafatkan'. Pengertian ini tentu saja berlaku untuk seluruh ayat yang 
berkaitan dengan 
kata tawafaa. Sehingga surat Ali Imran ayat 55 di atas harus dipahami secara 
yakin 
bahwa Allah telah mewafatkan, mematikan, atau mencabut nyawa Nabi Isa a.s..
 
Kata tawaffa berasal dari kata kerja wafaya (wau-fa-ya) mempunyai arti: 
'melunasi, 
menyelesaikan, menyempurnakan, wafat' (mati). Akar kata wafat (mati) sangat 
dekat 
dengan akar kata wifa' yang artinya, 'penyempurnaan atau pelunasan'. Sehingga 
dua kata 
itu merujuk pada sesuatu tugas yang sempurna atau telah selesai, atau seseorang 
yang 
telah selesai menjalani hidupnya alias mati. Apabila kata wafaya tersebut 
ditambah huruf 
mati ta dan fa, yaitu tawaffaya memberikan arti 'sangat bersungguh-sungguh'. 
Dan bila 
kata tawaffa dihubungkan dengan firman Allah surat al-Maa'idah ayat 117, maka 
memberikan arti yang pasti bahwa, "...Engkau wafatkan (angkat) aku..."
 
Dengan pembahasan kata tersebut sampailah pada kesimpulan bahwa kata 
muttawafika 
dalam surat Ali Imran: 55, berarti Allah sungguh-sungguh (benarlah) akan 
mewafatkan 
engkau (Nabi Isa). Hal ini tidak dapat ditafsirkan lain kecuali Allah akan 
mewafatkan Nabi 
Isa.
 
Apabila kata tersebut ditafsirkan lagi dengan ayat yang lain, maka akan didapat 
pengertian yang sama pada ayat ayat sebagai berikut: "... sampai mereka menemui 
ajalnya (yatawaffahunna)...." (an-Nisa': 15) 
 
"Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan (tawaffaahum) malaikat... " 
(al-Maa'idah: 97)
 
"Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa (yatawaffa) 
orang-orang...." (al-
Anfal: 50)
 
Masih banyak lagi kata atau ungkapan tawaffa dalam surat-surat pada Al-Qur'an 
yang 
keseluruhannya memberikan arti 'mewafatkan , mencabut nyawa', dan sebagainya. 2
 
Apabila seluruh kata tawaffa dalam ayat-ayat yang disebutkan tersebut 
menunjukkan arti 
"mewafatkan dan mematikan", lantas atas dasar apa meragukan bahwa Nabi Isa 
telah 
diwafatkan (mati). Oleh karena itu, tidak dapat ditafsirkan lain bahwa Nabi Isa 
tidur, Nabi 
Isa istirahat, dan sebagainya.
 
l. Kata Rafi'a 

Kata raafi'uka (mengangkatmu) sebagaimana terdapat dalam Ali Imran: 55, tidak 
dapat 
ditafsirkan sebagai mengangkat Nabi Isa ke langit, karena tidak didukung oleh 
ayat lain 
yang memperkuat argumentasi bahwa kata raafi'uka menisbatkan kepada naiknya 
Nabi 
Isa ke langit dan kemudian hidup, tidur, atau istirahat di sana.
 
Kata rafi'u adalah isim fa'il atau pelaku yang berasal dari kata kerja rafa'a 
(telah 
mengangkat) dan bentuk rafa'a dengan segala bentukannya yang disebutkan di 
dalam Al-
Qur'an menunjukkan pada sebuah makna 'meningkatkan derajat, mengungguli, dan 
mengatasi', sebagaimana di sebut di dalam Al-Qur'an sebagai berikut:
 
". . . dan sebagiannya Allah meninggikan beberapa derajat.... (wa rafa'a 
ba'dhuhum 
darajatin)." (al-Baqarah: 253 ).
 
"... dan mengangkat sebagian kamu di atas sebagian yang lain (wa rafa'a 
ba'dhukum 
fawqa ba'dhin)." (al-An'am: 165).
 
Selanjutnya kata-kata rafa'a yang berarti 'mengangkat derajat'sebagaimana 
terdapat di 
dalam Al-Qur'an-terdapat pula pada surat surat "wa rafa'na" (az-Zukhruf: 32); 
"wa 
rafa'na" (Alam Nasyrah: 4); "yarfa'u" (al-Mujadilah: 11); dan "narfa'u" (Yusuf: 
76).
 
Dari uraian tadi dapat disimpulkan, sebagai berikut:

a. Nabi Isa a.s. telah diwafatkan oleh Allah SWT sesuai dengan Sunnatullah yang 
tidak 
mungkin akan berubah selama-lamanya (al-Ahzab:62). Nabi Isa telah wafat dan 
diangkat 
derajatnya oleh Allah. Dan tentang wafatnya Nabi Isa, sesuai pula dengan 
Sunatullah 
bahwa segala benda yang bernyawa pasti akan menemui kematian. 
 
b. Al Qur'an tidak pernah menyebutkan secara jelas dan muhkamat3 maupun 
mutasyabihat, 4 apakah Nabi Isa masih hidup dan apakah sampai saat ini masih 
berada 
di langit? Lalu apakah setelah itu, ia akan turun kembali ke bumi untuk 
membasmi Dajal. 
Padahal, tidak ada satu kata pun di dalam Al-Qur'an yang menyebut nama Dajal. 
Dengan 
demikian, hal ini memperkuat argumentasi bahwa Nabi Isa telah wafat, dan tidak 
akan 
turun ke bumi dan tidak akan membunuh Dajal. 
 
c. Kiamat akan segera tiba setelah turunnya Nabi Isa yang akan memberantas 
Dajal, 
kemudian mempersatukan umat manusia serta menjadikan semuanya beragama Islam 
dan menjadi imam shalat, tentunya berita ini merupakan berita besar yang 
mustahil luput 
dari uraian Al-Qur'an. 
 
d. Mengingat turunnya Nabi Isa dan datangnya Dajal tidak disebutkan di dalam 
Al-Qur'an, 
maka tidak menyebabkan berdosa apabila kita tidak mengimaninya. Lagi pula, 
rukun Iman 
yang telah diakui seluruh ulama sejak dahulu tidak mencantumkan hal ini.
 
2. Hadits-Hadits tentang Nabi Isa a.s. dan Dajal 

Argumentasi yang berdasarkan pada Al-Qur'an mengatakan bahwa Nabi Isa telah 
wafat 
dan tidak akan turun lagi ke bumi untuk memberantas Dajal. Tentu hal itu tidak 
berdasarkan dalil hadits, walupun hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari, 
Muslim, dan 
yang lainnya.
 
Bagi mereka yang menyangkal hadits tersebut didasarkan bahwa berita-berita yang 
diriwayatkannya bertentangan satu sama lain, karena mereka mendasari itu 
terhadap 
alasan-alasan berikut:
 
a. Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abdullah bin Amru bin Ash 
disebutkan, 
"...kemudian Isa Almasih itu, menetap bersama manusia tujuh tahun lamanya…" 
 
b. Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim, Abu Daud, al-Hakim, dan Ahmad bin 
Hanbal 
dari Abu Hurairah r a. menyebutkan, "…Isa menetap di bumi empat puluh tahun 
lamanya, 
kemudian ia pun wafat, maka kaum muslimin menyembahyangkannya ..." 
 
c. Menurut Joesoef Souyb salah satu hadits yang meriwayatkan kedatangan Dajal 
diterima melalui Ka'ab al-Ahbar5 yang mengatakan, "Aku akan mengirimmu kelak 
menghadapi Dajal si Juling, dan engkau akan membunuhnya, lalu hidup di bumi 
sehabis 
itu selama dua puluh empat tahun dan Aku akan mematikanmu, seperti halnya orang 
yang hidup."
 
Penulisan hadits dengan isi pernyataan yang berbeda satu sama lainnya dan 
diceritakan 
melalui satu orang saja (hadits ahad) menyebabkan kedudukan hadits tersebut 
tidak 
termasuk mutawatir (hadits yang diriwayatkan oleh beberapa perawi). Di samping 
itu, 
sangat besar kemungkinannya adanya kesengajaan penyusupan dongeng atau 
kisahkisah, seperti dituliskan dalam kitab Injil Perjanjian Lama dan Perjanjian 
Baru 
(Wahyu 19: 11-21, Wahyu 20: 4-6).
 
Perlu diingat bahwa dalam teologi dan liturgi (ketuhanan dan tata cara agama) 
Yahudi dan 
Nasrani sangat kental akan kepercayaan Mesiah dan Adventisme (harapan atau 
keyakinan akan turunnya Yesus ke bumi) untuk membasmi segala roh jahat dan 
mengajak umat manusia hanya percaya kepada Kristus. 6 

Bersambung ke bab 2.3
 
Wassalam
 
St. Sinaro

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke