Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu, Ustaz St. Sinaro, Iyolah tambah panjang postiang Ustaz tantang Dajjal & Simbul Setan ko. Mungkih indak tamakan atau takamehi pangaratiannyo dek Rang Lapau nan banyak, karano mungkin sabana barek pangajiannyo, kadang-kadang dek panjangnyo mungkin taputuih threadnyo sarupo parasaian ambo. Namun,
> Perlu diingat bahwa dalam teologi dan liturgi (ketuhanan dan tata cara agama) > Yahudi dan > Nasrani sangat kental akan kepercayaan Mesiah dan Adventisme (harapan atau > keyakinan akan turunnya Yesus ke bumi) untuk membasmi segala roh jahat dan > mengajak umat manusia hanya percaya kepada Kristus. Kok buliah, tanpa manggangu kontinuiti postiang naskah buku ustaz ko, mungkinkah Ustaz mangalicau agak sabanta, labih khusus, labiah jaleh, manarangkan ka Rang Banyak baa susunan atau struktur "Roh Jahat" ko, istimewa dalam pangarian Agamo Islam dan adaptasi ka budaya kito di Minangkabau. Mangko baitu tanyo ambo, ambo agak kaliru jo macam-macam istilah "Roh Jahat" atau labiah luas "Makhluk Gaib" ko karano macam-macam variasinyo dan kurang jaleh panampilannyo dan bedanyo (iyo tantu karano mareka tu gaib kan?). Awak, ummat Islam, dalam ayat mulo-mulo sasudah al Fatihah diangap misti pacayo ka nan gaib, tapi banyak bana kito nan kurang jaleh tantang masyarakat gaib tu. Ado istilah Setan, Iblis, Dajjal, dll. dan bagi kito di Minangkbabau ado nan asli dan diadaptasi ado Setan, Jiin, Jiin Islam, Jiin Kapia, Dajjal, Ubilih, Bilih Kinciak, Puntianak atau Kuntianak (?), Palasik Kuduang, dll. Mungkinkoh Ustaz dapek manggambarkan atau mambicarokan agak jaleh ka kami baa struktur, susunan, interaksi, kacobeh-kacobeh macam-macam mareka ko? Mungkin ustaz dapek mambayangkan kama painyo arah postiang ambo "Bilih Kinciak, Setan, ABS-SBK". Barangkali di sinan rancak tampeknyo ustaz dapek membeberkan struktur ko? Mudah-mudahan kito nan basamo dapek katarangan nan jaleh tantang makhluk-makhluk gaib ko dalam hubuangan pakambangan agamo dan budaya masyarakat Minangkabau. Tarimo kasih. Salam, --MakNgah Sjamsir Sjarif June 16, 2011 --- In [email protected], Sutan Sinaro <stsinaro@...> wrote: > > Bab II : A. Pendapat Pertama: Nabi Isa Telah Wafat & Tidak Akan Turun ke Bumi > > > Pendapat yang mengatakan bahwa Nabi Isa as. telah wafat, merujuk pada > penafsiran Al- > Qur'an, sebagaimana firman-Nya: > > "(Ingatlah) tatkala Allah ber firman, 'Hai Isa, sesungguhnya Aku akan > menyampaikan > kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan > kamu > dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu > di atas > orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah > kembalimu, > lalu Aku akan memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang kamu perselisihkan > padanya'..." (Ali Imran: 55). > > "Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau > perintahkan > kepadaku (mengatakan)nya yaitu, 'Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.' Dan > adalah > aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada diantara mereka. Maka > setelah > Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau > Maha > Menyaksikan segala sesuatu." (al-Maa'idah: 117) > > Berkaitan dengan surat al-Maa'idah ayat 117 maka timbul penafsiran kata > tawaffaitani- > tawafa, yatawaffa, mutawaffi, yang artinya 'mematikan, mencabut nyawa atau > mewafatkan'. Pengertian ini tentu saja berlaku untuk seluruh ayat yang > berkaitan dengan > kata tawafaa. Sehingga surat Ali Imran ayat 55 di atas harus dipahami secara > yakin > bahwa Allah telah mewafatkan, mematikan, atau mencabut nyawa Nabi Isa a.s.. > > Kata tawaffa berasal dari kata kerja wafaya (wau-fa-ya) mempunyai arti: > 'melunasi, > menyelesaikan, menyempurnakan, wafat' (mati). Akar kata wafat (mati) sangat > dekat > dengan akar kata wifa' yang artinya, 'penyempurnaan atau pelunasan'. Sehingga > dua kata > itu merujuk pada sesuatu tugas yang sempurna atau telah selesai, atau > seseorang yang > telah selesai menjalani hidupnya alias mati. Apabila kata wafaya tersebut > ditambah huruf > mati ta dan fa, yaitu tawaffaya memberikan arti 'sangat bersungguh-sungguh'. > Dan bila > kata tawaffa dihubungkan dengan firman Allah surat al-Maa'idah ayat 117, maka > memberikan arti yang pasti bahwa, "...Engkau wafatkan (angkat) aku..." > > Dengan pembahasan kata tersebut sampailah pada kesimpulan bahwa kata > muttawafika > dalam surat Ali Imran: 55, berarti Allah sungguh-sungguh (benarlah) akan > mewafatkan > engkau (Nabi Isa). Hal ini tidak dapat ditafsirkan lain kecuali Allah akan > mewafatkan Nabi > Isa. > > Apabila kata tersebut ditafsirkan lagi dengan ayat yang lain, maka akan > didapat > pengertian yang sama pada ayat ayat sebagai berikut: "... sampai mereka > menemui > ajalnya (yatawaffahunna)...." (an-Nisa': 15) > > "Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan (tawaffaahum) malaikat... " > (al-Maa'idah: 97) > > "Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa (yatawaffa) > orang-orang...." (al- > Anfal: 50) > > Masih banyak lagi kata atau ungkapan tawaffa dalam surat-surat pada Al-Qur'an > yang > keseluruhannya memberikan arti 'mewafatkan , mencabut nyawa', dan sebagainya. > 2 > > Apabila seluruh kata tawaffa dalam ayat-ayat yang disebutkan tersebut > menunjukkan arti > "mewafatkan dan mematikan", lantas atas dasar apa meragukan bahwa Nabi Isa > telah > diwafatkan (mati). Oleh karena itu, tidak dapat ditafsirkan lain bahwa Nabi > Isa tidur, Nabi > Isa istirahat, dan sebagainya. > > l. Kata Rafi'a > > Kata raafi'uka (mengangkatmu) sebagaimana terdapat dalam Ali Imran: 55, tidak > dapat > ditafsirkan sebagai mengangkat Nabi Isa ke langit, karena tidak didukung oleh > ayat lain > yang memperkuat argumentasi bahwa kata raafi'uka menisbatkan kepada naiknya > Nabi > Isa ke langit dan kemudian hidup, tidur, atau istirahat di sana. > > Kata rafi'u adalah isim fa'il atau pelaku yang berasal dari kata kerja rafa'a > (telah > mengangkat) dan bentuk rafa'a dengan segala bentukannya yang disebutkan di > dalam Al- > Qur'an menunjukkan pada sebuah makna 'meningkatkan derajat, mengungguli, dan > mengatasi', sebagaimana di sebut di dalam Al-Qur'an sebagai berikut: > > ". . . dan sebagiannya Allah meninggikan beberapa derajat.... (wa rafa'a > ba'dhuhum > darajatin)." (al-Baqarah: 253 ). > > "... dan mengangkat sebagian kamu di atas sebagian yang lain (wa rafa'a > ba'dhukum > fawqa ba'dhin)." (al-An'am: 165). > > Selanjutnya kata-kata rafa'a yang berarti 'mengangkat derajat'sebagaimana > terdapat di > dalam Al-Qur'an-terdapat pula pada surat surat "wa rafa'na" (az-Zukhruf: 32); > "wa > rafa'na" (Alam Nasyrah: 4); "yarfa'u" (al-Mujadilah: 11); dan "narfa'u" > (Yusuf: 76). > > Dari uraian tadi dapat disimpulkan, sebagai berikut: > > a. Nabi Isa a.s. telah diwafatkan oleh Allah SWT sesuai dengan Sunnatullah > yang tidak > mungkin akan berubah selama-lamanya (al-Ahzab:62). Nabi Isa telah wafat dan > diangkat > derajatnya oleh Allah. Dan tentang wafatnya Nabi Isa, sesuai pula dengan > Sunatullah > bahwa segala benda yang bernyawa pasti akan menemui kematian. > > b. Al Qur'an tidak pernah menyebutkan secara jelas dan muhkamat3 maupun > mutasyabihat, 4 apakah Nabi Isa masih hidup dan apakah sampai saat ini masih > berada > di langit? Lalu apakah setelah itu, ia akan turun kembali ke bumi untuk > membasmi Dajal. > Padahal, tidak ada satu kata pun di dalam Al-Qur'an yang menyebut nama Dajal. > Dengan > demikian, hal ini memperkuat argumentasi bahwa Nabi Isa telah wafat, dan > tidak akan > turun ke bumi dan tidak akan membunuh Dajal. > > c. Kiamat akan segera tiba setelah turunnya Nabi Isa yang akan memberantas > Dajal, > kemudian mempersatukan umat manusia serta menjadikan semuanya beragama Islam > dan menjadi imam shalat, tentunya berita ini merupakan berita besar yang > mustahil luput > dari uraian Al-Qur'an. > > d. Mengingat turunnya Nabi Isa dan datangnya Dajal tidak disebutkan di dalam > Al-Qur'an, > maka tidak menyebabkan berdosa apabila kita tidak mengimaninya. Lagi pula, > rukun Iman > yang telah diakui seluruh ulama sejak dahulu tidak mencantumkan hal ini. > > 2. Hadits-Hadits tentang Nabi Isa a.s. dan Dajal > > Argumentasi yang berdasarkan pada Al-Qur'an mengatakan bahwa Nabi Isa telah > wafat > dan tidak akan turun lagi ke bumi untuk memberantas Dajal. Tentu hal itu > tidak > berdasarkan dalil hadits, walupun hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari, > Muslim, dan > yang lainnya. > > Bagi mereka yang menyangkal hadits tersebut didasarkan bahwa berita-berita > yang > diriwayatkannya bertentangan satu sama lain, karena mereka mendasari itu > terhadap > alasan-alasan berikut: > > a. Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abdullah bin Amru bin Ash > disebutkan, > "...kemudian Isa Almasih itu, menetap bersama manusia tujuh tahun lamanya…" > > b. Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim, Abu Daud, al-Hakim, dan Ahmad bin > Hanbal > dari Abu Hurairah r a. menyebutkan, "…Isa menetap di bumi empat puluh tahun > lamanya, > kemudian ia pun wafat, maka kaum muslimin menyembahyangkannya ..." > > c. Menurut Joesoef Souyb salah satu hadits yang meriwayatkan kedatangan Dajal > diterima melalui Ka'ab al-Ahbar5 yang mengatakan, "Aku akan mengirimmu kelak > menghadapi Dajal si Juling, dan engkau akan membunuhnya, lalu hidup di bumi > sehabis > itu selama dua puluh empat tahun dan Aku akan mematikanmu, seperti halnya > orang > yang hidup." > > Penulisan hadits dengan isi pernyataan yang berbeda satu sama lainnya dan > diceritakan > melalui satu orang saja (hadits ahad) menyebabkan kedudukan hadits tersebut > tidak > termasuk mutawatir (hadits yang diriwayatkan oleh beberapa perawi). Di > samping itu, > sangat besar kemungkinannya adanya kesengajaan penyusupan dongeng atau > kisahkisah, seperti dituliskan dalam kitab Injil Perjanjian Lama dan > Perjanjian Baru > (Wahyu 19: 11-21, Wahyu 20: 4-6). > > Perlu diingat bahwa dalam teologi dan liturgi (ketuhanan dan tata cara agama) > Yahudi dan > Nasrani sangat kental akan kepercayaan Mesiah dan Adventisme (harapan atau > keyakinan akan turunnya Yesus ke bumi) untuk membasmi segala roh jahat dan > mengajak umat manusia hanya percaya kepada Kristus. 6 > > Bersambung ke bab 2.3 > > Wassalam > > St. Sinaro -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
