Saya setuju, Pak Ahmad. Tapi yang paling berat, khususnya dalam kasus TKW, 
adalah membuktikan TANPA HAK itu, Pak Ahmad, apalagi kalau dikaitkan dengan 
tradisi Arab di mana apa2 yg terjadi dalam rumah seseorang cukup sulit 
diketahui oleh orang lain, karena sistem keluarga yang cukup tertutup. Saya 
tidak bisa membayangkan seorang TKW, yang saya lihat sering lugu (setidaknya 
dalam pengalaman bertemu dg mereka di bandara2) masuk ke dalam sebuah keluarga 
Arab yang mewah, lalu tiba2 timbul saja niat dalam hatinya untuk MEMBUNUH 
anggota keluarga itu begitu saja, apapun motifnya. Kurang masuk akal bagi saya 
ada 28 orang pembantu Indonesia di Arab saudi tanpa BA BI BU membunuh induk 
semangnya atau siapapun sementara dia sadar betul tak akan dapat lari ke mana 
karena jangankan untuk menghilang, memegang paspor saja masih sering 
gemetaran.  Di Barat, seperti Belanda sini, orang Indonesia lebih disukai 
daripada orang2 dari negeri Arab dan Magribi. Karena
 apa? Karena orang Indonesia baik, suka mengalah, santun. Penjara2 di Belanda 
banyak dihuni oleh orang-orang dari Magribi dan sekitarnya yang banyak 
tersangkut perkara kriminal dan juga membunuh orang. Tapi mereka pasti tak akan 
mendapat hukuman pancung.

O, ya, untuk sekedar info, dua bulan lalu seorang kolega saya yang berlibur ke 
Turki mendapatkan beberapa orang gadis Bali yang hidup seperti 'budak' di 
sebuah hotel: menjadi pelayan dan tukan pijit, tanpa mendapat gaji sudah hampir 
setahun. Mereka dipaksa bekerja tiap hari, sementara paspornya dipegang oleh 
bosnya. Kebetulan kolega saya itu seorang Indonesianis. Dia dan istrinya 
berlibur ke Turki, dan kebetulan ketika memesan makanan di kamar, suami istri 
itu bertemu dg para pelayan dari Bali itu. Karena melihat wajah Indonesia, 
kolega saya itu bertanya dalam bahasa Indonesia. Maka mengalirlah cerita sedih 
mereka. Salah seorang gadis bercerita bahwa keluarganya telah meminjam uang 
sampai lebih 20 juta untuk membayar biaya ini dan itu agar dia bisa berangkat 
ke Turki. Tetapi sampai di Turki itulah nasib yang dia terima. Dia seperti 
dijual dan tak tahu mau pergi ke mana. Dapat dibayangkan karena baru sekali ke 
luar negeri, paspor ditahan pula oleh induk
 semang. Menghubungi keluarga di Bali tidak bisa, karena akses ke sana ditutup 
oleh induk semangnya. Saya sedih mendengar warga sesama bangsa kita 
diperlakukan seperti ini. Berapa lama lagikah otoritas negara ini membiarkan 
praktek2 perbudakan terhadap bangsa ini di zaman modern ini terus berlanjut?
 
Wassalam,
Suryadi

--- Pada Ming, 26/6/11, Ahmad Ridha <[email protected]> menulis:


Dari: Ahmad Ridha <[email protected]>
Judul: Re: Re: FW :Re: [R@ntau-Net] 28 TKI Tunggu Eksekusi Mati
Kepada: [email protected]
Tanggal: Minggu, 26 Juni, 2011, 9:57 AM



2011/6/26 Lies Suryadi <[email protected]>







Kasalahan talatak bukan di ayat al-Qur'an. Postingan ambo sabalunnyo, kalau 
memang di arahkan ka situ, samo sakali indak manyalahkan ayat al-Qur'an. Itu 
landasan agamo ambo, agamo kito, bapacik sajak dari ketek mangaji di surau.

Pak Suryadi, jadi bisakah kita sepakat bahwa qishash memang hukuman yang diatur 
dalam Islam atas secara tanpa hak menghilangkan nyawa  walau hanya satu orang?

Masalah kasus per kasus atau implementasinya tentu itu lain perkara.

-- 
Abu 'Abdirrahman, Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

-- 
.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke