Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakaatuh,

 

Bundo yang kusayangi dan dunsanak yang kuhormati,

 

Terimakasih support yang selalu bundo sediakan untuk Rina ini

Besar nilainya bagi ananda mendapatkan support Bundo ini.

Ibarat api kecil yang dipercikkan minyak tanah sehingga berkobar, hendaknya
begitu jugalah semangat ananda untuk selalu mengisi waktu-waktu sela dengan
menulis ini.

 

Indah sekali silaturahmi ini ya Bundo

Kangen ingin bertemu lagi dengan Bundo

Maafkan ananda yang tidak punya banyak kesempatan untuk itu

 

Sang Master Chairil Anwar memang menginspirasi banyak orang untuk menulis
puisi

Bahasa merdeka yang sarat keindahan dan makna

Mengejawantahkan bias-bias kehidupan manusia

Mengirimkan pesan dalam diam

Manis untuk disuguhkan

 

Harus banyak lagi  rina belajar ya Bundo.

Rina masih ketinggalan entah berapa puluh lingkar obat nyamuk lagi dari Sang
Master

Namun senang Bundo membacanya

Semoga Bundo sehat selalu..amin..

 

 

Wassalam

Rina, 33+, batam

 

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Nismah Rumzy
Sent: Friday, June 24, 2011 7:13 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [R@ntau-Net] Puisi

 




Assalamu Alaikum W. W.
Sabananyo kapatang lah bundo comment puisi Rina.  Tapi dimano tasangkuiknyo
indak tahu bundo.

Rin bundo benar2 terharu dan menghargai sekali bakat Rina dalam menulis
puisi. Sepertinya menurut bundo Rina itu mungkin seperti Chairil Anwarnya di
era ini. Teruslah berlatih anakku. Bakatmu luar biasa. Kita kaya dengan
Human Resources seperti ananda Yanto Jambak dan Rina mungkin  suatu waktu
ada yang akan mengkoordinir penerbitan serba serbi puisi Rantau Net.

Coba Rinba bandingkan sajak Chairil yang dibawah ini dengan sajak Rina.

Krawang - Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Chairil Anwar (1948)
Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957




Hayatun Nismah Rumzy

--- On Thu, 6/23/11, rinapermadi <[email protected]> wrote:


From: rinapermadi <[email protected]>
Subject: [R@ntau-Net] Puisi
To: [email protected]
Date: Thursday, June 23, 2011, 12:03 PM

Di Liang Lahat Rimba Sumatera

By : Ritrina

 

Kami yang berbaring di kedamaian Rimba Sumatera

Mendelik ngeri melihat negeri kini

Para dubalang raja berkeliaran

Menebas kedamaian tidur abadi kami

Debum pohon tua itu membangunkan malam kami

 

Hai kau yang duduk enak dibalik kursi

Bukankah cita-cita kita dulu sama?

Mengangkat marwah negeri ini

Sepotong pulau besar yang sungguh amat kaya

Lekas nian wajahmu bertukar rupa

 

Hai kau yang sama-sama angkat senjata

Lupakah tetesan airmatanya

Para kekasih kita 

Yang berlarian bersama mortar meregang nyawa

Lupakah kau kaleng penyok itu

Penyeduh kopi nikmat di kelambu rimba

Sungguh nikmat berdua tertawa

Di peluk kedamaian rimba gerilya

 

Kau jual demi remah politik busuk itu

Begundal-begundal berdasi merah

Lenggang melenggang diatas peti mati kami

 

Sudahlah kau hentikan semua ini

Masih banyakkah pundi kosongmu 

Raung gergaji berkejaran menggorok telinga kami

Cukuplah pengorbanan kami yang sia-sia

Termakan hasutan gegar mulut bercabang itu

Atau masih akan kau tambah dengan orang-orang rimba ini

Yang setia menunggui keabadian damai rimba purba ini

Paru-paru negeri yang sedang asma

 

Di kalbumu kami memohon

Ribuan kami yang terbaring disini

Akankah sia-sia?

Di liang lahat rimba Sumatera..

 

Batam, 23 Juni 2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

-- 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke