Sanak Sutan Sinaro yth.

Assalamu'alaikum wr.wb.
Ambo minta maaf diskusi kito dulu tantang Freemansory taputuih dek ado ganguan 
teknis di komputer ambo , banyak data nyo hilang kanai Virus.
Komputer ambo baru salasai diperbaiki. Ambo ndak tau lai antah sampai dimano 
dulu diskusinyo. Harap dimaklumi.
Wassalam,

Asmardi Arbi.


From: Sutan Sinaro 
Sent: Monday, June 27, 2011 9:59 PM
To: [email protected] 
Subject: [R@ntau-Net] Dajjal & Simbul Setan (4.1.2)


      Bab IV : Jamaah dan Essensi Persatuan Umat (1)  sambungan

      Mengingat konsep jamaah adalah prinsip yang disyariatkan, maka siapa pun 
yang 
      mencoba untuk menutup mata, bahkan tidak mau peduli dengan prinsip ini, 
maka 
      terjebaklah dirinya ke dalam tatanan yang disadari maupun tidak. Dia 
telah mencabik 
      ajarannya sendiri. 

      Logikanya sangat sederhana, apabila sahnya seorang muslim karena 
syahadat, maka 
      konsekuensi syahadat adalah bersikap hidup konsekuen dan denyutan 
jantungnya selalu 
      merujuk kepada Al-Qur'an dan Sunnah.

      Prinsip berjamaah adalah mutlak ajaran Al-Qur'an. Kemudian dicontohkan 
dengan sangat 
      indah oleh Rasulullah saw . Maka kesimpulannya, siapa pun yang tidak mau 
peduli 
      dengan prinsip jamaah adalah membohongi dirinya sendiri. Apabila 
penolakan atas prinsip 
      jamaah sudah mengakar sebagai suatu egoisme dan kecenderungan untuk 
mengisolasi 
      diri dari pergaulan tatanan jamaah, maka jatuhlah dia ke dalam kelompok 
sempalan 
      (mufariqun). Haru birunya umat Islam dikarenakan dia telah mencampakkan 
prinsip 
      berjamaah. Bagaikan benda asing, umat Islam merasa alergi setiap 
mendengarkan kata 
      kata tentang jamaah, bahkan bagaikan penyakit yang bisa menular Upaya dan 
kesadaran 
      apa pun tentang arti jamaah ini, pastilah dianggap aneh, justru oleh 
orang Islam sendiri, 
      sungguh ironis.

      Apabila umat Islam sudah merasa aneh dengan ajarannya sendiri, sungguh 
apakah Allah 
      tidak berkenan menganugerahkan karunia-Nya? Kehancuran umat Islam, bukan 
karena 
      jumlahnya yang banyak, tetapi justru karena mereka sudah merasa asing 
dengan esensi 
      agamanya sendiri. Kejayaan Islam pada kurun waktu paling awal, dimulai 
dari prinsip 
      jamaah ini. Ikatan persaudaraan yang kental, perasaan yang sama di dalam 
menghadapi 
      segala tantangan kehidupan, dan merasa memiliki kebenaran Islam adalah 
kondisi dari 
      sesuatu yang mutlak. Mereka tidak pernah berniat atau melanggarnya 
sedikit pun, karena 
      bagi mereka menjadi seorang muslim konsekuen adalah suatu aksioma Ilahiah 
yang tidak 
      bisa ditawar-tawar lagi keabsahannya.

      Persatuan muslim bukanlah dikarenakan ikatan bangsa, primordial, 
kesukuan, ras, atau 
      kelompok profesi, tetapi persatuan itu didasarkan atas iman semata-mata 
yang ditampung 
      dalam semangat persaudaraan jamaah. Sejarah tentang kejayaan dan 
kemuliaan umat 
      Islam di masa lalu tidak bisa dipungkiri eksistensinya tanpa kehadiran 
semangat jamaah. 
      Pada periode awal, sejak di Darul Arqam, para sahabat yang 
mendarah-dagingi jamaah 
      dengan mewarnai dunia dengan tauhid, telah melahirkan satu generasi yang 
sangat unik 
      dan sangat disegani. Itu semua karena mereka menjadikan jamaah sebagai 
pelabuhan 
      hati mereka untuk menimba, mengkaji, dan mempraktekkan semangat Qur'ani 
yang 
      diilhami oleh tali persaudaraan yang teramat kuat

      Tetapi tengoklah sekarang ini umat Islam terpelanting dalam kolam-kolam 
kecil, 
      kebanggaan turunan, kelompok profesi, dan kepentingan, terperangkap dalam 
semangat 
      primordial yang sempit. Kalaupun mereka mengaku sesama muslim, tetapi 
kepentingan 
      golongan, suku, dan bangsa justru menjadikan penyekat yang paling utama. 
Kebanggaan 
      kelompok ternyata nilainya telah melebihi semangat agamanya sendiri, 
bahkan melebihi 
      semangat kemerdekaan dirinya sendiri yang setiap lima kali sehari 
diikrarkan sebuah 
      pengakuan tauhid dalam melasanakan shalat, innaa shalati wa nusuki wa 
mahyaya 
      wamamati lillahirabil alamiin. Sayang, banyak umat Islam tidak memahami 
dan tidak mau 
      konsekuen mempraktekkan ucapannya sendiri.

      Doa Iftitah tersebut kini hanya tinggal penghias bibir, sekadar 
formalitas, bahkan mungkin 
      saja tanpa disadarinya apa yang diucapkan dalam doanya itu hanyalah 
sekadar pelengkap 
      shalat, tidak ada bekasnya, dan tidak ada getaran kalbu. Tapi kita pun 
mahfum 
      bagaimana bisa menghayati isi doa tersebut, karena kita pun tidak 
mengerti, bahkan 
      membacanya pun kadang-kadang sangat terburu-buru, tanpa kehadiran jiwa, 
serta tanpa 
      emosi sama sekali.

      Padahal, kalau saja setiap pribadi muslim menyadari betapa dalamnya ikrar 
yang dia 
      ucapkan ketika membaca doa iftitah tersebut, niscaya akan bergetar 
jiwanya, dan 
      tersungkur dengan penuh kesahduan di hadapan Ilahi Rabbi. Oleh karena 
ikrar itu adalah 
      lambang "kebebasan bertanggung jawab" manusia sebagai wakil Allah di muka 
bumi 
      (khalifah fil-ardhi). Kemerdekaan jiwa inilah yang dimiliki oleh kelompok 
para pengikut 
      Rasul pada kurun pertama kejayaan Islam. Mereka bergabung dalam jamaah 
yang secara 
      kuantitatif adalah minoritas, tetapi tampil sebagai kelompok yang 
bernilai, dikarenakan 
      memiliki harga diri dan kemuliaan sebagai manusia merdeka.

      Rasio yang dibimbing oleh hawa nafsu, tentunya tidak pernah akan memahami 
untuk 
      dapat mengalahkan kemenangan umat Islam di dalam Perang Badar untuk 
melawan 
      musuh-musuh jahiliah yang berlipat ganda, persenjataan yang konvensional, 
dan terbatas? 
      Akan tetapi, rasio yang dibimbing cahaya Ilahi, lentera iman, dan 
semangat tauhid, 
      pastilah dengan sangat tangkas akan segera memperoleh jawabannya, "Insya 
Allah, kita 
      pasti menang karena Allah beserta kita."

      Sesekali kita pun boleh bertanya, semangat apakah gerangan yang 
mengilhami para 
      "penyiar" Islam sehingga dalam kurun waktu yang sangat singkat, cahaya 
kebenaran 
      telah memeluk separo dari belahan bumi. Padahal mereka tidak dibayar, 
tidak 
      mendapatkan pakaian yang cukup, bahkan harus menghadapi berbagai suku 
bangsa yang 
      asing, daerah yang sulit, dan berbagai budaya yang sudah mengakar di 
kalangan 
      penduduk. Akan tetapi, para mujahid dakwah mampu menyebarkan Islam dalam 
tempo 
      yang sangat menakjubkan.

      Sir Thomas Arnold yang menulis sebuah buku berjudul, The Preaching of 
Islam terkagum-
      kagum melihat prestasi ini, sehingga walaupun agak sarkastis dia 
melukiskan kejayaan 
      sinar dakwah itu sebagai "suatu kekuatan dakwah yang luar biasa daripada 
Roma". 
      Prestasi ini semua dikarenakan di dalam dada para pelopor pertama 
(assabiquunal 
      awwalun) memiliki kepribadian yang sangat khas, yaitu hanya berpandukan 
pada Al-
      Qur'an. Mereka tidak pernah mempunyai sedikit pun keraguan terhadap isi 
kandungan Al-
      Qur'an sebagai panduan hidup yang akan memberikan kekuatan yang maha 
dahsyat 
      apabila mau melaksanakannya dengan konsekuen.

      Mereka adalah tipikal manusia yang berorientasi pada prestasi amaliah. 
Sehingga cara 
      berpikir para jamaah ini, hanya semata-mata ingin dan sangatlah rindu 
untuk segera 
      mengamalkan Al-Qur'an, walaupun hanya satu ayat. Betapa 
bersungguh-sungguhnya 
      mereka, sehingga dalam sebuah hadits yang sahih, Rasulullah menyuruh 
Abdullah bin 
      Umar, supaya mengkhatamkan Al-Qur'an sekali dalam seminggu. Begitulah 
juga para 
      sahabat seperti Utsman, Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas'ud, dan Ubai bin Ka'ab 
telah menjadi 
      bagian dari wiridnya untuk mengkhatamkan Al-Qur'an pada setiap hari Jumat.

      Merupakan kebiasaan bagi para sahabat. Mereka secara bergotong-royong 
membaca Al-
      Qur'an, dengan cara membagi-baginya berdasarkan surat-surat tertentu 
secara berurutan 
      dari mulai surat al-Baqarah sampai an-Nas, sehingga dalam tempo yang 
sangat singkat 
      mereka mampu mengkhatamkannya. Inilah salah satu ciri khas dari pribadi 
anggota
      jamaah, di mana Al-Qur'an dijadikannya "ramuan batin" dan bagian tidak 
terpisahkan dari 
      hidupnya. Mereka merasa tidak bernilai apabila ada satu hari tanpa 
membaca Al-Qur'an.

      Semangatnya untuk membaca dan mengkhatamkan Al-Qur'an, yang didorong oleh 
      keikhlasan yang murni, bukanlah sekadar untuk menjadikan Al-Qur'an 
sebagai bahan ilmu 
      pengetahuan, tetapi sebagai salah satu panggilan jiwa, perasaan akrab 
dengan Ilahi. 
      Kemudian, muncul dorongan untuk segera lari dan ke luar dari kemah-kemah 
mereka, 
      mengembara ke setiap pelosok bumi, untuk mengamalkan dan mendakwahkannya. 
      Mereka sadar bahwa hanya dengan menghampiri, menghayati, dan mengamalkan 
Al-
      Qur'an sajalah, mereka akan memperoleh petunjuk. Apalagi mereka pun sadar 
bahwa 
      apabila mereka mengambil jalan lain atau referensi lain selain Al-Qur'an, 
maka hanya 
      perpecahan dan kesesatanlah yang akan menimpa jamaah dan persatuan akidah 
mereka.

      Allah SWT berfirman, "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah 
jalan-Ku yang lurus, 
      maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan (yang lain) karena 
jalan- jalan itu 
      mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan 
Allah kepadamu 
      agar kamu bertakwa." (al-An'am: 153).

      Para sahabat yang berkumpul dalam jamaah adalah manusia Qur'ani, bahkan 
      kehidupannya semata-mata hanyalah refleksi dari keinginan Al-Qur'an 
belaka. Pantaslah 
      apabila kepada mereka digelari sebagai "Al-Qur'an berjalan" (the walking 
Qur'an). Menurut 
      standar atau tolak ukur budaya jahiliah, tentu saja sikap hidup Qur'ani, 
seperti yang 
      ditunjukkan jamaah para sahabat Rasul itu, dianggap sebagai suatu 
kehidupan yang 
      eksklusif. Dan, tidak aneh pula apabila tuduhan palsu yang diarahkan 
kepada para 
      sahabat --pada zaman jahiliah-- sebagai manusia yang membawa agama baru, 
yang akan 
      merusak tatanan budaya, dan kepercayaan yang telah turun-temurun 
dipraktekkan oleh 
      ajaran nenek moyangnya melalui sesembahan kaum jahiliah: Latta, Mana, dan 
Uzza.

      Padahal, apa yang dilakukan oleh para jamaah itu bukanlah karena 
kebencian, tetapi 
      karena hanya ingin meluruskan kembali, fitrah manusia untuk bersatu dalam 
satu ikatan 
      tauhid, yaitu hanya bertuhankan Allah semata, sebagaimana firman-Nya, 
"Sesungguhnya 
      (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku 
adalah 
      Tuhanmu, maka sembahlah Aku. " (al-Anbiya':92).

      Hanya karena perasaan penuh kasih, maka para sahabat tersebut ingin 
mengajak umat 
      manusia untuk meluruskan keyakinannya; dan menjauhi kesesatan yang 
disebabkan oleh 
      hawa nafsu (vested interest) kaum jahiliah. Memahami arti dan esensi 
jamaah, berarti 
      setiap pribadi muslim terpanggil untuk selalu mendahulukan nilai 
persamaan, 
      persaudaraan, dan kekompakan. Tentu saja bahwa aspirasi seperti ini, 
seharusnya 
      menjadi ciri dan cara hidup setiap pribadi muslim, yang tergabung dalam 
jamaah mana 
      pun.

      Di samping itu, berjamaah janganlah ditafsirkan sebagai suatu penyempalan 
dari tatanan 
      harakah dakwah, karena bisa jadi yang dimaksudkan dengan jamaah itu 
adalah suatu 
      bentuk gerakan yang terorganisasi untuk melangsungkan dan memberikan 
kontribusi 
      amar ma'ruf nahi munkar di dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam 
konteksnya yang 
      lain, pemahaman terhadap esensi jamaah mendorong setiap pribadi muslim 
untuk ikut 
      terjun secara berkelompok ke dalam suatu gerakan yang mempunyai aspirasi 
serta tujuan 
      yang jelas.

      Kita dilarang untuk hidup secara egois (ananiyah) dan membutakan diri 
dari berbagai 
      aspek problematika umat. Dan, cara untuk masuk dalam kehidupan nyata itu 
adalah 
      seruan Islam yang mengajak setiap individu untuk berjalan secara 
bergandengan tangan, 
      bersaf-saf yang rapi bagaikan suatu benteng yang kokoh untuk membendung, 
bahkan 
      melawan segala paham jahiliah. Hal ini sebagaimana ucapan Umar bin 
Khaththab:

      "Bahwa kebenaran tanpa organisasi yang rapi akan dikalahkan oleh 
kebatilan yang 
      terorganisasi."

      Memang benar bahwa kebenaran itu akhirnya pasti menang, karena 
pertolongan Allah, 
      tetapi harap diingat pula bahwa apa yang dikatakan Umar r a. adalah suatu 
peringatan. 
      Sesungguhnya, pertolongan Allah hanyalah diberikan kepada mereka yang 
memenuhi 
      kriteria kekuatan saf atau barisan yang rapi.

      Dengan kokohnya persatuan umat serta adanya kepemimpinan yang tangguh; 
niscaya 
      gerakan Dajal zionistik dapat kita hadapi secara kompak. Sebaliknya, bila 
kita berpecah-
      belah maka hanya kenelangsaan yang akan ditanggung generasi demi generasi 
umat 
      Islam yang telah terpuruk dalam kelompok-kelompok dan budak nafsu kaum 
Dajal 
      tersebut

      Bersambung ke bab 4.2

      Wassalam

      St. Sinaro
     


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke