E. Pendidikan dan Pembinaan Akhlak Bidang pendidikan dan pembinaan akhlak setiap pribadi muslim merupakan program terpadu dan bersifat kontinu. Segala kegiatannya diawali dari hal yang paling sederhana, sesungguhnya amal yang paling afdal adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit. Kontinuitas merupakan ciri program seluruh aktivitas kerja pribadi muslim, mulai setahap demi setahap, melalui jenjang (marhalah) yang tuntas, baru kemudian beralih pada bidang kajian selanjutnya. Karena program pendidikan Islam menekankan pada praktik sikap dan perilaku, merujuk pada niat, usaha dan hasil. Menjauhi segala yang bersifat mubazir, tetapi selalu memprioritaskan segala bentuk amal yang nyata, terasa, dan bermanfaat. Sikap verbalitas diskusi-diskusi yang melelahkan dan tidak berkesimpulan bukanlah ciri seorang ikhwan, melainkan amalnyalah yang menjadi panji kehidupannya. Setiap pembicaraan taklim ataupun tarbiyah jamaah selalu diakhiri dengan sebuah kesimpulan yang mengharapkan sebuah jawaban konkret dari pertanyaan: setelah ini apa wujudnya? Setelah diskusi ini apa praktiknya? Begitulah seterusnya. Setiap anggota jamaah didorong untuk berbuat dan menghasilkan sesuatu karena mereka sadar bahwa kehadiran dirinya harus memberikan arti. Islam ajaran yang bersifat menyeluruh, sempurna, dan saling menyempurnakan (syamil-kamil-mutakamil) dan akan terasa menjadi rahmatan lil-alamin, apabila setiap pribadi muslim memang merasakan kehadirannya untuk memerangi kebatilan dan menyebarkan perdamaian, hanya akan terwujud apabila di hati setiap pribadi muslim tertanam semangat dan perjuangan. Maka jelaslah bahwa Islam adalah agama amaliah, agama gerak nyata yang dijalin beton persaudaraan di atas fondasi bangunan tauhid yang kokoh. Dan saf yang kuat benteng yang kukuh, serta binaan keimanan yang berkesinambungan secara kolektif (jama'i) melalui "amal jamaah" pula. Pola pendidikan yang dilaksanakan secara jamaah ini, awalnya didasarkan pada keimanan, keyakinan, dan pemaknaan yang mendalam akan konsekuensi pengucapan syahadat. Dengan keyakinan dan pemahaman akan dua kalimat syahadat, setiap anggota jamaah ikhwan adalah pribadi muslim yang telah dicelup (sibghah Ilahiyah) dengan kecintaan yang sangat mendalam kepada Allah, sehingga pantas menjadi satu generasi yang berakhlak Al-Qur'an dan mempunyai karakter kuat sebagai pribadi yang patut diteladani. Rasa cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya adalah "harga final" yang tidak pernah dapat ditawar dengan harga dan bentuk benda apa pun. Syahadat adalah darah daging dirinya yang membawa konsekuensi kemerdekaan insaniyah dan melahirkan generasi rabbaniyah yang hanya terpatri di dadanya kalimat "Lailaha ilallah Muhammadarrasulullah." Hanya ada satu moto dalam hidup setiap ikhwan. Dia harus hidup mulia sebagai muslim. Dan apabila kematian telah datang kepadanya, dia akan menutup kehidupan dengan kematian sebagai seorang syuhada, insya Allah. Mengingat pentingnya pola pendidikan dan pembinaan muslim dari sisi pribadi dan jamaah, maka setiap anggota diwajibkan untuk tidak melepaskan diri dari ikatan persaudaraan. Dalam ikatan ini bercucuran hikmah, ilmu, dan amal-amal prestatif yang memberikan stimulan atau motivasi agar dirinya menjadi manusia yang berakhlak karimah. Pola pendidikan jamaah ditekankan pada program yang padu dari kekuatan iman, ilmu dan amal, di mana tidak mungkin salah satu dari tiga rangkaian ini ditinggalkan. Hanya dengan penguasaan ilmu pengetahuan, maka kita dapat menggerakkan masyarakat menuju kepada kemuliaan. Dengan demikian, salah satu ciri setiap anggota jamaah ikhwan adalah rasa cintanya akan ilmu pengetahuan dan kegelisahan dirinya untuk mengamalkannya. Walau ilmu yang dimilikinya hanyalah bagaikan tetesan air dibandingkan dengan ilmu Allah pun yang luasnya melebihi samudra. Ketahuilah bahwa Islam sangat memuliakan orang-orang yang berilmu dan mendorong setiap pribadi muslim untuk menjadi tipe manusia yang "gandrung" terhadap ilmu, sebagaimana firman Allah, "Allah menyatakan, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatahan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Ali Imran: 18). "... Katakanlah, 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (az-Zumar: 9). "... Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat...." (al-Mujaadalah:11). Atas dasar rasa tanggung jawab maka para anggota jamaah tidak mungkin melepaskan atau menghindari kewajiban dirinya untuk menimba ilmu, membina akhlak, dan mengamalkan ajaran Islam secara prestatif. Setiap anggota ikhwan adalah murid dan sekaligus mursyid orang yang menunjukkan jalan yang benar. Ia juga belajar, sekaligus mengajar, sehingga merata, dan menyebarlah kekuatan ilmu dalam tatanan jamaahnya. Harus tertanam di dalam jiwa setiap anggota jamaah yang mengikuti taklim atau pengajian yang diselenggarakan oleh majelis-majelis mana pun. Hal itu dimaksudkan agar dirinya harus memberikan arti, dan mampu memberikan kontribusi dalam kemajuan taklim ter sebut. Kita tidak boleh membuat tabir-tabir penyekat atau berdalih, "Taklim yang diselenggarakan tersebut atau taklim yang mengundangku tersebut bukan dari jamaahku." Ketahuilah wahai saudaraku bahwa salah satu tiang pembinaan akhlak adalah persaudaraan, maka hargailah undangan yang akan membersihkan jiwa, serta menambah wawasan keilmuan, walau dari mana pun. Dari kelompok mana pun, selama engkau memiliki waktu luang untuk menghadirinya. Karena kita sangat sadar bahwa dengan melakukan studi banding kiranya akan tersimpulkan di batin kita suatu hikmah kebijaksanaan. Suatu keluasan dan kelapangan hati yang lebar. Akan tetapi sebaliknya, apabila kita sudah apriori, membuat sekat-sekat, hitam-putih, bahkan dengan tanpa pengetahuan sedikit pun, kita menghakimi sesama saudara. Sungguh hal itu bukanlah akhlak dari seorang muslim yang merindukan jamaah persaudaraan sebagai tali perekat umatan wahidah. Pembinaan akhlak para anggota jamaah ikhwan, bukan sekadar mencari ilmu, atau mencari keterangan (nash) untuk memperkuat kiprah dirinya. Akan tetapi, di balik itu tersimpan suatu misi untuk menebarkan benih-benih ukhuwah. Suatu misi dari silaturahmi karena Allah semata-mata. Atas dasar semangat mondial universal dan dengan semangat persaudaraan inilah, hendaknya jamaah Islamiyah yang telah konkret dapat melakukan pembinaan dirinya. Mereka tidak hanya mengkaji hukum-hukum syariat, tetapi juga mempelajari berbagai keterampilan dan ilmu-ilmu penunjang. Mereka tidak hanya mengenal makna dan "khittah" jamaahnya, tetapi juga membuka lebar untuk melakukan mudzakarah, yaitu dialog dengan siapa pun atas dasar hikmah, saling menghargai, dan memahami posisi satu sama lainnya. Pembinaan akhlak jamaah ini adalah suatu upaya untuk memelihara cinta kasih dan persaudaraan. Bukan sebagai sarana untuk mencari dasar-dasar yang menambah lebar jurang pemisah diantara sesama muslim. Perbedaan paham diantara sesama muslim, jangan menjadi sebab terjadinya jurang pemisah apalagi konflik, tetapi sebaliknya kita mencoba saling memahami dan saling berkerja sama dalam hal hal yang sama. Penilaian buruk dan baik terhadap tata cara beribadah seseorang janganlah hanya didasarkan pada semangat mutlak-mutlakkan, karena mengubah keyakinan seseorang dalam tata cara ibadah itu membutuhkan suatu proses, suatu kesabaran, dan ketelatenan yang amat dahsyat. Begitu juga halnya dalam kehidupan dengan nonmuslim, semangat ukhuwah bashariyah dan wathaniyah menjadi salah satu jembatan untuk saling mengulurkan tangan membangun satu tatanan masyarakat yang adil dan berlimpah cinta. Mengubah sikap seseorang bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Karena disamping masalah hidayah, ada pula faktor lainnya yang mungkin lebih kompleks, yaitu mencakup situasi budaya, sosial-politis, dan ekonomi seseorang. Sebab dengan semangat seperti itulah, maka akan tercipta pembinaan akhlak para jamaah tersebut, sehingga kita akan merasakan keindahan bersaudara, kelezatan makna ukhuwah, dan kesejukan silaturahmi. F. Tantangan Global Dakwah Islamiyah
Gerakan zionisme --dengan konspirasi globalnya-- harus diantisipasi lagi dengan metode dakwah yang bersifat global pula. Memanfaatkan seluruh sarana yang ada dan mengembangkan cara berpikir yang lebih membumi, aktual, dan menyangkut langsung kehidupan umat. Dakwah dengan pola pendekatan normatif harus diperkaya dengan dakwah pendekatan informatif yang mampu membuka cakrawala dan kualitas berpikir umat untuk mengantarkannya ke dunia yang penuh dengan tantangan tersebut Bila kaum zionis mempersiapkan satu "ordo universal" yang ingin mengangkangi dunia dengan segala pengaruhnya, maka dakwah Islamiyah harus memberikan jawaban sekaligus memenangkan solusi islami yang secara nyata dan aplikatif dapat dicerna oleh objek dakwah. Bangsa Indonesia yang dikenal sebagai masa depan umat Islam di belahan Timur merupakan sasaran atau target penghancuran kaum zionis. Mereka tidak pernah akan membiarkan umat Islam kuat. Mereka tidak akan pernah tenang tidurnya, bila melihat suatu negara yang bersatu dan mempunyai prospektus cemerlang di masa depan. Negara Indonesia yang notabene dibanggakan karena mayoritas penduduknya beragama Islam, mulai memperlihatkan peran aktifnya di dunia internasional dikarenakan adanya stabilitas serta perkembangan ekonomi oleh IMF dan Bank Dunia dipujikannya sebagai negara industri baru (newly industrialized country) --harus dijadikan salah satu target neo- imperialisme kaum zionis. Namun, belakangan diketahui bahwa pujian itu hanyalah sebuah pujian palsu untuk mempermalukan dan menambah sakitnya kejatuhan bangsa Indonesia. Kepentingan ekonomi global yang dikuasai zionisme Yahudi itu, secara transparan mereka sengaja menghancur-luluhkan perekonomian Indonesia agar pada waktu yang tepat mereka akan segera membanjiri Ibu Pertiwi dengan menguasai seluruh sektor riil, melalui pembelian saham yang sangat murah. Program swastanisasi dan privatisasi yang semula dicanangkan akhirnya jatuh kepada pengusaha kaum zionis. Mereka pun dengan sangat leluasa mengambil alih seluruh sektor kehidupan ekonomi. Kemudian dengan itu, mereka mampu mempunyai kekuatan untuk melakukan tekanan terhadap berbagai kebijakan politik dan arah pemerintahan, sebagaimana ucapan raja perbankan international dari dinasti Rothchild yang mencanangkan satu moto, "Siapa yang mengendalikan uang, maka ia dapat mengendalikan suatu bangsa, who control over money, they can control over the nation too." Berbagai kerusuhan yang semakin tidak terkendali, seharusnya disikapi sebagai permasalahan yang tidak semata-mata murni masalah domestik. Campur tangan kaum zionis dengan gerakan Dajalnya yang mempunyai jaringan konspirasi bawah tanah (daabatam minal ardhi) dengan berbagai peralatan teknologi spionasenya, perusahaan jaringan informasi multinasionalnya, merupakan bentuk campur tangan agen rahasia yang sangat rapi dan sulit untuk dimunculkan (dibongkar) ke permukaan keberadaannya. Janganlah mata hati kita terkecoh hanya kepada ketidak-mampuan aparat yang gagal mengungkap aktor intelektual dibalik gerakan santet Banyuwangi yang menjadi kasus gelap (dark case), sebagaimana para pelaku Peristiwa Ketapang, yang konon para premannya telah berhasil diamankan petugas dan mengundang berbagai spekulasi. Ke manakah mereka? Mengapa mereka tidak diadili? Apakah mereka diamankan ataukah dibina untuk membuat kerusuhan baru? Apakah mungkin karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang gampang lupa; setiap peristiwa besar manapun raib bagaikan kepulan asap yang lalu lenyap diterpa angin dan dilupakan. Seakan-akan segala kepedihan tidak membekas sama sekali. Berbagai pertanyaan serta kerusuhan demi kerusuhan semakin gelap dan tidak terkendali. Logika sehat pasti akan menjawab, "Kemungkinan besar memang ada gerakan konspirasi Dajal yang menciptakan kerusuhan agar bangsa Indonesia tercabik dan terpuruk nelangsa dalam penderitaan serta frustasi sosial yang tinggi." Apakah mungkin ABRI yang konon terkuat di ASEAN, bahkan ikut aktif sebagai tentara perdamaian di Kamboja dan Bosnia; juga dengan jaringan intelejennya yang dikenal sangat lincah dan sigap, lantas kehilangan sama sekali seluruh profesionalismenya? Domino effect theory, yaitu teori konspirasi internasional untuk menghancurkan suatu negara yang sedang melaksanakan suksesi; (lihat Webster Dictionary, ed.) memberikan gambaran bahwa para provokator-provokator iniernasional mencoba menyulut satu kerusuhan demi kerusuhan di Indonesia, yang seharusnya diantisipasi oleh kita sejak awal. Hal itu mengingat potensi konflik di negeri yang pluralistik ini sangat rentan terkena "sindrom konflik". Kerusuhan yang menjalar dari satu tempat ke tempat yang lain adalah bentuk "bantai dan lari" (hit and run) dan cara-cara yang sangat diketahui oleh para intelejen bahwa keadaan ini hanya akan menguntungkan kaum zionis dan menyengsarakan umat manusia, khususnya umat Islam termasuk bangsa Indonesia. Kita menggulingkan tirani, tetapi anehnya kita menjadi tirani baru, bahkan kita lebih tirani daripada tirani sebelumnya. Hawa nafsu, percikan amarah, dan berbagai potensi konflik, seakan-akan ditumpahkan mengikuti skenario "zaman aquarius", yang diyakini oleh para pemistik zionis. Bila perang etnik, agama, ras, dan golongan telah lengkap terjadi, maka kita akan menyaksikan Indonesia yang terbakar, chaos, dan anarkis. Pada saat itulah, polisi pengawal Dajal dengan leluasa "mengobok-obok" Indonesia. Dan atas nama perdamaian, mereka menyodorkan berbagai konsep yang akan mengeliminasi mitos-mitos negara kesatuan dan persatuan: gemah ripah loh jinawi, yang selama ini menjadi salah satu kebanggaan nasional bangsa Indonesia. Bagi kaum zionis, segala dogma dan mitos seperti itu harus disingkirkan dan diganti dengan mitos baru ala zionisme, yaitu semboyan membangun "era reformasi baru": satu pemerintahan yang tunduk serta patuh kepada majikannya, satu sistem perekonomian dan moneter yang memperkaya khazanah perbendaharaannya, satu agama yaitu unitarian-universalist sesuai dengan kandungan falsafah Iluminasi, novus ordo seclorum. Bersambung ke bab 6 Wassalam St. Sinaro -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
