Haluan, Selasa, 12 Juli 2011 03:58

http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=666
1:sentuhan-pastisipatif-untuk-efektivitas-gpp&catid=11:opini&Itemid=83

Refleksi: tulisan yang sangat bernas, sekaligus menegaskan--walaupun skalanya
masih terbatas--betapa bernasnya pula program dan apa yang telah dirintis dan
dilaksanakan oleh Nakan Armen dkk di LPAM Marapalam
Wassalam, HDB-SBK 

Gerakan Pensejahteraan Petani (GPP) merupakan suatu program terobosan yang
diluncurkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Secara teoritis,
program ini diyakini mampu menciptakan suasana dan perkembangan baru bagi
dunia pertanian dan perkembangan ekonomi daerah maupun nasional.

Tetapi agar program yang akan ditonjolkan ini bisa lebih efektif dari
berbagai program (terobosan) sebelumnya, mungkin ada baiknya kalau diperkaya
dengan nuansa pembangunan yang berpihak kepada rakyat. Maksudnya, teknik
operasional ataupun sistem pelaksanaannya perlu dikaji ulang atau ditinjau
kembali, apakah sudah sesuai dengan aspirasi masyarakat dan dukungan
sumberdaya alam yang dimiliki. Bahasan atau kajian kita mulai dari metode
perencanaan dan penggalian potensi yang layak dan efektif untuk
dikembangkan, kemudian dilanjutkan dengan penetapan titik nol, titik dimana
kegiatan dimulai, sehingga tingkat keberhasilan bisa diukur secara
kuantitatif menurut tahapan pengembangan. Langkah lanjut adalah metode
pembinaan, pembimbingan dan pengawalan serta diakhiri dengan fasilitasi
kerjasama dan pemasaran.

Menggali Potensi dan Rencana Pengembangan

Salah satu kelemahan yang mendasar yang selalu diper-tahankan dan dilakukan
dalam proses pembangunan Negara kita selama ini, adalah menyusun rencana
berdasarkan kemauan, keinginan atau kebijakan para aparat. Kemudian
diperkuat dengan penyesuaian dengan kondisi keuangan atau anggaran yang
tersedia. Dan satu hal lagi yang sangat mendasar adalah, rencana tersebut
selain dibuat diatas meja juga sering berpedoman pada kegiatan tahun
sebelumnya, tambah atau kurangi sedikit. Kalaupun ada kaitannya dengan
kondisi lapang, itu hanya berdasarkan pesan, permintaan ataupun instruksi,
bukan berdasarkan potensi yang tersedia atau berdasarkan, kebutuhan dan
kondisi setempat. Seyogyanya penyusunan rencana pembangunan itu dimulai dari
bawah, terutama yang berkaitan dengan pertanian (pangan?) dan petani.

Yang akan menjadi pelaksana pembangunan adalah petani, yang akan
dikembangkan adalah potensi pertanian, dan yang akan dibina, diawasi dan
dibimbing adalah petani. Wilayah yang akan dibangun adalah lingkungan
kehidupan mereka sehari-hari. Serta yang akan dikendalikan adalah alam,
makhluk hidup dan semua yang ada dalam lingku-ngan petani tersebut. Oleh
karena itu, semuanya harus dikaji secara mendalam dan dilibatkan dalam
menyusun apa yang akan diker-jakan dan dikembangkan. Kata lain yang lebih
tepat adalah perencanaan sebaiknya dilakukan secara partisipatif, agar semua
kegiatan pembangunan tersebut bisa dilakukan dengan baik karena sesuai
dengan aspirasi petani, sesuai dengan dukungan sumberdaya alam serta sesuai
dengan perkembangan setempat.

Dalam hal ini, petanipun harus diarahkan dan dibimbing serta diberi
penjelasan. Kalau minta sapi harus diberi sapi, minta itik diberi itik,
bukan begitu. Aspirasi petani harus disejalankan dengan kondisi mereka,
duku-ngan wilayah serta lingkungannya. Disadari memang, bahwa pene-rapan
perencanaan partisipatif butuh waktu yang lebih panjang dibanding sistem
yang lama, tetapi diyakini hasilnya jauh lebih efektif. Pekerjaannya tidak
sulit, hanya saja membutuhkan keahlian, kesabaran dan kemampuan dalam
pemberdayaan dan fasilitasi petani. Jauh lebih baik, terlambat melaksanakan
tetapi memberikan dampak yang positif pada kesejah-teraan petani. Potensi
nagari akan mencirikan basis kegiatan pem-bangunan serta komoditas prioritas
yang akan dikembangkan. Begitu juga dengan kondisi dan potensi sumberdaya
manusianya, akan menentukan arah pengem-bangan, prioritas penanganan serta
alternatif pendekatan dan sistem pengembangan.

Nagari percontohan GPP dibedah secara seksama oleh tenaga ahli (perencana
3-5 orang) dengan melibatkan petani dan pemuka masyarakat setempat dengan
pendekatan partisipatif. Mereka akan menggunakan semua teknologi terkini,
peralatan yang canggih serta metode yang tepat dan sesuai. Mereka mengkaji,
membahas dan memecahkan masalah serta mencarikan solusi untuk pengembangan
semua potensi yang dimiliki. Sumberdaya manusia, sumberdaya alam,
infrastruktur, akses, dan fasilitas yang dimiliki akan menentukan apa yang
akan dikembangkan.

Dengan demikian akan diha-silkan sebuah rencana pembangu-nan jangka panjang
atau jangka menengah. Untuk jangka pendek bisa diperoleh dari penetapan
prioritas dari sekian banyak rencana yang disusun. Bila rencana dibuat
bersama dengan memberdayakan petani serta mengikutkannya sebagai subjek
pembangunan diri, komunitas dan wilayahnya, maka kemung-kinan gagal akan
semakin jauh dan hasil yang diperoleh akan sangat efektif.

Apalagi kalau kegiatan ini betul-betul dikawal dan dibina secara
berkelanjutan. Teori dan metode perencanaan ini sebenarnya sudah sangat
diketahui oleh aparat-aparat pemerintah, karena sudah sering dikenalkan dan
dilatih. Tetapi aplikasinya di lapangan nampaknya belum dilaku-kan dan masih
kalah bersaing dengan cara yang lama yang lebih mudah dan tidak membutuhkan
banyak pemikiran dan perhatian.

Di Sumatera Barat, tenaga ahli untuk itu sangat banyak tersedia. Ada dua
Balai Penelitian nasional dan satu Balai Pengkajian yang mempunyai tenaga
ahli dan terampil serta berpengalaman. Kemudian ada banyak Perguruan Tinggi
yang mempunyai pemikir seperti Profesor, doktor, master dan sarjana berbagai
bidang ilmu. Disamping itu ada juga maha-siswa yang bisa juga saling memberi
dalam berbaur dengan petani dan masyarakat. Ada lagi para pemberdaya dari
berbagai LSM, yang syarat pengalaman dalam pemberdayaan masyarakat.

Kata kuncinya, semua elemen ahli ini diajak berunding oleh Pemerintah
Propinsi/Kabu-paten/Kota duduk bersama untuk mengeroyok dan mensukseskan
GPP. Siapa mengerjakan apa, siapa menyediakan apa dan siapa yang bertanggung
jawab dengan apa?.

Bila jelas sistem dan pembagian kerjanya, kemudian ditetapkan dengan membagi
habis tenaga yang terlibat ke masing-masing daerah percontohan. Disini juga
akan terjadi persaingan yang sangat kompetitif yang akan memberikan hasil
yang sangat efektif bagi perkembangan pe--r-e-ko--nomian rakyat Sumatera
Barat. Karena pembangunan yang dilakukan betul-betul berakar di pedesaan dan
sesuai dengan kondisi masyarakat dan dukungan sumberdaya alam.

Tolok Ukur Keberhasilan

Sejalan dengan penelusuran potensi, masalah dan peluang  pengembangan yang
dilakukan secara partisipatif, juga dilaksanakan pengukuran titik nol
kondisi pedesaan. Baseline survei, akan memberikan gambaran terkini dari
nagari yang akan dikembangkan. Bahkan baseline survei ini akan menghasilkan
data base nagari yang lengkap dan sangat up to date. Data ini sangat
dibutuhkan dan merupakan dasar berpijak proses perencanaan dan pembangunan
yang akan dilaku-kan. Kondisi sosial masyarakat akan tercermin secara
menye-luruh, begitu juga kondisi ekonomi mereka. Apapun perubahan yang
terjadi bila waktu sudah berjalan dapat dideteksi dan dikaji faktor-faktor
pemicunya. Bila terjadi kegagalan maka faktor penye-babnya akan dapat
ditelusuri dengan sangat mudah. Hasil tahunan akan memperlihatkan perubahan
dan perkembangan sebagai akibat dari kegiatan pembangunan yang dilakukan.

Kegiatan survei serupa bisa dilakukan tiap tahun sehingga kemajuan yang
dicapai bisa terlihat dan terukur secara kuantitatif. Dengan adanya kegiatan
ini, pemerintah bisa mengemukakan hasil pembangunan yang dicapai di
masing-masing nagari atau daerah. Daerah mana yang lebih efektif
pembangunannya dan daerah mana yang lamban. Kalau terjadi kegagalan atau
kelamba-nan akan segera diketahui penye-babnya sehingga program yang
dilakukan bisa diperbaiki. Secara periodik hasil kegiatan pemba-ngunan bisa
digrafikan dengan sangat nyata dan transparan, bahkan hal ini bisa dilakukan
oleh wali nagari. Mungkin berkaitan dengan ini, sudah saatnya Pemerintah
sumatera Barat memanfaatkan GPP sebagai awal atau ajang percontohan
meletakan pusat pembangunan di pedesaan. Pembangunan yang dilakukan berbasis
potensi dan berakar di nagari, sehingga dengan demikian pengembangan ekonomi
kerakyatan akan mem-buktikan keampuhannya dalam memacu pertumbuhan ekonomi
daerah dan nasional.

Survei pendasaran ini akan menghasilan data base yang sangat akurat karena
dilaksanakan sendiri oleh masyarakatnya dibawah bimbingan tenaga ahli. Dan
data ini juga akan memperbarui data statistik BPS yang banyak kalangan
memperkirakan banyak penyimpangannya. Dengan data statistik yang benar dan
akurat, perhitungan dan perencanaan pembangunan akan sangat mudah dilakukan
dan akan lebih efektif.

Pembimbingan, Pengawalan Berkelanjutan

Setelah Rencana Pembangunan Jangka menengah (RP-JM) atau RPJP Nagari selesai
maka Pemerintah tinggal membagi dan memprioritaskan angga-ran pembangunan
kenagari-nagari percontohan. Semua SKPD terkait akan berperanserta dan
berkontribusi nyata sesuai dengan kebutuhan yang telah direnca-nakan dan
disepakati bersama. Ke-mudian dalam pelaksanaannya ha-rus dilakukan secara
intensif dan berkelanjutan. Pola lama harus ditinggalkan, setelah bantuan
diserahkan pekerjaan selesai tinggal monitor saja, atau diserah-kan kepada
penyuluh setempat.

Dalam hal ini, Pemerintah harus konsisten menunjuk tim pelaksana pada
masing-masing nagari percontohan. Pemerintah harus menetapkan tenaga ahli
dan tenaga pendamping serta aparat yang akan menjalankannya. Apakah
peneliti, dosen, pem-berdaya atau mahasiswa, semua-nya dilibatkan sampai
jangka waktu yang ditentukan untuk pengawalan kegiatan. Apakah tiga tahun
atau lima tahun?. Setelah dirasa cakap dan mampu mandiri, pemerintah nagari
binaan ini bisa ditinggalkan untuk kemudian beralih ke nagari lain. Para
tenaga ahli bisa dibiayai oleh Pemerintah Daerah atau bisa juga juga oleh
instansi mereka masing-masing, tergantung pada ketersediaan anggaran dan
kebijakan yang ditetapkan. Yang penting kinerja mereka harus dituntut sesuai
dengan keahlian mereka masing-masing.

Banyak pendekatan dan metode yang bisa diterapkan untuk pemberdayaan ini.
Proses pengawalan, pembimbingan yang berkelanjutan membutuhkan keseriusan
dari para tenaga ahli. Melalui pekerjaan ini, mereka tidak hanya bisa
memperoleh nilai kredit sebagai tenaga fungsional, tetapi juga memperoleh
masukan tambahan. Dan yang paling penting adalah mereka bisa meningkatkan
pengetahuan dan kemampuannya melalui penelitian atau pengkajian yang selalu
bisa dilakukan berkaitan dengan tugasnya di lapang. Begitu juga dengan
mahasiswa, mulanya mereka belajar dengan petani, kemudian sejajar dan untuk
seterusnya mereka bisa menga-rahkan petani untuk berkembang lebih maju dan
membuka pe-luang-peluang usaha yang ada di pedesaan.

Mereka secara perlahan akan terdidik dan terlatih menjadi motor penggerak
pembangunan di pedesaan. Dan bila itu bisa terjadi maka diyakini, mahasiswa
tersebut sudah selesai kuliahnya tidak akan mencari pekerjaan lagi. Mereka
sudah dicari oleh peker-jaan dan mereka dicari oleh pengusaha yang punya
pekerjaan, dan mereka bisa menetukan berapa imbalan yang akan diperolehnya
bila melakukan suatu pekerjaan. Penciptaan kondisi ini memang tidak mudah,
tetapi bisa dilakukan. Kapan lagi dimulai kalau tidak sekarang, jangan hanya
selalu jadi wacana yang berkepanjangan.

Kata kunci keberhasilan dalam pembinaan dan pem-bimbingan petani di lapang
adalah "sentuhan". Petani dan masya-rakat pedesaan sangat haus sentuhan,
bukan hanya sekedar perhatian atau bantuan.

Dan tidak pula instruksi atau perintah yang harus dijalankan tanpa
penga-walan dan pem-bimbingan.

MOEHAR DANIEL

(Peneliti Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pembangunan Pertanian BPTP Sumatera
Barat)

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke