http://www.indrapiliang.com/2011/07/22/kisah-harimau-kapalo-hilalang/

Kisah Harimau Kapalo Hilalang
Jumat, 22 Juli 2011
Kisah Harimau Kapalo Hilalang

Oleh
Indra J Piliang

Saya
 merasa berutang untuk menulis soal harimau ini. Sekalipun di akun 
twitter @IndraJPiliang sudah beberapa hari saya coba tweet, tetap saja 
diperlukan tulisan yang lebih panjang. Cerita harimau ini muncul lewat 
akun saya, ketika menghadiri Mubes V Gebu Minang di Padang Panjang pada 
tanggal 9-10 Juli 2011 lalu. Di perjalanan, saya membaca berita bahwa 
seekor harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) ditangkap warga 
Kenagarian Kapalo Hilalang dengan menggunakan kandang yang terbuat dari 
kayu. Saya berpikir, harimau itu pasti diselamatkan oleh warga setelah 
ditangkap. 

Tanggal 10 Juli, seusai acara penutupan Mubes V Gebu 
Minang, ternyata harimau itu masih ada di Kenagarian Kapalo Hilalang 
(Kepala Ilalang). Saya memutuskan untuk melihat harimau itu, karena 
pasti jadi perhatian warga. Benar saja, sekalipun menaiki ojek, mobil 
dan berjalan kaki, ternyata warga sudah terlihat pergi dan pulang dari 
lokasi. Mayoritas anak-anak kecil yang ditemani oleh orang tuanya. 

Harimau
 memang binatang yang “magis” bagi masyarakat Sumatera Barat. Budaya 
Minangkabau menempatkan harimau sebagai binatang yang terhormat. 
Panggilannyapun khas: inyiak (nenek). Sebagian masyarakat masih 
menganggap bahwa harimau adalah wujud dari binatang mitologis, karena 
bisa juga merupakan jelmaan manusia (harimau jadi-jadian). Karena itu, 
ketika harimau benar-benar ada dan berhasil ditangkap, adalah kejadian 
yang luar biasa dalam hidup. 

Saya tiba di lokasi, setelah 
berjalan kaki. Kondisi jalanan ke lokasi selalu mendaki dan mendaki. 
Saya sendiri terkejut, ada daerah yang seperti Kenagarian Kapalo 
Hilalang itu di Kabupaten Padang Pariaman. Pohon karet, kelapa sawit dan
 tanaman keras lainnya tumbuh di kiri dan kanan jalan. Rumah-rumah dan 
gubuk-gubuk petani berada di dalam area kebun rakyat itu. Biasanya, 
pemandangan seperti itu hanya ada di daerah Pasaman, Dharmasraya atau 
Pasaman Barat. 

Letak lokasi tertangkapnya harimau itu ada di 
bawah Gunung Tandikat, berdekatan dengan lokasi cagar alam Lembah Anai. 
Dalam kisah-kisah tambo, wilayah Lembah Anai ini merupakan tempat yang 
dihuni oleh para pendekar yang dikenal dengan sebutan parewa. Untuk 
melaluinya, terdapat jalan raya antara Padang Pariaman dan Padang 
Panjang yang bernama Silaing.  Sebuah air terjun indah menjadi lokasi 
favorit bagi siapapun yang ingin mengambil foto diri. 

Di Lembah 
Anai ini juga terdapat sebuah bukit yang dikenal dengan sebutan Bukit 
Tambun Tulang (Bukit Timbunan Tulang). Konon, bukit itu terbentuk dari 
tulang-belulang manusia yang menjadi korban dari parewa (penyamun dan 
perampok) yang melalui jalur berbahaya itu. Kini, musuh wilayah itu 
adalah longsoran tebing. Di sungai bening yang berada di sepanjang 
Lembah Anai, sudah dibangun tempat-tempat pemandian oleh penduduk. 

***
Auman
 harimau itu menyambut saya, ketika pertama kali melihat kandangnya dari
 kejauhan. Kandang itu terbuat dari kayu, tanpa paku. Kandang pasak, 
namanya. Warga mengerumuni kandang yang kokoh itu. Sekali lagi harimau 
itu mengaum. Warga terlihat tersibak, sekalipun harimaunya berada di 
dalam kandang. Beberapa orang menyalami saya. Pelan, saya melihat ke 
dalam kandang, lalu menggunakan dua buah blackberry untuk memotret 
harimau itu.

Dan setiap momen dalam potret saya menunjukkan 
kelelahan harimau itu. Kepalanya menyandar kepada kambing yang sudah 
mati, umpan yang digunakan untuk memerangkapnya. Tubuh kambing itu 
dijadikan bantal oleh kepala harimau. Kepala itu memejamkan mata, seolah
 sedang menyampaikan sesuatu. Sempat matanya terbuka, kepalanya 
terangkat, lalu rebah lagi dengan mata lelah yang tetap waspada. Inyiak 
itu kelihatan lelah. 

Lalu warga mengajak saya untuk berbicara. 
Yang memimpin bernama Pangeran, kepala pemuda di kenagarian itu. Ada 
beberapa juga sosok yang lebih senior, namun mereka lebih terkonsentrasi
 ke arah kandang harimau, berjaga-jaga. Merekalah anak buah tunganai, 
sang pawang harimau. Pangeran menceritakan bahwa perburuan harimau itu 
dilakukan sejak enam bulan lalu, lewat permufakatan warga. Kandang 
dibuat bersama. Hal itu dilakukan karena warga kehilangan ternak, 
dimangsa harimau.

“Ini umpan keempat yang berhasil menangkap harimau. Tiga sebelumnya hilang, 
karena perangkapnya gagal bekerja,” ujar Pangeran. 

Warga
 menceritakan bahwa mereka mau menyerahkan harimau itu kepada petugas 
Badan Konservasi  Sumber Daya Alam (BKSDA). Pihak BKSDA sendiri sudah 
datang, namun mereka hanya menembak ke atas, mengusir harimau lain yang 
dianggap masih berkeliaran. Menurut pihak BKSDA sendiri, itu memang 
prosedur standar. 

Masalahnya, warga meminta ganti rugi atau 
kompensasi. Dana itu akan digunakan untuk mengadakan upacara adat, 
seperti main randai dan bersilat. Saya memaklumi permintaan itu. Bagi 
saya, jarang sekali ada penagkapan harimau dalam keadaan hidup. Ketika 
bertanya kapan terakhir kali kejadian penangkapan harimau, warga 
menjawab beragam. Tetapi umumnya menjawab tidak pasti. 

Saya 
berjanji kepada warga untuk mengurus permintaan warga itu, dengan 
menghubungi pihak terkait. “Kalau perlu, saya hubungi Menteri Kehutanan,
 Bang Zulkiefli Hasan,” kata saya. Kebetulan, saya memang mengenal Bang 
Zul ini sejak lama. Selain itu, masalah harimau terkait dengan 
perambahan hutan yang dilakukan di Padang Pariaman, khususnya, dan 
Sumatera Barat, umumnya. Kebutuhan kayu pasca gempa bumi naik secara 
signifikan. Di Padang Pariaman, hampir 80% bangunan rubuh disapu gempa 
bumi tanggal 30 September 2009. 

*** 

Sepulang dari 
lokasi, saya meminta teman seperjalanan menghubungi bupati. Kebetulan, 
ponsel saya tidak dapat sinyal. Bupati berjanji untuk mendatangi lokasi 
keesokan harinya. Namun, setelah saya pulang pada tanggal 11 Juli 2011, 
ternyata Bupati Padang Pariaman tidak jadi datang, hanya mengirimkan 
camat Kecamatan 2 x 11 Kayu Tanam. 

Sesampai di Jakarta, saya 
mulai melakukan soft campaign di akun twitter. Tidak lupa saya mention 
akun milik Zulkifli Hasan, Menteri Kehutanan RI  (@Zul_Hasan). Dengan 
hashtag  #harimau dan #saveharimau, saya kirimkan lagi foto-foto keadaan
 harimau di kandang Nagari Kapalo Hilalang. Reaksi muncul dari Bang Zul.
 Dia mengatakan akan mengirimkan tim ke Padang Pariaman pada hari 
Selasa, 12 Juli 2011. Sementara lewat komunikasi dengan warga, mereka 
mengatakan bahwa kondisi harimau sudah lelah.

Malam harinya, saya
 dapat telepon dari Bupati Padang Pariaman, Drs Ali Mukhni. Lama kami 
berbincang. Tak lupa, saya sebutkan soal harimau itu. Bupati mengatakan 
bahwa warga masih bertahan. Saya juga menghubungi warga, ternyata 
harimau sudah diserahkan kepada pihak BKSDA. Muhardi, teman saya, 
mengatakan bahwa harimau itu “dilepas” dengan kompensasi Rp. 15 Juta, 
jauh di atas permintaan awal yang hanya Rp 8 Juta. Rupanya, 
ketidak-seriusan dari pihak Pemda dan adanya janji saya untuk 
menyampaikan soal ini ke Menteri Kehutanan menyebabkan warga mengambil 
“jalan perang”, dengan cara menaikkan jumlah dana kompensasi.

Sore
 tanggal 12 Juli 2011, harimau betina itu diserahkan warga ke pihak 
BKSDA. Tunganai sendiri pingsan, ketika melakukan prosesi pemindahan 
itu. Pihak BKSDA ingin membius harimau itu dengan tembakan suntikan, 
tetapi warga tidak mau dan bersikeras memindahkan harimau itu dari 
kandang kayu ke kandang besi di mobil BKSDA dengan cara tradisional: 
menghalaunya. Untunglah, prosesi itu berjalan lancar.

Media 
melaporkan bahwa harimau itu terlihat mengucurkan air mata, ketika 
berhasil pindah ke kandang besi. Entah terharu atau sedih meninggalkan 
habitat dan kampung halamannya. Atau, barangkali mengingat dua ekor 
anaknya yang baru berusia 1 bulan, menurut ahli dari pihak BKSDA. 
Apapun, harimau itu sudah selamat, kini di tangan pihak yang tepat. Saya
 hanya berdoa, hutan-hutan tak ditebangi, dua ekor anak harimau selamat 
sampai dewasa, lalu induknya yang berusia 5 tahun ini segera kembali ke 
habitat aslinya. 
Andaipun nanti akan mengalami “perjuangan” yang 
keras di habitatnya, mengingat sudah bersentuhan dengan dunia manusia, 
sungguh mengharukan membayangkan harimau ini pulang ke keluarganya dan 
rumahnya, di sekitar Bukit Tambun Tulang dan Gunung Tandikat… 

Jakarta, 22 Juli 2011. 
 

Indra J Piliang, The Indonesian Institute, Jln Wahid Hasyim No. 194, Jakarta 
Pusat. Twitter: @IndraJPiliang

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke