MARWANTO Kompas, Sabtu, 30 Juli 2011
http://cetak.kompas.com/read/2011/07/30/02275749/menjelang.ibadah.rahasia Sebelum memasuki bulan puasa (Ramadhan), ada baiknya kita mengambil hikmah dari kisah ini. Sebuah kisah yang pernah diceritakan oleh Syaikh Usman al-Khaubawi dalam kitab Durratun Nashihin. Dalam kitab tersebut, Syaikh Usman mengisahkan serombongan jemaah yang masuk surga tanpa terlebih dahulu dihisab amalnya, tanpa melintasi shirat, dan tanpa pula diketahui oleh malaikat penjaga surga. Dan, ketika ditanya mengapa bisa masuk surga tanpa proses hisab, mereka menjawab, "Kami sewaktu di dunia beramal dan taat kepada Allah dengan penuh rahasia. Maksudnya, tanpa pamrih atau tanpa dorongan popularitas sehingga kami diantarkan ke surga secara rahasia pula." Dalam Islam, semua amal ibadah sebenarnya berpotensi untuk dirahasiakan atau paling tidak dijaga dari sifat riya' (dipamerkan). Amal bersedekah, misalnya, sangat bisa untuk dirahasiakan, seperti anjuran: "Jika tangan kananmu memberi, usahakan tangan kirimu tidak melihat". Anjuran ini mengandung pengertian bahwa bersedekah sebaiknya tak perlu diumumkan ke publik. Namun, hanya ibadah puasa yang secara khusus disebut Allah sebagai ibadah yang bersifat rahasia. Mengapa rahasia? Karena seseorang berpuasa atau tidak sungguh tak ada yang tahu kecuali Allah dan dirinya sendiri. Ternyata kerahasiaan puasa tak hanya pada sifat pelaksanaannya, tetapi juga pahalanya. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan Bukhari-Muslim: "Semua amal kebaikan anak Adam berlipat ganda, tiap hasanat sepuluh hingga tujuh ratus lipat gandanya, kecuali puasa. Karena puasa itu hanya untuk Aku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya." Karena bersifat rahasia, logika berpikir kita mengatakan, ibadah puasa otomatis akan "gugur" nilainya sebagai ibadah tatkala tidak rahasia lagi. Kini, disadari atau tidak, upaya membuat puasa tidak lagi sebagai "ibadah rahasia" sejatinya sedang melanda. Apa itu? Penertiban warung makan, penutupan tempat hiburan atau klub malam, sampai menyeru agar tidak merokok di siang hari. Dalam bulan Ramadhan, semua seolah-olah harus serba "tertib-rapi". Lalu, di manakah letak makna puasa atau syiam (menahan)? Kenikmatan orang berpantang adalah kalau dia mampu meninggalkan apa-apa yang dilarang, padahal yang dilarang itu tersedia, bahkan tergelar di hadapannya! Dari segi perjuangan melawan hasrat (nafsu) makan, nikmat mana orang yang berpantang makan padahal di sekelilingnya tersedia beraneka ragam makanan dengan orang yang berpantang makan sementara di sekelilingnya tak ada secuil pun makanan? Pendek kata, satu hal pasti, setiap ibadah mesti disertai perjuangan. Dan, landasan perjuangan itu adalah keikhlasan. Sikap toleran Keikhlasan akan mendorong kita bersikap toleran terhadap mereka, yang kebetulan tak berpuasa, untuk makan atau merokok di siang hari. Dengan keikhlasan pula kita (umat Islam) tidak usah menonjol-nonjolkan kalau sedang berpuasa. Biarlah keadaan berjalan wajar seperti biasa. Tentu umat Islam akan bersyukur dan sangat menghargai jika ada pihak yang secara sadar dan ikhlas pula menghormati bulan Ramadhan, misalnya dengan menutup tempat hiburan atau warung. Namun, hendaknya itu dilakukan atas dorongan hati paling dalam dari pemiliknya. Sebagaimana seorang perempuan memakai jilbab (kerudung), akan lebih baik jika atas dorongan kalbunya dan bukan karena tren, sekadar mencari popularitas, atau agar tidak terkucil dari pergaulan. Jadi, jangan sampai penciptaan suasana serba "tertib-rapi" itu dipaksakan, apalagi dengan jalan kekerasan yang ironinya sering mengatasnamakan ajaran Islam. Pasalnya, kekerasan di bulan Ramadhan sangat bertentangan dengan anjuran Nabi Muhammad SAW. Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam dengan cara santun. Kesantunan inilah yang diharapkan jadi modal menumbuhkan sikap tahu sama tahu antarpemeluk agama. Umat Islam mengerti ada saudaranya yang cari rezeki dengan membuka warung, tetapi mereka juga sadar sekarang bulan Ramadhan. Dengan kesadaran itu, mereka ikhlas sementara tidak buka warung di siang hari atau minimal tak menonjolkan warung atau tempat hiburannya. Mereka yang dengan kesadaran sendiri menutup warungnya itu ibarat seorang majusi yang masuk surga karena melarang anaknya makan di tempat umum di bulan Ramadhan. Seperti dikisahkan Syaikh Usman al-Khaubawi di bagian lain dari kitab Durratun Nashihin: "Hai para malaikat-Ku, jangan biarkan ia mati dalam agama majusinya, angkatlah ia menjadi Muslim, sebab ia telah menghormati bulan suci Ramadhan." Namun, kalau ternyata memang hanya sedikit dari para pemilik tempat hiburan atau warung yang bersikap seperti seorang majusi di atas, niscaya hal ini justru membuat ibadah puasa semakin nikmat. Nilai sebagai ibadah rahasia pun tetap terjaga. MARWANTO Wakil Sekretaris PW GP Ansor Provinsi DIY -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
