Padang Ekspres • Senin, 15/08/2011 09:24 WIB • Ardiyansyah & Gebril
Padang, Padek—Hari ini, 15 Agustus, pasangan Irwan Prayitno dan Muslim Kasim genap satu tahun memimpin Sumbar. Di awal jabatannya, duet politisi dan birokrat ini menempatkan reformasi birokrasi sebagai program utamanya. Pasalnya, lebih dari 70 persen birokrasi di Sumbar, dinilai tak layak pakai. Bagaimana realisasinya? Pengamat kebijakan publik dari Universitas Negeri Padang (UNP), Eka Vidya Putra mengatakan, reformasi birokrasi tidak gampang diwujudkan karena tidak saja menyangkut sistem, tapi lebih kepada perilaku birokrat itu sendiri. Bila sikap mental birokrasi belum berubah, sebagus apa pun program kerja Irwan-MK, sulit direalisasikan alias macan kertas. Dalam pemerintahan, sederet program kerja hanya bisa dieksekusi birokrasi andal. Sudah terjadi perubahan di Pemprov Sumbar? “Birokrasi yang ada masih ingin dilayani daripada melayani. Ini sudah menjadi budaya birokrat kita. Untuk mengubah budaya kerja tidak hanya mengubah sistem, karena itu menyangkut perilaku,” katanya menjawab Padang Ekspres, tadi malam. Dalam konteks mengubah perilaku, Eka menilai Irwan-MK belum bisa melakukannya dengan tuntas. Sejauh ini, ia melihat program reformasi birokrasi yang dilakukan sebatas pelatihan setiap tahun. Pola itu dinilai tak lebih dari pendekatan “proyek”. Eka mencontohkan sistem pelayanan satu pintu, pelayanan perizinan efektif, pelayana prima, dan sederet sistem baru lainnya yang diluncurkan. Fakta di lapangan, tidak berjalan semestinya karena orang-orang yang mengerjakannya belum berubah. Kondisi itu diperparah lemahnya pengawasan pimpinan, yang membuat program kerja sering tidak berjalan. “Seperti kebijakan pembatasan tonase, tetap saja bocor oleh di lapangan. Masalah lainnya pengurusan dokumen kendaraan di Samsat, dan perizinan lainnya, tetap saja tidak ada kepastian waktu, biaya, dan izin berbelit,” tegasnya. Dalam perubahan sikap mental, katanya, dibutuhkan teladan dari setiap atasan hingga level gubernur. “Jika seorang pemimpin ngotot keluar daerah untuk hal yang tidak penting, ini juga bakal diikuti bawahannya. Kunci utama mengubah perilaku yang paling ampuh, adalah contoh dari pemimpin,” tukasnya. Harus Bertahap Secara terpisah, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengklaim telah melakukan perbaikan secara bertahap di bidang pemerintahan, ekonomi, pendidikan dan lainnya. Irwan mengakui persoalan krusial dihadapinya adalah rendahnya kinerja PNS sehingga pelayanan pada belum optimal. Terhadap persoalan itu, sudah dilakukan pemetaan potensi PNS untuk reformasi birokrasi. “Kami sudah buatkan peraturan gubernur (pergub) tentang reformasi birokrasi sesuai undang-undang dan saran dari Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi,” ujar Irwan kepada Padang Ekspres, tadi malam (14/8). Salah satu contoh aplikasi dari pergub itu, proses mutasi, rotasi, dan promosi dilakukan secara profesional berdasarkan peta potensi dan kinerja setiap PNS. Kualitas PNS juga terus ditingkatkan melalui pendidikan dan latihan. Pengisian SOTK, lanjut putra Kuranji, Padang itu, juga dilakukan melalui pendekatan profesionalisme dan kompetensi. “Tidak ada lagi istilah senioritas. Golongan yang tinggi tidak otomatis bisa menempati posisi strategis. Selama ini, itu yang salah. Yang penting sarat kepangkatan minimal terpenuhi. Jadi tidak ada aturan yang dilanggar,” tukasnya. Mantan anggota DPR RI ini mengakui adanya temuan BPK karena adanya sejumlah orang dengan golongan tinggi tetapi menjadi bawahan dari pegawai yang golongannya lebih rendah. “Gak masalah. Biarin aja jadi temuan. Ukura n yang kita pakai bukan golongan dan kepangkatan tapi kompetensi. Buat apa golongan IVA dan IV B tapi ngetik aja kadang gak bisa,” ujarnya. Kinerja pegawai, kata Irwan akan dievaluasi terus menerus. Karena itu mutasi bisa berlangsung kapan saja, tergantung kondisi di lapangan. “Kalau memang tidak mampu bekerja, kita mutasi,” ujarnya. Di sektor ekonomi, kata Irwan, sudah dimulai dengan menyiapkan perangkat aturan dan lembaga untuk mempermudah akses petani terhadap lembaga keuangan. Salah satunya penyiapan lembaga penjaminan kredit yang saat ini peraturan daerahnya masih digodok di DPRD Sumbar. “Kalau perdanya tahun ini bisa tuntas, tahun 2012 program satu petani satu sapi bisa dijalankan,” ujarnya. Sembari menunggu, kehadiran lembaga penjaminan kredit itu, Pemprov sudah menggulirkan program serupa dengan dana yang bersumber dari donasi pegawai. “Ya kita lakukan berangsur-angsur. Kan tidak ada yang instant. Semuanya butuh proses,” ujarnya. Begitu juga gerakan pensejahteraan petani yang sudah dicanangkan. Saat ini, kata Irwan, sudah mulai berjalan di sejumlah nagari yang menjadi percontohan. Program ini menargetkan petani minimal punya tiga usaha dengan pendapatan Rp 2,5 juta per bulan. Kritikan terhadap program ini yang hanya memikirkan aspek produksi dan kurang mempertimbangkan aspek pemasaran ditepis Irwan. “Produksi saja kita masih kurang. Jadi sebetulnya tidak ada masalah dengan pemasaran. Berapa pun yang kita produksi masih bisa diserap pasar,” ujarnya. Sapi misalnya, kata Irwan, di Sumbar baru tersedia 800 ekor sapi, sementara lahan bisa menampung 3,2 juta sapi. “Kita juga masih impor, jadi kebutuhan dalam negeri belum tercukupi,” ujarnya. (bis/geb) [ Red/Redaksi_ILS ] http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=10628 Wassalam Nofend | 34+ | Cikasel Sent from Pinggiran JABODETABEK® -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
