Padang Ekspres • Minggu, 14/08/2011 12:10 WIB • (rijal/alee/ganda) Meski tidak menyandang julukan Serambi Mekkah seperti Padangpanjang, Solok dikenal sebagai daerah yang sangat agamis. Bahkan, aplikasi agama di wilayah yang kini terbagi tiga daerah tersebut (Kota Solok, Kabupaten Solok, Solok Selatan) terbilang rigid dan fanatik. Bahkan, kalau sudah bicara tentang agama, masyarakatnya yang fanatik tidak segan-segan berdebat ketat hingga menjadi kesumat.
Tapi itu dulu, saat surau menjadi pusat pembelajaran agama dan budaya Minangkabau. Sekarang, seiring makin ditinggalnya pola pembelajaran sistem basurau, rumah ibadah hanya menarik bagi generasi tua. Sekitar 15 hingga 20 tahun lalu di Solok, surau mendapat terpaan kuat dari sistem pembelajaran agama sistem modern. Pola basurau yang begitu tradisional mendapat ujian karena terkesan begitu rumit. Saat itu, di surau tidak hanya diajarkan mengaji Al Quran dan shalat, tapi juga ilmu-ilmu kehidupan lain seperti basilek (silat, red), pengetahuan adat Minangkabau, hingga pengetahuan tentang kehidupan sosial di masyarakat. Bahkan, beberapa murid spesial mendapatkan pembelajaran ilmu kebatinan. Efeknya, setiap generasi mendapatkan pemahaman cukup tentang agama, budaya hingga sosial untuk bekal kehidupannya kelak. Menjelang tibanya era reformasi, sistem basurau mulai tergantikan. Taman Pembelajaran Al Quran dan Taman Pembelajaran Seni Al Quran (TPA/TPSA) tumbuh dengan subur, terutama di Kota Solok dan daerah sekitarnya. Sistem ini terkesan elite karena pembelajaran agama diberikan seperti di sekolah, yakni pada siang hari dan jadwalnya bisa ditawar. Berbeda dengan di surau yang muridnya harus patuh terhadap ketentuan guru, yaitu pengajian dari senja hingga malam. ”Budaya basurau bisa dikatakan telah hilang di Solok. Kalau pengarang dan budayawan AA Navis pernah mengarang buku ’Robohnya Surau Kami’, saat ini surau kami memang benar-benar telah roboh. Hal itu juga yang membuat malam-malam Ramadhan tidak lagi menarik minat generasi muda untuk beribadah, seperti tadarusan, Shalat Tarawih dan sebagainya. Karena mereka tidak mendapatkan bekal yang cukup tentang pengetahuan agama, budaya dan sosial. Berbeda dengan pola basurau yang mengajarkan ketiganya secara bersamaan,” ujar Nur Asbin Dt Rajo Pasisie, salah satu tokoh adat di Nagari Saoklaweh Solok. Nur Asbin juga menyatakan, lengangnya rumah ibadah selama bulan Ramadhan, apalagi di bulan-bulan lainnya juga disebabkan tidak kreatifnya pengurus masjid dan mushala untuk menarik minat generasi muda untuk meramaikannya. Remaja Islam Masjid (Risma) yang diharapkan mengembalikan generasi muda ke masjid, bahkan kehabisan dana dan fasilitas. Ditambah lagi dengan masuknya berbagai hiburan dan permainan, seperti nintendo, playstation, hingga kini game online via internet. ”Penyebab lengangnya masjid dari generasi muda bisa dilihat dari faktor internal dan eksternal. Dari faktor internal, meninggalkan pola basurau telah membuat pemahaman agama tidak lagi terintegrasi dengan budaya dan sosial kemasyarakatan. Sementara faktor eksternal dari semakin tingginya beban pembelajaran sekolah, masuknya berbagai permainan modern juga membuat perhatian anak-anak dan remaja teralihkan,” lanjutnya. Tidak hanya Nur Asbin, seorang pengurus Surau Nurul Huda di Jorong Pondokjago, Kenagarian Pematangpanjang, Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, Yusri, juga merasakan hal yang tidak jauh beda. Masih lekat dalam ingatan lelaki 50 itu, begitu hangatnya suasana malam Ramadhan di surau yang berdiri sejak tahun 1976 tersebut. Pemuda, remaja, dan anak-anak tetap meramaikan surau usai Shalat Tarawih dan Witir. Tak lama kemudian, suara tadarus seolah sahut-bersahut antara satu surau dengan surau yang lainnya. Hal ini membuat remaja dan pemuda yang menjadi penghuni surau kala malam, tambah bersemangat melantunkan ayat demi ayat dalam kitab Allah SWT. Bagi mereka, bagadang untuk tadarus, menjadi pelepas lelah setelah berkegiatan di siang hari. ”Kalau jamaah, anak-anak dan pemudi sudah pulang, giliran kami yang bergilir mengaji tadarus. Tiada hentinya hingga waktu sahur. Kalau ada yang mengantuk, bisa tidur terlebih dahulu. Kalau sudah tiba gilirannya, maka akan kami bangunkan. Sambil menunggu giliran, selain tidur, kami bercengkrama dan berdiskusi bersama-sama. Banyak hal yang kami bicarakan. Apalagi kalau ada kawan yang pulang dari rantau, kami sangat bersemangat sekali. Bercerita dan saling berbagi pengalaman,” tutur bapak beranak lima ini. Kini halaman surau telah sepi, sehabis sembahyang, hanya beberapa orang anak yang mengaji. Setelah itu beranjak ke luar. Mungkin pulang, atau sekadar mencari angin dengan sepeda motor bersama-sama. Atau juga, play station dan warnet yang telah menunggu. Kemudian surau sepi, sunyi. Hanya kembang api, dan ledakan mercun yang sayup-sayup terdengar bersahut-sahutan. Sementara itu, bagi Henry, 40, berbagai kegiatan ibadah dalam bulan Ramadhan, pada zamannya remaja atau kanak-kanak terasa lebih humanis. Sedangkan kini lebih individual. ”Dulu dengan keterbatasan teknologi orang mengaji dari lepas Tarawih hingga menjelang sahur di surau masjid. Kalau kini tinggal memencet radio tip saja. Yang banyak beribadah hanya teknologi saat ini. Rekaman se kini nan main,” sebutnya. Dalam kenangannya dulu, secara berjamaah orang ada di surau atau musajik, untuk i’tikaf. Menariknya, saar itu orang sekampung membawa makanan dari rumah, yang kemudian dimakan bersama-sama. ”Dan biasanya, batuka se nan mambao jo nan mamakan. terasa sekalo kebersaamaan antar masyarakat saat dulu,” tukasnya.(rijal/alee/ganda) [ Red/Redaksi_ILS ] http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=10615 Wassalam Nofend | 34+ | Cikasel Sent from Pinggiran JABODETABEK® -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
