Kalau nostalagia saya dari masa awal awal Kemerdekaan 1945, kita merayakannya Setiap Tanggal 17 Setiap Bulan. Duabelas kali dalam masa setahun itu terhitung dari 17 September 1945 sampai Hari Ulang Tahun pertama 17 Agustus 1946. Waktu itu saya masih anak-anak umur 10-11 tahun, saya bersama teman-teman dan orang-orang dewasa dari kampung selalu ke Bukittinggi ikut merayakannya dengan suasana penuh meriah walaupun keadaan waktu itu rakyat sangat miskin. Orang-orang berdatangan dari nagari-nagari sekitarnya memenuhi kota Bukittinggi. Hari ulang tahun pertama Kemerdekaan waktu itu sangat meriah di Bukittinggi. Saya tidak tahu di mana Pak Mochtar waktu itu.
Sekedar iseng Nyit Sungut. Senang juga kita dengan iseng sungguhannya Pak Mochtar. Selama 10 tahun di Istana, sekarang tidak dapat lagi duduk-duduk bersama teman-teman sepenguasa; mungkinkah ada rasa irihati post power syndrom (dsri bawah alam sadar) yang menigisengi posting Pak Mochtar ini? Yah begitulah jadi rakyat. Selama sepuluh tahun itu mereka juga di luar pagar. Seandainya kemarin itu Pak Mochtar mencoba-coba pula dekat-dekat site perayaan itu tahun ini, sebagai rakyat, juga harus berdiri di Luar Pagar. Kasihan, tetapi mungkin cocok juga untuk joke budaya kita untuk hiburan yang menyenangkan "Kok tahimpik nak di ateh, kok takuruang nak di lua" ...:) Salam, -- Nyit Sungut --- In [email protected], Mochtar Naim <mochtarnaim@...> wrote: > > KESAN SAYA DARI MENYAKSIKAN > UPACARA DETIK-DETIK PROKLAMASI > > Mochtar Naim > 18/08/11 > > S > EJAK tidak jadi anggota DPD RI lagi, saya menyaksikan upacara "Detik-detik > Proklamasi 17 Agustus" di istana negara dari televisi di rumah. Sempat 10 > tahun lamanya setiap tahun menghadiri upacara tersebut di istana. Lima tahun > sebelumnya (1998-2003) sebagai anggota MPR RI Utusan Daerah Sumbar, dan 5 > tahun sesudah itu (2004-2009) sebagai anggota DPD-RI juga sebagai Utusan > Sumbar. > Apa kesan yang saya dapatkan dalam menghadiri upacara tsb di > istana negara, baik hadir sendiri, maupun melalui televisi di rumah? > Kesan saya adalah: So so, dan monotoon! Upacaranya dari awal sampai akhir > adalah upacara militer. Pasukan dari semua angkatan dan kepolisian, termasuk > paskibrakanya, berbaris rapi dan berpakaian seragam rapi. Untung ada musiknya > dan lagu-lagu aubade anak-anak sekolah yang ditingkahi oleh nyanyian ciptaan > komposer Dr H SBY yang Presiden kita itu. Lalu ada eskadron pesawat terbang > yang lewat di atas gemuruh-menderu. Yang dari Presiden SBY selaku Komandan > Upacara hanya keluar tiga kata. Satu-satu. Siapkan! Teruskan! Hentikan! Itu > saja. Taufik Kemas selaku Ketua MPR RI membacakan teks Proklamasi. Suryadarma > Ali selaku Menteri Agama membacakan Doa. Itu saja. > Berbeda sekali rasanya dengan tahun-tahun ketika Sukarno masih > hidup dan mengadakan upacara di lapangan Ikada dengan pidato hari > kemerdekaan yang penuh retorika dan demagogi membahana. Rakyat semesta > membludak di lapangan dan Sukarno berada di tengah-tengah rakyatnya. > Yang kemarin itu di mana rakyat berada? Di luar pagar, dan > dilarang mendekat. Melihat dari kejauhan dan dari televisi. Yang hadir adalah > para pembesar. Para menteri. Para anggota-anggota parlemen. Para jenderal. > Para undangan duta-duta besar.Para Dignitaries. > Semua itu sekaligus menggambarkan betapa jauhnya jarak antara > yang mengira pemimpin dengan rakyatnya. Semua macam upacara apapun juga > sekarang telah diborong habis oleh para yang mengira diri pemimpin itu. > Rakyatnya ditinggalkan. Atau dibiarkan hanya menonton dari kejauhan. > Begitu juga kalau kita luaskan lagi dengan derap pembangunan > sekarang, di bidang apapun. Rakyat hanya menonton dan melihat dari jauh saja. > Begitu betulkah gambarannya sekarang ini? Setelah 66 tahun > merdeka? *** -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
