Prof, ambo garis bawahi limo hal dalam thread Prof, yaitu 1) wilayah Indonesia 
jauah labiah rawan dari Japang; 2) labiah dari 70% kota di Indonesia terancam 
bencana spt Padang; 3) paralunyo paratian labiah gadang ka mitigasi bencana; 4) 
jan dilanjuikkan pembangunan baru di kota Padang, carilah lokasi nan labiah 
tapek; 5) ado tigo macam bencana: politik, ekonomi/budaya, dan alam.
Rasonyo alun panah ambo mandanga penjelasan salangkok nan Prof sampaikan iko.
Karano baitu seriusnyo masalah iko, wajib rasonyo kito manyebarluaskan 
informasi iko ka saluruah urang awak, paliang indak nan bamukim di Jawa. Dalam 
SKM GM bulan Desember 2010 yl Gebu Minang alah mengacarakan tema iko, dan 
mandapekkan sambutan baiak.
Ambo harokkan Prof basadio malewakan info dan saran kebijakan nan paralu 
diambiak basamo. Sabagai langkah paratamo bisa dimulai di Bandung, Jakarta, 
Yogyakarta, Surabaya, difasilitasi Gebu Minang, BK3AM, dan Gebu Minang Jawa 
Timur. Ambo alah bapasan ka bung Syafruddin Al utk maangekkan saluang soal iko.
Salamaik bapuaso.
Wassalam,

-------Original Email-------
Subject :Re: [R@ntau-Net] Masalah gempa Padang oleh Andi
>From  :mailto:[email protected]
Date  :Sun Aug 21 16:15:10 Asia/Bangkok 2011

Pak Bahar yang terhormat,
Kedua pemikiran Bapak itu yang benar, terlebih poin ke 2 itu. Yang jadi masalah 
cepat atau lambat bisa saja itu terjadi dan menurut ambo lebih dari 70 % 
kota-kota besar di Indonesia bernasib sama seperti Padang. Dalam segi 
pananggulangannya. Ambo tahun 1983 khusus belajar penanggulangan bencana 
khususnya gempa di Jepang (National Reserach Centre for Disaster Prevention). 
Jadi, sangat sulit kita ikuti seperti yang Japang lakukan. Kenapa ?, karena 
biayanya luar biasa dan hampir-hampir tidak mungkin kita lakukan (Bayangkan: 
sarana termasuk perumahan tidak memenuhi syarat dan harus diperbaharui, 
penataan ruang yang tidak baik harus dioptinalkan yang memakan biaya besar). 
Kalau untuk sekarang tidak menjadi masalah tapi untuk anak-cucu itu yang harus 
kita pikirkan

Satu lagi yang tidak pernah terpikirkan, sebetulnya wilayah kita jauh lebih 
rawan dari Jepang, Bapak bayangkan bukik barisan yang tinggi itu, Danau 
Singkarak termasuk danau ateh dan bawah, dan Pincuran Gadang dikampuang ambo 
itu pembentukanyo berhubungan dengan tektonik. Ambo indak tabayang bara 
intensitas tektoniknyo ?, tapi itu tidak pernah diungkapkan, yang diungkapkan 
hanya berdasarkan sejarah tektonik yang tercatat oleh manusia saja. Itu yang 
selalu diributkan oleh ahli kegempaan, sebetulnya masih banyak yang harus di 
telitinyo. Ribut soal sekala Richter sajo. Jadi artinyo suatu saat, dimana sajo 
sekala richter itu bisa sajo meningkat.

Mungkin ambo salah, sartu-satunyo jalan yang elok menurut ambo dalam segi 
penanggulangan di Padang adalah, menyetop pembangunan di Padang dan secara 
berangur mengembangkannya ke tempat yang lebih stabil sembari mengatasi bencana 
semampu kita. Itu bukan berarti dipindah, dan pusat kota kini bukan sifatnya 
statis dihuni tapi bersifat dinamis. Maaf kalau ambo salah karena bukan ahli 
perencanaan.

Dan satu lagi pak, Bencana itu ado 3 (Alam, Ekonomi/ Budaya, politik). Awak 
dalam pengaruh bencana politik sejak merdeka sampai kini (kini malah mambabi 
buto), jadi indak usah kaget ekonomi dan budaya awak kini melorot, dan bencana 
alam tidak bisa kita atasi karena ekonomi dan budaya kita jadi rapuh. Contoh: 
orang Indonesia luar biasa pintarnya, sudah jauh-jauh sekolah tapi kalau udah 
pulang yang diliriknyo cuma JABATAN. malah indak pulang seperti Habibi kalau 
sudah berhasil. Dinegara maju seorang PhD harus bekerja di wilayah Pendidikan 
atau Penelitian. Tapi di Indoneisa ?, jangankan dosennya, rektor sajo mancari 
Jabatan di Departemen di Jakarta. malah Prof. Dr indak malu-malu terjun ke 
POLITIK (Parpol) kalau indak dapek Jabatan.

Hanya itu pak Bahar sedikit intermenzo awak manunggu buka puaso. Sebagai 
catatan, ambo dan kawan-kawan secara khusus selama 5 tahun (2004-2009) 
melakukan penelitian kegempaan di SUMBAR. karena kebetulan dulu ambo jadi 
Koordinator Penelitian Kebencanaan Geologi. anyak yang bisa kita diskusikan, 
tapi yang penting jangan terpengaruh oleh Prediksi itu. 

Selamat bekerja pak dan Wassalam,

Herman Moechtar 


----------------
From: Dr Saafroedin Bahar <[email protected]>
To: "Moechtar, Herman" <[email protected]>
Sent: Sun, August 21, 2011 1:29:07 AM
Subject: RE: [R@ntau-Net] Masalah gempa Padang oleh Andi

 Terima kasih atas penjelasannya Prof Herman Moechtar. Yang menjadi masalah 
kita sekarang ada dua: 1) bagaimana mengendalikan dampak pernyataan bung Andi 
Arif yg bisa bikin panik masyarakat; dan 2) mitigasi kebencanaan oleh Pemda 
Sumbar dan Padang utk memperkecil jatuhnya korban.
Oleh karena masalah gempa dan tsunami ini menjadi perhatian kita seluruh orang 
Minang, saya harapkan copy beritanya juga ditembuskan ke RantauNet dan milis 
lainnya.
Wassalam,



 
Saafroedin Bahar  Taqdir di tangan Allah, nasib di tangan kita.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke