TURUN

By : Rina

 

 

Percayalah kawan, turun yang kumaksud kali ini bukanlah sesuatu yang tidak
menyenangkan seperti halnya prajurit yang kena tindakan disiplin sehingga
turun pangkat ataupun presiden yang habis masa berlakunya sehingga turun
tahta. Turun yang kumaksud kali ini adalah turun mancing. Nah, coba bayangin
dulu serunya, tapi kuyakin hanya bagi yang penyuka olahraga mancing saja
yang mengerti betapa serunya lika liku hobi yang satu ini. Yuk kita kemon..

 

"Bang, tak nak turun ke? 

"Ae' molek Minggu suboh nie??

Sepenggal kalimat SMS di HP suamiku inilah yang membuat trip kali ini
menjadi kenyataan. Kalimat dengan dialek khas nelayan melayu pulau di Pulau
Akar yang terletak di sebelah kanan bila kita menyusuri jembatan Barelang
Batam dari arah kota Batam. Pemandangan indah yang disuguhkan dari atas
jembatan Barelang membentangkan keindahan kelap-kelip pulau-pulau kecil di
seputaran kepulauan ini dan salah satunya Pulau Akar tempat tinggal si Bapak
tukang tekong pancing ini.

 

Akhirnya Mas sepakat untuk turun sehabis subuh di pagi Minggu ini. Seorang
kawan di depan rumah yang juga gila mancing gara-gara beberapa kali kuajak
menemaniku mancing di pantai Marina dekat perumahan kami. Tak taunya dia
juga menikmati tarik-tarikan dengan ikan-ikan kecil yang banyak berseliweran
di pinggiran pantai berbatu itu.

Masku mengingatkan aku untuk mengajak kawan satu itu, biar dia bisa
merasakan tarikan ikan yang jauh lebih kuat di tengah laut kepulauan ini.
Akhirnya disepakati kami berangkat setelah subuh dari rumah bertiga saja.
Itung-itung ngilangin stress dengan bonus ikan segar.sip deh.!!!

 

Jalanan pagi ini sangat sepi bila dibandingkan dengan jam-jam lainnya.
Jalanan di Batu Aji yang kami lalui lumayan lebar, namun karena pengendara
yang semakin hari semkain bertambah membuat jalan ini sering macet dan
semrawut. Ketenangan pagi itu kami gunakan sebaik-baiknya dengan memacu laju
kendaraan diatas 100 km/jam. Selang 30 menit kami telah melihat jembatan 1
Barelang yang mejulang ke langit Barelang. Menjadi ikon kota Batam tempat
rantauan berbagai suku di tanah air Indonesia ini. Yah. lihatlah kami
bertiga, satu dari Magelang, satu dari Bukittinggi dan satu lagi dari kota
Lampung.

 

Begitu mobil telah menapaki jalanan diatas jembatan 2 Barelang, langsung
berbelok ke kanan jalan tempat pasir dan batu-batu ditumpuk di pinggir
pantai di bawah jembatan ini. Entah milik siapa dan mau dibawa kemana,
akupun tak ambil pusing. Sebuah dermaga kecil berdiri sebuah warung makan
yang cukup luas. Dia berdiri kokoh di atas tiang-tiang balok kayu diatas air
pantai yang sedang pasang naik. Terlihat kea rah laut, air laut tengah
bergerak beriak-riak kecil menandakan sedang pasang naik. Perhitunganku
sebentar lagi arus laut akan setenang air danau sebab pasang naiknya sudah
cukup tinggi.

 

Benar saja, begitu kami telah berjalan di pelantar dan meniti papan yang
menjulur ke Pancung (perahu bermotor) si Bapak tukang tekong, air laut sudah
mulai tampak tenang. Seorang pemancing di pelantar melepas kepergian kami
dengan senyumannya. Barangkali dia telah mendapatkan banyak ikan sepagi ini.


 

Matahari belum terlihat di ufuk Timur. Hanya semburat warna-warni langit
pagi yang terlihat mencerah di ujung langit sana. Awan-awan bercampur embun
memberi sentuhan indah seiring desauan angin pagi yang dingin begitu kami
bergerak bersama pancung yang mesinnya tidak terlalu keras bunyinya. Si
Bapak tentunya sangat mencintai kapalnya ini sebab terlihat terawatt dan
bersih, walau atapnya telah menunjukkan cirri-ciri dimakan usia karena
menghadang panas dan dingin di laut ini. Kecipak ikan salam terdengar
bersahut-sahutan di hadapan kami. Terlihat ratusan ikan salam yang berlarian
di permukaan air laut mengiringi perjalanan kami. Barangkali mereka
menyambut pagi atau ada ikan besar yang mengancam mereka dibawah sana
sehingga mereka berlarian beramai-ramai di permukaan air. Sungguh
pemandangan yang jarang terlihat.

 

Pancung berlayar memutar ke arah Barat bergerak menjauhi Jembatan 1 Barelang
yang tampak gagah menjejakkan kaki-kakinya di dua buah pulau dihadapan kami.
Sebelah Timur tampak bendungan yang masih dalam pengerjaan. Sepertinya
menghubungkan daerah Piayu Laut Batam dengan Barelang ini. Berarti nantinya
jalan ke Barelang tentu aka nada jalan alternative, tidak seperti selama ini
hanya dari Simpang Tembesi Batu Aji yang terkadang sangat ramai dengan
deruan bising knalpot motor. Anak-anak muda para pekerja penyumbang devisa
Negara yang jumlahnya luar biasa di pulau Batam ini. Tempat bercokolnya
pabrik-pabrik raksasa di daerah Kawasan Industri Muka Kuning sana.

 

 

Joran Shimano import yang kami pakai langsung kami turunkan begitu Pak
Tekong sudah bilang 'ok'. Sayang banget yah.. Diimport, padahal pabriknya
berdiri gagah di Pulau Industri ini. 'Ok' artinya jangkar besi yang dia
turunkan ke kedalaman laut telah tersangkut dengan kokoh di batu karang di
dalam sana. Sehingga kapal tidak akan bergerak menjauhi spot karang disana
untuk pancingan dasar laut. Memancing di atas tubir karang sangatlah kami
sukai. Sebab ikan yang memakan umpan kami biasanya akan terus memakan umpan
tanpa jeda. Itupun bila bertemu karang yang bagus dan produktif, seakan-akan
ikan yang diproduksi kawasan ini tidak ada habis-habisnya. Namun bila air
tidak bagus atau 'molek' seperti dibilang Pak Tekong tentunya susah sekali
ikan untuk melihat dan menciumi bau umpan udah segar kami. Sebab baunya
telah terbawa arus air yang sekencang aliran Batang Masang di pedalaman
Sumatera sana. 

 

Beruntung sekali kami mendapati air yang sedang pasang tinggi dan arus
tenang dan air laut seakan-akan jernih berwarna kebiruan. Titik-titik
Kristal air berkilauan ditimpa semburat emas mentari pagi. Ketenangan pagi
itu kupecahkan dengan strike yang melengkungkan joranku hingga berhasil
kunaikkan seekor kakap putih yang menggelapar-gelepar di lantai kayu kapal
motor ini. Aku langsung nyombong ke mereka bertiga yang lagi menantikan
strike masing-masing," Nah, ini nih sample ikan yang harus ditangkap..!!,'
panasanku. Tentunya mereka tidak menerima ledekanku itu sehingga perang
lebay-lebayanpun pecah diatas perahu itu.

 

"Nah.!!! seru Mas mengagetkan kami yang telah diam kembali. Reelnya berbunyi
keras mengiris hati," rrrrrrr... kretekkk.. kretekkk.. rrrrrrrrrrr...,"
strike yang lama. Tampaknya ikan berjuang keras untuk mengalahkan Mas.
Tampak Mas bisa mengimbangi permainan ikan yang meronta di dalam laut sana.
Muka Mas terlihat harap-harap cemas tengil melihat ke kami.  Nampak jelas
dia mau bilang ke aku kalo inilah sample ikan yang sesungguhnya, tapi masih
tertahan sebab si ikan belum terlihat. Begitu si ikan sudah membayang di air
laut yang lumayan jernih, terlihat seekor ikan Kaci besar yang berusaha
melepas diri. "Rrrrrrr..keretek.. kretkk... rrrrrrrrr," Mas menirukan suara
reelnya. "Gimana?," ledeknya. Yang mana nih mau dijadiin sample?,' ejeknya
lagi. Perang ejekan berakhir dengan naiknya si Kaci dan jadi  model untuk
photo-photo kami dengan berbagai gaya. 

 

Jam telah menunjukkan jam 8 pagi, kamipun bersiap untuk kembali ke darat.
Namun amat disayangkan sebab ikan masih terus menyentak-nyentak joran kami.
Akhirnya kami undur 30 menit untuk pulang sebab amat disayangkan rezeki yang
melimpah yang diberikan Yang Maha Kuasa pada kami sepagi itu. Rencananya
kami memang hanya sebentar saja sebab Mas mau masuk kantor di jam 9 nanti.
Sekedar melepas hobi yang telah lama tidak kami lakoni bersama ke tengah
laut itu. Bergantian kami berempat termasuk si Bapak Tekong dengan
kesempatan air bagus dan ikan yang melimpah itu menarik hasil laut itu ke
kapal. Hingga aku merasa penat untuk memutar reel joranku ini.  Dengan
memasang rawai berumbai sebagai kail ternyata ikan-ikan tersebut tanpa pikir
panjang pada menyambarinya hingga terkadang mau tiga dan empat ekor sekali
tarik. Lumayan berat untuk aku yang tidak terlalu kuat ini. 

 

Kami saling berpacu dengan waktu yang tidak mau kompromi ini.  Diiringi
deraian tawa dan ledekan kami semua membuat si Bapak Tekongpun tidak lepas
dari banyolan kami. Inilah salah satu keseruan untuk hobi satu ini.
Seolah-olah alam memberikan sebuah pasar kebutuhan jiwa kita tanpa batas
yang terasa melegakan hati. Melepaskan dari stress dan kerutinitasan
keseharian pekerja seperti kami. Melupakan sejenak problem-problem yang
menggelayuti hati dengan moment indah di atas pancung kayu ini.  Sungguh
memang nikmat TuhanMu manakah yang kamu dustakan? Tanya Allah dalam
firmanNya. 

 

Bersama waktu yang tidak mau kompromi, akhirnya kami mengalah untuk kembali
ke darat dan melaju kembali ke tengah kota Batam yang penuh dengan
hiruk-pikuk sebuah kota Industri.

 

 

 

21082011(006).jpg  

 

(Sekedar berbagi cerita ..)

 

 

Wassalam

Rina, 33+, batam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

<<image002.jpg>>

Kirim email ke