Jumat, 26 Agustus 2011

“SELAMAT datang perantau. Inilah kampung halaman kita, kampung yang
Anda bangga-bangakan di rantau. Mungkin belum banyak berubah, tetapi
telah berhasil menghidupi orang kampung”.

Semenjak sepekan terakhir perantau mulai mudik (pulang kampung). Jalan
mulai padat bahkan macet. Mobil berplat luar daerah bersileweran. Di
kampung-kampung yang jauh dari suasana kota, mobil rancak merk ternama
parkir di halaman. Itulah milik perantau.

Harap maklum, Sumatra Barat memiliki perantau yang banyak. Meski belum
ada angka akuratnya, konon jumlah perantau lebih banyak daripada
penduduk di kampung. Sekarang, menjelang Idul Fitri tiba sebagian
perantau itu sudah tiba dan banyak lagi yang dalam perjalanan.

Kasubdit Promosi Wisata Wilayah I pada Direktorat Dalam Negeri, Ditjen
Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Raseno Arya malah
memprediksi, jumlah perantau yang pulang kampung lebaran tahun ini
lebih dari 100 ribu orang. Dari Jabodetabek saja sekitar 3.000 orang,
belum lagi daeri pelbagai daerah perantauan lainnya. Dengan kepulauan
perantau tersebut, penduduk Sumbar bertambah.

Di kampung perantau akan membelajakan uang yang dicari dan dikumpulkan
dalam setahun terakhir. Imej orang kampung, perantau banyak uang.
Karena punya uang lebih itu pula mereka berkesempatan memboyong
keluarga ke kampung. Semakin banyak perantau mudik, semakin banyak
pula uang yang beredar di kampung. Roda perekonomian berputar.
Pedagang makanan, minum, cinderamata dan pedagang lain kecipratan uang
perantau.

Tidak hanya berbelanja, perantau juga berperan aktif menunjang
pembangunan kampung. Tak terhitung uang perantau yang telah
disumbangkan untuk sarana ibadah, pendidikan dan pereknomian dan lain
sebagainya.

Adalah wajar jika kepulangan perantau disambut bak wisatawan seperti
yang diharapkan Raseno Arya. Alasannya, karena wisatawan memberi
dampak ekonomi. Tidaklah berlebihan jika melayani wisatawan (meski
pulang kampung) dengan sambutan.
Perantau pun tidak ingin kedatangannya di sambut dengan karpet merah
di BIM dan Teluk Bayur. Tetapi mengharapkan pemerintah provinsi dan
daerah memberi sedikit perhatian.

Sebaliknya kepada perantau, mentantang-mentang hidup di rantau, di
kota yang madern, hargai jugalah orang kampung. Jangan mentang-mentang
lebih berpunya “main atur”, menyalahkan ini dan itu. Bahkan selama ini
ada perantau yang menyebut orang kampung tak becus, hanya pandai
meminta dan tidak pandai memanfaatkan.

Antara perantau dan penghuni kampung harus menjadikan momentum Idul
Fitri untuk mempererat tali silaturrahim dan kemudian membangun
kampung sendiri.

Masih banyak yang harus dibangun untuk meningkatkan kesejahtraan orang
kampung. Tak hanya rumah ibadah, tapi juga bagaimana taraf pendidikan
ditingkatkan. Kalau kampuang awak belum punya gedung yang respentatif,
terbuka kesempatan perantau untuk memberikan dukungan.

Perantau! Inilah kampung kita, masih banyak yang kurang. Banyak yang
harus dibenahi. Peran Anda ditunggu.(*)

http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=8092

Wassalam
Nofend/34+

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke