Peristiwa bumi adalah bersifat dinamis, baik yang disebabkan oleh faktor endogen maupun eksogen. Akan tetapi produk dari peristiwa itu harus ditelusuri sehingga hirarki dinamika kejadian itu dapat dipahami. Perubahan roman muka bumi (landform deformations) adalah identik dengan suatu evolusi lingkungan. Proses yang terjadi di permukaan seperti erosi, denudasi, dan pengendapan (internal processes) sangat terkait dengan evolusi bentangalam tersebut. Selain itu, berubahnya lingkungan dapat diakibatkan pula oleh proses yang berasal dari luar permukaan (external processes). Proses yang dimaksud adalah dapat berasal dari energi bawah permukaan (gaya endogen) ataupun di atas permukaan/ atmosfir (eksogen).
Permasalahan tersebut di atas adalah merupakan bagian dari penelitian morfogenesis yang harus dilakukan secara profesional. Secara keilmuan, dinamika peristiwa alam tersebut cenderung merupakan bagian dari kajian disiplin ilmu kebumian lainnya seperti geomorfologi, geofisika, fisika, dan astronomi. Dengan demikian, rekonstruksi dari dinamika peristiwa bumi tersebut merupakan bagian dari kajian beraspek geologi. Seperti terbentuknya cekungan, sesar dan perlipatan, evolusi bentangalam termasuk flora dan fauna. Kemudian dilakukan rekonstruksi sejarah kejadiannya yang pada akhirnya dapat memahami peristiwa bumi / alam masa lalu. Peristiwa bumi tersebut pada hakekatnya memiliki perioda dan kurun waktu secara teratur. Tentunya, suatu keterkaitan peristiwa masa lalu, sekarang, dan mendatang adalah merupakan suatu rentetan kejadian yang dapat dikorelasikan dan berkesinambungan. Didasari latar belakang dan pemikiran di atas, maka dengan mempelajari siklus stratigrafi pada endapan Kuarter (kurun waktu termuda dalam sejarah pembentukan bumi) dapat mengungkapkan kejadian atau peristiwa bumi yang terjadi secara periodik. Rekaman tersebut diantaranya adalah perioda turun-naiknya muka-laut yang dapat bersifat global dan lokal, dan perubahan iklim yang kejadiannya secara universal. Termasuk sebagai alat kontrol terhadap periode kejadian tektonik yang juga dapat bersifat global atau lokal itu. Ketiga dinamika bumi tersebut dapat dipelajari dan direkonstruksi dari rangkaian suatu bangunan siklus stratigrafi. Sebagai contoh, berubahnya bentuk lahan akibat efek dari tektonik akan membentuk suatu urut-urutan proses sedimentasi yang spesifik sifatnya. Hal ini dikarenakan akibat naik-turunnya permukaan tanah, akan mengganggu kelangsungan proses sedimentasi di cekungan seperti bergeser dan berpindahnya alur sungai, berubahnya garis pantai atau danau dari posisi semula, terhentinya dan berpindahnya energi aliran yang bekerja di suatu cekungan, dan sebagainya. Pulau Sumatera terletak di sepanjang tepi baratdaya Paparan Sunda yang merupakan bagian Lempeng Benua Eurasia. Sedangkan Lempeng Samudera Hindia-Australia menunjam miring terhadap lempeng benua tersebut. Penunjaman yang terjadi dari Tersier – Resen ini menimbulkan busur magma yang membentuk Pegunungan Barisan. Selain membentuk busur gunung api Barisan, tumbukan kedua lempeng mengakibatkan suatu gaya kompresi yang memberi efek terbentuknya Sesar menganan Sumatera di sepanjang Pegunungan Barisan, yang membujur mulai dari Aceh hingga ke Teluk Semangko. Sesar Sumatera tersebut terdiri atas 18 segmen sesar (Tjia, 1977), sedangkan salah satu segmen sesar tersebut adalah Segmen Solok-Singkarak.Kombinasi dari kedua efek tektonik tersebutlah yang mengakibatkan kegempaan. Interaksi antara penunjaman dan sesar aktif regional ini memiliki keterkaitan satu sama lainnya, dan dapat disebut sebagai peristiwa tektonik yang berhubungan dengan dinamika peristiwa bumi. Gempa bumi dalam skala besar ataupun kecil telah terjadi dimasa lalu yang membentuk zona rentan getaran di daerah ini. Kejadian gempa bumi ini mungkin berulang kembali di masa mendatang seperti halnya gempabumi yang terjadi pada tahun 1926, 1943, 2004, dan 2007 yang pusat gempanya berada di sepanjang Pegunungan Barisan. Tektonik dan kegempaan pada dasarnya saling berkaitan satu sama lainnya, artinya di daerah yang kondisi tektoniknya aktif merupakan daerah rawan terhadap gempabumi. Suatu gempabumi akan meninggalkan produknya, dimana jejak-jejak tersebut dapat digunakan sebagai indikator untuk merekonstruksi mekanisme proses peristiwa itu, yang meliputi berubahnya bentuk bentangalam, terganggunya proses sedimentasi, terbentuknya lingkungan baru dan lain-lainnya. Semua indikator tersebut dikendalikan oleh gaya endogen yang menyebabkan naik-turunnya (deformasi) permukaan. Banyak metode dari berbagai disiplin ilmu kebumian yang mendalaminya, sebagai salah satu contoh adalah pendekatan dengan siklus stratigrafi. Disiplin ilmu geologi ini diharapkan dapat mengungkapkan kejadian atau peristiwa bumi yang terjadi secara periodik, walaupun dalam penerapannya masih sangat sulit dilakukan khususnya terhadap aspek kebencanaan. Pada dasarnya metode ini dapat mengkaji rekaman dari perioda turun-naiknya muka-laut baik yang bersifat global ataupun lokal, perubahan iklim yang kejadiannya secara universal, dan mungkin aktifitas perioda kejadian tektonik yang juga dapat bersifat global atau lokal. Ketiga kejadian ini dapat dipelajari dan direkonstruksi dari rekaman rangkaian suatu bangunan siklus stratigrafi. Oleh karena itu, dengan mempelajari siklus stratigrafi pada endapan Kuarter, diharapkan tektonik di suatu cekungan Kuarter dapat dipantau. Selanjutnya, azas dan manfaat studi tersebut terhadap aktifitas tektonik dapat dilakukan, dan lambat laun tidaklah berlebihan siklus kegempaan akan ditrekonstruksi dimasa mendatang (?). Kota Bukittinggi terletak di tinggian Sumatera dan dilalui oleh sesar besar Sumatera (graben). Dengan posisi seperti itu, maka kota Bukittinggi sangat rentan terhadap bahaya gempabumi dan bahaya ikutannya. Morfologi daerah ini berupa plato tuf ignimbrit dengan ketinggian ± 900 m (dpl). Konfigurasi bentangalamnya merupakan tinggian yang relatif datar, namun menunjukkan tren miring atau merendah ke arah baratlaut. Demikian halnya dengan kota Solok yang notabene terletak pada jalur Sesar Besar Sumatera merupakan kawasan yang sangat rentan terhadap bencana alam gempa bumi, dan yang terakhir terjadi pada tanggal 6 Maret 2007 berlokasi di atas Danau Singkarak dengan kekuatan 6,4 Skala Richter. Menurut Verstappen (1973), bahwa tuf ignimbrit umurnya lebih tua dari gunungapi strato andesitan (G. Merapi, Singgalang dan Tandikat). Untuk mengetahui pengaruh sesar /tektonik yang berlangsung terhadap deformasi landform daerah ini, maka dilakukan penelitian morfogenesis daerah Bukittinggi dan sekitarnya. Morfogenesis bentangalam ini sangat dipengaruhi oleh keberadaan G. Merapi, Singgalang , Tandikat, serta kaldera Maninjau. Disamping itu dengan posisi yang terletak pada graben sesar Sumatera akan menambah kekomplekan genesa dari bentangalam ini. Dengan banyak ditemukannya sesar-sesar sekunder, diantaranya sesar Pantar, Matur, Beringin dan lainnya, maka aktivitas sesa-sesar tersebut sangat berpengaruh terhadap morfogenesis dan deformasi landform. Kegiatan penelitian demikian dapat dilakukan oleh ahli kebumian yang mendalami tentang proses dinamika peristiwa bumi, disamping itu tentu saja kajian seperti ini sangat bermanfaat bagi kepentingan ilmu pengetahuan kebumian. Setidak-tidaknya, koordinasi sistem penaggulangan bencana alam dapat dilakukan lebih sempurna lagi. Ulasan tersebut di atas hanyalah sebagai renungan saja, karena penenlitian semacam itu masih langka dilakukan apalagi di Indonesia, dan di masa mendatang akan menjadi fokus penelitian sesuai perkembangan ilmu. Tentu saja berbagai aspek penelitian lainnya akan dilibatkan dalam mendukung pemikiran tersebut. Ringkasnya berbagai aspek penelitian sehubungan dengan fenomena alam Sumatera Barat tersebut sedang saya susun, yang bersumberkan dari hasil penelitian kami dan kawan-kawan yang sebagian besar sudah dipublikasikan. Semoga saja bermanfaat untuk Sumatera Barat di masa mendatang, hanya saja kepada siapa harus saya serahkan ?. Wassalam, Herman Moechtar -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
