PADANG, HALUAN — *Masyarakat Peduli Pariwisata Sumatera Barat (MAPPAS), sebuah organisasi pemerhati pariwisata Ranah Minang, memprihatinkan fasilitas yang ada di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Padang Pariaman*.
Pengaturan penjemput, sopir taksi, bus, taksi gelap, tukang ojek dan lebih-lebih toiletnya dinilai sungguh memprihatinkan dan sangat memalukan. Berdasarkan pemantauan sejumlah penggiat MAPPAS yang sudah mudik Lebaran ke Ranah Minang, menyebutkan bandara ini layaknya pasar raya yang jauh dari suasana tertib. Selain gaduh, para porter juga sangat bebas melakukan aksinya tanpa mengindakan sopan santun. Mereka bahkan mematok tarif jasa seenaknya. Sejumlah toilet di bandara ini, baik di ruang tunggu maupun di teras terminal, sungguh memalukan. Kotor dan bau pesingnya minta ampun. “Memalukan sekali,” lapor Muhammad Syahreza, penggiat MAPPAS yang sudah tiba di Padang sejak Kamis (25/8). Ia menyebut bandara ini tidak pantas menyandang gelar bandara internasional. Sekjen MAPPAS, Dedy Yusmen yang sudah berada di Padang sejak awal pekan ini dan sudah berkeliling ke sejumlah obyek wisata, membenarkan buruknya pelayanan di BIM itu. “Kita akan pantau dan akan sorot terus pengelolaan bandara yang merupakan gerbang utama Sumatera Barat,” katanya. Menurut dia, pengelola bandara yang dilakukan oleh PT Angkasapura II itu mesti menyelaraskan pelayanannya dengan citra Ranah Minang dengan penduduknya yang ramah. Tak cukup dengan hanya menggunakan bahasa Minang dalam menyapa kedatangan tamu, tetapi juga mengatur angkutan umum yang berhubungan ke bandara ini. “Kami meminta semua stake holder di Sumbar untuk mendesak Angkasapura membenahi pelayanan dan fasilitas bandara dengan baik, sesuai standar internasional dan memperhatikan keselarasan citra Minang yang ramah tamah itu,” ujar Dedy. Ia menambahkan, kondisi BIM dengan pelayanan dan fasilitasnya yang amburadul itu ikut memperburuk citra Sumatera Barat di mata tamu. “Kita harapkan jangan sampai tamu yang datang ke Sumbar menganggap BIM sebagai eks terminal Lintas Andalas Padang. Sayang sekali,” ujarnya. (h/sal) Epaper Harian Haluan, 27/08/2011 Wassalam -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
