---------- Forwarded message ---------- From: [email protected] Date: Sat, 27 Aug 2011 17:17:35 +0000 Subject: [MinangUSA] Fw: [IMAAMNet] Kisah Wanita Sholihah Pengukir Sejarah To: minangusa <[email protected]>
Sent via BlackBerry from T-Mobile -----Original Message----- From: "IMAAM Women's Affairs Dept" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sat, 27 Aug 2011 09:43:31 To: <[email protected]>; <[email protected]> Subject: [IMAAMNet] Kisah Wanita Sholihah Pengukir Sejarah *Assalamu'alaikum Warahmatulllahi Wabarakatuh* *Hajjah Rangkayo Rasuna Said* Di Jakarta, di daerah Kuningan, ada Jalan H.R. Rasuna Said, namun banyak yang tidak mengetahui bahwa H.R. Rasuna Said adalah seorang wanita bukan pria. Rasuna Said yang akrab dipanggil kak Una lahir di Desa Panyinggahan, Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada tanggal 15 September 1910. Setelah menamatkan Sekolah Dasar kemudian melanjutkan belajar di pesantren Ar-Rasyidiyah sebagai satu-satunya santri perempuan . Rasuna Said kemudian melanjutkan pendidikan di Diniyah School Putri di Padang Panjang. Rasuna Said, seorang wanita sholihah, sangatlah memperhatikan kemajuan dan pendidikan kaum wanita, beliau sempat mengajar di Diniyah School Putri sebagai guru namun pada tahun 1930 Rasuna Said berhenti mengajar karena memiliki pandangan bahwa kemajuan kaum wanita tidak hanya bisa didapat dengan mendirikan sekolah tapi harus disertai perjuangan politik. Rasuna Said ingin memasukan pendidikan politik dalam kurikulum sekolah Diniyah School Putri tapi ditolak. Pada usia yang sangat belia, Rasuna Said telah menjadi anggota pimpinan Persatuan Muslim Indonesia (Permi) yang diketuai oleh Haji Moehtar Latief dan pendiri Sekolah “Menyesal” yang fokus pada pemberantasan buta huruf, Sekolah Thawalib di Padang, dan “Kursus Puteri” di Bukit Tinggi. Rasuna Said mendalami agama pada Haji Rasul atau Dr. H. Abdul Karim Amrullah yang mengajarkan pentingnya pembaharuan pemikiran Islam dan kebebasan berfikir yang nantinya banyak mempengaruhi padangan Rasuna Said. Seperti kaum perempuan lainnya di Sumatera Barat, Kak Una sangat menaruh perhatian terhadap pergerakan dan perkembangan politik dan piawai dalam berpidato. Pidatonya yang seringkali mengecam tajam kekejaman dan ketidak adilan pemerintah Belanda menyebabkan pemerintah kolonial Belanda menangkap dan memenjarakannya di penjara Semarang pada tahun 1932. Rasuna Said tercatat sebagai wanita pertama yang terkena hukum Speek Delict yaitu hukum kolonial Belanda yang menyatakan bahwa siapapun dapat dihukum karena berbicara menentang Belanda. Beliau baru bebas dari penjara Semarang ketika perang dunia II pecah pada tahun 1939. Berbagai bujuk rayu atau cuci otak dilancarkan oleh Belanda terhadap Rasuda Said selama di penjara seperti yang dilakukan oleh Dr. Daniel van der Meulen dengan bujukannya “Rasuna, karena perbuatan anda sendiri, anda akan dihukum. Saya akan mengajukan hal-hal yang meringankan. Usia anda masih muda, anda berbakat pidato, wajah anda elok, tetapi semua ini tidak akan mencegah penghukuman. Pakailah waktu anda berpikir mengenai kegagalan-kegagalan anda. Usahakan berbuat sesuatu yang baik, dan janganlah kembali ke jalan politik”. Hasilnya nol, Rasuna Said, perempuan minang yang garang itu, tidak bisa ditundukkan. Setelah bebas dari penjara, Rasuna Said meneruskan pendidikannya di Islamic College pimpinan K.H. Mochtar Jahja dan Dr. Kusuma Atmaja dan pernah menjadi pemimpin redaksi majalah Raya. Rasuna Said kembali ke Padang semasa pendudukan Jepang, ikut serta mendirikan organisasi pemuda Nippon Raya di Padang yang kemudian dibubarkan oleh Pemerintah Jepang. Pada zaman Republik, Rasuna Said pindah ke Jawa menjadi anggota Badan Pekerja KNIP, anggota Parlemen RI, dan terakhir anggota Dewan Pertimbangan Agung RI sampai beliau meninggal dunia pada tanggal 2 November 1965. Rasuna Said diangkat sebagai pahlawan nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden R.I. No. 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974. Meninggal pada usia 55 tahun dengan meninggalkan seorang putri Auda Zaschkya Duski dan 6 cucu: Kurnia Tiara Agusta, Anugerah Mutia Rusda, Moh. Ibrahim, Moh. Yusuf, Rommel Abdillah dan Natasha Quratul'Ain. *) Dikutip dari berbagai sumber *Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh* Ina Mukhaiminah * * * * * * * * -- Sent from my mobile device Wassalaamu'alaikum Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta), gelar Bagindo, suku Mandahiliang, lahir 17 Agustus 1947. di Nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman. rantau: Deli dan Jakarta, kini Sterling, Virginia-USA ------------------------------------------------------------ "Kepedulian terhadap ranah Minang adalah salah satu misi RantauNet. Yayasan Palanta RantauNet (YPRN) dimaksudkan untuk menyalurkan kepedulian itu. Salurkan zakat, infaq dan sadaqah sanak antaranya melalui YPRN, rekening No. 0221919932 Bank BNI" -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
