Assalamualaikum...tuo tuo jo sanak sadonyo. 

Ambo kirimkan ka rantaunet sekedar penambah wawasan kito di palanta ko. Dek 
karano adoh dulu dunsanak nan malewakan link e di RN. Dan ciek lai adoh carito 
Prof Emil Salim nan urang awak maagiah pikiran mengenai sipak terjang rektor 
Prof G.
Lagi2 iko hanyo panambah bacaan se. Mhn maaf.

Rahyussalim
------Original Message------
From: ratna sitompul
Sender: [email protected]
To: [email protected]
To: [email protected]
Cc: Siti Setiati
ReplyTo: [email protected]
Subject: [kbk_fkui_2005] mengapa menggugat rektor UI
Sent: Sep 9, 2011 16:03

  Mengapa Menggugat Rektor UI by Ade Armando on Tuesday, September 6, 2011 at 
9:32am   Berkaitan dengan kekisruhan di Universitas Indonesia yang bermula dari 
kontroversi pemberian gelar Doktor Honoris Causa kepada Raja Saudi yang 
kemudian berkembang menjadi gerakan pelengseran Rektor UI Gumilar Rusliwa 
Sumantri, nampaknya ada beberapa hal yang saya rasa perlu diluruskan.   Saya 
dari UI, lebih spesifik lagi dari FISIP UI. Saya termasuk yang marah dengan apa 
yang dilakukan rektor UI saat ini, walau dia juga dari FISIP UI. Tapi isunya 
bukan cuma soal pemberian gelar Doktor kepada sang Raja. Pemberian gelar itu 
jelas bermasalah dan memalukan, tapi itu sebetulnya hanya semacam puncak dari 
gunung es persoalan-persoalan yang ditimbulkan pola kepemimpinan sang rektor.   
   Saya memutuskan terlibat dalam gerakan menggugat kepemimpinan Gumilar, 
karena apa yang dilakukannya selama ini bukan saja mencederai imej UI, namun 
juga bertentangan dengan amanat agar UI menjadi lembaga pendidikan tinggi yang 
seharusnya mengabdi pada kepentingan rakyat luas.   Saya merasa bahwa civitas 
academica di dalam UI wajib untuk terlibat menggugat kepemimpinan Rektor 
karena, sebagaimana dikatakan Prof. Emil Salim dalam orasinya yang sangat 
mengesankan di Fakultas Ekonomi 5 September kemarin, perguruan tinggi 
seharusnya berfungsi sebagai mercu suar penerang di tengah kegelapan yang harus 
menjunjung tnggi kejujuran moral.   Gumilar harus digugat karena ia memimpin UI 
dengan imej-diri sebagai seorang penguasa yang berhak memerintah UI dengan 
sewenang-wenang.   Bisa dibilang, sang rektor memerintah dengan mengabaikan dua 
prinsip utama dalam prinsip good governance: transparansi dan akuntabilitas. 
Kalau saja, dengan kekuasaan itu, ia menjalankan amanat dengan baik, mungkin 
masalahnya akan lain. Namun, sebagaimana cerita penguasa otoriter di banyak 
belahan dunia, tanpa adanya kendali, sang penguasa terus melakukan 
langkah-langka yang merugikan masyarakat.   Dia memang adalah rektor pertama 
yang tidak dipilih dari bawah (melalui proses pemilihan di tingkat Guru Besar 
dan Senat Akademik sebagaimana di masa-masa sebelumnya) melainkan oleh Majelis 
Wali Amanat plus Mendiknas.   Sayangnya, karena merasa dirinya tidak dipilih 
oleh masyarakat akademik, dia merasa tak perlu melibatkan, terbuka dan 
bertanggungjawab pada masyarakat UI.    Soal pemberian gelar pada sang Raja 
Saudi adalah salah satu contohnya. Gagasan itu memang sudah pernah diutarakan 
oleh sejumlah kalangan dekatnya beberapa tahun lalu. Tapi itu adalah keputusan 
lingkaran kecil kekuasaan Gumilar. Itu bukanlah keputusan yang transparan dan 
bertangungjawab. Dia bahkan tega berbohong bahwa keputusan itu sudah pernah 
dikonsultasikan pada MWA atau Senat Akademik UI. Itu tak pernah dia lakukan. 
Dengar saja argumen-argumennya setiap hari yang terus berubah-ubah.   Agar 
adil, hal serupa sebenarnya dilakukan juga pada pemberian gelar-gelar doktor 
sebelumnya di bawah rezim Gumilar. Misalnya saja UI sudah memberikan gelar 
Doktor HC pada Sultan Bolkiah – sesuatu yang juga nampak bodoh tapi tak 
dipersoalkan karena skala dampaknya tak besar. UI di bawah Gumilar juga pernah 
berencana memberikan gelar Doktor HC pada Presiden Barack Obama, tapi ditolak. 
Yang penting di sini; seluruh keputusan ini tak dikonsultasikan dulu kepada 
pihak-pihak yang seharusnya mengawasi tindak laku rektor.   Sebelum ini dialah 
yang memutuskan UI membangun perpustakaan 8 lantai yang digambarkan sebagai 
'perpustakaan terbesar di Asia'. Biayanya tak diktahui persis oleh publik. 
Kabarnya, 200 miliar rupiah. Dari mana dananya? Kabarnya dari anggaran 
pendidikan Depdiknas. Buat apa perpustakaan mewah itu dibangun? Tidak jelas. 
Yang jelas di kompleks perpustakan itu ada Starbucks Cafe, fasilitas kebugaran, 
teater untuk pemutaran film, dst dst...   Banyak pihak menganggap projek itu 
mubazir karena sebenarnya setiap fakultas sudah memiliki perpustakaannya 
sendiri-sendiri. Dengan Perpustakaan Pusat yang baru ini, seluruh buku yang 
semula tersedia dan mudah diakses di perpustakaan fakultas harus diboyong ke 
Perpustakaan Pusat. Akibatnya perpustakaan fakultas menjadi kosong melompong.   
Alasan membangun perpustakaan delapan lantai pun mengherankan. Buktinya, yang 
dijadikan runag perpustakaan ternyata hanya sekitar 3 lantai. Lima lantai 
lainnya hanya diisi oleh ruang diskusi, ruang pertemuan, seminar, dan 
semacamnya.   Dalam kasus sebelumnya, dia mendatangkan delapan pohon raksasa 
dari Subang dengan biaya ratusan juta rupiah yang sekarang ditanam di sekitar 
gedung rektor. Buat apa? Tidak jelas. Kalau untuk penelitian, pertanyaannya: 
kenapa di UI? Apakah UI sedang mengembangkan pusat penelitian tanaman langka? 
Tidak. Jadi untuk apa? Tidak jelas.   Apakah keputusan ini pernah ia 
konsultasikan kepada MWA atau Senat Akademik UI? Tidak pernah!   Cara Rektor 
memimpin sangat otoriter. Mahasiswa yang memprotes kebijakan rektor 
diintimidasi, ditakut-takuti, diancam. Badan Eksekutif Mahasiswa pernah diancam 
dibekukan. Wartawan kampus yang menulis hal negatif tentang kampus diancam 
diskors. Untuk pe
berbagi meringankan derita bangsa

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke