Sanak Rahyussalim nn baik n sanak palanta..
JB mancaliak 'pinyakik lamo' di UI kambuh baliak.Kasus Rektor UI G maagiahkan
gala DR HC kepada Rajo SA,hanya batu loncatan untuk merebut pisisi Rektor nn
sekarang dijabat oleh G nn berasal dari Fakultas Sosial.
Kelihatannya Fakultas non sosial yang untuk kurun waktu
lama"mengangkangi"jabatan Rektor UI itu,berusaha untuk merebut kembali posisi
itu dengan memprovokasi Prof Emil Salim nn selama ini cukup netral dalam
pemilihan Rektor UI itu.
JB adalah urang UI,jebolan UI,alumni UI,"gadang n didikan" Salemba 4,tahu
banyak saketek 'e,"kucikak n kesombongan serta keangkkuhan Fakuiltas non Sosial
itu " untuk selalu menghalangi calon Rektor nn berasal dari Fakulktas lain
selain mereka.
Terpilihnya G dari Fisip-UI dulu,merupakan pukulan telak kepada Fakulktas
non sosial ini n sekarang belajar dari 'pengalaman'itu,mereka berusaha
menggalang kekuatan untuk merebut kembali posisi itu yang sebentar lagi jabatan
Rektor G akan berakhir.
Sungguh ironis,dikalangan sesama civitas academica UI cq para Guru
besar,masih menonjol keangkuhan Fakultas ketimbang kepentingan UI jangka
panjang sebagai Centre of Exellence nn kito banggakan selama ini.
Drs.Zubir Amin,Dt RJ,72thn,alumnus SalembaUI/69,kini sadang di Piaman.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
-----Original Message-----
From: "Rahyussalim" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 9 Sep 2011 11:47:16
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [R@ntau-Net] OOT...Fw: [kbk_fkui_2005] mengapa menggugat rektor UI
Assalamualaikum...tuo tuo jo sanak sadonyo.
Ambo kirimkan ka rantaunet sekedar penambah wawasan kito di palanta ko. Dek
karano adoh dulu dunsanak nan malewakan link e di RN. Dan ciek lai adoh carito
Prof Emil Salim nan urang awak maagiah pikiran mengenai sipak terjang rektor
Prof G.
Lagi2 iko hanyo panambah bacaan se. Mhn maaf.
Rahyussalim
------Original Message------
From: ratna sitompul
Sender: [email protected]
To: [email protected]
To: [email protected]
Cc: Siti Setiati
ReplyTo: [email protected]
Subject: [kbk_fkui_2005] mengapa menggugat rektor UI
Sent: Sep 9, 2011 16:03
Mengapa Menggugat Rektor UI by Ade Armando on Tuesday, September 6, 2011 at
9:32am Berkaitan dengan kekisruhan di Universitas Indonesia yang bermula dari
kontroversi pemberian gelar Doktor Honoris Causa kepada Raja Saudi yang
kemudian berkembang menjadi gerakan pelengseran Rektor UI Gumilar Rusliwa
Sumantri, nampaknya ada beberapa hal yang saya rasa perlu diluruskan. Saya
dari UI, lebih spesifik lagi dari FISIP UI. Saya termasuk yang marah dengan apa
yang dilakukan rektor UI saat ini, walau dia juga dari FISIP UI. Tapi isunya
bukan cuma soal pemberian gelar Doktor kepada sang Raja. Pemberian gelar itu
jelas bermasalah dan memalukan, tapi itu sebetulnya hanya semacam puncak dari
gunung es persoalan-persoalan yang ditimbulkan pola kepemimpinan sang rektor.
Saya memutuskan terlibat dalam gerakan menggugat kepemimpinan Gumilar,
karena apa yang dilakukannya selama ini bukan saja mencederai imej UI, namun
juga bertentangan dengan amanat agar UI menjadi lembaga pendidikan tinggi yang
seharusnya mengabdi pada kepentingan rakyat luas. Saya merasa bahwa civitas
academica di dalam UI wajib untuk terlibat menggugat kepemimpinan Rektor
karena, sebagaimana dikatakan Prof. Emil Salim dalam orasinya yang sangat
mengesankan di Fakultas Ekonomi 5 September kemarin, perguruan tinggi
seharusnya berfungsi sebagai mercu suar penerang di tengah kegelapan yang harus
menjunjung tnggi kejujuran moral. Gumilar harus digugat karena ia memimpin UI
dengan imej-diri sebagai seorang penguasa yang berhak memerintah UI dengan
sewenang-wenang. Bisa dibilang, sang rektor memerintah dengan mengabaikan dua
prinsip utama dalam prinsip good governance: transparansi dan akuntabilitas.
Kalau saja, dengan kekuasaan itu, ia menjalankan amanat dengan baik, mungkin
masalahnya akan lain. Namun, sebagaimana cerita penguasa otoriter di banyak
belahan dunia, tanpa adanya kendali, sang penguasa terus melakukan
langkah-langka yang merugikan masyarakat. Dia memang adalah rektor pertama
yang tidak dipilih dari bawah (melalui proses pemilihan di tingkat Guru Besar
dan Senat Akademik sebagaimana di masa-masa sebelumnya) melainkan oleh Majelis
Wali Amanat plus Mendiknas. Sayangnya, karena merasa dirinya tidak dipilih
oleh masyarakat akademik, dia merasa tak perlu melibatkan, terbuka dan
bertanggungjawab pada masyarakat UI. Soal pemberian gelar pada sang Raja
Saudi adalah salah satu contohnya. Gagasan itu memang sudah pernah diutarakan
oleh sejumlah kalangan dekatnya beberapa tahun lalu. Tapi itu adalah keputusan
lingkaran kecil kekuasaan Gumilar. Itu bukanlah keputusan yang transparan dan
bertangungjawab. Dia bahkan tega berbohong bahwa keputusan itu sudah pernah
dikonsultasikan pada MWA atau Senat Akademik UI. Itu tak pernah dia lakukan.
Dengar saja argumen-argumennya setiap hari yang terus berubah-ubah. Agar
adil, hal serupa sebenarnya dilakukan juga pada pemberian gelar-gelar doktor
sebelumnya di bawah rezim Gumilar. Misalnya saja UI sudah memberikan gelar
Doktor HC pada Sultan Bolkiah – sesuatu yang juga nampak bodoh tapi tak
dipersoalkan karena skala dampaknya tak besar. UI di bawah Gumilar juga pernah
berencana memberikan gelar Doktor HC pada Presiden Barack Obama, tapi ditolak.
Yang penting di sini; seluruh keputusan ini tak dikonsultasikan dulu kepada
pihak-pihak yang seharusnya mengawasi tindak laku rektor. Sebelum ini dialah
yang memutuskan UI membangun perpustakaan 8 lantai yang digambarkan sebagai
'perpustakaan terbesar di Asia'. Biayanya tak diktahui persis oleh publik.
Kabarnya, 200 miliar rupiah. Dari mana dananya? Kabarnya dari anggaran
pendidikan Depdiknas. Buat apa perpustakaan mewah itu dibangun? Tidak jelas.
Yang jelas di kompleks perpustakan itu ada Starbucks Cafe, fasilitas kebugaran,
teater untuk pemutaran film, dst dst... Banyak pihak menganggap projek itu
mubazir karena sebenarnya setiap fakultas sudah memiliki perpustakaannya
sendiri-sendiri. Dengan Perpustakaan Pusat yang baru ini, seluruh buku yang
semula tersedia dan mudah diakses di perpustakaan fakultas harus diboyong ke
Perpustakaan Pusat. Akibatnya perpustakaan fakultas menjadi kosong melompong.
Alasan membangun perpustakaan delapan lantai pun mengherankan. Buktinya, yang
dijadikan runag perpustakaan ternyata hanya sekitar 3 lantai. Lima lantai
lainnya hanya diisi oleh ruang diskusi, ruang pertemuan, seminar, dan
semacamnya. Dalam kasus sebelumnya, dia mendatangkan delapan pohon raksasa
dari Subang dengan biaya ratusan juta rupiah yang sekarang ditanam di sekitar
gedung rektor. Buat apa? Tidak jelas. Kalau untuk penelitian, pertanyaannya:
kenapa di UI? Apakah UI sedang mengembangkan pusat penelitian tanaman langka?
Tidak. Jadi untuk apa? Tidak jelas. Apakah keputusan ini pernah ia
konsultasikan kepada MWA atau Senat Akademik UI? Tidak pernah! Cara Rektor
memimpin sangat otoriter. Mahasiswa yang memprotes kebijakan rektor
diintimidasi, ditakut-takuti, diancam. Badan Eksekutif Mahasiswa pernah diancam
dibekukan. Wartawan kampus yang menulis hal negatif tentang kampus diancam
diskors. Untuk pe
berbagi meringankan derita bangsa
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/