Sabtu, 10 September 2011 Rektor UI dan Presiden RI Oleh EFFENDI GAZALI Isinya menyebuttidak kurang 33 nama dari tujuh fakultas sebagai produser, sutradara, aktor utama, dan aktor tambahan skenario penggulingan.Hampir semua elemen sivitas akademika ada di situ: anggota Majelis Wali Amanah(MWA), gurubesar,dekan, senat akademik,dan ikatan alumni (iluni).
Jika dokumenitu benar, mengapa adabegitu banyak orang mau berbuat seperti itu? Apakah nama-namasekaliber EmilSalim, MartaniHuseini, Pratiwi Sudarmono, Harkristuti Harkrisnowo, RhenaldKasali, Hikmahanto Juwana, Firmanzah, T Basarudin, Ratna Sitompul, Donny Gahral Adian, dan Ade Armando ”mempersoalkan” rektor tanpa alasanlogis? Hanya sematairi, iseng,ataubahkan semuaingin menggulingkandan berhasrat menjadi rektor seperti isi dokumen tersebut? Dengan gaya sensasi ”bom buku”, tiba-tiba sebuah dokumen diantar ke Kelompok Kerja Wartawan Depok. Judulnya ”Dokumen Rahasia, Rekaman Percakapan dari Skenario Besar Penggulingan Rektor Universitas Indonesia”. Masuk ke masalah isi, ternyata utamanya adalah ”sadapan” pesan singkat (SMS)daritelepon beberapa nama di atas. Selain melanggar hukum,sebagian isinya dipelintir dan diletakkan dalam konteks yangkeliru. Selain sadap-menyadap bergayaintelijenini, sesungguhnyamasihada aneka telepon dan SMS intimidatif pada beberapa nama. Forum resmi Dokumen itupun tidak memuat apa yangterjadi dalamforumresmi. Sebagaicontoh,dialog langsung IluniFISIP UI dengan Rektor UI atau forum terbuka antar-elemen sivitas akademikatanggal 5September. Kontekspertanyaan kritisdan orasi dihilangkansama sekali. Yang ada hanya kebenaran tunggal si penulis dokumen rahasia. Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa intelijen dan gaya intimidasimasuk keurusankepemimpinan sebuahuniversitas. Jawabannya barangkali soal doktor honoris causa dari Rektor UI untuk Raja ArabSaudi. Jelas, sebagianbesar wargaUIterluka dengan pemberian yang umumnya mereka ketahuidari media itu. Kalau tidak ada ”bocoran” berita dariarabnews.com, bisa jadi tak ada media di Indonesia dan warga UI yang tahu. Lepas dari perasaan tersebut, hampir semuanama yangdituduhjustru sadarbahwagelar itu relatif sulitdicabut. Ini terutama karena kesalahan utama nya bukan padapenerima,melainkan pada pemberi dan proses tata kelola yang bermasalah. Dokumen jugatidak menyebutperan mediatorDipoAlam. Padahal,justru namaSekretaris Kabinet ini yang menimbulkan tandatanya soalkemungkinan intervensi pemerintah! Seharusnya sikap pemerintah jelasdalam kasusdoktor honoris causa ini. KetikaRuyati, tenaga kerja Indonesia di Arab Saudi, dieksekusi, Presiden SBY membuat konferensi pers(23/6) dan menyatakantelah menulissurat keprihatinan kepada Raja Arab Saudi.Isinya ”protes keras Kepala Negara RIatas eksekusi almarhumah Saudari Ruyati yang menabrakkelaziman normadan tata kramainternasional dengan tidak memberitahu pihakIndonesia”. Lalu bagaimana mungkin, jika Presidenmarah, Rektor UI dan utusan khusus presiden untuk Timur Tengah malah memberi Raja ArabSaudi gelar ke h o r m a t a n ? Apakah PresidenSBY cuma pura-pura marah demi pencitraan? Lalu melalui nama-nama pejabat negara di atas dia meminta Rektor UI memberikan penghargaan untuk ”berdamai”? Semogatidak. Karenajika benar,sandiwara pencitraan itu akan makin membuat banyak pihak terluka. Tuntaskan segera Bagaimana ke depan? Kisruh tata kelolaUI harustuntas segera.Selama ini,banyak pihak sadar bahwamembawa masalah ini ke media seperti membuka aib sendiri.Namun, filsafat dan etika komunikasimengajarkan: lebih baik bicarauntuk memperbaiki keadaan.Bandingkan denganlembaga penegakan hukum kita yangtokoh-tokohnya justru saling menutupi aib. Jelaslahposisi kisruh ini relatif tidak ditujukan untuk mencabut gelar. Sebagian besar pihak justrumenyambut opsi Mendiknas (Ko m p a s ,7/9) berupa memperpanjang masa jabatan MWA sampai transisi selesai dan mempercepat pemilihan rektor. Petahana tentu boleh maju sesuai aturan dan asas keadilan. Selesai masalah ini, energi dan waktu kita harus digunakan kembaliuntuk mengupas secara jernih ketidakjelasan nasib TKI, kasus Nazaruddin, Bank Century, IT KPU, rekening gendut, wisma atlet, korupsi Kemnakertrans, dan seterusnya. EFFENDI GAZALI Dosen UI, Namanya Juga Disebut dalam Dokumen Rahasia -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
