Mak Ngah. Sebelum dapek tambahan teng asal kato "calau" ko tarutamo dari sanak awak nan dari "Muaro Sijunjuang" barikuik ambo tambahkan link tentang sejarah nan akan ditaliti ko.
Laporan penelitian melacak jejak Hamzah Fansuri di Kampung Calau, Muaro Sijunjung studi kasus faham Wahdat al-Wujud oleh Drs. Nurfaizal. Published 2002 by Lembaga Penelitian dan Pengembangan, Institut Agama Islam Negeri Sulthan Syarif Qasim in Pekanbaru . http://openlibrary.org/works/OL2326493W/Laporan_penelitian_melacak_jejak_Hamzah_Fansuri_di_Kampung_Calau_Muaro_Sijunjung Surau Syech Abdul Wahab di Calau Ramai Dikunjungi Selasa, 02/08/2011 23:50 WIB padangmedia.com - Diperkirakan pada abad ke -17 Masehi, seorang ulama yang bernama Abdul Wahab datang ke daerah Sijunjung, atau tepatnya dinagari Muaro untuk mengajarkan agama Islam kepada masyarakat setempat. Menurut sejarah yang diterima dari berapa orang yang mengetahui riwayatnya, Syech Abdul Wahab datang dari Tanjung Bonai Aur Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung. Syech Abdul Wahab dikenal dengan sebutan “Tuanku Dibawah Manggis”, yang berusia lebih kurang 100 tahun dan belajar ilmu agama di Lubuak Sikarah, dulunya dikenal dengan sebutan Kubuang Tigo Baleh, Ia juga belajar ilmu agama dengan seorang guru dari Pangian, Kecamatan Lintau Buo Kabuaten Tanah Datar. Menurut sejarah yang di terima turun-temurun, Syech Abdul Wahab mengajarkan agama Islam di perkampungan Calau. Ia termasuk orang yang dicari-cari oleh pemerintah Belanda. Seperti dijelaskan Umar Tuangku Mudo yang meneruskan kekhalifahan Calau, Syech Abdul Wahab dikenal sebagai ulama yang sangat benci kepada pemerintah Belanda. Disamping itu di Nagari Tanjung Bonai Aur, ia juga berselisih faham tentang I’tikat pengajian Sifat Duo Puluah dengan Tuangku Nan Basiriang . Menurutnya, kalau paham itu dipakai dan terbawa mati maka akhir hayatnya kelak akan menjadi harimau. Syech Abdul Wahab khawatir lama kelamaan nanti bisa tertarik dengan paham itu. Alasan itulah Syech Abdul Wahab memutuskan untuk menyingkir dari daetah Tanjung Bonai Aur sekaligus mancari tempat persembunyian dari Pemerintah Belanda. Di Tanjung Bonai Aur surau beliu terletak dibawah sebuah batang manggis dan memiliki pancuran tampek mandi sebanyak tujuh buah. Makanya beliau disebut Tuanku Dibawah Manggis. Dari tanjung Bonai Aur, ia mengikuti hilir Sungai Batang Sinamar sampai kemuara Batang ombilin, Batang Palanki dan Batang Sukam yaitu Batang Kuantan. Lalu ia menepi di daerah yang bernama “Kederasan Baru” atau Patahan, diperkirakan sebelah hilir dari lokasi runtuhnya Bukit yang dibelah oleh sungai batang Kuantan pada tanggal 7 april 1968. Ditempat tersebut terdapat dua peninggalannya selama 3 tahun menetap di sana yakni batu yang disusun untuk tempat sholat. Menurut seorang saksi yang melihat tempat tersebut sebelum runtuhnya bukit yang dibelah dua oleh sungai batang kuantan, batu ini masih bisa dilihat. Peninggalaan lain adalah sebuah areal persawahan yang dibuat sendiri oleh Sech Abdul Wahab. Tak berapa lama menetap disana, Syech bertemu dengan Dt. Tapawuok yang sekarang bergelar Dt. Tan Marajo. Sang Dt. Tan Marajo sering berpergian. Iapun membawa Syech Abdul Wahab dari Muaro Kulampi ke Ranah Katimahar yang sekarang menjadi nagari Muaro. Kala itu Ranah Katimahar masih dalam tahap pembuatan sebuah nagari. Setibanya di Ranah Katimahar, atau nagari Muaro sekarang, dicarikanlah tempat tinggal yang cocok untuknya. Tujuannya agar Syech Abdul Wahab dapat beribadah dengan khusuk serta aman dalam menyebarkan ilmu agama Islam kepada masyarakat setempat. Tempaat itupun diminta kepada Ninik mamak nagari muaro karena akan dijadikan tempat beribadah dan tempat mengajarkan ilmu pengetahuan agama serta sekaligus menjadi hak kaum muslimin. Setelah disetujui dan disepakati oleh ninik mamak nagari muaro barulah beliau membangun tempat tersebut dengan membuat surau. Surau yang pertama dibangun yaitu Surau Tinggi yang berbentuk menyerupai rumah adat di Minang kabau yang memiliki tanduk. Hal tersebut bermakna kesepakatan ninik mamak orang adat dengan orang agama ( Ulama ), kemudian beliau membangun Surau Tuo dan Surau Masjid. Ketiga surau inilah yang menjadi surau pokok di Kampung Calau. Menurut sejarahnya di Surau Tuo beliau tempatkan guru beliau yang berasal dari Pangian Lintau Buo. Sedangkan pada Surau Masjid itu pembangunannya dimotori oleh orang-orang dari Nagari Padang Laweh yang ada pada masa itu. Sedangkan di Surau Masjid ini beliau tempatkan murid beliau yang merupakan orang Nagari Sijunjung yang saat itu tinggal diantara Batang Hari dengan Sungai Pugu yang juga merupakan kemenakan dari Tuangku yang bertempat di Pudak Sijunjung. Batas daerah yang diberikan oleh ninik mamak nagari Muaro seakan-akan berbentuk sebuah perkampungan. Sebelah utara berbatas dengan Bandar yang digali dan Bandar inilah yang dinamakan dengan Calau. Sebelah selatan berbatas dengan sungai kecil sebelah barat berbatas dengan pagar kawat. Di Kampung Calau ini, selain mengajarkan ilmu agama. Syech Abdul Wahab juga membangun perekonomian dengan menanam kelapa pada lingkungan Kampung Calau, membuat kolam ikan. Diantara kolam itu ada tiga buah kolam yang hasilnya diperuntukan bagi kepentingan surau. Selain itu Syech Abdul wahab juga mendapat persetujuan dari Ninik mamak dalam nagari dan Tuangku Malin Khatib Rajo untuk mencetak sawah sebanyak 5 piring dan ditambah dengan 13 piring sawah kecil yang mengelilingi sawah yang lima piring tadi. Keseluruhan hasil yang diperoleh dari sawah tersebut juga diperuntukan untuk kepentingan surau. Menurut riwayat beliau mempunyai 3 orang istri yang pertama berasal dari Nagari Tanjung Bonai Aur, yang kedua berasal dari padang Laweh dan yang ketiga di Muaro. Menurut sejarahnya, Allah memberikan karomah kepada Syech Abdul wahab. Sewaktu ia sedang mencukur rambut, belum selesai, ia minta berhenti sebentar dengan alasan sadang mengantuk. Setelah beberapa saat kemudian, ia meminta kepada tukang cukur tersebut untuk melanjutkanya kembali. Berselang beberahari kemudian, datanglah serombongan jamaah yang mengantarkan hadiah sebagai ucapan terima kasih kepada beliau atas jasanya. Ia dianggap telah menyelamatkan jemaah dari bahaya tenggelamnya kapal yang tompangi oleh jamaah tersebut pada hari dan waktu yang bertepatan dengan saat beliau sedang mencukur rambut. Karomah kedua, saat membuat mata air dengan menusukan tongkatnya ketanah sehingga mengeluarkan air yang sampai sekarang airnya masih tetap mengalir dan menjadi sumber air bagi jamaah yang berada di Calau. Bahkan sewaktu Nagari Muaro mangalami musim kemarau dan kekeringan selama tujuh bulan, air dari mata air tersebut tetap mengalir dan tak pernah kering Peristiwa lain, Syech pernah mengangkat tiga buah batu yang mengapung dan berputar dari sungai sendirian, yang dihanyutkan oleh gurunya dari Pudak Nagari Sijunjung. Semua orang tidak mampu mangangkatnya, tetapi Syech dengan mudah melakukannya. Peninggalan Syech Abdul wahab adalah Kitab-kitab tulisan tangan yang tintanya berasal dari getah kayu Juar dan kulit kitabnya terdiri dari kulit binatang yang sudah dikeringkan serta dari pelepah daun pinang. Selain itu juga ada tongkat dari Manau Sonsang dan beberapa buah tongkat besi dan kayu yang didalamnya berisi senjata yang bisa dicabut jika suatu saat diperlukan. Juga ada beberapa buah Topi yang terbuat dari bermacam bahan dan motif, jam dinding, uang logam dari berbagai tahun, tasbih, cincin, beberapa buah anak kunci lemari kuno, carano dan Kombuik Bantai ( semacam keranjang atau berupa karung kecil yang terbuat dari kain berwarna merah - hitam dan memakai tali rantai ). Setelah Syech Abdul Wahab meninggal, beliau digantikan oleh Syekh Jalaluddin yang juga berasal dari Tanjung Bonai Aur dengan gelar Imam Aur dan masih sepasukuan dengan Syekh Abdul Wahab yang juga berumur lebih kurang sekitar 100 tahun dan beliau mempunyai 5 orang istri yang semauanya berasal dari Nagari Muaro. Kemudian Khalifah dari Syekh Jalaluddin adalah Syekh Ahmad yang merupakan anak kandung dari Syekh Jalaluddin dengan gelar Tuangku Labai dari nagari Muaro. Kemudian Kalifah dari Syekh Ahmad adalah Syekh Usman yang bergelar Tuangku Bagindo Khatib yang masih merupakan saudara kandung dari Syekh Ahmad, anak dari Syekh Jalaluddin. Menurut ceritanya, Tuangku Bagindo Khatib ini menjabat sebagai khalifah hanya lebih kurang selama empat tahun saja kemudian beliau wafat, Berdasarkan catatan, Syekh Ahmad meninggal tahun 1932 M dan Tuangku Bagindo Khatib meninggal tahun 1936 M. Setelah Tuangku Bagindo Khatib wafat Khalifah diserahkan kepada Tuangku di Sijunjung yang bernama Kitab dan bergelar Tuangku Malin Bayang yaitu murid dari Syekh Ahmad. Karena Tuangku Malin Bayang sehari-hari berada di Sijunjung maka dimintalah bermufakat para Tuangku yang berada di Calau waktu itu, untuk menjabat sebagai penanti tamu dicalau. Dari hasil mufakat ditunjuklah 4 orang yaitu, Muhammad Rasyad yang bergelar Tuangku Kuning berasal dari Toluok, Lintau Buo sebagai yang dituakan, Abdul Munap bergelar Tuangku Bagindo Khatib yang lebih dikenal dengan Angku Jangguik dari Muaro kemudian Murid bergelar Tuangku Malin Mancayo dari Muaro dan Lisuik dengan gelar Tuangku Malin Mudo. Setelah keempat Tuangku ini meninggal dunia, maka hasil dari mufakat jabatan ini dipegang oleh Kamaluddin dengan gelar Tuangku Imam Aur berasal dari tanjung Bonai Aur, kemudian dilajutkan dengan Husin yang bergelar Tuangku Imam Kopah karena berasal dari Kopah, Riau dan dibantu oleh Buya Khairuddin asal Aie Angek. Kemudian dilanjutkan oleh Syafri, bergelar Tuangku Malin Saidi dari Sijunjung dan kemudian diteruskan oleh Umar SL dengan gelar Tuangku Mudo dari Muaro yang menjabat sampai sekarang. Dijelaskan Umar SL Tuangku Mudo, hingga saat ini, setiap bulan Safar banyak peziarah yang datang untuk melakukan Zikir dan Berdoa bersama untuk arwah Syech Abdul Wahab. Kebanyakkan dari peziarah datang dari Ulakan Pariaman karena dikisahkan juga bahwa Syech Abdul wahab merupakan teman seperjuangan Syech Burhanuddin dalam merintis dan mengembangkan ajaran agama islam di Sumatra Barat yang makamnya berada di Ulakan Pariaman. ( yir ) http://www.padangmedia.com/?mod=ramadhan&id=193 Pada 16 September 2011 05:57, sjamsir_sjarif <[email protected]> menulis: > Rupanya ada dua Calau di daerah Sijunjung. yang saya kenal baik Calau yang di > sumopur Kudus, Kampung Buya Ma'arif. > > Ada yang tahu apa arti kata Calau? Mudah-mudahan para pengreset dapat pula > maresek-resek apa asal katanya. > > Tentu sebaiknya halaman-halam buku tua itu discan dan disimpan dalam > alat-alat computer storage modern yang dapat diakses dengan mudah di > perpustakaan-perpustakaan dimasa depan. > > Salam, > --MakNgah > Sjamsir Sjarif > Di Tapi riak nan Badabua. > Santa Cruz, California > Sept 16, 2011 -- Wassalam Nofend/34+ CKRG -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
