Naudzubillahi min dzalik.
Kadipanga kan?

Rancak cerpen ko Mak SLA.
Tarimo kasih.

Salam,
ZulTan, L, 51, Bogor


If you don't know where you are going, any road will take you nowhere - Henry 
Kissinger

-----Original Message-----
From: Muhammad Dafiq Saib <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 8 Oct 2011 22:51:11 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [R@ntau-Net] Cerpen: SANTRI

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu


Carito pendek sakadar bacoan sajo.......

SANTRI
 
Rafki
sampai di rumah orang tuanya. Untuk berlibur hari raya selama dua minggu.
Betapa menyenangkan untuk kembali berada di rumah ini, dekat ayah dan ibu serta
adik-adiknya. Rafki adalah seorang santri di sekolah penghafal al Quran di luar
kota, di kaki
gunung Marapi. Sudah setahun dia menuntut ilmu di sana. Atas perintah ayah, 
karena ayah ingin
dia menjadi seorang hafidz. Seorang penghafal al Quran. Doa penghafal al Quran
itu diijabah Allah dengan mudah. Orang tuanya pun nanti akan dihimbaunya masuk
ke surga atas izin Allah. Itulah sebabnya ayahnya, Khatib Sulaiman sangat
berambisi menyekolahkan Rafki ke pesantren itu.
 
Dan
selama setahun itu baru kali ini dia pulang ke rumah orang tuanya di Jambi. 
Meskipun
pada awalnya dia tidak terlalu bersemangat meninggalkan rumah orang tuanya,
Rafki sebagai seorang anak yang penurut, mematuhi arahan ayah itu. Tapi ternyata
suasana di pondok itu cukup menyenangkan. Kawan-kawannya semua baik-baik.
Ustadz-ustadznya baik-baik. Lingkungannya ramah dan menyenangkan. Di sana Rafki 
termasuk santri
yang terbaik. Prestasi sekolahnya bagus. Dan dia sudah menghafalkan 3 juz
terakhir al Quran dengan bacaan yang fasih dan bersih tajwijnya. Sebuah
prestasi yang luar biasa.
 
Kemajuan
Rafki selalu dipantau Khatib Sulaiman ayahnya. Dua kali seminggu ayah dan anak
itu berkomunikasi melalui sms, melalui hape ustadz Saiful. Ayah selalu saja
bertanya sudah sejauh mana kemajuan hafalan al Qurannya. Bagi ayah hal itu
adalah yang paling penting. Alhamdulillah Rafki selalu melaporkan kemajuan.
Melaporkan surah demi surah pada setiap juz terakhir yang sudah dihafalkan.
Khatib Sulaiman bangga berbunga-bunga. Ingin sekali dia mendengarkan langsung
bacaan anaknya itu. Akan dimintakannya ijin imam mesjid agar si Rafki mengimami
shalat subuh di mesjid. Betapa akan menyenangkan, punya anak penghafal al
Quran.
 
Sekaranglah
tiba waktunya. Di saat Rafki pulang berlibur ini. Khatib Sulaiman yang paling
bahagia dengan kepulangan anak sulungnya itu. Rafki terlihat agak kurus sedikit
tapi sangat sehat. Matanya bersinar-sinar. Sinar mata seorang penghafal al
Quran. 
 
Adik
Rafki yang persis di bawahnya bernama Zain, duduk di kelas lima SD. Zain juga 
terkagum-kagum dengan
Rafki. Dengan da Rafki atau lebih ringkas dipanggilnya da Raf. Kakaknya itu
sangat berpaham penampilannya sekarang. Sangat berbeda dengan ketika sebelum
dia berangkat ke pesantren. Sejak sampai di rumah tadi siang, sudah beberapa
kali Zain memergoki Rafki sedang bergumam dengan nada seperti orang mengaji.
Tapi suaranya terlalu halus untuk bisa didengar. Zain tidak dapat menahan
hatinya untuk bertanya.
 
‘Sedang
apa da Raf ini?’ akhirnya dia bertanya.
 
Rafki
hanya tersenyum dan terus juga seperti bergumam.
 
‘Da
Raf mengaji?’
 
Rafki
mengangguk.
 
‘Cobalah
baca yang keras. Awak ingin mendengar.’
 
Rafki
menyaringkan suaranya. Terdengar bacaannya yang sangat elok, tartil, dan
teratur dengan irama agak cepat. Zain terkagum-kagum mendengarnya. Sepertinya
bacaan itu sangat lancar. Tidak pernah sekali juga dia terhenti atau ragu-ragu.
 
‘Surah
apa yang da Raf baca? Biar awak simak,’ kata Zain. Tangannya sudah memegang 
sebuah
mushaf al Quran.
 
Kali
ini Rafki menghentikan bacaannya. Diambilnya al Quran itu dari tangan adiknya
dan dibukanya surah al Mujadalah, awal juz ke dua puluh delapan.
 
‘Simaklah
baik-baik!’ katanya.
 
Rafki
kembali membaca dan Zain menyimaknya.  Ayat
demi ayat itu dibacanya dengan jelas. Jelas panjang dan pendeknya, jelas
dengungnya, jelas tasydidnya, jelas qalqalahnya. Zain semakin terkagum-kagum.
Tidak ada satupun bacaan itu yang salah. Sampai Rafki menyelesaikan
keduapuluhdua ayat. Dilanjutkannya pula dengan surah al Hasyr sampai
selesai.pula.
 
Rafki
masih terus mengaji. Adiknya Zain menyimak dengan bersungguh-sungguh dengan
kekaguman. Betapa hebatnya kakaknya itu. Betapa hebatnya da Raf. Setelah itu
kedua adik kakak itu terlibat dalam pembicaraan.
 
‘Berapa
lama da Raf menghafalkan juz ke dua puluh delapan itu?’ tanya Zain.
 
‘Hampir
tiga bulan sampai benar-benar hafal,’ jawab Rafki.
 
‘Semua
teman di pondok hafal seperti itu?’
 
‘Hampir
semua. Ada
bahkan yang lebih cepat, yang sudah mulai menghafalkan juz dua puluh tujuh.’
 
‘Kenapa
dari belakang menghafalnya?’
 
‘Kata
ustadz memang lebih baik seperti itu. Dimulai dengan yang susah dari belakang,
karena ayat-ayatnya pendek-pendek dan banyak. Tapi kalau kita berhasil
menghafalkan  juz-juz terakhir itu, juz seterusnya
jadi lebih mudah dihafalkan. Juz ‘ama atau juz tiga puluh baru bisa hafal dalam
waktu hampir lima
bulan. Juz berikutnya sekitar empat bulan. Terakhir juz dua puluh delapan
selama tiga bulan.’
 
‘Sampai
kelas tiga nanti bisa hafal sampai juz berapa?’
 
‘Mudah-mudahan
sampai sepuluh juz. Target ustadz-ustadz di pondok seperti itu dan
mudah-mudahan kesampaian.’
 
‘Hebat
sekali…… Awak juga ingin sekolah ke sana,’
kata Zain bersungguh-sungguh.
 
‘Sudah
diberitahukan ke ayah dan mak?’
 
‘Sudah.
Ayah sangat setuju. Hanya mak yang ragu-ragu karena nanti rumah jadi sepi kalau
awak pergi. Begitu kata mak.’
 
‘Kan masih dua tahun
lagi. Mudah-mudahan saja nanti mak tidak lagi ragu-ragu.’
 
‘Tolong
doakan ya da Raf?!’
 
‘Ya,
insya Allah da Raf doakan.’
 
 
Di
waktu shalat maghrib, di rumah, ayah menyuruh Rafki jadi imam. Dia membaca surah
al Kaafiruun dan surah al Ikhlas. Surah yang pendek. Rafki membacanya dengan
fasih dan tartil. Ayahnya berkomentar bahwa kedua surah itu terlalu pendek.
Ayah ingin mendengar surah yang lebih panjang dan beliau meminta agar shalat
isya nanti Rafki membaca yang lebih panjang. Dan Rafki mematuhinya. Dia baca
surah al Muzzammil dan al Muddatstsir. Dengan fasih. Dengan lancar dan tartil.
 
Khatib
Sulaiman bahagia dan bangga. Bacaan anaknya itu sangat mengagumkannya dan
menyenangkan hati.
 
‘Besok
subuh kita shalat di mesjid Al Barkah,’ kata ayah.
 
Rafki
mengangguk.
 
‘Da
Raf akan disuruh jadi imam?’ tanya Zain.
 
‘Kalau
Haji Ahmad menyuruh kau maju, maka kau maju saja jadi imam!’ kata ayah.
 
‘Kan tidak enak sama
orang tua-tua ayah,’ jawab Rafki.
 
‘Ayah
sudah memberitahu Haji Ahmad. Beliau tidak keberatan. Beliau bahkan sangat
setuju. Katanya, biar anak-anak muda, atau setidak-tidaknya orang tua yang
punya anak muda tertarik pula mengirim anak mereka ke sekolah penghafal al
Quran.’ 
 
‘Ya
da Raf. Baca surah yang tadi itu lagi saja,’ Zain ikut menyemangati.
 
Di
waktu subuh ketiga ayah dan anak itu pergi ke mesjid Al Barkah tepat saat azan 
subuh
dikumandangkan. Jamaah subuh di mesjid ini ada sekitar empat puluh orang.
Umumnya orang tua-tua. Sebahagian besar berpakaian haji atau sekurang-kurangnya
bersorban. Sesudah iqamat, Haji Ahmad memanggil Rafki yang duduk di saf
belakang dan menyuruhnya jadi imam. Meski agak sungkan, tapi Rafki maju juga.
Sebelum takbir memulai shalat diingatkannya para jamaah agar meluruskan shaf. 
‘Sawuu sufufakum….,’ katanya. Dan mereka
mulai shalat.
 
Rafki
membaca surah al Insaan di rakaat pertama dan surah al Mursalaat di rakaat
kedua. Suaranya yang nyaring dan terang itu bertambah indah berkat bantuan alat
pengeras suara. Lalu mereka rukuk di rakaat kedua. Lalu I’tidal. Lalu langsung
sujud. Terjadi sedikit ‘huru-hara’. Ada
yang berdehem-dehem dan ada yang membaca subhanallaah. Rafki yang tidak merasa
ada yang salah tidak bereaksi apa-apa dan meneruskan saja shalatnya sampai
selesai. Waktu dia menoleh dan mengarahkan pandangan ke belakang, dilihatnya
orang-orang tua itu pada sujud. Rafki agak terheran-heran. Rupanya beliau-beliau
itu sujud sahwi. Apa yang salah? Apa yang terlupa? Rafki tidak habis pikir.
 
Ayah
mendekat kepadanya dan berbisik.
 
‘Kenapa
kau tidak membaca doa qunut?’
 
Rafki
baru sadar. Rupanya itu penyebabnya. Dia tidak membaca qunut waktu shalat tadi.
Tapi Rafki diam saja. Dia tidak berkomentar apa-apa.
 
Sampai
di rumah ayah kembali menanyakan.
 
‘Kenapa
kau tidak qunut?’
 
‘Qunut
itu kan sunah
saja ayah. Di pondok ustadz-ustadz tidak membaca doa qunut,’ jawab Rafki dengan
nada biasa-biasa saja.
 
‘Apa?
Tidak membaca qunut?’ suara ayah meninggi.
 
‘Tidak
ayah. Membaca qunut itu tidak wajib. Di masjidil Harampun imam shalat subuh
tidak membaca qunut,’ jawab Rafki.
 
‘Wah!
Kalau begitu kau sudah masuk perangkap. Kau sudah masuk ke golongan yang
keliru. Kita adalah anggota ahlus sunnah
wal jamaah. Kita wajib membaca qunut. Kalau kau lupa kau harus sujud sahwi.
Sayang….. Bacaanmu yang bagus tadi tidak ada artinya karena kau menyalahi
aturan. Karena kau tidak membaca qunut.’
 
‘Ayah…
Membaca qunut itu hanya sunnah. Tidak wajib. Tidak membacanya tidak menjadikan
shalat tidak sah. Kami menonton di televisi Arab Saudi, di Masjidil Haram imam
shalat subuh tidak membaca qunut dan tidak ada orang yang sujud sahwi,’ jawab
Rafki berhati-hati.
 
‘Ternyata
pesantrenmu itu milik golongan itu. Golongan yang suka membid-‘ah-bid-‘ahkan
orang lain. Membid-‘ah-bid-’ahkan kita. Sebaiknya, atau ayah putuskan, kau
tidak usah lagi balik ke sana.’
 
Rafki
terperangah mendengar ucapan ayah. Begitu juga Zain. Bukankah sampai tadi malam
ayah sangat benar bangga dengan bacaan al Quran Rafki? Benarkah dengan tidak
membaca qunut waktu shalat subuh tadi dia sudah membuat kesalahan fatal? Rafki
tidak ingin meneruskan bantahan dan memilih diam.
 
Dan
ternyata ayah tidak main-main dengan keputusannya melarang Rafki kembali ke
pondok. 
 
‘Nanti
kita cari pondok yang lain. Pondok dari golongan ahlus sunnah wal jamaah. Ayah 
akan menghubungi pimpinan pondok itu
untuk memberi tahu bahwa kau tidak akan kembali lagi ke sana,’ begitu kata ayah.
 
Rafki
sedih tidak boleh kembali ke pondok. Lebih sedih lagi karena dia yakin alasan
ayah itu tidak masuk akal. Tapi dia tidak mau membantah. Dia tidak mau
mendurhakai ayah. Zain juga terheran-heran dengan keputusan ayah itu yang
dirasanya sangat aneh dan tidak adil. Padahal dia sudah bertekad untuk
mengikuti jejak da Raf. Untuk ikut jadi santri di sekolah penghafal al Quran
itu. Yang sekarang ternyata jadi buyar.
 
 
 
                                                                                   
 *****
 


Wassalamu'alaikum

 
Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H, 
Jatibening - Bekasi

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke