Sayang memang dipesantren Rafi itu ustaznyo indak maajakan toleransi dalam baibadah untuk hal nan sunah. Qunut memang indak wajib. Tapi indak salah kalau dibaco. Buya Hamka diminta jadi imam subuah di kelompok NU beliau baco qunut. Dimusajik kami di Sterling, VA, tagantung imam sajo. Ado nan qunut ado nan indak. Jamaah ikuik sajo.
Jadi Rafi jo ayahnyo samo sajo. Taqlid buto. Aniwe mokasih cerpennyo sanak SLA. Banyak kejadian seperti di cerpenko. On 10/9/11, ZulTan <[email protected]> wrote: > > > Naudzubillahi min dzalik. > Kadipanga kan? > > Rancak cerpen ko Mak SLA. > Tarimo kasih. > > Salam, > ZulTan, L, 51, Bogor > > > If you don't know where you are going, any road will take you nowhere - > Henry Kissinger > > -----Original Message----- > From: Muhammad Dafiq Saib <[email protected]> > Sender: [email protected] > Date: Sat, 8 Oct 2011 22:51:11 > To: [email protected]<[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: [R@ntau-Net] Cerpen: SANTRI > > Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu > > > Carito pendek sakadar bacoan sajo....... > > SANTRI > > Rafki > sampai di rumah orang tuanya. Untuk berlibur hari raya selama dua minggu. > Betapa menyenangkan untuk kembali berada di rumah ini, dekat ayah dan ibu > serta > adik-adiknya. Rafki adalah seorang santri di sekolah penghafal al Quran di > luar > kota, di kaki > gunung Marapi. Sudah setahun dia menuntut ilmu di sana. Atas perintah ayah, > karena ayah ingin > dia menjadi seorang hafidz. Seorang penghafal al Quran. Doa penghafal al > Quran > itu diijabah Allah dengan mudah. Orang tuanya pun nanti akan dihimbaunya > masuk > ke surga atas izin Allah. Itulah sebabnya ayahnya, Khatib Sulaiman sangat > berambisi menyekolahkan Rafki ke pesantren itu. > > Dan > selama setahun itu baru kali ini dia pulang ke rumah orang tuanya di Jambi. > Meskipun > pada awalnya dia tidak terlalu bersemangat meninggalkan rumah orang tuanya, > Rafki sebagai seorang anak yang penurut, mematuhi arahan ayah itu. Tapi > ternyata > suasana di pondok itu cukup menyenangkan. Kawan-kawannya semua baik-baik. > Ustadz-ustadznya baik-baik. Lingkungannya ramah dan menyenangkan. Di sana > Rafki termasuk santri > yang terbaik. Prestasi sekolahnya bagus. Dan dia sudah menghafalkan 3 juz > terakhir al Quran dengan bacaan yang fasih dan bersih tajwijnya. Sebuah > prestasi yang luar biasa. > > Kemajuan > Rafki selalu dipantau Khatib Sulaiman ayahnya. Dua kali seminggu ayah dan > anak > itu berkomunikasi melalui sms, melalui hape ustadz Saiful. Ayah selalu saja > bertanya sudah sejauh mana kemajuan hafalan al Qurannya. Bagi ayah hal itu > adalah yang paling penting. Alhamdulillah Rafki selalu melaporkan kemajuan. > Melaporkan surah demi surah pada setiap juz terakhir yang sudah dihafalkan. > Khatib Sulaiman bangga berbunga-bunga. Ingin sekali dia mendengarkan > langsung > bacaan anaknya itu. Akan dimintakannya ijin imam mesjid agar si Rafki > mengimami > shalat subuh di mesjid. Betapa akan menyenangkan, punya anak penghafal al > Quran. > > Sekaranglah > tiba waktunya. Di saat Rafki pulang berlibur ini. Khatib Sulaiman yang > paling > bahagia dengan kepulangan anak sulungnya itu. Rafki terlihat agak kurus > sedikit > tapi sangat sehat. Matanya bersinar-sinar. Sinar mata seorang penghafal al > Quran. > > Adik > Rafki yang persis di bawahnya bernama Zain, duduk di kelas lima SD. Zain > juga terkagum-kagum dengan > Rafki. Dengan da Rafki atau lebih ringkas dipanggilnya da Raf. Kakaknya itu > sangat berpaham penampilannya sekarang. Sangat berbeda dengan ketika sebelum > dia berangkat ke pesantren. Sejak sampai di rumah tadi siang, sudah beberapa > kali Zain memergoki Rafki sedang bergumam dengan nada seperti orang mengaji. > Tapi suaranya terlalu halus untuk bisa didengar. Zain tidak dapat menahan > hatinya untuk bertanya. > > ‘Sedang > apa da Raf ini?’ akhirnya dia bertanya. > > Rafki > hanya tersenyum dan terus juga seperti bergumam. > > ‘Da > Raf mengaji?’ > > Rafki > mengangguk. > > ‘Cobalah > baca yang keras. Awak ingin mendengar.’ > > Rafki > menyaringkan suaranya. Terdengar bacaannya yang sangat elok, tartil, dan > teratur dengan irama agak cepat. Zain terkagum-kagum mendengarnya. > Sepertinya > bacaan itu sangat lancar. Tidak pernah sekali juga dia terhenti atau > ragu-ragu. > > ‘Surah > apa yang da Raf baca? Biar awak simak,’ kata Zain. Tangannya sudah memegang > sebuah > mushaf al Quran. > > Kali > ini Rafki menghentikan bacaannya. Diambilnya al Quran itu dari tangan > adiknya > dan dibukanya surah al Mujadalah, awal juz ke dua puluh delapan. > > ‘Simaklah > baik-baik!’ katanya. > > Rafki > kembali membaca dan Zain menyimaknya. Ayat > demi ayat itu dibacanya dengan jelas. Jelas panjang dan pendeknya, jelas > dengungnya, jelas tasydidnya, jelas qalqalahnya. Zain semakin > terkagum-kagum. > Tidak ada satupun bacaan itu yang salah. Sampai Rafki menyelesaikan > keduapuluhdua ayat. Dilanjutkannya pula dengan surah al Hasyr sampai > selesai.pula. > > Rafki > masih terus mengaji. Adiknya Zain menyimak dengan bersungguh-sungguh dengan > kekaguman. Betapa hebatnya kakaknya itu. Betapa hebatnya da Raf. Setelah itu > kedua adik kakak itu terlibat dalam pembicaraan. > > ‘Berapa > lama da Raf menghafalkan juz ke dua puluh delapan itu?’ tanya Zain. > > ‘Hampir > tiga bulan sampai benar-benar hafal,’ jawab Rafki. > > ‘Semua > teman di pondok hafal seperti itu?’ > > ‘Hampir > semua. Ada > bahkan yang lebih cepat, yang sudah mulai menghafalkan juz dua puluh tujuh.’ > > ‘Kenapa > dari belakang menghafalnya?’ > > ‘Kata > ustadz memang lebih baik seperti itu. Dimulai dengan yang susah dari > belakang, > karena ayat-ayatnya pendek-pendek dan banyak. Tapi kalau kita berhasil > menghafalkan juz-juz terakhir itu, juz seterusnya > jadi lebih mudah dihafalkan. Juz ‘ama atau juz tiga puluh baru bisa hafal > dalam > waktu hampir lima > bulan. Juz berikutnya sekitar empat bulan. Terakhir juz dua puluh delapan > selama tiga bulan.’ > > ‘Sampai > kelas tiga nanti bisa hafal sampai juz berapa?’ > > ‘Mudah-mudahan > sampai sepuluh juz. Target ustadz-ustadz di pondok seperti itu dan > mudah-mudahan kesampaian.’ > > ‘Hebat > sekali…… Awak juga ingin sekolah ke sana,’ > kata Zain bersungguh-sungguh. > > ‘Sudah > diberitahukan ke ayah dan mak?’ > > ‘Sudah. > Ayah sangat setuju. Hanya mak yang ragu-ragu karena nanti rumah jadi sepi > kalau > awak pergi. Begitu kata mak.’ > > ‘Kan masih dua tahun > lagi. Mudah-mudahan saja nanti mak tidak lagi ragu-ragu.’ > > ‘Tolong > doakan ya da Raf?!’ > > ‘Ya, > insya Allah da Raf doakan.’ > > > Di > waktu shalat maghrib, di rumah, ayah menyuruh Rafki jadi imam. Dia membaca > surah > al Kaafiruun dan surah al Ikhlas. Surah yang pendek. Rafki membacanya dengan > fasih dan tartil. Ayahnya berkomentar bahwa kedua surah itu terlalu pendek. > Ayah ingin mendengar surah yang lebih panjang dan beliau meminta agar shalat > isya nanti Rafki membaca yang lebih panjang. Dan Rafki mematuhinya. Dia baca > surah al Muzzammil dan al Muddatstsir. Dengan fasih. Dengan lancar dan > tartil. > > Khatib > Sulaiman bahagia dan bangga. Bacaan anaknya itu sangat mengagumkannya dan > menyenangkan hati. > > ‘Besok > subuh kita shalat di mesjid Al Barkah,’ kata ayah. > > Rafki > mengangguk. > > ‘Da > Raf akan disuruh jadi imam?’ tanya Zain. > > ‘Kalau > Haji Ahmad menyuruh kau maju, maka kau maju saja jadi imam!’ kata ayah. > > ‘Kan tidak enak sama > orang tua-tua ayah,’ jawab Rafki. > > ‘Ayah > sudah memberitahu Haji Ahmad. Beliau tidak keberatan. Beliau bahkan sangat > setuju. Katanya, biar anak-anak muda, atau setidak-tidaknya orang tua yang > punya anak muda tertarik pula mengirim anak mereka ke sekolah penghafal al > Quran.’ > > ‘Ya > da Raf. Baca surah yang tadi itu lagi saja,’ Zain ikut menyemangati. > > Di > waktu subuh ketiga ayah dan anak itu pergi ke mesjid Al Barkah tepat saat > azan subuh > dikumandangkan. Jamaah subuh di mesjid ini ada sekitar empat puluh orang. > Umumnya orang tua-tua. Sebahagian besar berpakaian haji atau > sekurang-kurangnya > bersorban. Sesudah iqamat, Haji Ahmad memanggil Rafki yang duduk di saf > belakang dan menyuruhnya jadi imam. Meski agak sungkan, tapi Rafki maju > juga. > Sebelum takbir memulai shalat diingatkannya para jamaah agar meluruskan > shaf. ‘Sawuu sufufakum….,’ katanya. Dan mereka > mulai shalat. > > Rafki > membaca surah al Insaan di rakaat pertama dan surah al Mursalaat di rakaat > kedua. Suaranya yang nyaring dan terang itu bertambah indah berkat bantuan > alat > pengeras suara. Lalu mereka rukuk di rakaat kedua. Lalu I’tidal. Lalu > langsung > sujud. Terjadi sedikit ‘huru-hara’. Ada > yang berdehem-dehem dan ada yang membaca subhanallaah. Rafki yang tidak > merasa > ada yang salah tidak bereaksi apa-apa dan meneruskan saja shalatnya sampai > selesai. Waktu dia menoleh dan mengarahkan pandangan ke belakang, dilihatnya > orang-orang tua itu pada sujud. Rafki agak terheran-heran. Rupanya > beliau-beliau > itu sujud sahwi. Apa yang salah? Apa yang terlupa? Rafki tidak habis pikir. > > Ayah > mendekat kepadanya dan berbisik. > > ‘Kenapa > kau tidak membaca doa qunut?’ > > Rafki > baru sadar. Rupanya itu penyebabnya. Dia tidak membaca qunut waktu shalat > tadi. > Tapi Rafki diam saja. Dia tidak berkomentar apa-apa. > > Sampai > di rumah ayah kembali menanyakan. > > ‘Kenapa > kau tidak qunut?’ > > ‘Qunut > itu kan sunah > saja ayah. Di pondok ustadz-ustadz tidak membaca doa qunut,’ jawab Rafki > dengan > nada biasa-biasa saja. > > ‘Apa? > Tidak membaca qunut?’ suara ayah meninggi. > > ‘Tidak > ayah. Membaca qunut itu tidak wajib. Di masjidil Harampun imam shalat subuh > tidak membaca qunut,’ jawab Rafki. > > ‘Wah! > Kalau begitu kau sudah masuk perangkap. Kau sudah masuk ke golongan yang > keliru. Kita adalah anggota ahlus sunnah > wal jamaah. Kita wajib membaca qunut. Kalau kau lupa kau harus sujud sahwi. > Sayang….. Bacaanmu yang bagus tadi tidak ada artinya karena kau menyalahi > aturan. Karena kau tidak membaca qunut.’ > > ‘Ayah… > Membaca qunut itu hanya sunnah. Tidak wajib. Tidak membacanya tidak > menjadikan > shalat tidak sah. Kami menonton di televisi Arab Saudi, di Masjidil Haram > imam > shalat subuh tidak membaca qunut dan tidak ada orang yang sujud sahwi,’ > jawab > Rafki berhati-hati. > > ‘Ternyata > pesantrenmu itu milik golongan itu. Golongan yang suka membid-‘ah-bid-‘ahkan > orang lain. Membid-‘ah-bid-’ahkan kita. Sebaiknya, atau ayah putuskan, kau > tidak usah lagi balik ke sana.’ > > Rafki > terperangah mendengar ucapan ayah. Begitu juga Zain. Bukankah sampai tadi > malam > ayah sangat benar bangga dengan bacaan al Quran Rafki? Benarkah dengan tidak > membaca qunut waktu shalat subuh tadi dia sudah membuat kesalahan fatal? > Rafki > tidak ingin meneruskan bantahan dan memilih diam. > > Dan > ternyata ayah tidak main-main dengan keputusannya melarang Rafki kembali ke > pondok. > > ‘Nanti > kita cari pondok yang lain. Pondok dari golongan ahlus sunnah wal jamaah. > Ayah akan menghubungi pimpinan pondok itu > untuk memberi tahu bahwa kau tidak akan kembali lagi ke sana,’ begitu kata > ayah. > > Rafki > sedih tidak boleh kembali ke pondok. Lebih sedih lagi karena dia yakin > alasan > ayah itu tidak masuk akal. Tapi dia tidak mau membantah. Dia tidak mau > mendurhakai ayah. Zain juga terheran-heran dengan keputusan ayah itu yang > dirasanya sangat aneh dan tidak adil. Padahal dia sudah bertekad untuk > mengikuti jejak da Raf. Untuk ikut jadi santri di sekolah penghafal al Quran > itu. Yang sekarang ternyata jadi buyar. > > > > > ***** > > > > Wassalamu'alaikum > > > Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam > Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi > Lahir : Zulqaidah 1370H, > Jatibening - Bekasi > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > -- Sent from my mobile device Wassalaamu'alaikum Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta), suku Mandahiliang, lahir 17 Agustus 1947. nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman. rantau Deli, Jakarta, kini Sterling, Virginia-USA ------------------------------------------------------------ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
