Mudahan ada gunanya

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of 
Rahima
Sent: Monday, October 10, 2011 10:27 AM
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Subject: [mangajiRN] Prinsip orang Batak, 1 kepala berada diatas 12 kepala 
keluarga terangkat derajatnya

 

  

…
Prinsip orang Batak, 1 kepala berada
diatas 12 kepala keluarga terangkat
 
Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi wabarakaatuh
 
Kalimat diatas,
kudapatkan dari hasil chattingku dengan kakak kandungku yang berada di Medan,
setelah sehari sebelumnya aku barusan saja dari P.Siantar dan Medan untuk 
menjenguk
Ibuku yang sakit.
 
Aku dan kedua
kakakku pergi jalan-jalan di plaza Milenium pusatnya penjualan Hp. Aku ingin
membelikan Hp yang tak berkamera untuk kedua anakku Rahmat dan Abduurrahman,
sebab disekolahnya tak boleh Hp berkamera, sementara selama ini Hp mereka
berkamera semuanya. 
 
Bagus juga tuh
peraturan disekolah kulihat. Sebab banyak juga efek negatifnya kalau Hp
anak-anak berkamera, banyak kejadian yang tak enak akibat berfoto ria bervideo
ria di Hp tersebut, sementara umur mereka masihlah sangat mudanya untuk
melakukan hal-hal semacam itu. Dan anak tak bisa disalahkan dalam hal ini,
tetapi ortunyalah yang salah, kenapa dikasih Hp yang canggih-canggih, bikin
anak bikin foto yang kurang pantas dilihat oleh orang dan di publikasikan pula
di FB.(Naudzubillah, syukurlah anak-anakku tak melakukan hal semacam itu, foto
tak berjilbabpun tak ada di FB nya semua masih berjilbab dan dalam kapasitas
yang wajar-wajar saja). 
 
Sementara ada
kulihat seorang anak memperlihatkan di FB nya foto setengah telanjang, kelihatan
antara pakaian yang dipakainya hanya beberapa cm saja dari alat vitalnya, kan
bisa mengundang nafsu lelaki normal namanya itu. Nah, itu kesalahan ortu,
terutama sang Ibu yang seharusnya lebih mengenal puterinya, sebab dialah yang
lebih banyak dirumah ketimbang suaminya yang sudah barang tentu harus mencari
nafkah buat mereka.
 
Aku tak ada
melarang-larang anak kami dalam hal foto2 ini. Mereka tahu sendiri, karena
sejak dalam didikan dirumah saja, sang Baba, selalu  berpakaian sopan didepan 
anak-anaknya. Selalu
pakai kain sarung. Kalaupun musim panas, pakai celana sebatas lutut, dan pakai
kaos, dan tidak pernah bertelanjang dada didepan anak-anaknya. Hal ini secara
tak langsung tentu direkam oleh anak-anak kami. Itu pula mungkin sebabnya
hampir ketiga anak lelaki kami, susah sekali disuruh pakai celana pendek,
celana dibatas lutut. Apalagi Muhammad, sebanyak itu celana bagus2 dan mahal2
kubelikan, celana batas lutut, karena mengikuti trendi masa kini, dia tak
pernah mau memakainya, lebih mau memakai celana panjang yang usang bahkan sudah
koyak dilututnya itu, tetap dia pakai, ketimbang memakai celana pendek itu. Itu
semua karena kebiasaan saja kali.
 
Jadi, didikan dari
rumah sejak kecil, tak begitu menyulitkan dan merepotkan aku untuk
melarang-larang anakku berpakaian tak sopan, apalagi memfotokannya di Hp dan
dipublikasikan kulit badannya itu. Karena memang tak ada yang harus di
publikasikan, semua berpakaian sopan, Alhamdulillah.(kecuali dikolam renang
kali yah, bagi anak lelaki biasanya hanya pakaian renang, tapi bagi anak pr ku,
dia tetap berjilbab dan pakaian kurung biasa).
 
Bagiku sih, anak
pintar selangit tak ada gunanya, kalau tak memiliki akhlakul karimah yang baik,
sopan dan lembut. Tidak sombong, apalagi berkata kasar. Bukankah Rasulullah
diutus kedunia ini untuk penyempurnaan akhlaq yang mulia. Bukan diutus untuk
menciptakan generasi pintarnya selangit. Aku memang bersyukur, kalau anakku
dari prestasi akademik mereka lumayanlah, tapi aku selalu mengingatkan mereka.
Tingkah kalian itu yang lebih penting bagi Mama. 
 
Kembali kecerita
kami belanja di Hp tadi. Kemudian kakakku itu menyelipkan sebungkus entah apa,
mulanya aku tak tahu, yang kutahu itu adalah pakaian anakku yang tertinggal
sebelumnya. Kukira bungkus itu adalah kertas kado yang isinya baju tersebut.
Jadi aku tak engeh. Setelah kami beli 2 hp tanpa kamera itu, kubilang sama
kakakku, :”Kak..hati2 kak, jangan sampai ketinggalan bungkus ini, hp nya nantik
hilang nangis nantik anakku, hp nya lumayan mahal juga tuh untuk ukuran
anak-anak sih, bukan untuk ukuran aku orang dewasa dan sudah emak-emak ini, hp
keluaran terbaru thn 2011 untuk hp tak berkamera. Kupilih dua warna hitam dan
merah,lumayan cantiklah.
 
Lantas kakakku yang
satu lagi bilang :”Ma,..isi bungkus ini sama harganya dengan harga Hp yang Ima
beli itu”. Lha, memang itu apa  isinya
kak? Kulihat ternyata tas sekolah buat anak kami yang pr hadiah dari kakakku
itu. “ooh, tas rupanya, ima kirain tadi kertas kado”. 
 
Setelah sampai
dirumah di Bukittinggi, kukasihkan tas itu untuk anak kami itu, betapa senangnya
dia menerimanya. Langsung ditelponnya tantenya itu, ucapin terimakasih.
Kubilang sama kakakku
dalam chatting: “Kak, tidak usah repot-repot belikan anak-anak ini, mereka juga
tak begitu antusias dalam hal-hal barang begituan”. Kakak tersebut malah mau
membelikan sepatu untuk anak-anakku, tapi sengaja tak kusebutkan berapa ukuran
kaki anak-anakku, kubilang saja aku tak hafal, padahal aku hafal semua ukuran
sepatu anak-anakku, tapi karena aku tak mau merepotkan, karena aku juga tahu
kondisi finansialnya bagaimana, maka kubilang saja aku tak perhatian ukurannya.
 
Kemudian kakakku
bilang :” Ma, meskipun uangmu banyak dan bisa membelikan mereka apa saja, tapi
pemberian hadiah dari saudara itu beda Ma. Mari kita eratkan tali silaturrahim 
sesama
mereka dengan saling memberi hadiah untuk mereka, sehingga mereka saling kenal,
dan kelak mereka saling membantu, ada persoalan jangan ditelan sendiri, tapi
diselesaikan bersama-sama, mari kita ambil prinsip orang Batak :”satu berada
diatas 12 kepala keluarga terangkat nasibnya, maka sejahtera lah semuanya”.
 
Lama aku merenung
kalimat singkat itu, tapi memiliki makna yang cukup dalam. Terkadang aku
berfikir, memang benar. Orang Batak itu memang rasa kekeluargaannya cukup
tinggi. Bila satu orang saja hidupnya mapan, dan memegang jabatan tinggi,
biasanya dia akan membantu adik kakak, saudaranya yang kesusahan, sehingga
terangkatlah derajat saudaranya yang lain, maka sejahteralah hidup semuanya. 
 
Dan aku juga pernah
melihat dan membaca autobiografhi seorang pedagang di Indonesia ini, yang mana
mulanya hidupnya sangatlah susahnya, setelah dia berhasil, yang difikirkannya
adalah membantu adik kakak nya yang lain, sehingga berhasillah semua berkat
bantuannya, dan orang itu memang secara kebetulan berasal dari SUMUT. Dia rela
meninggalkan PNS nya mencari menjadi pedagang demi menaikkan taraf kehidupan
saudaranya yang lain. 
 
Ada pula cerita yang
lain, dia seorang pegawai dan memiliki jabatan, akhirnya dengan usahanya 
saudaranyapun
naik derajatnya. Aku suka membaca kisah-kisah orang maju seperti itu, mereka
setelah berhasil tak pernah hanya memikirkan nasib dirinya sendiri, nasib anak
istri dan anak-anaknya saja, tetapi nasib adik kakak saudaranya yang lain, yang
kesusahan. Dan biasanya orang seperti itu kekayaannya bukan malah berkurang,
tetapi bertambah terus, bahkan sampai tujuh keturunan. Mungkin akan berbeda
dengan mereka yang hanya memikirkan dirinya anak dan istrinya saja, dengan
mereka yang memikirkan saudaranya yang lain, hasilnya memang beda dan daya 
ketahanan
kekayaannya itu memang berbeda, dan penuh berkah. 
 
Itulah yang kupantau
selama ini dari kehidupan orang-orang sukses didunia ini, terutama di Indonesia
ini. Dan mungkin inilah yang dimaksudkan oleh kakakku itu :”kita ambil prinsip
orang Batak, satu kepala diatas, 12 kepala RT lainnya terangkat derajatnya dan
hidupnya sejahtera semuanya”. Bermula dari satu orang yang berada diatas tadi,
maka yang dibawah jadi mengikut saja lagi. MasyaAllah. Ya Allah, kapan kami
bisa seperti itu.
 
 Dan aku akui, memang kedua kakakku itu bersama
suaminya, sangatlah social orangnya, meski dalam kesulitan ditimpa musibahpun,
masih bisa dia membantu saudaranya yang lain. Dia sendiri dalam kondisi sulit,
apalagi saat mereka punya uang, tak pernah dimakan sendiri untuk dirinya
anak/suaminya, selalu saja yang lain ikut mencicipi dan kecipratan rezeki itu.
Aku memang mengakui sifat dan watak mereka yang dermawan itu. Mungkin watak
ibukulah yang menurun kemereka. Ibukupun kulihat orang bermasyarakat, suka
menolong orang lain. Aku sering lihat dengan mata kepalaku sendiri ibuku sering
kasih uang atau makanan/pakaian buat para peminta yang datang kerumah. Dan
Ibuku penyayang dengan siapapun. Aku rasanya, masih belum bisa sampai ketaraf
seperti ibu dan kakak-kakakku itu, mudah-mudahan kedepannya bisa. Amin ya
Rabbal aalmiin.
 
Wassalamu’alaikum.
Rahima. 10 oktober 2011. Bukittinggi.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke