Cerita yang menarik. Makin banyak memberi, makin banyak yang didapat. On Oct 10, 2011, at 5:23 PM, "St Parapatiah" <[email protected]> wrote:
> Mudahan ada gunanya > > > > From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf > Of Rahima > Sent: Monday, October 10, 2011 10:27 AM > To: [email protected] > Cc: [email protected] > Subject: [mangajiRN] Prinsip orang Batak, 1 kepala berada diatas 12 kepala > keluarga terangkat derajatnya > > > > > > … > Prinsip orang Batak, 1 kepala berada > diatas 12 kepala keluarga terangkat > > Bismillahirrahmaanirrahiim > Assalamu’alaikum > Warahmatullahi wabarakaatuh > > Kalimat diatas, > kudapatkan dari hasil chattingku dengan kakak kandungku yang berada di Medan, > setelah sehari sebelumnya aku barusan saja dari P.Siantar dan Medan untuk > menjenguk > Ibuku yang sakit. > > Aku dan kedua > kakakku pergi jalan-jalan di plaza Milenium pusatnya penjualan Hp. Aku ingin > membelikan Hp yang tak berkamera untuk kedua anakku Rahmat dan Abduurrahman, > sebab disekolahnya tak boleh Hp berkamera, sementara selama ini Hp mereka > berkamera semuanya. > > Bagus juga tuh > peraturan disekolah kulihat. Sebab banyak juga efek negatifnya kalau Hp > anak-anak berkamera, banyak kejadian yang tak enak akibat berfoto ria bervideo > ria di Hp tersebut, sementara umur mereka masihlah sangat mudanya untuk > melakukan hal-hal semacam itu. Dan anak tak bisa disalahkan dalam hal ini, > tetapi ortunyalah yang salah, kenapa dikasih Hp yang canggih-canggih, bikin > anak bikin foto yang kurang pantas dilihat oleh orang dan di publikasikan pula > di FB.(Naudzubillah, syukurlah anak-anakku tak melakukan hal semacam itu, foto > tak berjilbabpun tak ada di FB nya semua masih berjilbab dan dalam kapasitas > yang wajar-wajar saja). > > Sementara ada > kulihat seorang anak memperlihatkan di FB nya foto setengah telanjang, > kelihatan > antara pakaian yang dipakainya hanya beberapa cm saja dari alat vitalnya, kan > bisa mengundang nafsu lelaki normal namanya itu. Nah, itu kesalahan ortu, > terutama sang Ibu yang seharusnya lebih mengenal puterinya, sebab dialah yang > lebih banyak dirumah ketimbang suaminya yang sudah barang tentu harus mencari > nafkah buat mereka. > > Aku tak ada > melarang-larang anak kami dalam hal foto2 ini. Mereka tahu sendiri, karena > sejak dalam didikan dirumah saja, sang Baba, selalu berpakaian sopan didepan > anak-anaknya. Selalu > pakai kain sarung. Kalaupun musim panas, pakai celana sebatas lutut, dan pakai > kaos, dan tidak pernah bertelanjang dada didepan anak-anaknya. Hal ini secara > tak langsung tentu direkam oleh anak-anak kami. Itu pula mungkin sebabnya > hampir ketiga anak lelaki kami, susah sekali disuruh pakai celana pendek, > celana dibatas lutut. Apalagi Muhammad, sebanyak itu celana bagus2 dan mahal2 > kubelikan, celana batas lutut, karena mengikuti trendi masa kini, dia tak > pernah mau memakainya, lebih mau memakai celana panjang yang usang bahkan > sudah > koyak dilututnya itu, tetap dia pakai, ketimbang memakai celana pendek itu. > Itu > semua karena kebiasaan saja kali. > > Jadi, didikan dari > rumah sejak kecil, tak begitu menyulitkan dan merepotkan aku untuk > melarang-larang anakku berpakaian tak sopan, apalagi memfotokannya di Hp dan > dipublikasikan kulit badannya itu. Karena memang tak ada yang harus di > publikasikan, semua berpakaian sopan, Alhamdulillah.(kecuali dikolam renang > kali yah, bagi anak lelaki biasanya hanya pakaian renang, tapi bagi anak pr > ku, > dia tetap berjilbab dan pakaian kurung biasa). > > Bagiku sih, anak > pintar selangit tak ada gunanya, kalau tak memiliki akhlakul karimah yang > baik, > sopan dan lembut. Tidak sombong, apalagi berkata kasar. Bukankah Rasulullah > diutus kedunia ini untuk penyempurnaan akhlaq yang mulia. Bukan diutus untuk > menciptakan generasi pintarnya selangit. Aku memang bersyukur, kalau anakku > dari prestasi akademik mereka lumayanlah, tapi aku selalu mengingatkan mereka. > Tingkah kalian itu yang lebih penting bagi Mama. > > Kembali kecerita > kami belanja di Hp tadi. Kemudian kakakku itu menyelipkan sebungkus entah apa, > mulanya aku tak tahu, yang kutahu itu adalah pakaian anakku yang tertinggal > sebelumnya. Kukira bungkus itu adalah kertas kado yang isinya baju tersebut. > Jadi aku tak engeh. Setelah kami beli 2 hp tanpa kamera itu, kubilang sama > kakakku, :”Kak..hati2 kak, jangan sampai ketinggalan bungkus ini, hp nya > nantik > hilang nangis nantik anakku, hp nya lumayan mahal juga tuh untuk ukuran > anak-anak sih, bukan untuk ukuran aku orang dewasa dan sudah emak-emak ini, hp > keluaran terbaru thn 2011 untuk hp tak berkamera. Kupilih dua warna hitam dan > merah,lumayan cantiklah. > > Lantas kakakku yang > satu lagi bilang :”Ma,..isi bungkus ini sama harganya dengan harga Hp yang Ima > beli itu”. Lha, memang itu apa isinya > kak? Kulihat ternyata tas sekolah buat anak kami yang pr hadiah dari kakakku > itu. “ooh, tas rupanya, ima kirain tadi kertas kado”. > > Setelah sampai > dirumah di Bukittinggi, kukasihkan tas itu untuk anak kami itu, betapa > senangnya > dia menerimanya. Langsung ditelponnya tantenya itu, ucapin terimakasih. > Kubilang sama kakakku > dalam chatting: “Kak, tidak usah repot-repot belikan anak-anak ini, mereka > juga > tak begitu antusias dalam hal-hal barang begituan”. Kakak tersebut malah mau > membelikan sepatu untuk anak-anakku, tapi sengaja tak kusebutkan berapa ukuran > kaki anak-anakku, kubilang saja aku tak hafal, padahal aku hafal semua ukuran > sepatu anak-anakku, tapi karena aku tak mau merepotkan, karena aku juga tahu > kondisi finansialnya bagaimana, maka kubilang saja aku tak perhatian > ukurannya. > > Kemudian kakakku > bilang :” Ma, meskipun uangmu banyak dan bisa membelikan mereka apa saja, tapi > pemberian hadiah dari saudara itu beda Ma. Mari kita eratkan tali > silaturrahim sesama > mereka dengan saling memberi hadiah untuk mereka, sehingga mereka saling > kenal, > dan kelak mereka saling membantu, ada persoalan jangan ditelan sendiri, tapi > diselesaikan bersama-sama, mari kita ambil prinsip orang Batak :”satu berada > diatas 12 kepala keluarga terangkat nasibnya, maka sejahtera lah semuanya”. > > Lama aku merenung > kalimat singkat itu, tapi memiliki makna yang cukup dalam. Terkadang aku > berfikir, memang benar. Orang Batak itu memang rasa kekeluargaannya cukup > tinggi. Bila satu orang saja hidupnya mapan, dan memegang jabatan tinggi, > biasanya dia akan membantu adik kakak, saudaranya yang kesusahan, sehingga > terangkatlah derajat saudaranya yang lain, maka sejahteralah hidup semuanya. > > Dan aku juga pernah > melihat dan membaca autobiografhi seorang pedagang di Indonesia ini, yang mana > mulanya hidupnya sangatlah susahnya, setelah dia berhasil, yang difikirkannya > adalah membantu adik kakak nya yang lain, sehingga berhasillah semua berkat > bantuannya, dan orang itu memang secara kebetulan berasal dari SUMUT. Dia rela > meninggalkan PNS nya mencari menjadi pedagang demi menaikkan taraf kehidupan > saudaranya yang lain. > > Ada pula cerita yang > lain, dia seorang pegawai dan memiliki jabatan, akhirnya dengan usahanya > saudaranyapun > naik derajatnya. Aku suka membaca kisah-kisah orang maju seperti itu, mereka > setelah berhasil tak pernah hanya memikirkan nasib dirinya sendiri, nasib anak > istri dan anak-anaknya saja, tetapi nasib adik kakak saudaranya yang lain, > yang > kesusahan. Dan biasanya orang seperti itu kekayaannya bukan malah berkurang, > tetapi bertambah terus, bahkan sampai tujuh keturunan. Mungkin akan berbeda > dengan mereka yang hanya memikirkan dirinya anak dan istrinya saja, dengan > mereka yang memikirkan saudaranya yang lain, hasilnya memang beda dan daya > ketahanan > kekayaannya itu memang berbeda, dan penuh berkah. > > Itulah yang kupantau > selama ini dari kehidupan orang-orang sukses didunia ini, terutama di > Indonesia > ini. Dan mungkin inilah yang dimaksudkan oleh kakakku itu :”kita ambil prinsip > orang Batak, satu kepala diatas, 12 kepala RT lainnya terangkat derajatnya dan > hidupnya sejahtera semuanya”. Bermula dari satu orang yang berada diatas tadi, > maka yang dibawah jadi mengikut saja lagi. MasyaAllah. Ya Allah, kapan kami > bisa seperti itu. > > Dan aku akui, memang kedua kakakku itu bersama > suaminya, sangatlah social orangnya, meski dalam kesulitan ditimpa musibahpun, > masih bisa dia membantu saudaranya yang lain. Dia sendiri dalam kondisi sulit, > apalagi saat mereka punya uang, tak pernah dimakan sendiri untuk dirinya > anak/suaminya, selalu saja yang lain ikut mencicipi dan kecipratan rezeki itu. > Aku memang mengakui sifat dan watak mereka yang dermawan itu. Mungkin watak > ibukulah yang menurun kemereka. Ibukupun kulihat orang bermasyarakat, suka > menolong orang lain. Aku sering lihat dengan mata kepalaku sendiri ibuku > sering > kasih uang atau makanan/pakaian buat para peminta yang datang kerumah. Dan > Ibuku penyayang dengan siapapun. Aku rasanya, masih belum bisa sampai ketaraf > seperti ibu dan kakak-kakakku itu, mudah-mudahan kedepannya bisa. Amin ya > Rabbal aalmiin. > > Wassalamu’alaikum. > Rahima. 10 oktober 2011. Bukittinggi. > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti > subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
