secara bertahap..sudah mulai ada yg nulis ttg sejarah di web nagari lintau.
ini salah satunya, semoga bermanfaat :sumber :
http://lubukjantan.lintau.info/?p=379#more-379

RUMAH GADANG TUANKU SULTAN ACHMAD
Posted on 19/10/2011 <http://lubukjantan.lintau.info/?p=379> by
admin<http://lubukjantan.lintau.info/?author=1>
<http://lubukjantan.lintau.info/wp-content/uploads/2011/10/rumahgadanglubuak-jantan.jpg>

RUMAH GADANG TUANKU SULTAN ACHMAD

Jika kita pergi *raun-raun* ke Lubuk Jantan, persis di depan Simpang
Kalumbuek, jika kita melayangkan pandang ke sebelah kanan jalan, kita akan
menemui reruntuhan rumah adat Minangkabau, seperti yang kita lihat pada
gambar di atas. Umumnya masyarakat Lubuk Jantan menyebutnya dengan nama *“Rumah
Seberang Parik”* karena posisinya memang berada di seberang parit yang cukup
dalam yang harus kita seberangi sebelum mencapai rumah adat tersebut.
Sepanjang pengetahuan kami, inilah rumah adat yang paling besar yang pernah
dibuat dan bentuknya sedikit berbeda dengan kebanyakan rumah adat yang masih
tersisa di Lubuk Jantan. Wow.. sungguh cantik sekali seni bangunan rumah
adat ini dan sedikit mirip dengan seni arsitektur istana lama Seri Menanti
di Negeri Sembilan, walau sayang sudah tidak terurus dan entah kapan akan
ada kemauan kita semua untuk melestarikan seni budaya dan adat Minangkabau
yang masih tersisa. Konon kabarnya, kembaran rumah adat ini pernah ditemui
dan disampaikan oleh para nenek dan datuk kita di Buo, hanya saja yang di
Buo lebih panjang dan lebih besar. Pertanyaan kita, siapakah pemilik rumah
adat ini?

Saat kita berdiri dekat pintu masuk rumah adat ini, pada dinding sebelah
kiri akan kita temui sebuah papan kecil yang bertuliskan *“SULTAN ACHMAD”*,
yang seolah-olah memberitahukan kepada kita nama pemilik rumah adat ini.
Berdasarkan sejarah yang pernah kami dengar dari almarhum Sutan Alamsyah
Datuek Simarajo Tuanku Mudo nan Godang dan almarhum Sutan Iskandar Datuk
Bijayo Tuanku nan Ketek, juga dikonfirmasikan oleh pewaris Kerajaan Adat
Buo, almarhum Haji Sabran Pahlawan Garang, disampaikan bahwa memang benar
rumah ini adalah milik Sultan Achmad atau yang dalam bahasa sehari-hari
masyarakat Lubuk Jantan memanggilnya Tuanku Tan Amat, singkatnya sering
disebut-sebut *Ongku Tan Amat*. Juga dijelaskan bahwa Tuanku Tan Amat ini
adalah salah seorang anak kandung Raja Adat di Buo yang terakhir, Nan
Dipertuan Sembahyang Sulthan Abdul Jalil Lukmanul Hakim Muningsyah (1802 –
1872), yang kemudian kita kenal sebagai pejuang pidari melawan Belanda di
Lintau dan Koto Tujueh bersama anak-anaknya, Tuanku Tan Amat, Sutan Hasyim
Tuanku Tinggi dari Tepi Selo, berikut para kemenakan dan kerabatnya yang
lain seperti Sutan Ismail Tuan Bujang Panji Alam dari Buo dan Sutan Saleh
Nan Dipertuan Talang dari Sumpur Kudus.

Ibu dari Tuanku Tan Amat ini adalah Puti Rahmani dan sebagai mas kawin atas
perkawinan kerajaan ini, Nan Dipertuan Sembahyang memberikan mas kawin
berupa tanah yang sangat luas yaitu sejak dari *parik duo lampih* (batas
dengan Buo) sampai dengan *simpang balai sotu*. Berdasarkan silsilah yang
dicatat di Buo, Nan Dipertuan Sembahyang menikah dengan Puti Rahmani,
seorang wanita dari pesukuan Caniago Seberang Lurah, memiliki dua orang anak
laki-laki dan satu orang anak perempuan, yaitu:

   1. Tuanku Sultan Achmad atau Tuanku Tan Amat,
   2. Sutan Lembang Lawik gelar Penghulu Sati,
   3. Puti Balukih (mungkin maksudnya Puti Bulqis)

Tuanku Tan Amat ini banyak memiliki saudara seayah, baik itu di Tepi Selo,
Pagaruyung, Sumpur Kudus, Saruaso dan Kuantan Singingi. Saudara seayah
Tuanku Tan Amat di Tepi Selo berada di Kampung Rajo, antara lain: Datuk
Marajo, Puti Cayo Gadih Elok Baso dan Sutan Hasyim Tuanku Tinggi. Di
Pagaruyung, saudara seayahnya berada di Istana Silindung Bulan, yakni: Sutan
Muhammad Isa Nan Dipertuan Sati Gunung Hijau, jadi raja di Gunung Sahilan
dan Tuan Gadih Puti Reno Sumpu. Masih di Pagaruyung, tepatnya di Kampung
Tengah, saudara seayahnya adalah Tuan Aciek Puti Salosai. Di Sumpur Kudus,
saudara seayah Tuanku Tan Amat adalah Puti Tisah di Kampung Dalam Sumpur
Kudus. Di Saruaso dicatat Tuan Gadih Saruaso dan Sutan Manzun yang menjadi
Tuan Indomo yang terakhir. Sementara itu di Kuantan Singingi, kita akan
mendengar nama Nan Dipertuan Saleh sebagai raja di Koto Tuo, yang juga
tercatat sebagai saudara seayah dari Tuanku Tan Amat.

Memang ada belasan putra dan putri dari Nan Dipertuan Sembahyang yang
tersebar di banyak daerah. Selama dalam masa perjuangannya melawan Belanda
sampai dengan tahun 1850, Nan Dipertuan Sembahyang menetap di beberapa
tempat dan memiliki banyak anak, termasuk Tuanku Tan Amat kita. Konon
kabarnya, sejarah lisan mengatakan bahwa adik-adik Tuanku Tan Amat yang
bernama Sutan Lembang Lawik dan Datuk Marajo tidak dimakamkan di Lintau,
tapi dimakamkan di samping makam ayah mereka di ustano rajo-rajo Ceranti di
Kuantan Singingi.

Di rumah adat itu menetaplah saudara perempuan Tuanku Tan Amat yang bernama
Puti Balukih sampai dengan awal abad 20. Puti Balukih mempunyai seorang anak
laki-laki yang bernama Sutan Kaharudin yang kemudian juga ditabalkan sebagai
niniek mamak di Lubuk Jantan dengan gelar Ongku Tan Amat, untuk jabatan
sebagai malin adat. Sutan Kaharudin ini memiki banyak isteri termasuk di
Rumah Lintau, Tepi Selo, Rumah Baanjueng Batu Bulek dan di pesukuan Melayu
Tanjueng Ambacang. Sementara itu, kita kurang bisa memastikan siapakah
anak-anak dari Tuanku Tan Amat ibni Nan Dipertuan Sembahyang. Ada beberapa
keterangan yang menyebutkan nama Tuanku nan Pingai dan Tuanku nan Pirang
adalah anak-anak dari Tuanku Tan Amat. Dalam keterangan yang lain juga
disebutkan bahwa Sutan Ibrahim Tuanku Bagindo Malano di Rumah Nan Elok
adalah anak dari Sutan Lembang Lawik saudara laki-laki Tuanku Tan Amat. Anak
cucu dari Sutan Ibrahim Tuanku Bagindo Nan Elok ini berada di Rumah Tabieng,
Lubuk Jantan.

Namun yang jelas, dari data sejarah lisan yang sempat kami catat, sekiranya
akan lebih baik jika kita para anak nagari yang berasal dari Lintau,
bersama-sama dengan semangat untuk melestarikan nilai adat dan budaya
Minangkabau, mulai melakukan upaya-upaya penyelamatan rumah adat Sulthan
Achmad tadi sebagai warisan sejarah. Jika kita masih berpangku tangan dan
berdiam diri, maka itu sama saja kita membiarkan warisan adat dan budaya
Minangkabau itu lenyap dan hancur ditelan waktu. Entah siapa lagi yang harus
kita tunggu untuk menyelamatkan rumah adat itu? Bukankah sudah dijelaskan
sebelumnya jika pemilik rumah itu adalah salah seorang pejuang pidari yang
dengan gegap gempita melawan Belanda di Lintau dan Koto Tujueh? Inilah
warisan sejarah yang harus kita tuturkan kepada anak cucu kita. Inilah rumah
adat yang harus kita selamatkan sebagai bukti dari sejarah perjuangan orang
Lintau melawan Belanda. Sangat disayangkan jika rumah adat secantik ini
tidak akan pernah kita lihat lagi di masa-masa yang akan datang jika tidak
segera kita selamatkan sebagai warisan adat dan budaya Minangkabau di Nagari
Lubuk Jantan, Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar.

Batam, 19 Oktober 2011

Ricky Syahrul Panji Alam


-- 
=========== Salam Hormat ==========
Yuhefizar a.k.a Ephi Lintau | Laki2 | 35 th
www.ephi.web.id  http://blog.ephi.web.id
Kumpulan Buku Saya :
http://blog.ephi.web.id/?page_id=275
FB : www.facebook.com/yuhefizar
e-Mail : [email protected]
Handphone  : 0812 677 7956
================================

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke