Setiap saya berada di Bali saya ingat kampung halaman saya Sumatra Barat.
Dan setiap saya berada di Sumatra Barat saya ingat Bali.

Betapa tidak, baik Sumatra Barat dan Bali dianugerahi Allah SWT dua hal yang
hampir sama: panorama alam yang mempesona, penduduk yang relatif homogen
dengan adat dan seni budaya yang penuh eksotika. Namun selebihnya, seperti
kita tahu, dari segi pengembangan pariwisata, Sumatra Barat masih tertinggal
jauh dari Bali.

Tetapi tertinggal atau bukan, Sumatra Barat tetap sebuah daerah tujuan
wisata (DTW) yang lebih dari pantas untuk dikunjungi pada liburan akhir
tahun ini, baik oleh para perantau Minang yang sudah lama tidak pulang
kampuang, lebih-lebih jika Anda bukan orang Minang dan belum pernah ke
Sumatra Barat sebelumnya. Saya saja yang orang Minang dan dalam tiga tahun
terakhir ini sering ke Sumatra Barat tidak bosan-bosannya melihat keindahan
alam Sumatra Barat.

Dua pekan lalu selama empat hari dari Kamis 16/12  sampai Minggu 19/12
bersama isteri saya Kur dan dua anak gadis kami Meila (25 th) dan si bungsu
Ira (23 th), saya mengambil cuti dan berkunjung ke Sumatra Barat. Sambil
menyelam minum air, sambil mengunjungi beberapa keluarga dekat saya yang
masih ada di Padangpanjang, sekitar 20 km di Selatan Bukittinggi, saya
mengunjungi berapa tempat yang sangat menarik dan eksotik. Bagi Kur yang
berasal dari Jawa Barat, ini adalah kunjungan yang kedua setelah kami
menikah, yang pertama ketika kami baru punya anak dua dalam tahun 1973, dan
bagi Meila dan Ira ini adalah kunjungan yang pertama dan sudah lama mereka
rindukan.

Mungkin karena kunjungan saya ke Sumatra Barat kali ini bukan dalam rangka
tugas sehingga tidak ada pikiran yang membebani kepala dan bersama keluarga
pula, perjalanan tersebut rasanya menyenangkan sekali. Sebenarnya empat hari
kurang cukup, namun karena saya tidak bisa cuti lama-lama dan “gizi” kami
terbatas, terpaksa dicukup-cukupkan, antara lain dengan menyusun jadwal
perjalanan yang ketat, suatu hal yang sudah terbiasa saya lakukan jika
melakukan kunjungan kerja ke daerah.

Berikut ini beberapa catatan singkat saya.

Kami menggunakan Garuda GA 160 yang berangkat jam 6.30 pagi dari
Soekarno-Hatta dan tiba di Bandara Tabing jam 7.40. Awalnya saya hanya minta
bantuan Kantor Regional kami di Padang untuk booking hotel di Bukittinggi
dan Padang serta menjemput di Bandara Tabing dan mengantar ke Bukittinggi
liwat Maninjau, karena saya khawatir saya tidak berhasil dapat mobil yang
bagus atau harga yang sesuai kalau saya mencarinya di Bandara Tabing.
Tetapi, Alhamdulillah, pucuk dicinta ulam tiba, saya diberitahu bahwa kalau
saya menginginkan, saya dapat menggunakan mobil Kijang berikut Nofi,
pengemudinya sampai Sabtu. Apalagi Nofi sudah sering mengantar saya bertugas
di Sumatra Barat, dan sudah tahu tempat-tempat makan yang saya sukai.

Bukittinggi dapat dicapai dari Padang melalui dua rute: rute Padang-Lubuk
Alung-Pariaman-Lubukbasung-Maninjau: melewati kelok ampek puluh ampek dengan
jarak ± 170 km, serta rute Padang-Lubuk Alung-Padangpanjang-Bukittinggi
lewat Lembah Anai dengan jarak ± 90 km.

Kondisi jalan di kedua rute tersebut, seperti halnya hampir semua jalan di
Sumatra Barat cukup bagus dan terawat baik.

Saya sempat menanyakan sewa taksi Bandara yang kondisinya umumnya sudah
tidak prima itu ke Bukittinggi dari Tabing dan memperoleh harga Rp 135 rb
lewat Padangpanjang dan Rp 185 rb kalau lewat Maninjau.

Rute Padang-Bukittinggi lewat Maninjau berpisah dengan rute
Padang-Bukittinggi di Lubuk Alung, berbelok ke kiri meliwati Kota Pariaman
dan Lubukbasung, ibukota Kab Agam. Sampai di sini tidak ada pemandangan yang
luar biasa kecuali alam yang relatif asri. Suasana yang agak berbeda terasa
setelah mobil memasuki jalan yang menyusuri Danau Maninjau. Namun suasana
dan panorama yang fantastik---yang bahkan tidak akan Anda temui di Bali
sekalipun---ialah ketika mobil mulai memasuki kelok ampek puluh
ampek---jalan menanjak dengan 44 tikungan sepanjang 7 km.

Kur seperti terpekik ketika mobil meliwati kelok pertama dan kedua, tetapi
kemudian terdiam dan terpana melihat hamparan Danau Maninjau di bawahnya. Di
beberapa kelokan di atasnya beberapa kera hutan jinak bermain dengan
anak-anaknya. Saya kemudian minta Nofi untuk mencari tempat berhenti untuk
berfoto dengan latar belakang danau Maninjau. Sayang sekali di sana
kera-kera jinak sudah tidak ada, sehingga keinginan Ira untuk berfoto dengan
hewan-hewan lucu---dan tidak “jahil” seperti di Bedugul, Bali, tersebut
tidak kesampaian.

Setelah itu kami meneruskan perjalanan menanjak kelok demi kelok—setiap
kelok diberi nomer yang jelas di jalan, masih dengan hamparan danau Maninjau
di latar bawahnya sampai ke kelok terakhir di kawasan yang disebut Puncak
Lawang. Puncak Lawang dalam beberapa tahun terakhir ini digunakan sebagai
sebagai tempai kegiatan olahraga paralayang. Kalau Anda penggemar
paralayang, Anda bisa membayangkan betapa fantastiknya melayang-layang
dengan hamparan danau Maninjau di bawahnya. Di kawasan yang namanya Embun
Pagi ada sebuah Resort berbintang tiga satu grup dengan Hotel Bumiminang
Padang. Kami tidak berhenti di sana. 

Bukittinggi yang berjarak 25 km dari dari Puncak Lawang dapat ditempuh lewat
Padangluar yang terletak di jalan raya antara Padangpanjang dan Bukittinggi,
atau lewat dassr Ngarai Sianok. kami memilih yang terakhir

Setibanya di Bukittinggi kami langsung chek-in di Hotel Novotel yang
bersebelahan dengan Istana Bung Hatta dan hanya sekitar 200 meter dari Jam
Gadang, landmark Kota Bukittinggi yang terkenal itu, satu dari dua hotel
berbintang empat di Bukittinggi. Yang satu lagi Hotel Pusako yang terletak
di pinggir jalan ke Payakumbuh. Kami mengambil satu kamar de luxe karena
kamar superior sudah terisi semua untuk dua malam dengan tarif permalam Rp
500 rb ditambah Rp 175 rb untuk extra-bed termasuk breakfast. Inof menginap
di hotel tempat dia biasa menginap kalau bertugas di Bukittinggi.

(bersambung)

[*] Dari ‘kompor’ lama, disiapkan untuk beberapa milis termasuk RN +
Superkoran Apakabar. mohon maaf kepada yang sudah membaca (HDB-SBK).

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke