http://www.indrapiliang.com/2011/11/07/jangan-tunggu-tsunami-di-papua/

Sumber : Suara Pembaruan, 07 November 2011

Jangan Tunggu Tsunami di Papua! 

Oleh
Indra J Piliang
Dewan Penasehat The Indonesian Institute

Usai
 pengesahan UU No. 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, saya menulis
 di sebuah koran tentang perlunya perhatian terhadap Papua. Pemberian 
sejumlah keistimewaan kepada Aceh, terlepas dari persoalan tsunami di 
Aceh, telah menjadi catatan akan pentingnya perbedaan perlakuan kepada 
daerah-daerah yang bergejolak. Sekalipun Aceh juga mengalami persoalan, 
sehubungan dengan proses demokrasi lokal yang diterapkan, tidak sampai 
membangkitkan isu nasionalisme etnik. 

Hal ini berbeda dengan 
Papua. Seperti api di dalam sekam, sejumlah kejadian mencuat dari tanah 
para pemakan sirih dan pinang ini. Keadaan itu semakin runyam dengan tak
 terkendalinya konflik dengan penggunaan senjata sebagai alat kekerasan.
 Belum lagi aksi-aksi demonstrasi yang dilakukan karyawan PT Freeport 
yang berbuah kepada konflik vertikal dan horizontal. Padahal, Freeport 
adalah perusahaan yang lama mengeruk kekayaan alam Papua, dengan konsesi
 yang juga masih lama. 

Dengan luas 3,5 kali Pulau Jawa dan 
penduduk (asli dan pendatang) yang hanya sekitar 2,5 Juta jiwa, Papua 
penuh dengan persoalan. Pembangunan infrastruktur berjalan perlahan 
mengingat biayanya besar. Selama otonomi khusus dijalankan, ada sekitar 
Rp 30 Trilyun dana yang dikerahkan, tetapi kurang mampu mengangkat 
harkat dan martabat warga Papua. Indeks Pembangunan Manusia Papua masih 
paling rendah dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain. Padahal, kalau
 saja dana besar itu dibagi rata saja ke seluruh penduduk Papua, akan 
membawa kemakmuran dibandingkan dengan dana kecil di daerah-daerah lain. 

Yang terjadi kini adalah silang sengketa kata-kata dan senjata 
antara Papua dengan Jakarta. Pihak Jakarta merasa dengan membuat UU 
Otonomi Khusus dan Dana Otonomi Khusus, persoalan selesai dengan 
sendirinya. Begitupun dengan fenomena Papuanisasi dalam struktur elite 
pemerintahan Papua, ketika jabatan-jabatan publik langsung di tangan 
warga Papua. Persoalan kultural dan gesekan antar elite masyarakat Papua
 terjadi, di tengah kerasnya tuntutan akan penerapan prinsip-prinsip 
good governance. Kesibukan dengan jabatan-jabatan dan dana-dana besar 
menyebabkan upaya pencapaian tujuan pemerintahan berjalan lambat. 

*** 

Pemerintah
 Indonesia perlu diingatkan bahwa Papua adalah taruhan terakhir tentang 
bagaimana Indonesia membangun masa depan peradaban di bumi Nusantara. 
Tidak banyak lagi daerah eksotis di Indonesia yang merupakan bagian dari
 proses panjang perjalanan manusia. Ketika banyak daerah semakin pupus 
oleh berhala-berhala moderen, Papua menyediakan manusia-manusia yang 
telanjang dari sisi fisik, namun sekaligus alamiah dan manusiawi. Papua 
menyediakan ladang persemaian ilmu pengetahuan dalam jumlah banyak, dari
 pelbagai bidang ilmu. Ketika bumi Papua hancur, maka Indonesia akan 
kehilangan wilayah yang bisa jadi menyimpan jenis-jenis baru obat-obatan
 dari hutan-rimbanya ataupun temuan-temuan baru di bidang kehewanan. 

Karena
 itu, Papua sedapat dan sebisa mungkin perlu dilihat sebagai masa depan 
Indonesia. Sebagai masa depan, seluruh upaya dan rencana menyangkut 
pembangunan Papua dilakukan secara hati-hati dan segaligus dengan visi 
yang jangka panjang. Jakarta tidak hanya perlu membentuk tim-tim khusus 
guna menyelesaikan masalah-masalah kontemporer, melainkan wajib 
mengembangkan organisasi ilmu pengetahuan yang bersifat 
multi-disipliner. Saya kira, dana-dana otonomi khusus bisa digunakan 
sebagian kecil untuk pengembangan organisasi seperti ini, selain juga 
bisa mendapatkan dari sumber-sumber lain. 

Dibutuhkan semacam 
Papua Academy atau Papua Institute untuk membangun masa depan Papua di 
kalangan para ilmuwan, seniman, masyarakat sipil sampai para pemerhati 
Papua. Pusatnya bisa saja di Jakarta atau Papua, bahkan di negara lain, 
sebagai bagian dari upaya Indonesia untuk memajukan Papua tanpa harus 
kehilangan hak-hak kultural masyarakat (adat) Papua. Pementasan 
karya-karya seni dari suku-suku Papua adalah bagian dari kerja lembaga 
ini. Secara periodik dalam pelbagai kesempatan. 

Bahwa Papua 
bukan hanya memberi sumbangan positif bagi Indonesia perlu diakui. Papua
 adalah wilayah yang sangat besar jasanya bagi dunia, terutama dari 
alamnya yang memberikan keseimbangan bagi iklim dan ekosistem. Bayangkan
 kalau hutan-hutan di Papua binasa, akibat-akibat negatifnya akan 
langsung terasa bagi kelangsungan planet bumi dan perubahan iklim. 
Selayaknyalah pemerintah dan rakyat Indonesia menyadari itu sedini 
mungkin, sebelum semuanya terlambat dan Indonesia menangis dalam waktu 
yang lama. 

*** 

Langkah paling penting dalam waktu dekat 
adalah menutup pintu kekerasan di tanah Papua. Moratorium kekerasan itu 
tentu melibatkan aparat keamanan dan pihak-pihak yang bertikai. Jangan 
lagi muncul di televisi, aparat Brimob menembak “kaum separatis” sambil 
merokok di depan kamera. Cara Brimob itu terkesan tanpa persiapan, tidak
 profesional dan seakan hanya ingin pamer untuk sebuah adegan dalam 
film-film perang.  Video yang berkali-kali diputar di televisi nasional 
itu menjadi bukti tentang “enteng”-nya penghambur-hamburan peluru di 
tanah Papua. 

Papua memerlukan penanganan langsung secara 
profesional, konsisten, akademik dan sekaligus manusiawi, karena 
mendapatkan perhatian dari dunia internasional. Lembaga semacam Crisis 
Group selalu menyediakan halaman-halaman khusus dalam laporannya. Dengan
 kecepatan informasi yang terjadi dewasa ini, segala bentuk kekerasan, 
apalagi yang mendapatkan label “kekerasan aparat” akan dengan mudah 
menjadi sentimen publik nasional dan internasional. 

Data 
menunjukkan bahwa kematian di Papua semakin banyak disebabkan oleh AIDS 
dan minuman keras, ketimbang kekerasan yang ditunjukkan di televisi. 
Rakyat Papua menderita akibat semakin jauh dan majunya modernisasi masuk
 ke dalam kehidupan mereka. Konsumerisme berdiri telanjang di 
honai-honai. Hutan-hutan kian menjauh dari lingkungan tempat tinggal. 
Makanan-makanan asli kian tergantikan dengan makanan-makanan baru yang 
butuh alat tukar berupa uang. 

Karena itu, penyelesaian 
masalah-masalah di Papua membutuhkan visi jangka panjang. Dan itu lewat 
agenda-agenda dan program-program terukur. Membaca Papua hanya dari 
angka-angka dana otonomi khusus kurang tepat, apabila tidak dikaitkan 
dengan besaran persoalan yang layak diantisipasi. Apalagi kalau dana itu
 dibandingkan dengan daerah-daerah lain yang notabene sudah memiliki 
infrastruktur dasar. Harga-harga di Papua jauh lebih mahal dari daerah 
lain, karena masalah jarak, transportasi dan minimnya infrastruktur. 

Komitmen
 penyelesaian masalah Papua idealnya adalah komitmen seluruh bangsa. 
Jangan sampai komitmen ini lahir dari desakan bangsa-bangsa lain, 
sebagaimana Pemerintah Indonesia alami menyangkut Aceh. Kita tentu tidak
 ingin Papua terlebih dahulu dilanda gempa dan tsunami, lalu dengan 
tergopoh-gopoh menyelesaikan masalah-masalahnya, bukan? Indonesia adalah
 bangsa berdaulat. Dan kedaulatan itu datang dari komitmen memajukan 
nilai-nilai kemanusiaan dan kesejahteraan. Papua kini menunggu komitmen 
itu. Sudah sejak lama… 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke