Astaghfirullah al azim. 
Tidak kurang dari empat kali Si Penulis ini dengan sadar dan sengaja menulis 
kata dongeng atas tarikh nabi Ibrahim dengan nabi Ismail.

Inilah beda (prinsip...!!!) antara cendekiawan (c-nya huruf kecil) dengan 
Ulama. Saya tidak habis mengerti seorang yang mengaku muslim (?) menganggap 
yang tertulis dalam kitab sucinya Al Qur'an dianggap sebuah dongeng belaka?

Kasihan aku pada jutaan kaum muslimin di dunia, setiap tahun mengerjakan haji 
ke Mekah, ternyata dasar yang dari ritual ibadahnya itu hanya dongeng belaka.

Ya Allah Ya Rahim Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.... beri Hidayahlah 
Saudaraku ini agar sadar dan tobat, bahwa 114 surat (6346 ayat) yang dikandung 
Al Qur'an tersebut bukanlah dongeng atau isapan jempol dari nabi Muhammad SAW.

Atau....., kalau menurut-MU Ya Allah, perlu hukuman yang setimpal bagi penghina 
salah satu rukum Islam ini, silakanlah ya Rahim Kau jatuhkan kepadanya.

Salam....(mm)***


Judul : Di Balik Dongeng Mina

Moeslim Abdurrahman Kisah Nabi Ibrahim AS menyembelih anak kesayangannya
memang bukanlahdongeng biasa. Oleh karena itu, bersamaan dengan
penyelenggaraan shalat Idul Adha, peristiwa itu selalu diperingati dengan
menyembelih binatang kurban, baik oleh mereka yang sedang berhaji maupun
yang tidak pergi melaksanakan jumrah di sana.Itulah hebatnya sebuah dongeng
suci. Seolah-olah peristiwanya tidak pernah usai dan maknanya selalu hidup
...

Berita Selengkapnya
 :
http://www1.kompas.com/read/xml/2011/11/05/01450890/di.balik.dongeng.mina

Pesan :

TOLOANG SANAK BACO TULISAN TOKOH  J.I.L (indak akronim Jaringan Iblis 
Laknatullah) KO JO HATI BATANANG :

Rabu,
09 November 2011
RENUNGAN
IDUL ADHA
Di Balik Dongeng Mina
AP
Photo/Hassan Ammar
Jemaah haji melaksanakan shalat
Jumat (4/11) di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi. Pada Sabtu ini, jemaah haji
akan melaksanakan wukuf di Padang Arafah.
Moeslim Abdurrahman
Kisah Nabi Ibrahim AS
menyembelih anak kesayangannya memang bukanlah dongeng biasa. Oleh karena itu,
bersamaan dengan penyelenggaraan shalat Idul Adha, peristiwa itu selalu
diperingati dengan menyembelih binatang kurban, baik oleh mereka yang sedang
berhaji maupun yang tidak pergi melaksanakan jumrah di sana.
Itulah hebatnya sebuah
dongeng suci. Seolah-olah peristiwanya tidak pernah usai dan maknanya selalu
hidup karena ditafsirkan sepanjang masa. Agama boleh dibilang selalu dianggap
dogmatik. Namun, para pengikutnya akan selalu menimba dari sumur wahyu
tersebut, baik air kehidupan, air kebijakan, maupun mata air kebajikan bagi
sesamanya.

Menyembelih binatang
kurban adalah laku ritual simbolik. Sama halnya berpakaian ihram waktu
melaksanakan haji atau bertenda sejenak dalam puncak ibadah haji itu di Arafah.
Semua ini terserah sedalam apa hendak memaknai dan mengambil hikmah darinya.
Sebab, boleh jadi seseorang menjalankan ritual, tetapi yang dipentingkan
barulah syarat dan rukunnya; tanpa tafsiran dan tanpa penghayatan substantif,
yakni pesan moralitas dan spiritual sebagai tujuan pokok dari ibadah yang kita
laksanakan.

Semarak kesalehan ritual
Saya sengaja mengawali
dengan menegaskan pernyataan tersebut (dan lebih dari sekadar prihatin) sebab
dalam keseharian ibadah kita memang kadang-kadang tampak paradoks, kalau tidak
disebut membingungkan.

Pasalnya, apalagi
kalau bukan kecenderungan keberagamaan, yang di satu segi bangsa ini di
mana-mana semakin saleh dengan semaraknya ritual. Sementara itu, susah ditolak
bahwa kita telah kehilangan sendi-sendi kebajikan sosial yang sangat ditekankan
oleh agama.
Rasa permusuhan telah
menyelimuti masyarakat. Agama seperti telah kehilangan daya pesannya untuk
menghadang terkeping-kepingnya umat kita jatuh dalam sektarianistik, yang
meruntuhkan rasa kasih sayang bagi sesama. Biarpun orang menyembelih binatang
kurban, bahkan boleh dikatakan tidak surut jumlahnya, di balik gejala yang
menggembirakan ini, rasa pengorbanan yang selama ini menjadi penyangga
solidaritas sosial seolah-olah semakin hilang dari kehidupan masyarakat
sehari-hari.

Tradisi menyembelih
binatang kurban menjadi jauh maknanya dari moralitas ”pengorbanan”. Begitu pula
banyaknya orang antre pergi bersujud di rumah Allah dengan berpakaian ihram
bukan serta-merta merupakan perlambang kesadaran bahwa ideologi kesetaraan
sosial adalah cita-cita kemanusiaan yang paling tinggi yang harus diperjuangkan
bersama sebagai ciri haji mabrur.

Kalau diresapi,
dongeng Mina—yaitu saat Nabi Ibrahim AS bersedia menyembelih anak kesayangannya
tersebut—sesungguhnya bukanlah semata-mata ujian tentang keimanan. Namun,
memang, bermula dari keimanan itulah kisah ini mengajarkan perlunya
pengorbanan, perlunya berbagi dalam kehidupan ini.
Tuhan tidak
membutuhkan sembelihan, tetapi keimanan vertikal akan hampa tanpa pengorbanan.
Tuhan, melalui kisah ini, seolah-olah mengajarkan bahwa setiap manusia
mempunyai kualitas iman karena penciptaannya yang sempurna. Namun, tidak setiap
manusia bisa menemukan makna iman itu, tanpa pengorbanan, tanpa kepedulian dari
orang lain. Itu karena pada dasarnya setiap orang bukanlah sosok personal yang
berdiri sendiri.
Dalam kehidupan ini,
selalu ada ”mereka” yang membutuhkan sapaan dan bahkan tanggung jawab kita.
Saya kira inilah prinsip dasar moralitas kesalehan yang manusiawi, yang
universal, yang dapat dijadikan sebagai pilar kehidupan bersama.

Kesalehan sosial
Keimanan, kesalehan,
dan tanggung jawab sosial, barangkali inilah nilai martabat yang paling tinggi.
Namun, dalam dunia yang berubah materialistik sekarang ini, mempunyai martabat
semacam itu tidaklah semudah mendengarkan khotbah.
Tantangan terberat
tatkala tatanan etika dan moral menjadi kabur, bahkan tumpang tindih.
Sungguh ironis,
misalnya, jika seseorang akhirnya tidak merasa berdosa—bahkan merasa lebih
banyak pahala—kalau telah banyak bersedekah biarpun sedekah mereka berasal dari
uang korupsi.

Dilihat dari sudut
ini, pesan agama seharusnya tidak cukup hanya menganjurkan, mendorong, atau
menjanjikan surga bagi mereka yang gemar menyisihkan kekayaannya untuk
bersedekah. Atau bagi yang lebih banyak menjamu anak yatim atau agar setiap
tahun menyembelih binatang kurban. Lebih dari itu, agama harus berani berbicara
hubungan antara kesucian diri, kesalehan, dan keadilan menjadi jelas kaitannya.
Dalam hal ini,
misalnya hanya mau membincangkan dan menuntun bagaimana caranya orang menjadi
saleh, tanpa mengingatkan bahwa kesalehan seseorang akan batal di depan Allah
SWT jika biayanya diperoleh dari cara-cara yang tidak halal, apalagi merugikan
orang lain.
Dongeng Mina setiap
tahun memang harus kita kenang. Kita peringati dengan menyembelih binatang
kurban. Makna di balik peristiwa itu pun memang harus kita gali
sedalam-dalamnya.

Bisakah makna
kesetiaan dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS tersebut kita tuturkan kembali di
depan realitas kehidupan bangsa ini dan menjadi inspirasi perubahan? Jawabannya
tentu adalah tergantung dari kita sendiri. Sebab, setiap dongeng sesungguhnya
tidak berbicara tentang kisahnya sendiri.
Di sana ada horizon
makna, ada perspektif yang tak bertepi, dan juga ada kekuatan profetik yang
bisa diproduksi dalam zaman yang berbeda-beda. Oleh karena itu, jika kita mau
menuturkan kembali dongeng Mina sebagai ide perubahan, sudah tentu tidak
sia-sialah Nabi Ibrahim AS telah mewariskan kisah ini. Sebab, kisah ini tidak
hanya menjadi tradisi, tetapi akan memberikan inspirasi peradaban, yakni betapa
pentingnya nilai berbagi dan berkorban dalam kehidupan ini.
Moeslim Abdurrahman Cendekiawan Muslim; Ketua Al-Maun Institute,
Jakarta.
Bacalah, mudah-mudahan pintu hatimu dibukakanNya kepada kebenaran.(mm)***

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke