jadilah tuh, lai juo ado responnyo....., nan bedo kok haniang sajonyo. walaupun tanggapannyo alun memuaskan.
salam Ephi 2011/11/9 muchwardi muchtar <[email protected]> > > <http://cetak.kompas.com/> > *REDAKSI YTH* > *Surat untuk Redaksi YTH hendaknya dilengkapi fotokopi KTP/SIM/Paspor > yang masih berlaku. Kompas tidak mengembalikan surat-surat yang diterima.* > * > * > *Tentang Renungan Idul Adha * > ”Renungan Idul Adha, Di Balik Dongeng Mina” oleh Moeslim Abdurrahman di > halaman pertama Kompas edisi Sabtu, 5 November lalu, cukup mengejutkan > saya. Semula saya mengira judul tersebut hanya untuk menarik pembaca, > tetapi setelah membaca tuntas, ternyata isinya sesuai dengan judulnya. > Kisah Nabi Ibrahim yang jadi dasar ibadah kurban disamakan dengan dongeng. > Menyedihkan dan menyesatkan. > Muzakkir Ikhwan *Bogor Raya Permai FG 3/6, Jalan KH Sholeh Iskandar, > Bogor 16162 > * > * > * > *Catatan Redaksi *Terima kasih atas masukan dan kritik Anda. Catatan ini > sekaligus merupakan jawaban kami atas beberapa surat senada kepada Redaksi. > *.. > From:* Ephi Lintau <[email protected]> > *To:* [email protected] > *Sent:* Wednesday, November 9, 2011 2:44 PM > *Subject:* Re: [R@ntau-Net] Di Balik Dongeng Mina > > dek Mak MM*** laui jurnalis..rancak juo...tulisannyo dibalek jo tulisan > Pak...., sahinggo ado pelurusan atau setidaknyo hak jawab dgn tulisan > tersebut. insya allah bernilai ibadah....daripado dipadiakan sajo ....., > seolah2 apo nan inyo sampaikan benar. kito khawatir dgn dunsanak kito nan > bekal agamanyo ttg itu masih kurang sahingga bisa mempengarhinyo.... > > ambo tunggu pak,...tulisan banding atas artikel tsb... > > salam > Ephi Lintau > > 2011/11/9 muchwardi muchtar <[email protected]> > > Astaghfirullah al azim. > Tidak kurang dari empat kali Si Penulis ini dengan sadar dan sengaja > menulis kata dongeng atas tarikh nabi Ibrahim dengan nabi Ismail. > > Inilah beda (prinsip...!!!) antara cendekiawan (c-nya huruf kecil) dengan > Ulama. Saya tidak habis mengerti seorang yang mengaku muslim (?) menganggap > yang tertulis dalam kitab sucinya Al Qur'an dianggap sebuah dongeng belaka? > > Kasihan aku pada jutaan kaum muslimin di dunia, setiap tahun mengerjakan > haji ke Mekah, ternyata dasar yang dari ritual ibadahnya itu hanya dongeng > belaka. > > Ya Allah Ya Rahim Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.... beri > Hidayahlah Saudaraku ini agar sadar dan tobat, bahwa 114 surat (6346 ayat) > yang dikandung Al Qur'an tersebut bukanlah dongeng atau isapan jempol dari > nabi Muhammad SAW. > > Atau....., kalau menurut-MU Ya Allah, perlu hukuman yang setimpal bagi > penghina salah satu rukum Islam ini, silakanlah ya Rahim Kau jatuhkan > kepadanya. > > Salam....(mm)*** > > Judul : Di Balik Dongeng Mina > > Moeslim Abdurrahman Kisah Nabi Ibrahim AS menyembelih anak kesayangannya > memang bukanlah dongeng biasa. Oleh karena itu, bersamaan dengan > penyelenggaraan shalat Idul Adha, peristiwa itu selalu diperingati dengan > menyembelih binatang kurban, baik oleh mereka yang sedang berhaji maupun > yang tidak pergi melaksanakan jumrah di sana.Itulah hebatnya sebuah dongeng > suci. Seolah-olah peristiwanya tidak pernah usai dan maknanya selalu hidup > ... > > Berita Selengkapnya : > http://www1.kompas.com/read/xml/2011/11/05/01450890/di.balik.dongeng.mina > > Pesan : > > TOLOANG SANAK BACO TULISAN TOKOH J.I.L (indak akronim Jaringan Iblis > Laknatullah) KO JO HATI BATANANG : > *Rabu, > 09 November 2011* > [image: > http://stat.k.kidsklik.com/data/2k11/cetak/images/logo_kompas.gif]<http://cetak.kompas.com/> > *RENUNGAN IDUL ADHA* > *Di Balik Dongeng Mina* > [image: http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2011/11/05/4506927p.jpg] > *AP Photo/Hassan Ammar* > Jemaah haji melaksanakan shalat Jumat (4/11) di Masjidil Haram, Mekkah, > Arab Saudi. Pada Sabtu ini, jemaah haji akan melaksanakan wukuf di Padang > Arafah. > *Moeslim Abdurrahman* > Kisah Nabi Ibrahim AS menyembelih anak kesayangannya memang bukanlah > dongeng biasa. Oleh karena itu, bersamaan dengan penyelenggaraan shalat > Idul Adha, peristiwa itu selalu diperingati dengan menyembelih binatang > kurban, baik oleh mereka yang sedang berhaji maupun yang tidak pergi > melaksanakan jumrah di sana. > Itulah hebatnya sebuah dongeng suci. Seolah-olah peristiwanya tidak pernah > usai dan maknanya selalu hidup karena ditafsirkan sepanjang masa. Agama > boleh dibilang selalu dianggap dogmatik. Namun, para pengikutnya akan > selalu menimba dari sumur wahyu tersebut, baik air kehidupan, air > kebijakan, maupun mata air kebajikan bagi sesamanya. > > Menyembelih binatang kurban adalah laku ritual simbolik. Sama halnya > berpakaian ihram waktu melaksanakan haji atau bertenda sejenak dalam puncak > ibadah haji itu di Arafah. Semua ini terserah sedalam apa hendak memaknai > dan mengambil hikmah darinya. Sebab, boleh jadi seseorang menjalankan > ritual, tetapi yang dipentingkan barulah syarat dan rukunnya; tanpa > tafsiran dan tanpa penghayatan substantif, yakni pesan moralitas dan > spiritual sebagai tujuan pokok dari ibadah yang kita laksanakan. > * > * > *Semarak kesalehan ritual* > Saya sengaja mengawali dengan menegaskan pernyataan tersebut (dan lebih > dari sekadar prihatin) sebab dalam keseharian ibadah kita memang > kadang-kadang tampak paradoks, kalau tidak disebut membingungkan. > > Pasalnya, apalagi kalau bukan kecenderungan keberagamaan, yang di satu > segi bangsa ini di mana-mana semakin saleh dengan semaraknya ritual. > Sementara itu, susah ditolak bahwa kita telah kehilangan sendi-sendi > kebajikan sosial yang sangat ditekankan oleh agama. > Rasa permusuhan telah menyelimuti masyarakat. Agama seperti telah > kehilangan daya pesannya untuk menghadang terkeping-kepingnya umat kita > jatuh dalam sektarianistik, yang meruntuhkan rasa kasih sayang bagi sesama. > Biarpun orang menyembelih binatang kurban, bahkan boleh dikatakan tidak > surut jumlahnya, di balik gejala yang menggembirakan ini, rasa pengorbanan > yang selama ini menjadi penyangga solidaritas sosial seolah-olah semakin > hilang dari kehidupan masyarakat sehari-hari. > > Tradisi menyembelih binatang kurban menjadi jauh maknanya dari moralitas > ”pengorbanan”. Begitu pula banyaknya orang antre pergi bersujud di rumah > Allah dengan berpakaian ihram bukan serta-merta merupakan perlambang > kesadaran bahwa ideologi kesetaraan sosial adalah cita-cita kemanusiaan > yang paling tinggi yang harus diperjuangkan bersama sebagai ciri haji > mabrur. > > Kalau diresapi, dongeng Mina—yaitu saat Nabi Ibrahim AS bersedia > menyembelih anak kesayangannya tersebut—sesungguhnya bukanlah semata-mata > ujian tentang keimanan. Namun, memang, bermula dari keimanan itulah kisah > ini mengajarkan perlunya pengorbanan, perlunya berbagi dalam kehidupan ini. > Tuhan tidak membutuhkan sembelihan, tetapi keimanan vertikal akan hampa > tanpa pengorbanan. Tuhan, melalui kisah ini, seolah-olah mengajarkan bahwa > setiap manusia mempunyai kualitas iman karena penciptaannya yang sempurna. > Namun, tidak setiap manusia bisa menemukan makna iman itu, tanpa > pengorbanan, tanpa kepedulian dari orang lain. Itu karena pada dasarnya > setiap orang bukanlah sosok personal yang berdiri sendiri. > Dalam kehidupan ini, selalu ada ”mereka” yang membutuhkan sapaan dan > bahkan tanggung jawab kita. Saya kira inilah prinsip dasar moralitas > kesalehan yang manusiawi, yang universal, yang dapat dijadikan sebagai > pilar kehidupan bersama. > * > * > *Kesalehan sosial* > Keimanan, kesalehan, dan tanggung jawab sosial, barangkali inilah nilai > martabat yang paling tinggi. Namun, dalam dunia yang berubah materialistik > sekarang ini, mempunyai martabat semacam itu tidaklah semudah mendengarkan > khotbah. > Tantangan terberat tatkala tatanan etika dan moral menjadi kabur, bahkan > tumpang tindih. > Sungguh ironis, misalnya, jika seseorang akhirnya tidak merasa > berdosa—bahkan merasa lebih banyak pahala—kalau telah banyak bersedekah > biarpun sedekah mereka berasal dari uang korupsi. > > Dilihat dari sudut ini, pesan agama seharusnya tidak cukup hanya > menganjurkan, mendorong, atau menjanjikan surga bagi mereka yang gemar > menyisihkan kekayaannya untuk bersedekah. Atau bagi yang lebih banyak > menjamu anak yatim atau agar setiap tahun menyembelih binatang kurban. > Lebih dari itu, agama harus berani berbicara hubungan antara kesucian diri, > kesalehan, dan keadilan menjadi jelas kaitannya. > Dalam hal ini, misalnya hanya mau membincangkan dan menuntun bagaimana > caranya orang menjadi saleh, tanpa mengingatkan bahwa kesalehan seseorang > akan batal di depan Allah SWT jika biayanya diperoleh dari cara-cara yang > tidak halal, apalagi merugikan orang lain. > Dongeng Mina setiap tahun memang harus kita kenang. Kita peringati dengan > menyembelih binatang kurban. Makna di balik peristiwa itu pun memang harus > kita gali sedalam-dalamnya. > > Bisakah makna kesetiaan dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS tersebut kita > tuturkan kembali di depan realitas kehidupan bangsa ini dan menjadi > inspirasi perubahan? Jawabannya tentu adalah tergantung dari kita sendiri. > Sebab, setiap dongeng sesungguhnya tidak berbicara tentang kisahnya sendiri. > Di sana ada horizon makna, ada perspektif yang tak bertepi, dan juga ada > kekuatan profetik yang bisa diproduksi dalam zaman yang berbeda-beda. Oleh > karena itu, jika kita mau menuturkan kembali dongeng Mina sebagai ide > perubahan, sudah tentu tidak sia-sialah Nabi Ibrahim AS telah mewariskan > kisah ini. Sebab, kisah ini tidak hanya menjadi tradisi, tetapi akan > memberikan inspirasi peradaban, yakni betapa pentingnya nilai berbagi dan > berkorban dalam kehidupan ini. > *Moeslim Abdurrahman Cendekiawan Muslim; Ketua Al-Maun Institute, Jakarta* > . > Bacalah, mudah-mudahan pintu hatimu dibukakanNya kepada kebenaran.(mm)*** > > > > -- > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > -- =========== Salam Hormat ========== Yuhefizar a.k.a Ephi Lintau | Laki2 | 35 th www.ephi.web.id http://blog.ephi.web.id Kumpulan Buku Saya : http://blog.ephi.web.id/?page_id=275 FB : www.facebook.com/yuhefizar e-Mail : [email protected] Handphone : 0812 677 7956 ================================ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
