Rina nan Amak sayangi,
Amak lai manyimak sadonyo perbincangan Ananda. Amak alun bisa pulo bisa maagiah
solusi. Dek karano pernah 3 kali ke Batam, bisa memahami situasi pulau harapan
ini.
1. Jika pulau ini dikelola secara BAIK DAN BENAR, maka pulau pasti akan
menghasilkan PAD dan Devisa Negara yang cukup besar.
2. Seorang sopir taxi waktu itu bercerita (th 2007), bahwa tidak berapa lama
lagi BATAM akan ditinggal investor. Terlalu banyak biaya yang dikeluarkan calon
investor, mulai pra hingga berdiri pabrik termasuk mata rantai perizinan yang
seabreg abreg itu hingga distribusinya . Ya biaya ya waktu sangat menyebalkan.
Kata dia, langganan saya yang bermata sipit dari tetangga, segera akan
mengalihkan invesnya ke Vietnam...
Waktu itu, Amak hanya membathin..benaran gak sih.
3. Angka 1,3 juta memang kecil, karena 4 tahun yang lalu ketika Amak dipercaya
jadi Manajer Personalia di sebuah BUMN, pernah menghitung Angka Kebutuhan
Minimal bagi karyawan sudah mencapai 1,3 juta. Amak menghitung semua kebutuhan
tubuh, misal sabun, odol, shampo, deodoran pakaian dalam, baju luar, sepatu,
makan, minum, hiburan, transportasi. Sadar angka ini pasti ditolak direksi,
maka dibuat strategi dan kaedah gaji + tunjangan.
4. Ketika muncul mekanisme out sourching, jujur hati Amak menjerit...tidak
dapat menerima sistem rekrutmen demikian. SDM dianggap benda mati.yang punya
masa kadaluarsa. Masya Allah..
5. Kalo dilanjutkan cerita. Pernah Amak diundang untuk hadir disebuah seminar,
simposiom di Kemenaker (Depnaker). Yang jadi nara sumber adalah konsultan.
Teori sangat bagus. Ketika para hadirin menanyakan follow up, nara sumber
bingung dan ketahuan bahwa Kemenaker bekerja by order pada pihak lain. Pulang
pulang kami diberi translok. Alhamdulillah.
6. Disebuah pelatihan, yang nara sumbernya dari Badan penyelesaian perselisihan
perburuhan berpesan pada kami, bahwa lembaga ini tidak akan pernah memenangkan
kasus perburuhan...!? Amak hanya berucap ..Masya Allah.
Jadi, apa yang bisa Amak sampaikan pada cerita yang panjang ini, bahwa nasib
bangsa ini memang terpuruk ulah dan karena ketidak profesional aparat disemua
lini..
Jadi mau bagaimana ya..?? dek Amak ndak mampu mencapai batas dimana letak
kedilan yang hakiki bagi pekerja maka akhirnya cuma bisa bergumam. Walau tangan
tak mencapai, maka biarlah hati yang manggapai gapai ketika melihat demo buruh.
Akhir kata ..apakah hanya sabar jalan keluarnya ? Tentu tidak bukan ?
Okay ya Rina, salam untuk rang Sumando Agung Permadi dan anak2..ya
PS : pangglan Amak, adalah panggilan sayang Rina kepada Evy Nizhamul.
Wassalam
E. N
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/