Mak Ngah. Sebagai tambahan Info soal namo Pariaman nan dari "Barri Amman" tu, iko ado Sebuah Hipotesa dari Ajo Sidi Agusti Esden Tanjung dengan Judul : ADAT MATRINIAL DAN PATRINIAL DI PESISIR MINANGKABAU "PARIAMAN" nan ambo kopi dari Group FB Ranah Minang nan diposting tanggal 23 Juni 2011 lalu..
Semoga dapek panamba2 info saketek lai :) ================================ Pesisir Minangkabau yaitu daerah “Ombak nan badabua”, yaitu sepanjang mulai dari siak Aia Bangih sampai siak Indropuro. Didaerah pesisir terletak dua kerajaan yang telah terkenal ke mancanegara pada waktu itu, seperti Kerajaan Barus sebagai penghasil Kapur barus di bagian utara serta Kerajaan Indrapura sebagai penghasil emas di salido yang terletak ci bagian selatan. Sedangkan Kerajaan Pagaruyung terletak di daerah pedalaman (darek) dari pesisir, yang menjadikan Tiku/Pariaman sebagai kota pelabuhannya. Pemberian nama untuk wilayah Pariaman di wilayah pesisir Pagaruyung ini ada beberapa versi untuk itu antara lain ;1. Barri Amman, nama yang diberikan oleh pedagang Arab/Gujarat sewaktu mendarat/terdampar di Tiku/Pariaman yang dimaksudkan sebagai “tanah yang aman”. Yang juga dapat diterjahkan jalan keselamatan, kata Barri Amman kalau ditulis dan dibaca dengan aksen arab “Bryamn./Pryamn.2. Ada kemungkinan bahwa pemberian nama “Barri Amman” oleh pedagang Arab. Albania, karena dialek Albania kata Bari = Pemuda desa , Amman = Aman jadi Barri Amman adalah pemuda desa yang aman/damai3. Bari Aman, yaitu sebutan oleh penduduk setempat kepada pendatang yang terdampar dengan malsud memberikan keamanan kepada mereka, tapi dengan lidah aksen arabnya mereka mendengar.kata Bryamn.4. Parayaman dari bahasa sanskerta (dalam novel histiografi : “Maharaja Adityawarman” yang ditulis oleh Ridjaludin ). Dari uraian diatas penulis berkesimpulan bahwa nama Pariaman berasal dari bahasa arab “Barri Amman” yang artinya “jalan keselamatan” atau tanah yang aman karena selamat ditulis dan diejaa dengan aksen arab Barri Amman = Bryamn / Pryamn oleh karena orang pariaman susah melafaskan huruf ‘R” maka ejaan nya menjadi Pyaman/Piaman. Daerah Pariaman merupakan pelabuahan bagi kerajaan Pagaruyung yang disebut rantau bagi penduduk kerajaan Pagaruyung (Tambo Alam Minangkabau), juga merupakan tempat persinggahan para pedagang dari manca Negara seperti Arab, Aceh, Melayu, Cina dan lain sebagainya. Tidak tertutup kemungkinan terjadinya perkawinan antara penduduk pribumi dengan pedagang/pendatang, dari perkawinan tersebut menghasilkan keturunan ibu Minang bapak luar minang. Dari pihak ibu melekat sistim kekerabatan matrinial sedangkan si bapak ingin menegaskan bahwa itu keturunan dia dan ingin memberikan sesuatu dalam pola patrinial. Apalagi dengan adanya peraturan yang dilakukan oleh kerajaan Aceh yang telah menguasai daerah-daerah pesisir dengan larangan mendirikan rumah ber corak pagaruyuang (bagonjong), memakai gelar adat yang turun dari mamak, berpakaian ala pagaruyuang (badeta) dan lain sebagainya. Maka berlakulah sistim patrinial diberlakukan untuk memberi gelar kepada anak mereka yang telah dewasa (nikah) yaitu, Sidi, Sutan, Bagindo dan Marah,..sedangkan kepada anak perempuan diberikan gelar Puti, Siti. Konon kabarnya gelar Sidi diberikan kepada keturunan Arab yaitu singkatan dari kata Sayidi yang diambil dari turunan Sayidina Ali kerabat Rasulullah dari Persia. Keberadaan komunitas syiah ini terlihat dari kebudayaan “Tabuik” atau Tabot, yaitu suatu tradisi kaum syiah terhadap penghoramatan kepada cucu Rasulullah Hasaan dan Hussen yang meninggal pada perang Karbala dengan kepala terpotong. Dan kepala itu diarak pulang oleh kaumnya dengan teriak kepiluan Haaassaaaaan…..Huuuuuuussseeeeeeen…..ini tampak pada teriakan sewaktu mengarak Tabuik…Hooooyaaaaak…..Hooooossseeeen. Gelar “Sutan” yang berasal dari kata Sultan, konon kabarnya gelar ini diberikan kepada anak keturunan Kesultanan Aceh. Sebab Aceh waktu sangat kuat dan menguasai banyak wilayah, ini juga terlihat dimana dialek minang juga dipakai di beberapa daerah Aceh terutama di pesisir barat Aceh. Dan juga adanya keturunan minang menjadi tokoh dalam kesultanan Aceh seperti Johan Pahlawan.. dan lainnya. Kemudian gelar “Bagindo” asal kata Baginda untuk turunangelar ini ada dua versi ;...pertama... konon kabarnya gelar ini diberikan kepada turunan raja melayu.Baginda Raja Yang Dipertuan Agung yang ada ikatan silsilah dengan kerajaan Pagaruyung…kedua… glar yang diberikan kepada turunan pemilik tanah (representasi dari kerajaan Pagaruyung). Marah…gekar ini kurang popular di daerah pariaman tetapi sangat ber potensi di wilayah Padangm Pauh dan sekitarnya. Gelar Marah ini hampir sama posisi dan statusnya dengan Bagindo. Sedangkan keturunan bangsawan yang perempuan diberikan gelar Puti dan Siti. Di daerah pesisir Minanglabau ini gelar adat hanya diberikan kepada penghulu kaum dan gekar ini hanya diberikan kapada panukek, yakni kemanakan dalam kaumnya. Gelar yang turun dari mamak kepada kemanakan ini ialah gelar kebesar"Datuk". Beliau adalah tokoh/penghulu dari kaum suku tertentu. Sedangkan kepada urang semenda yang didatangkan dari luar suku minang, oleh karena "ketek banamo, gadang bagala".Dan sangat tabu bagi orang minang memanggil nama kecil menantu/urang sumando tersebut maka diadakan kesepakatan niniak/mamak untuk memberikan gelar kepada menentu/ urang sumando tersebut. Gelar yang di lekatkan ini diluar gelar Sidi atau Bagindo yakni gelar Sutan atau Marah, dan gelar ini harus ditambahkan embel=embel kata lain yang menandakan gelar tidak asli, seperti Sutan Bandaro, Sutan Parmato, Sutan Indahpuro......dan lainnya. Sedangkan untuk “Santano” atau tempat tinggal, ada beberapa hipotesa yang dapat simpulkan. Selain adanya tekanan penguasa waktu itu Kesultanan Aceh kemungkinan mereka beranggapan sedang berada di “Rantau” jadi dibuatlah santano/rumah sesederhana mungkin karena “rumah gadang” membutuhkan biaya besar serta lama membuatnya. Demikian juga mungkin adanya anggapan mereka hanya “manaruko” atau membuka wilayah/ladang baru jadi tidak perlu rumah terlalu besar hanya keperluan istirahat sejenak sebelum pulang ke ranah minangkabau atau lainnya. Namun hasil survey saya di daerah Kuranji yang dahulunya termasuk wilayah kab. Padang-Pariaman dan sekarang termasuk kedalam wilayah kota Padang ada beberapa rumah yang dibangun dengan pola bagonjong sederhana yaitu rumah dengan satu gonjong mirip gonjong “lumbuang”padi. Rumah tersebut sudah sangat tua hampir roboh, kenapa tipe ini tidak kita budayakan kemabali untuk wilayah pesisir ?. Manolah niniak mamak radang basa batuah, tinggi nan baanjuang gadang nan baambam ketek nan indak basabuikan namo gadang nan indak basabuikan gala. Ambo angkek jari nan sapuluah sabaleh jo kapalo, salam tajelo ka urang banyak sambah baadokan ka niniak mamak. Satantangan hipotesa ambo nangko, dek warih nan bajawek, pusako nan batolong sarato indak adonyo nan tasurek. Deka karano mandanga nan bakato sarato mambaco nan tatulih, mako ambo mancobo manyiompulkan dalam hipotesa nangko. Nyampang kok kurang tolonglah dibilai, kok lupo tolong dikanakan, kok salah tolong di batuakan.. Ampun jo maaf ambo harokkan. http://es-es.facebook.com/note.php?note_id=211068085595953 Wassalam Nofend Pada 14 Desember 2011 19:23, Hambo <[email protected]> menulis: > Tahun 1908 lah dibuek jalan Kotetapi Padang - Pariaman. > > Sakali ko ambo mandanga Barri Aman, rancak disalidiki sejarah dimaa > asa mulo kato-kato tu. Kalau Barri ado hubuangannyo jo Bahri dalam > Bahaso Arab, Lauik, Samudera; jadi mangkin ditafsirkan sabagai Lauik > nan Aman. Tapi ambo caliak MakGoogle Barri amah, macam-macam lo nan > kalua. > > Tamoak di ambo sumber web banamo "Paradise of Pariaman", indka jaleh > sia nan punyi web tu, tai ado katarangan-katarangan Pariaman nan sayan > puhn indka disabuikannyo pulo dimaa dikutipnyo sumbernyo nan > mendetail, hanyo manyabuyik-nyabuik tokoh sejarah. Tapi rancak > dicaliak: > > http://secretofpariaman.blogspot.com/2010/10/history-of-pariaman.html > > Jadi, kok basikareh juo penggadang Kota tu manyabuik Pariaman baru > lahia 1993 tu, bialah, itu dapek sajo dianggap sabsagai lahianyo > administrasis baru Pariaman. Tapi,level ka duo, lebih penting, Sejarah > umua Pariaman, jauah ratusan tahun sabalun tu alah disabuik urang. > Para panggadang Kota Pariaman kini ko misti maengong-engong Sejarah > Pariaman tu sandiri... > > Salam, > --MakNgah > Dec 14, 2011 -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
