Kamis, 15 Desember 2011 03:26

PEMERINTAH Provinsi Su­matera Barat pada Kamis (15/11) menggelar acara
syu­kuran atas diangkatnya tiga pah­lawan nasional yang bera­sal dari
Sumatera Barat, ber­tempat di auditorium gu­bernuran di Padang.  Acara
tersebut didukung oleh per­guruan tinggi ternama di daerah ini, yaitu
Unand, UNP, IAIN Imam Bonjol dan Unes.  Adapun tiga orang pahlawan
nasional itu adalah : Mr.H.Sjafruddin Prawiranegara, Prof. Hamka
Dt.Indomo dan Dr.H.Mohammad Natsir Dt.Sinaro Panjang.  Kita tentu
sangat berbangga hati karena dari 150 orang lebih pahlawan nasional,
ada belasan orang (sekitar 20%) yang berasal dari Sumatera Barat.
Apalagi sebagian besar mereka adalah tokoh-tokoh pergerakan
kemerdekaan yang membebaskan bangsa ini dari penjajah.  Bahkan salah
seorang putra Sumatera Barat telah menjadi proklamator kemer­dekaan
negara ini.
Tapi yang menjadi tanda tanya adalah mengapa dari belasan orang
pahlawan nasional asal Sumatera Barat itu tidak ada yang berlatar
belakang sejarah perjuangan Minang­kabau, tetapi semuanya adalah
perjuangan nasional.  Apakah suku bangsa Minangkabau ini dulu tidak
melakukan perlawanan terhadap penjajah dan apakah etnis ini dulu hanya
diam saja atau berkompromi dengan penjajah.  Padahal banyak daerah
lain di Nusantara ini punya pahlawan nasional yang berlatar
kedaerahan, seperti Sultan Hasanud­din dari Sulawesi Selatan, Sultan
Ageng Tirtayasa dari Banten, Sultan Agung dari Jawa Tengah, Sultan
Thaha Syaifuddin dari Jambi, Sultan Mahmud Badaruddin II dari
Suma­tera Selatan, Sultan Iskandar Muda dari Aceh, Sultan Syarif Kasim
II dari Riau,   Sultan Hameng­kubu­wo­no dari Yogyakarta dan banyak
lagi yang lainnya.
Sebenarnya kita juga punya tokoh yang berlatar belakang perjuangan
daerah Minangkabau, yaitu Sultan Alam Bagagarsyah (1789 – 1849),
beliau adalah Raja Pagaruyung terakhir.  Beliau juga melakukan
perlawanan terhadap penjajah Belan­da dan  buktinya kerajaan di
Minang­kabau dihabisi oleh Belanda.  Pada penggalan sejarah memang
beliau pernah diangkat oleh Belanda menjadi Hoofdregent van
Menang­kabo (1824) dan sebagai Regent van Tanadatar (1826),  tapi
kemudian beliau dicampakkan begitu saja.  Ada pula issu penyerahan
wilayah kepada Belanda, tapi itu strategi agar rakyat tidak dibunuh
oleh penjajah.
Sultan Alam Bagagarsyah dalam perjalanan hidupnya banyak menan­tang
Belanda sehingga beliau dihu­kum di Benteng Van der Capellen
Batusangkar,  kemudian ditahan di penjara Muaro Padang dan akhirnya
dibuang ke Batavia pada tanggal 24 Mei 1833 yang dibawa dengan kapal
Calippso.  Dalam perjalanan dari Batusangkar ke Padang kaki dan
tangannya diborgol dan hanya dibuka ketika berhenti istirahat saja.
Beliau ditangkap pada 2 Mei 1833 karena bekerja sama dengan Tuanku
Imam Bonjol dan Sentot Alibasyah dan ikut memprakarsai pemberontakan
besar-besaran di Minangkabau pada 11 Januari 1833.  Beliau ditahan di
penjara bawah tanah yang sempit dan berair di benteng Fathahillah
Batavia dan tidak diperbolehkan pulang lagi ke Pagaruyung hingga akhir
hayatnya.  Akhirnya beliau wafat di Batavia pada 12 Februari 1849,
masih dalam status tahanan kolonialis Belanda.
Seratus dua puluh enam tahun kemudian, yaitu pada tanggal 12 Februari
1975 makam beliau dipin­dahkan dari Mangga Dua Batavia ke Taman Makam
Pahlawan Kalibata Jakarta atas prakarsa tokoh-tokoh Minangkabau,
yaitu:  Bung Hatta, Bahder Djohan, Hazairin, Harun Zain, Hamka, Amura
dan lainnya.  Meskipun sudah dimakamkan di taman makam pahlawan tetapi
beliau belum bergelar pahlawan nasional dan sejarahnya tidak banyak
dike­tahui anak negeri ini.
Sultan Alam Bagagarsyah me­mang pernah diusulkan oleh Pe­merintah
Propinsi Sumatera Barat untuk menjadi pahlawan nasional pada tahun
2008 lalu yang didukung oleh seluruh kabupaten/kota di Sumbar,
organisasi sosial masyarakat, para perantau, perguruan tinggi,
organisasi politik dan beberapa kerajaan Nusantara. Tapi malang
akhirnya gagal karena tidak didukung oleh segelintir  orang
Minangkabau sendiri. Kesalahannya dibesar-besarkan dan dijadikan dasar
untuk menggagalkannya.  Mereka hanya melihat sisi lemahnya saja dan
tidak mengemukakan aspek perjua­ngannya yang besar.  Padahal
sejara­wan Taufik Abdullah pernah menga­takan bahwa semua pahlawan
nasional juga punya sisi gelapnya karena sebagai manusia tentu punya
keku­rangan dan kesalahan,  tidak ada pahlawan yang benar seratus
persen.
Nah, mengapa kita perlu mem­perjuangkan Sultan Alam Bagagarsyah untuk
menjadi pahlawan nasional.  Alasannya karena perjuangan beliau
berlatar belakang ke-Minangkabau-an yang dapat mengangkat marwah dan
opini bahwa Minangkabau juga ikut melawan penjajah Belanda, sama
dengan suku bangsa lainnya di Nusantara. Kemudian wilayah Kerajaan
Pagaruyung itu luas, ada 72 unsur sapiah balahan dan kuduang karatan,
yaitu kerajaan-kerajaan yang mendukungnya di Nusantara hingga ke
Maluku, NTT dan bahkan sampai ke Malaysia, Thailand dan Brunei
Darussalam.  Beliau adalah raja terakhir dan telah wafat bersama
habisnya kebesaran Kerajaan Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung
dulunya.
Ketika suatu waktu anak cucu kita bertanya, siapa pejuang atau
pahlawan dari Minangkabau, maka kita belum ada jawabannya.

http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=11035:pahlawan-nasional-asal-minangkabau&catid=12:refleksi&Itemid=82

-- 



Wassalam
Nofend/35 CKRG

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke