Syukuran Gelar Pahlawan Nasional bagi Syafruddin, Hamka, dan Natsir
Padang Ekspres • Rabu, 14/12/2011 10:22 WIB • Sutan zaili asril—Padang
• 258 klik
Nama Dr HC H Mohammad Natsir Datuk Sinaro Panjang, mantan Perdana
Menteri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), 5 September 1950–26
April 1951, lebih mudah dikaitkan dengan upayanya melobi pemimpin
negara-negara Republik Indonesia Serikat (RIS) dan mosi
integral/kembali ke pangkuan NKRI yang monumental (1950). Ia menjadi
PM-nya (perdana menteri kelima Repubik Indonesia).

Tanggal 5 April 1950, Natsir mengajukan mosi integral dalam sidang
pleno parlemen, yang secara aklamasi diterima seluruh fraksi. Mosi ini
memulihkan keutuhan/kesatuan bangsa Indonesia dalam NKRI yang
sebelumnya berbentuk serikat (RIS). Karena prestasi ini Natsir
diangkat menjadi PM. Presiden Soekarno menganggap Natsir mempunyai
konsep menyelamatkan republik melalui konstitusi.
RIS adalah suatu negara federasi yang berdiri tanggal 27 Desember 1949
sebagai hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar:
Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan
Belanda. Kesepakatan ini disaksikan United Nations Commission for
Indonesia (UNCI) sebagai perwakilan PBB.
RIS terdiri beberapa negara bagian. Yaitu, Republik Indonesia, Negara
Indonesia Timur, Negara Pasundan—termasuk Distrik Federal Jakarta,
Negara Jawa Timur, Negara Madura, Negara Sumatera Timur, Negara
Sumatera Selatan.
Di samping itu, ada juga wilayah yang berdiri sendiri (otonom)—tak
tergabung dalam federasi. Yaitu, Jawa Tengah, Kalimantan Barat (Daerah
Istimewa), Dayak Besar, Daerah Banjar, Kalimantan Tenggara, Kalimantan
Timur—tak temasuk bekas wilayah Kesultanan Pasir, Bangka, Belitung,
dan Riau. RIS dibubarkan 17 Agustus 1950, setelah mosi integral Natsir
diterima parlemen.
SEBELUM Indonesia Merdeka, nama Natsir dikenal luas karena selaku
intelektual muda di Bandung, ia berpolemik dengan Soekarno. Melalui
polemik itu, selain Soekarno mengenal figur seorang pemikir yang
beraliran moderat Mohammad Natsir, pikiran bernas dalam beberapa aspek
religiusitas (perspektif Islam) jadi menonjol. Polemik Natsir-Soekarno
itu dapat dibaca dalam Capita Selecta.
Dalam rentang perjuangan kemerdekaan Indonesia, Mohammad Natsir masuk
dalam jajaran elite pemimpin bangsa. Ia pernah menjadi Wakil Ketua
KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat), yang saat itu ketuanya dijabat
Assaat Datuk Mudo. Setelah Indonesia merdeka, Natsir masuk dalam elite
pemimpin Indonesia yang duduk dalam kabinet. Antara lain, jadi Menteri
Penerangan (Menteri Komunikasi dan Informatika) Republik Indonesia
ke-2 (12 Maret 1946–26 Juni 1947) kabinet Sjahrir dan setelah itu lima
kali masih menjadi Menteri Penerangan (kabinet berbeda).
Di antara perannya yang luar biasa adalah jadi kader utama dan
kemudian jadi ketua Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi),
dan partai berasas Islam (Islamic Party) ini, antara lain, berjuang
mengembalikan Piagam Jakarta menjadi dasar negara RI (mengganti
Pancasila dengan Piagam Jakarta) secara konstitusional. Usaha tersebut
kandas, karena hasil voting di parlemen yang dilakukan sampai dua
kali, posisi suara mendukung tetap kalah dari suara menentang.
Hasil pemilihan umum pertama (1955), menghasilkan komposisi anggota
parlemen PNI 57 kursi (22,3 persen), Masyumi 57 kursi (20,9 persen),
Nahdlatul Ulama (NU) 45 kursi (18,4 peren), PKI 39 kursi (15,4
persen), PSII 8 kursi (2,9 persen), Parkindo 8 kursi (2,6 persen),
Partai Katolik 6 kursi (2,0 persen), PSI 5 kursi (2,0 persen), IPKI 4
kursi (1,4 persen), dan Perti 4 kursi (1,3 persen). Di atas kertas,
bilamana dijumlah kursi partai Islan (Masyumi, NU, PSII, Perti),
perjuangan ”mengembalikan” Piagam Jakarta (Jakarta Charter) jadi dasar
negara—antara lain mewajibkan kepada umat Islam Indonesia menjalankan
syariat Islam—akan mudah diwujudkan, tapi kandas (kalah suara). Khusus
NU, termasuk menentang, malah bergabung dengan PNI dan partai
nasional/sekular lainnya.
SEBAGAI pemimpin fraksi besar di parlemen, Natsir mengkritik Pancasila
sebagai dasar negara, dan memandang Islam sebagai lebih tepat menjadi
dasar NKRI. Di antara pidato yang monumental di Konstituante (1957),
Mohammad Natsir menyampaikan pemikiran dan gagasannya. Natsir juga
menolak keberadaan idiologi komunis di Indonesia—sekaligus berhadapan
dengan Presiden Soekarno yang mengakomodasi PKI dalam kabinet Kaki
Empat (PNI, Masyumi, NU, PKI).
Pidato monumental yang berani dan menunjukkan prinsip/sikap dan
kebersiteguhannya dengan prinsip/sikapnya, menginspirasi anggota
parlemen asal daerah pemilihan Jawa Tengah, Hamka, untuk menulis satu
sajak berjudul Masukkan Aku dalam Daftarmu.Penentangan Natsir terhadap
sikap Presiden Soekarno dalam Irian Barat, dan maraknya pemberontakan
separatis daerah mengganggu kestabilan kabinet Natsir. Manjelang akhir
masa jabatannya sebagai PM, Presiden Soekarno dan selaku ketua PNI
meminta para menteri, serta anggota parlemen dari PNI tidak mendukung
pemerintahan PM Natsir dan Wapres Hatta.Tidak lama setelah itu,
Kabinet Natsir mengalami berbagai gangguan dari PNI di parlemen.
Menurut Hatta, Soekarno mendesak Manai Sophiaan dan teman-temannya
menjatuhkan Kabinet Natsir. Dua kali anggota PNI di parlemen memboikot
sidang, hingga tidak memenuhi kuorum. Natsir mengembalikan mandatnya
sebagai PM ke parlemen.
Ketika Dewan Perjuangan di Sumatera Tengah memproklamirkan
Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), 15 Januari 1958,
Partai Masyumi dan sejumlah pentolannya, seperti Mohammad Natsir,
mendukung PRRI. Mr Syafruddin Prawiranegara berhenti dari anggota
parlemen dan ikut bergabung—kemudian jadi pimpinan/presiden PRRI.
Ketika Natsir berada di Sumpurkudus, Natsir mengikuti siaran langsung
Radio Republik Indonesia (RRI), yang di antaranya memperdengarkan
kritik anggota parlemen, Hamka, terhadap Presiden Soekarno dan
sebaliknya ia membela PRRI dan perjuangan Natsir Dkk. Lalu, Hamka
kemudian ditangkap dan dipenjarakan (1964-1966)—selama dalam penjara
Hamka menyusun Tafsir al-Azhar dan menamatkan baca Al Quran lebih dari
150 kali.
Merespons kritik Hamka terhadap Soekarno, Natsir yang selama ini
mengabaikan Hamka—sebagai ”orang yang kerjanya bersyair”, respek
terhadap Hamka. Natsir teringat sajak pujian ditulis Hamka sebelumnya.
Natsir menulis sajak buat Hamka. Sajak itu dibaca/disiarkan oleh
stasiun radio gelap PRRI Sumpurkudus. Rupa-rupanya ada pendengar di
Tanahabang, Jakarta, yang mendengar dan mencatatnya, dan memberikan
sajak Natsir itu pada Hamka. Ketika Natsir kembali ke Jakarta—setelah
amnesti, Natsir bertemu dengan Hamka di Masjid Agung Al-Azhar, dan
menanyakan sajaknya itu. Hamka menjawab, ia sudah menerimanya.
Walau sudah mendapatkan amnesti, toh pemerintahan/Presiden Soekarno
tetap memusuhi Partai Masyumi dan sejumlah tokohnya tidak dapat
kembali berpolitik. Bahkan, ketika rezim Orde Baru menumbangkan rezim
Orde Lama pimpinan Presiden Soekarno, pemerintah Orde Baru di bawah
pimpinan Jenderal Soeharto mengambil sikap sama: tidak bersedia
merehabilitasi Partai Masyumi dan ”mencekal” beberapa pentolan partai
untuk kembali berpolitik.
Lalu, Natsir mengalihkan perjuangannya dengan mendirikan/memimpin
Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), 26 Februari 1967. Pada forum
dunia pula, Natsir yang terpandang di kalangan pemimpin dunia Islam,
Natsir dan beberapa tokoh muslim dunia mendirikan Rabitah Alam Islami,
dan Natsir jadi salah seorang pemimpinnya. Posisinya, membuat Natsir
dapat berperan maksimal bagi kepentingan umat Islam di berbagai
negara—termasuk Indonesia. Nama Natsir jadi sangat harum di dalam
negeri melalui DDII, dan di dunia Islam melalui Rabitah Alam Islami.
TOKOH Mohammad Natsir dilahirkan di Jembatan Barukir, Alahanpanjang,
Lembah Gumanti, Solok, 17 Juli 1908 dari pasangan Mohamad Idris Sutan
Saripado dan Khadijah di rumah saudagar kopi Sutan Rajo Ameh (ia
meninggal di Jakarta, 6 Februari 1993 dalam usia 84 tahun). Natsir
gelar Datuk Sinaro Panjang, dikenal berbicara sopan-santun dan rendah
hati. Suaranya lembut meskipun terhadap lawan-lawan politiknya. Ia
sangat bersahaja, dan terkadang gemar bercanda dengan siapa saja yang
jadi teman bicaranya. Sejak kecil ia dikenal lugu, jujur, dan punya
sifat yang sejak kecil sudah kelihatan akan jadi pemimpin. Selain itu,
Natsir suka dengan segala hal yang rapi, merapikan kamar tidurnya, dan
suka membantu mencuci piring, misalnya.
Ayah Natsir, Idroes Saripado, bekerja jadi pegawai pemerintahan di
Alahanpanjang, sedangkan kakeknya seorang ulama. Natsir merupakan
pemangku adat kaumnya, yang berasal dari Maninjau, Kecamatan
Tanjungraya, Agam, dengan gelar Dt Sinaro Panjang. Natsir kecil
belajar di HIS Solok dan sekolah agama Islam yang dipimpin pengikut
Haji Rasul—ayahanda Hamka, dan HIS Adabiyah Padang. Tahun 1923-1927
Natsir dapat beasiswa sekolah di Meer Uitgebreid Lager Onder­wijs
(MULO) Bandung, dan melanjutkan ke AMS Bandung sampai tamat (1930).
Di Bandung, Natsir berinteraksi dengan para aktivis pergerakan
nasional antara lain Syafruddin Prawiranegara, Mohammad Roem, dan juga
Sutan Sjahrir. Natsir berguru pada Ahmad Hassan (1932)—kelak jadi
tokoh organisasi Islam Persis. Dengan keunggulan spiritualnya, Natsir
banyak menulis soal-soal agama, kebudayaan, dan pendidikan.
Natsir banyak berjasa dalam perkembangan dakwah Islam dalam arti luas,
dan termasuk di antara sedikit tokoh Indonesia dengan reputasi
internasional. Dia pernah menjabat presiden Liga Muslim Sedunia (World
Moslem Congress), ketua Dewan Masjid Sedunia, anggota Dewan Eksekutif
Rabithah Alam Islami, berkantor pusat di Mekkah. Sebagai dai dan
mubaligh, Natsir mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, yang
mengirimkan mubaligh ke seluruh Indonesia.
Di bidang pendidikan—sebagaimana Partai Masyumi mendirikan Sekolah
Tinggi Islam Jakarta, Natsir berperan dalam mendirikan Universitas
Islam Indonesia (UII, 8 Juli 1945)—bersamaan dengan mendirikan
Universitas Islam Bandung dan Universitas Islam Sumatera Utara.
Namanya diabadikan jadi nama Sekolah Tinggi Islam Dakwah (STID)
Jakarta. Raja Arab Saudi Fadh, akhir tahun 1979 memberi anugerah
Faisal Award kepada Natsir lewat King Faisal Foundation di Riyadh.
Sebelumnya Universitas Islam Libanon (1967) memberinya gelar Doctor
Honoris Causa (HC) bidang politik Islam pada Natsir. Gelar kehormatan
sama dianugerahkan Universitas Sains dan Teknologi Malaysia (1991)
kepada Natsir.
ATAS jasanya yang luar biasa pada bangsa dan negara Indonesia, walau
dipandang agak terlambat dan walaupun Natsir mungkin tidak
mengharapkannya, Presiden Dr H Susilo Bambang Yudhoyono
menganugerahkan gelar Pahlawan pada (alm) Dr HC Mohammad Natsir Dt
Sinaro Panjang (Jumat, 7 November 2008). Gelar Pahlawan Nasional
dianugerahkan pada tiga putra terbaik Indonesia, selain alm Dr HC H
Mohammad Natsir Dt Sinaro Panjang, juga kepada alm KH Abdul Halim dan
alm Soetomo (Bung Tomo). (***)

[ Red/Redaksi_ILS ]http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=18991
-- 



Wassalam
Nofend/35 CKRG

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke