Serunya Nonton Pacu Jawi di Lereng Gunung Marapi

TEMPO.CO, Menggigit ekor sapi hidup? Wuiihh... menjijikkan. Begitu
tanggapan saya saat mendengar cerita dari seorang teman yang pernah
nonton Pacu Jawi. Tak terbayang ada orang yang mau menggigit ekor sapi
hidup yang berlumpur, berbulu, bau lagi. Kalau sop buntut sih lain
ceritanya.

Tontonan unik ini bisa dilihat dalam acara Pacu Jawi di lereng Gunung
Marapi, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, yang kerap diadakan
seusai panen padi. Dalam arena itu sang joki akan menggigit ekor sapi
keras-keras agar sapinya berlari kencang. Orang Minang menamai sapi
dengan jawi, jadi acaranya namanya Pacu Jawi.

Rasa penasaran ingin nonton Pacu Jawi akhirnya kesampaian. Rupanya ada
atraksi Pacu Jawi di Nagari Sungai Tarab. Kini masyarakat sedang
keranjingan membuat acara Pacu Jawi di nagarinya begitu usai tanam
padi lantaran semakin banyak ditonton untuk hiburan anak nagari.

Tempatnya jauh di tengah areal pesawahan yang berundak di kaki Gunung
Marapi. Perlu ekstra kerja keras untuk mencapai lokasi karena harus
berjalan di pematang sawah dan kubangan lumpur. Di Sungai Tarab,
Gunung Marapi terlihat lebih menjulang dari biasanya karena sebagian
punggungannya tertutup kabut.

Di depannya terbentang sawah yang berundak, dan ada sepetak sawah
yang cukup lebar dengan panjang sekitar 60 meter yang akan digunakan
untuk Pacu Jawi. Tanahnya berlumpur halus dan cukup dalam karena sudah
empat pekan dijajal puluhan sapi yang ikut Pacu Jawi. Di lokasi Pacu
Jawi ini tidak tercium lagi aroma kotoran sapi, tapi yang ada aroma
lumpur sawah yang segar.

Suasana keceriaan dialek Nagari terasa kental, tiupan saluang mengalun
riang diiringi gendang. Ibu-ibu membawa nampan yang tudungnya berhias
berisi makanan ringan. Puluhan ekor sapi yang akan berpacu juga
terlihat dipersiapkan pemiliknya untuk siap bertanding di lapangan.

Rupanya ini acara penutupan karena belasan sapi jantan sudah dirias
seperti pengantin. Mulai dari kepalanya yang dihias rangkaian bunga
plastik, tanduknya yang dibalut kain beludu bersulam, dan seluruh
tubuhnya dipakaikan kain aneka warna. Itu tandanya sapi tuan rumah
dari Sungai Tarab. Paginya mereka sudah diarak keliling kampung yang
menandakan penutupan acara Pacu Jawi yang sudah berlangsung empat
pekan setiap Sabtu.

Ada empat kecamatan yang punya tradisi Pacu Jawi di Tanah Datar, yaitu
Sungai Tarab, Pariangan, Rambatan, dan Lima Kaum. Keempat daerah ini
ada di lereng Gunung Marapi. Pacu Jawi ini dilaksanakan usai panen
padi dan tempatnya digilir tiap kecamatan yang dilaksanakan selama
empat pekan setiap Sabtu.

»Pacu jawi ini sudah ada dari dulu, tapi belum seramai sekarang. Ini
untuk menaikkan harga jawi. Kalau bagus larinya, harganya bisa sampai
Rp 20 juta, lebih mahal dari harga pasaran yang hanya Rp 5 sampai Rp 7
juta,” kata Justiar, warga Koto Hiliang yang ikut Pacu Jawi. Ia
membawa sapinya yang bernama Merica yang berusia 2 tahun 6 bulan.

»Walaupun kecil dia hebat, larinya kencang. Jadi saya namai merica.
Kalau ada yang mau beli Rp 15 juta saya lepas,” kata Justiar. Dalam
Pacu Jawi ini Merica akan tandem dengan Tando, seekor sapi jantan yang
punya tanda totol hitam di kakinya milik kerabat Justiar.

Untuk meningkatkan stamina sapinya, sebelum dibawa berpacu, sapinya
tidak diberi rumput, tapi makan telur dan madu yang dicampur minuman
berenergi.

Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu tiba. Saya mengambil tempat di
dekat garis start. Ingin melihat saat-saat penting ketika sang joki
menggigit ekor sapinya. Aturannya, dua ekor sapi masing-masing diberi
kala, atau kayu bajak, yang akan diinjak kaki kanan dan kiri sang
joki. Joki mengendalikan sapi dengan menarik kedua ekor sapinya. Sapi
yang dilepaskan hanya sepasang, dan tidak ada lawannya.
Yang dianggap juara adalah sepasang sapi yang larinya lurus, tidak
berbelok ke sawah sebelah, dan jokinya tidak jatuh. Tidak ada pemenang
karena penonton yang menyaksikan sapi siapa yang paling jagoan. Tentu
saja setelah itu harga sang jagoan menjadi lebih tinggi.

Terjadi keributan kecil di lokasi start karena sapi-sapi itu sulit
diatur. Tiba-tiba saja seekor sapi berlari karena tak sengaja bajaknya
terinjak oleh joki. Ini soal insting sapi. Sebab setiap bajaknya
diijak, sapi merasa itu saatnya berlari. Makanya joki-joki harus
memegang bajak dan tidak meletakkannya di lumpur agar sapi tidak lari
sebelum pertandingan dimulai.

Pacu Jawi dimulai dengan diiringi teriakan "Heyahhh..!" dari pemimpin
lomba. Teriakan yang membuat kedua sapi lari kencang. Di sinilah unik
dan lucunya, ada cipratan lumpur di mana-mana, wajah dan tubuh joki
bersimbah lumpur sawah.

Ada joki yang langsung terpental jatuh karena kedua sapi berlari
sangat kencang. Ada joki yang terjatuh karena hanya salah satu sapi
yang lari kencang. Dan, ini yang saya tunggu-tunggu, di antara hujan
cipratan lumpur telihat seorang joki yang berusaha mengendalikan kedua
sapinya dengan menarik ekor dan menggigit salah satu ekor sapi.
Akhirnya dua sapi dan jokinya sukses sampai ke ujung yang disambut
sorakan penonton.

Namun gigitan joki pada ekor sapinya itu ada juga yang tidak sukses.
Ada sapi yang kelihatannya marah sekali dan berlari kencang berbelok
ke sawah orang nyaris menabrak penonton di pematang.

Usai bertanding, saya bertanya pada salah satu joki soal ekor sapi
yang digigit itu. Kenapa ekor jawi-nya mesti digigit?

»Ini sudah biasa dalam pertandingan. Apalagi sehari-hari saya main
dengan sapi itu, membajak sawah, menggigit ekornya itu pun kalau
terpaksa. Biasanya agar lari kencang saya hanya menarik ekornya. Tapi
kalau salah satu sapi saja yang lari kencang, terpaksa saya gigit ekor
sapi satunya lagi agar larinya sama,” kata Yoyon, 18 tahun, salah satu
joki.

Di Tanah Datar ajang Pacu Jawi ini tak lagi sekadar acara hiburan dan
bisnis jual-beli ternak tradisional. Tapi sudah dimasukkan ke dalam
salah satu cabang olahraga. Kegiatan ini dikelola Persatuan Olah Raga
Pacu Jawi (PORWI) Kabupaten Tanah Datar, di bawah naungan KONI (Komite
Olahraga Nasional Indonesia) kabupaten itu.

Tentu saja ajang Pacu Jawi masuk dalam salah satu event wisata favorit
di Tanah Datar. Inilah salah satu obyek wisata dari banyak obyek
wisata sejarah dan budaya tempat asal dan pusat kebudayaan Minangkabau
di Ranah Minang. Di daerah tempat Istana Pagaruyung terletak.

Untuk memastikan ada-tidaknya acara Pacu Jawi, cari informasi dulu ke
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tanah Datar. Biasanya hampir
tiap bulan setiap akhir pekan ada acara Pacu Jawi yang tempatnya
berpindah-pindah. Nonton acara ini tidak dipungut bayaran.

-- 
Sent from my mobile device

Wassalaamu'alaikum
Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
suku Mandahiliang,
lahir 17 Agustus 1947.
nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman.
rantau Deli, Jakarta, kini Sterling, Virginia-USA
------------------------------------------------------------

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke