Ohoooo! 

Wartawan TEMPO.CO ketangkap basah dalam pilihan kata beda budaya antara "Jawi" 
dan "Sapi".  Perhatikan paragraf pertama; ganti kembali kata "Sapi" manjadi 
"Jawi".

Mungkin penulisnya takut kepergok kalau-kalau nanti dia akan "digigit" oleh 
[Orang] "Jawi" hidup ... yang "ekornya menjijikkan," dan "berlumpur, berbulu, 
bau lagi." :)

--MakNgah


--- In [email protected], ajo duta <ajoduta@...> wrote:
>
> 
> 
> Serunya Nonton Pacu Jawi di Lereng Gunung Marapi
> 
> TEMPO.CO, Menggigit ekor sapi hidup? Wuiihh... menjijikkan. Begitu
> tanggapan saya saat mendengar cerita dari seorang teman yang pernah
> nonton Pacu Jawi. Tak terbayang ada orang yang mau menggigit ekor sapi
> hidup yang berlumpur, berbulu, bau lagi. Kalau sop buntut sih lain
> ceritanya.
> 
> Tontonan unik ini bisa dilihat dalam acara Pacu Jawi di lereng Gunung
> Marapi, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, yang kerap diadakan
> seusai panen padi. Dalam arena itu sang joki akan menggigit ekor sapi
> keras-keras agar sapinya berlari kencang. Orang Minang menamai sapi
> dengan jawi, jadi acaranya namanya Pacu Jawi.
> 
> Rasa penasaran ingin nonton Pacu Jawi akhirnya kesampaian. Rupanya ada
> atraksi Pacu Jawi di Nagari Sungai Tarab. Kini masyarakat sedang
> keranjingan membuat acara Pacu Jawi di nagarinya begitu usai tanam
> padi lantaran semakin banyak ditonton untuk hiburan anak nagari.
> 
> Tempatnya jauh di tengah areal pesawahan yang berundak di kaki Gunung
> Marapi. Perlu ekstra kerja keras untuk mencapai lokasi karena harus
> berjalan di pematang sawah dan kubangan lumpur. Di Sungai Tarab,
> Gunung Marapi terlihat lebih menjulang dari biasanya karena sebagian
> punggungannya tertutup kabut.
> 
> Di depannya terbentang sawah yang berundak, dan ada sepetak sawah
> yang cukup lebar dengan panjang sekitar 60 meter yang akan digunakan
> untuk Pacu Jawi. Tanahnya berlumpur halus dan cukup dalam karena sudah
> empat pekan dijajal puluhan sapi yang ikut Pacu Jawi. Di lokasi Pacu
> Jawi ini tidak tercium lagi aroma kotoran sapi, tapi yang ada aroma
> lumpur sawah yang segar.
> 
> Suasana keceriaan dialek Nagari terasa kental, tiupan saluang mengalun
> riang diiringi gendang. Ibu-ibu membawa nampan yang tudungnya berhias
> berisi makanan ringan. Puluhan ekor sapi yang akan berpacu juga
> terlihat dipersiapkan pemiliknya untuk siap bertanding di lapangan.
> 
> Rupanya ini acara penutupan karena belasan sapi jantan sudah dirias
> seperti pengantin. Mulai dari kepalanya yang dihias rangkaian bunga
> plastik, tanduknya yang dibalut kain beludu bersulam, dan seluruh
> tubuhnya dipakaikan kain aneka warna. Itu tandanya sapi tuan rumah
> dari Sungai Tarab. Paginya mereka sudah diarak keliling kampung yang
> menandakan penutupan acara Pacu Jawi yang sudah berlangsung empat
> pekan setiap Sabtu.
> 
> Ada empat kecamatan yang punya tradisi Pacu Jawi di Tanah Datar, yaitu
> Sungai Tarab, Pariangan, Rambatan, dan Lima Kaum. Keempat daerah ini
> ada di lereng Gunung Marapi. Pacu Jawi ini dilaksanakan usai panen
> padi dan tempatnya digilir tiap kecamatan yang dilaksanakan selama
> empat pekan setiap Sabtu.
> 
> »Pacu jawi ini sudah ada dari dulu, tapi belum seramai sekarang. Ini
> untuk menaikkan harga jawi. Kalau bagus larinya, harganya bisa sampai
> Rp 20 juta, lebih mahal dari harga pasaran yang hanya Rp 5 sampai Rp 7
> juta,† kata Justiar, warga Koto Hiliang yang ikut Pacu Jawi. Ia
> membawa sapinya yang bernama Merica yang berusia 2 tahun 6 bulan.
> 
> »Walaupun kecil dia hebat, larinya kencang. Jadi saya namai merica.
> Kalau ada yang mau beli Rp 15 juta saya lepas,† kata Justiar. Dalam
> Pacu Jawi ini Merica akan tandem dengan Tando, seekor sapi jantan yang
> punya tanda totol hitam di kakinya milik kerabat Justiar.
> 
> Untuk meningkatkan stamina sapinya, sebelum dibawa berpacu, sapinya
> tidak diberi rumput, tapi makan telur dan madu yang dicampur minuman
> berenergi.
> 
> Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu tiba. Saya mengambil tempat di
> dekat garis start. Ingin melihat saat-saat penting ketika sang joki
> menggigit ekor sapinya. Aturannya, dua ekor sapi masing-masing diberi
> kala, atau kayu bajak, yang akan diinjak kaki kanan dan kiri sang
> joki. Joki mengendalikan sapi dengan menarik kedua ekor sapinya. Sapi
> yang dilepaskan hanya sepasang, dan tidak ada lawannya.
> Yang dianggap juara adalah sepasang sapi yang larinya lurus, tidak
> berbelok ke sawah sebelah, dan jokinya tidak jatuh. Tidak ada pemenang
> karena penonton yang menyaksikan sapi siapa yang paling jagoan. Tentu
> saja setelah itu harga sang jagoan menjadi lebih tinggi.
> 
> Terjadi keributan kecil di lokasi start karena sapi-sapi itu sulit
> diatur. Tiba-tiba saja seekor sapi berlari karena tak sengaja bajaknya
> terinjak oleh joki. Ini soal insting sapi. Sebab setiap bajaknya
> diijak, sapi merasa itu saatnya berlari. Makanya joki-joki harus
> memegang bajak dan tidak meletakkannya di lumpur agar sapi tidak lari
> sebelum pertandingan dimulai.
> 
> Pacu Jawi dimulai dengan diiringi teriakan "Heyahhh..!" dari pemimpin
> lomba. Teriakan yang membuat kedua sapi lari kencang. Di sinilah unik
> dan lucunya, ada cipratan lumpur di mana-mana, wajah dan tubuh joki
> bersimbah lumpur sawah.
> 
> Ada joki yang langsung terpental jatuh karena kedua sapi berlari
> sangat kencang. Ada joki yang terjatuh karena hanya salah satu sapi
> yang lari kencang. Dan, ini yang saya tunggu-tunggu, di antara hujan
> cipratan lumpur telihat seorang joki yang berusaha mengendalikan kedua
> sapinya dengan menarik ekor dan menggigit salah satu ekor sapi.
> Akhirnya dua sapi dan jokinya sukses sampai ke ujung yang disambut
> sorakan penonton.
> 
> Namun gigitan joki pada ekor sapinya itu ada juga yang tidak sukses.
> Ada sapi yang kelihatannya marah sekali dan berlari kencang berbelok
> ke sawah orang nyaris menabrak penonton di pematang.
> 
> Usai bertanding, saya bertanya pada salah satu joki soal ekor sapi
> yang digigit itu. Kenapa ekor jawi-nya mesti digigit?
> 
> »Ini sudah biasa dalam pertandingan. Apalagi sehari-hari saya main
> dengan sapi itu, membajak sawah, menggigit ekornya itu pun kalau
> terpaksa. Biasanya agar lari kencang saya hanya menarik ekornya. Tapi
> kalau salah satu sapi saja yang lari kencang, terpaksa saya gigit ekor
> sapi satunya lagi agar larinya sama,† kata Yoyon, 18 tahun, salah satu
> joki.
> 
> Di Tanah Datar ajang Pacu Jawi ini tak lagi sekadar acara hiburan dan
> bisnis jual-beli ternak tradisional. Tapi sudah dimasukkan ke dalam
> salah satu cabang olahraga. Kegiatan ini dikelola Persatuan Olah Raga
> Pacu Jawi (PORWI) Kabupaten Tanah Datar, di bawah naungan KONI (Komite
> Olahraga Nasional Indonesia) kabupaten itu.
> 
> Tentu saja ajang Pacu Jawi masuk dalam salah satu event wisata favorit
> di Tanah Datar. Inilah salah satu obyek wisata dari banyak obyek
> wisata sejarah dan budaya tempat asal dan pusat kebudayaan Minangkabau
> di Ranah Minang. Di daerah tempat Istana Pagaruyung terletak.
> 
> Untuk memastikan ada-tidaknya acara Pacu Jawi, cari informasi dulu ke
> Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tanah Datar. Biasanya hampir
> tiap bulan setiap akhir pekan ada acara Pacu Jawi yang tempatnya
> berpindah-pindah. Nonton acara ini tidak dipungut bayaran.
> 
> -- 
> Sent from my mobile device
> 
> Wassalaamu'alaikum
> Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
> suku Mandahiliang,
> lahir 17 Agustus 1947.
> nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman.
> rantau Deli, Jakarta, kini Sterling, Virginia-USA
> ------------------------------------------------------------



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke