Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu Penghujung dari cerpen GEMPA yang pernah di posting di Palanta......
Sesudah shalat maghrib, dengan jamaah lebih banyak dari biasanya, Buya Haji memberikan ceramah singkat untuk menenangkan hati masyarakat. Buya mengingatkan agar musibah yang terjadi dijadikan pelajaran untuk menyadari ke Maha Kuasaan Allah. Sebagai makhluk kita memang tidak ada apa-apanya di bawah kekuasaan Allah. Terjadi sedikit tanya jawab sesudah ceramah Buya Haji. ‘Buya! Apakah yang terjadi ini merupakan peringatan atau hukuman dari Allah?’ tanya guru Sofyan. ‘Biarlah kita berprasangka baik saja kepada Allah bahwa ini adalah sebuah peringatan. Kita diperingatkan agar lebih banyak mengingat Allah dan beribadah kepada Nya. Karena kita ini ternyata tidak ada apa-apanya. Karena Allah begitu Maha Perkasa dan Maha Berkuasa. Betapa mudahnya bagi Allah untuk berbuat sesuatu. Rumah, bangunan, mesjid yang kita bina bersusah payah dalam waktu lama, dalam beberapa detik saja, dengan kekuasaan Allah jadi porak poranda. Allah kuasa melakukannya. Allah kuasa menghancurkan alam raya ini.’ ‘Tapi ada yang mengartikan bahwa ini adalah hukuman Allah karena sudah semakin banyaknya kemaksiatan, Buya. Bagaimana pula itu?’ tanya etek Syarifah. ‘Boleh-boleh saja ada yang berpendapat seperti itu. Tapi pada gilirannya, kan tetap saja merupakan sebuah peringatan Allah. Akankah kita sadar? Akankah mereka yang suka bermaksiat mau bertobat? Memperbaiki diri? Kalau mereka mau, maka beruntunglah mereka.’ ‘Benarkah gempa itu juga merupakan sunatullah Buya?’ kembali guru Sofyan bertanya. ‘Benar sekali. Hujan, panas, laut bergelora, gunung-gunung mengeluarkan asap atau bahkan letusan yang melemparkan batu-batuan, gempa bumi semua itu adalah ketetapan-ketetapan Allah. Semua sudah diadakan Allah sejak dunia terkembang. Begitu kata para ahli. Tentulah guru Sofyan yang lebih tahu tentang itu. Tapi adakalanya sesuatu yang sunatullah itu dijadikan Allah untuk memperingatkan umat manusia bahkan ada juga umat-umat terdahulu yang dihukum Allah dengan bencana yang berasal dari alam. Kaum Luth yang dimusnahkan Allah dengan letusan gunung berapi. Kaum nabi Nuh yang ditenggelamkan dengan air bah. Kita sebagai orang yang beriman kepada Allah, tidak punya pilihan selain bertawakkal dan berserah diri kepada Allah. Seandainya musibah itu menimpa kita, mendatangkan maut kepada kita seperti yang dialami saudara-saudara kita hari ini, mudah-mudahan itu terjadi pada saat kita ikhlas bertawakkal kepada Nya.’ Begitu Buya Haji mengakhiri ceramah singkat beliau. Wassalamu'alaikum, Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi Lahir : Zulqaidah 1370H, Jatibening - Bekasi ________________________________ From: Bot S Piliang <[email protected]> To: "[email protected]" <[email protected]> Sent: Tuesday, December 27, 2011 8:43 AM Subject: Re: [R@ntau-Net] Bencana Alam Bukan Adzab! Assalamualaikum Wr Wb Mamak2 ambo nan sangat ambo hormati.... Tak bisa dipungkiri sudut pandang kita sangat beragam di palanta ini. Sebagai pribadi, buat saya itulah nilai plus milist ini. Namun jujur saja, akhir2 ini seperti terjadi penyeragaman pola pikir disini.Begitu ada pandangan yang berbeda langsung berbondong2 di bungkam. Saya tidak tahu, apakah berpendanpat di milist ini harus ikut pada mainstream berpikir yang ada. Kalau boleh ambo nan mudo matah ko berpendapat, rasanya tidak ada yang salah dengan artikel Uda Andrinof, bahkan justru menelisik keIslaman kita yang cenderung terperangkap pada kealpaan untuk melakukan tugas kita sebagai manusia beriman, yaitu berpikir. Seringkali kita kemudian berpasrah dan langsung menyalahkan nasib atas apa yang kita alami, dan ketika bencana datang, baik itu karena alam atau bencana karena ulah manusia, serta merta kita mencap itu adalah azab Allah, seolah2 Allah adalah Tuhan yang gemar mengazab hambanya. Jujur saja, pada saat G30S dulu, saya sampai bersitegang dengan kakak saya yang buru2 mencap bahwa gempa yang melanda adalah azab Allah. Seolah2 korban yang meninggal adalah mereka yang terazab sedangkan yang masih hidup adalah yang terselamtkan. Mendadak manusia merasa seperti Tuhan yang mengklaim orang itu kena bencana/dilaknat Allah, padahal hanya Allah yang tahu perkara tersebut. Pesan yang saya tangkap dari tulisan Uda Andrinof adalah adanya kecendrungan Umaro (pemimpin kita) memanfaatkan sisi Holistik/keimanan ketimbang berusaha dan berbuat menggunakan akal dan pikiran untuk melakukan tindakan2 preventif dalam menghadapi bencana. Memang pada akhirnya, semua adalah hak Allah, Dia lah yang maha menentukan. Tapi faktanya, kita memang hidup diatas tanah yang rawan gempa dan bencana alam, dan khusus untuk Sumatera Barat, kita punya potensi gempa darat dan laut hampir sepanjang tahun. Apakah dengan begitu ketika kita terlahir kita sudah kena azab Allah, berarti jadi orang Minang dan lahir di Sumbar juga bagian dari azab Allah? Apakah kita hanya diam, tidak melakukan apa2 ketika bencana datang? Atau justru itulah nikmat yang diberikan Allah sehingga seharusnya kita bisa lebih berpikir untuk bertahan hidup diatas kondisi tersebut. Maaf kalau cara berpikir saya agak diluar mainstream. Walaikumsalam Wr Wb Bot Sosani Piliang Life is a never ending journey www.botsosani.wordpress.com ________________________________ From: Andrinof A Chaniago <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tuesday, December 27, 2011 8:21 AM Subject: Re: [R@ntau-Net] Bencana Alam Bukan Adzab! Tulisan ambo itu indak ado satu kalimatpun yang manyuruah supaya indak takuik ka Tuhan do Mak Sutan. Silahkan dibaco elok-elok. Ambo ingin manganaan, mari maajak urang utk makin beriman jo akal sehat nan alah dianugerahkan Allah SWT. Baulang-ulang diingatkan Allah dalam Al-Qur'an, "Tidakkah kamu berakal?", "Tidakkah kamu berpikir?", "Tidakkah kamu merenung?", dst. Diingatkan juga dalam sebuah hadist (maaf, tapaso juo ambo kutip hadis walau Mak Sutan indak suko): "Tidak berguna iman tanpa ilmu, tidak berguna ilmu tanpa amal, dan tidak bergujna amal tanpa ikhlas". Wass., Andrinof -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
