Mungkin rancak pulo awak tau sikap SBY taradok misibah, bencana nan tajadi:
PENGARAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DI MASJID RAYA PALEMBANG PALEMBANG, 16 JUNI 2006 Bismilahirrahmanirahim Assalmualaikum Warahmatullahiwabarokatuh Alhamdulilahirobil ‘alamin, Wassalatu mu’ala asrofil ambiai walmursalin Sayidina Wamaulana Muhammadin Wa’ala alihiwassobihi ajma’in ama ba’du. Yang sama-sama kita cintai dan kita muliakan, para alim ulama, Yang saya hormati para Pimpinan Lembaga-Lembaga Negara, hadir Prof. Jimly Asshiddiqie, Ketua Mahkamah Konstitusi, putera Palembang, putera Indonesia kelahiran Palembang. Hadir juga Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, Menteri perhubungan, Saudara Hatta Rajasa, saya kira juga putera Sumatera Selatan, Hadir Saudara Gubernur Sumatera Selatan dan para Gubernur se-Sumatera yang ada di Palembang saat ini, hadir pula para Bupati dan Walikota, Hadirin sekalian yang dimuliakan Allah SWT, Pada hari Jum’at dan semoga senantiasa penuh berkah, marilah sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, atas rahmat dan ridho-Nya, sebagai umat hamba Allah, kita masih diberi kesempatan, untuk melanjutkan ibadah, untuk menyempurnakan kepribadian dan amal kita untuk kemaslahatan bersama. Dan sebagai warga negara masih diberikan kekuatan dan kesehatan untuk sama-sama melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta. Marilah sama-sama kita haturkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan pengikut-pengikut Rasul sampai akhir zaman. Izinkan saya sebagai seorang Umaro, melengkapi apa yang disampaikan oleh khatib kita, Bapak Profesor Aflatul tadi, untuk mengajak saudara semua, khususnya umat Islam, umumnya seluruh rakyat Indonesia, untuk terus melanjutkan tugas dan kewajiban kita, dalam rangka ibadah dan dalam rangka embanan sebagai warga negara Republik Indonesia. Sebelum saya menyampaikan harapan dan ajakan saya, ijinkan saya untuk menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, kepada masyarakat Palembang, Sumatera Selatan atas kesabaran, atas ketegaran dan ikhtiar yang dilakukan terus-menerus, ketika negara ini, sejak mengalami krisis delapan tahun yang lalu, hingga hari ini masih menghadapi berbagai ujian, cobaan dan permasalahan. Meskipun kita bersyukur, di sana, sini mulai terlihat kemajuan-kemajuan, mulai terlihat hasil-hasil dari apa yang kita lakukan bersama pada tahun-tahun terakhir ini, namun dengan jujur harus kita akui, masih banyak lagi masalah-masalah yang harus kita pecahkan bersama-sama, menuju hari esok yang lebih baik. Setiap kali saya datang ke Palembang, setiap kali pula saya melihat perubahan, perubahan yang lebih baik. Sepuluh tahun yang lalu, saya pernah mengabdi bersama-sama, saudara-saudara kami di Palembang dan Sumatera bagian Selatan, setelah itu beberapa kali datang ke sini, semenjak saya mengemban amanah sebagai Presiden, ini adalah kunjungan saya yang keempat. Setiap saya berkunjung selalu ada yang saya harus bersyukur ke hadirat Allah SWT dan berterima kasih kepada saudara-saudara semua, pertahankan semua ini, kembangkan terus di waktu-waktu yang akan datang. Saya berpesan kepada Pak Gubernur, Pak Bupati, Pak Walikota, teruslah mencintai rakyat, teruslah berbuat yang terbaik untuk rakyat, teruslah menyumbangkan semuanya, agar kehidupan masyarakat Palembang dan Sumatera Selatan ini dan tentunya seluruh Indonesia makin ke depan makin baik. Hadirin sekalian, Kita ingin membangun negeri ini, sebagaimana kita ingin membangun Palembang dan Sumatera Selatan ini, menuju masa depan yang lebih baik, yang lebih maju, yang lebih modern, yang lebih demokratis, tetapi harus tetap dalam nuansa yang penuh dengan nilai dan perilaku yang relegius. Sebuah bangsa boleh maju, tapi tidak boleh kehilangan perilaku, nilai dan jati dirinya sebagai umat beragama dan sebagai bangsa Indonesia yang sejati. Kita harus terus-menerus melaksanakan introspeksi, apakah kemajuan sekarang ini, globalisasi sekarang ini, yang tentu di satu sisi mendatangkan kebaikan untuk negeri kita, apakah juga mendatangkan hal-hal yang tidak baik, yang mengusik, yang mengganggu nilai-nilai ke-Islam-an kita, nilai-nilai keagamaan kita dan nilai-nilai kebangsaan kita. Oleh karena itu, saya mengajak, marilah bersama-sama kita membangun negeri menuju masa depan yang lebih baik, tetapi jangan tercabut dari nilai-nilai keagamaan dan nilai-nilai kebangsaan yang sama-sama kita harus junjung tinggi. Saya menggarisbawahi apa yang disampaikan oleh Khatib tadi, bahwa kita semua, ulama dan umaro dan umat harus bersatu padu membangun negeri ini. Saya harus mengingatkan, tugas untuk membangun kehidupan yang Islami, kehidupan yang religius adalah tugas yang tidak pernah henti. Kita ingin, meskipun masyarakat kita makin modern, tetapi nilai-nilai Islami, akhlaq yang baik, tutur kata, budi pekerti yang baik, perilaku yang baik, tetap kuat, tumbuh dan berkembang di negeri kita. Kita ingin dalam kehidupan yang Islami ini, kita tetap memperkokoh tali silaturrahim, ukhuwah kita, baik ukhuwah Islamiyah, maupun ukhuwah wathoniyah. Kita ingin dalam kehidupan yang Islami ini terus mengibarkan Amal ma’ruf-nai mungkar, memerangi hal-hal yang tidak benar, menegakkan hal-hal yang benar. Kita ingin dalam kehidupan yang Islami ini berbagi rasa, membantu kepada kaum dhuafa, kaum fakir miskin, agar mereka bisa menjalani kehidupan sehari-harinya dengan layak. Dalam kehidupan yang Islami, mari kita berjuang agar umat Islam makin maju, makin cerdas, makin bermartabat, makin sejahtera. Dengan demikian, kehormatan kita sebagai umat Islam makin tinggi, sejalan dengan peradaban umat Islam yang harus kita bangkitkan kembali, Islam yang teduh, Islam yang mengayomi, Islam yang memberikan solusi, Islam yang menaburkan rahmat bagi semesta Alam. Itulah yang ingin kita tuju secara bersama. Hadirin sekalian yang di muliakan Allah SWT, Yang kedua atau yang terakhir, sesungguhnya saya ingin menggarisbawahi apa yang disampaikan oleh khatib tadi. Disamping ada sejumlah capaian, ada sejumlah hasil, yang Alhamdulillah dapat diwujudkan oleh kita semua, oleh bangsa ini, sejumlah masalah harus kita atasi, termasuk cobaan, ujian dan musibah bencana alam.Tahun 2004 yang lalu bangsa kita mengalami musibah yang maha dahsyat, Tsunami di Aceh dan di Nias. Beberapa saat setelah itu masih ada bencana-bencana yang relatif lebih kecil, kembali kita diuji oleh Allah SWT, beberapa saat yang lalu ada gempa bumi yang dahsyat, yang terjadi di Yogyakarta dan di Jawa Tengah. Saya mengajak untuk menyikapi semua musibah, ujian dan cobaan ini, termasuk bencana alam itu dengan sikap yang baik, sikap yang membangun, sikap yang Islami. Ingat, ada tiga hal yang penting dalam kehidupan kita, Iman, Ilmu, Amal. Terhadap bencana alam ini, mari kita dekati dari kacamata orang yang beriman, dari kacamata orang yang berilmu dan dari kacamata kita yang harus terus-menerus beramal saleh. Kalau kita ambil yang kedua dulu, sebagai orang yang berilmu, mari kita gunakan pengetahuan kita, ilmu kita, logika kita, mengapa terjadi bencana alam di negeri ini. Ada dua, ada bencana alam yang bisa dijelaskan secara ilmiah, contohnya Tsunami di Aceh dan di Nias dan kemudian contoh yang kedua Gempa Bumi tektonik yang ada di Yogya dan di Klaten. Hadirin sekalian, Bumi tempat kita hidup ini bentuknya bundar, bumi ini berkulit bukan seperti kelereng, tetapi seperti kulit jeruk. Ada lipatan-lipatan dalam kulit bumi. Lipatan-lipatan atau lempeng-lempeng ini, itu sering bergeser, sering bersinggungan satu sama lain. Dalam putaran bumi pada porosnya, berputar duapuluh empat jam yang disebut Rotasi. Dan dalam perputaran bumi mengelilingi matahari yang disebut Revolusi dalam waktu setahun, terjadilah pergerakan-pergerakan internal bumi, lempeng-lempeng itu sering bergerak di seluruh bagian bumi. Pergerakan lempeng inilah, karena besarnya ukuran bumi menimbulkan bencana alam. Kalau terjadi di darat ada gempa tektonik seperti kemarin terjadi di banyak tempat Indonesia. Kalau terjadi di lautan, ada pula gempa bumi, sering pula diiringi dengan Tsunami. Jadi kalau gempa tektonik itu memang kita tidak bisa tahu kapan dan dimana, yang tahu ada daerah-daerah yang rawan di dunia ini, termasuk beberapa bagian negeri kita karena ada lempeng di bawah permukaan bumi, mungkin terjadi gesekan-gesekan itulah yang menyebabkan gempa bumi ataupun tsunami. Ada kalanya gempa bumi bisa kita prediksi, kita antisipasi, contohnya letusan gunung berapi, ada tanda-tanda oleh Dinas Vulkanologi, oleh Badan Meteorologi dan Geofisika, oleh para pakar. Oleh karena itulah, diberi tahu akan ada letusan gunung berapi, lantas kita mempersiapkan diri, jangan sampai kalau ada letusan, saudara-saudara kita menjadi korban, ada seperti itu. Tetapi apakah gempa tektonik, di darat atau di lautan, ataukah letusan gunung berapi itu sesungguhnya di luar jangkauan kita. Tapi ada bencana alam yang disebabkan oleh kesalahan umat manusia, banjir misalnya. Bertahun-tahun, belasan tahun kita menebang pohon seenaknya menggunduli hutan, seenaknya, mereka tidak bertanggung jawab, terjadilah banjir dimana-mana. Ada kota-kota yang tidak rajin membuang sampah, selokan-selokan macet, saluran-saluran air macet, begitu hujan lebat datang berhari-hari banjir, bencana alam jenis seperti itu jelas kesalahan umat manusia. Demikian kita melihat terjadinya bencana alam dari segi ilmu, dari orang yang berilmu. Sekarang tentu kita sering mendengarkan fatwa,tauziah dari para ulama, bagaimana kita melihat bencana alam dari kacamata orang yang beriman. Saya tidak ingin menjelaskan lagi, karena sudah sangat sering dijelaskan oleh para ulama. Beliau mengatakan tadi, bahwa tidak ada satupun di dunia ini tanpa kehendak Allah SWT. Kita hanya bermohon, semoga semuanya itu tidak menimbulkan sesuatu yang di luar kemampuan kita, semua itu ujian, cobaan dan musibah. Mudah-mudahan setiap musibah selalu ada berkah kalau kita bisa menangkap makna, pesan dan ajaran dari semuanya itu. Namun demikian, sudah pada saatnya sebagai orang yang beriman, sebagai umat beragama, sebagai ummat Islam, untuk juga lebih mendekat ke hadirat Allah SWT, lebih bertobat, lebih memohon ampun, kita semua tidak ada yang tidak harus melakukan itu. Ulama, umaro, umat kita semua, marilah barangkali kita saling mawas diri, apakah kita orang seorang, kelompok demi kelompok, semuanya telah menjalankan tugas kita sebagai umat hamba Allah. Tutur kata kita, perilaku kita, sikap kita, kebersamaan kita, kerukunan kita, persaudaraan kita, keikhlasan kita, ketulusan kita dalam mengemban tugas. Apakah benar-benar kita mencintai, negeri rakyat kita dengan sesungguh-sungguhnya dan lantas kita bersama-sama mengatasi masalah ini. Mari kita melakukan introspeksi, termasuk diri saya, termasuk semua-semua, para umaro yang mengemban amanah. Mari kita menyempurnakan kepribadian kita, memperbaiki sikap dan perilaku kita, lebih bertobat, lebih memohon ampun pada Allah dan meningkatkan semua yang harus kita lakukan untuk rakyat kita. Disamping kita lihat sebagai musibah, cobaan dan ujian, disamping kita memohon Allah, semoga semua itu akan dapat kita atasi, tidak menimbulkan korban yang berlebihan dan kita semua bisa memetik pelajaran dari padanya, kiranya di rumah Allah yang mulia ini, saya mengajak hadirin sekalian, seluruh rakyat Indonesia, marilah bersama-sama kita melakukan sesuatu yang lebih bermakna secara keagamaan, bagi umat Islam secara Islami, agar Allah berikan jalan yang baik untuk bangsa kita di masa depan. Betul-betul keluar dari krisis menghadapi masalah ini. Dan akhirnya setapak demi setapak, secara bertahap kesejahteraan rakyat kita makin meningkat di waktu yang akan datang. Dan yang terakhir, saya sudah mengatakan bagaimana kita menyikapi bencana alam dari kacamata orang yang berilmu dan orang yang beriman. Sekarang dari kacamata orang yang beramal. Saya sungguh bersyukur, saya sungguh bangga, saya sungguh berbahagia, ketika musibah datang, saudara-saudara kita dengan ikhlas memberikan bantuan. Betapa tinggi kesetiakawanannya, betapa tinggi solidaritasnya membantu mereka yang ada dalam kesulitan, bukan hanya di Yogya dan di Klaten, bukan hanya di Aceh dan di Nias, tapi di banyak tempat di negeri ini. Ini bukti bahwa kita melakukan amal yang sangat terpuji, yang benar-benar diperlukan oleh saudara-saudara kita yang sedang menderita. Marilah kita perluas amal kita ini, pemerintah dengan sendirinya memberikan semuanya untuk memperbaiki keadaan, melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Kalau kita semua, masyarakat secara luas dengan solidaritas yang tinggi membantu membangun kembali daerah-daerah bencana itu, pemerintah demikian juga, bahkan saudara-saudara kita dari luar negeri juga demikian, maka sesungguhnya, kita sebagai orang yang beramal telah menjalankan tugas dan kewajiban kita. Harapan saya sebagai yang sedang mengemban amanah dewasa ini, marilah kita tingkatkan amal kita ini, bukan hanya membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah dan bencana alam, tetapi amal yang lebih luas meringankan beban saudara kita yang miskin, mereka yang belum mampu, amal kita menggunakan yang kita miliki sebaik-baiknya sambil kita menata kehidupan bangsa kita, membangun pemerintahan yang bersih, memberantas korupsi, menegakkan semua aturan. Akhirnya niat dan cita-cita luhur kita dapat dicapai dengan ridho Allah SWT. Itulah para ulama, para kyai yang sangat saya cintai, begitulah para hadirin sekalian, harapan dan ajakan saya, termasuk dan berlaku bagi diri saya. Semoga ibadah kita bersama di tempat yang mulia ini mendapatkan ridho Allah. Semoga perjalanan berat bangsa kita ini menuju masa depan diberikan kemudahan, diberikan bimbingan petunjuk dan lindungan-Nya, hingga kita bisa mendapat sesuatu yang lebih baik. Saya diingatkan oleh Pak Gubernur. Sebagai rasa terima kasih kita, bangga kita kepada rakyat Indonesia yang tegar, tabah, tawakal, tapi juga terus berjuang keras membangun masa depannya, termasuk masyarakat Sumatera Selatan dan sekitarnya, mulai ibadah haji 1427 Hijriah ini, embarkasi sudah bisa dilaksanakan di Palembang. Tiga minggu yang lalu, Menteri Agama, Menteri Perhubungan, Direktur Garuda, setelah bekerjasama dengan DPR RI mengatakan kepada saya, ini Pak Presiden, rencana kita Ongkos Naik Haji pada tahun 1427 H ini. Dengan perkembangan harga minyak di dunia dan lain-lain faktor, semua dihitung-hitung memang harus naik, semua dihitung-hitung naiknya bisa dua ratus dollar, sama dengan satu, hampir dua juta. Kami bersepakat, marilah kita cari akal, marilah kita berupaya, marilah kita cari solusi, melihat daya beli rakyat kita yang belum pulih, karena krisis minyak kemarin itu, apa mungkin tidak naik ongkos itu. Saya dapat berita di Masjid ini dari Menteri Agama yang saya tugasi, Insya Allah, mudah-mudahan tidak naik. Kalau ada kekurangan-kekurangan Insya Allah kita carikan solusinya, tetapi tidak menaikkan ongkos bagi jama’ah. Mudah-mudahan ini bisa mendapatkan pengertian yang baik dan menambah kekhusyukkan saudara nanti yang akan melaksanakan ibadah haji pada Desember 2006 atau pada 1427 H. Demikianlah yang saya sampaikan. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. * * * * * * Biro Pers dan Media Rumah Tangga Kepresidenan Salam, Zultan, L, 51, Bogor Sent from my iPad 2 On 25 Des 2011, at 15:37, Sutan Sinaro <[email protected]> wrote: > Takah iko se lah, nak capek. (Kok ka bahunjun baragang di urusan ayat Qur-an > jo hadits > jo sanak Andrianof ko ambo maleh, dan tampeknyo indak di siko pulo doh) > > Kok ndak ka Tuhan Allah kito takuik, ka sia kito takuik lai ?. > Fenomena alam kecek awak, nan punyo alam ko sia ?. > Kok lah samo pulo pikiran jo perasaan kito jo urang-urang non-muslim yang > menuhankan > ilmu pengetahuan, dengan pernyataan > fenomena alam biasa,.. iyo lah sansai kito. > Urusan ilmu pengetahuan jo kemajuan pikiran indak samo jo urusan iman doh. > Kecek sia dengan dengan takuik pado Allah menghambat kemajuan berfikir dan > ilmu pengetahuan ?. Toh, jayanya Islam dahulu adolah dek karano takuik pado > Allah, > dan sebaliknya, mundurnyo ummat Islam dek karano indak takuik ka Allah lai, > berbanding terbalik jo urang non muslim, ka ditiru pulo mereka tu ?. > Kok ndak ka Tuhan Allah kito takuik, ka sia kito takuik lai ?. > Inok ranuangi se lah. > > Wassalam > > St. Sinaro > > > --- On Sat, 24/12/11, [email protected] <[email protected]> > wrote: > > From: [email protected] <[email protected]> > Subject: Re: [R@ntau-Net] Bencana Alam Bukan Adzab! > To: [email protected] > Received: Saturday, 24 December, 2011, 9:45 PM > > Sbg orang awam dlm agama dan ilmiah. Saya belum bisa memvonnis ucapan para > Da'I itu salah. > > Saya akan menganggapnya sebagai warning supaya kita lebih dapat > mengintrospeksi dari. > Lebih syukur lagi kalau dengan hal ini bisa mengantisipasi berbagai dampak > negatif era globalisasi ini > > Memang Tsunami itu peristiwa alam biasa. Tapi beberapa akibat yang > ditimbulkannya ada yg belum bisa saya cerna secara rasional > > Kenapa disejumlah daerah semua bangunan rata dengan tanah... Sehingga > kondisinya mirip dengan padang pasir yang kosong... > > Hanya tinggal mesjid tua sendiri.... > > Termasuk pemakaman tua dibibir pantai yang masih utuh, sementara kiri > kanannya telah rata > > > Bahkan di Mesjid Raya Banda Aceh bukan hanya Non-Muslim yang ikut berlindung > disana > > Ada tempat yang malam sebelumnya disana berlangsung pesta semalam suntuk. > Lokasi ini juga rata dengan tanah. > > Tapi semua wanita yang ditemui dalam kondisi tanpa busana > > Temuan ini disampaikan oleh Tim Penyelamat baik dari Brimob maupun > Mahasiswa/LSM yg berasal dari Kota dan Propinsi yang berbeda > > Apakah ini benar atau sang Perwira serta Tokoh LSM yang selama ini dikenal > cukup baik agama dan sifat lurusnya telah sepakat untuk berbohong ? > > Jadi rasanya ini merupakan hak kita masing2 untuk menginterprestasikan > fenomena ini > > Untuk Migitasi Bencana serta Crisis Management Center memang perlu lebih > diintensifkan dan lebih terarah > Selain untuk warga yang menetap diperkotaan juga untuk pendatang insidentil > Sehingga informasi penanganan bencana ini juga ada ditempat umum seperti > Terminal dan Pasar > > Wass n banyak maaf > > --TR > > > > Sent from my BlackBerry® > powered by Sinyal Kuat INDOSAT > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti > subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti > subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
