Pak Asmardi nan ambo hormati;
Tarimo kasih banyak. Barakallah.. Semoga baguno untuk pambaco di milis ko.
amin.
Salam hormat,

Andrinof


2011/12/23 Asmardi Arbi <[email protected]>

> **
> Assalamu'alaium wr.wb.
>
> Bung Andrinof, kita sering mendengar para Da'I atau Khatib menyampaikan
> bahwa Bencana Alam ( musibah )adalah merupakan Peringatan , Ujian dan
> Adzab  yang diturunkan Allah SWT dan sudah tertulis sebelumnya.di Lauful
> Mahfud .  Peringatan, Ujian dan Adzab itu diturunkan Allah sesuai dengan
> tingkatan pelanggaran umat manusia atas perintah2 dan larangan Allah SWT.
> Adzab adalah tingkat kemarahan Allah SWT yang baru diturunkan kepada umat
> manusia karena Peringatan2 dan Ujian belum juga cukup untuk
> dipedulikan/diperhatikan.
>
> Kisah -kisah berbagai bencana pada masa nabi-nabi acap kita dengar dari
> para Da'I atau kita baca sendiri didalam Al Qur'an dan selalu ada kaitannya
> dengan pelanggaran2 umat manusia dijamannya termasuk kerusakan moral dan
> akhlak. Apa secara kebetulan, hampir semua bencana yang terjadi di Tanah
> Air kita ada kaitannya dengan pelanggaran2 terhadap perintah dan larangan
> Allah SWT  , seperti Korupsi, melanggar sumpah, berkhianat, dusta,
> pembunuhan, perzinahan, pornografi, perjudian ,minuman keras, Narkoba,
> illegal loging...dst yang semakin marak dewasa ini?
>
> Saya kira menuntut atau mengembangkan ilmu  juga diperintahkan Allah SWT
> bukan? Mencari harta sebanyak2nya juga dianjurkan tetapi yang halal dan
> tayyib, bukan dengan cara KKN?   Tapi itu juga dilanggar tidak diperhatikan
> manusia. Titik berat tugas para Da'I saya pikir adalah memperbaiki iman
> ,akhlak dan moral. Sedangkan pengembangan ilmu Pengetahuan dan Teknologi
> adalah titik berat tugas para Cendekiawan Muslim, Namun keduanya harus
> bersinergi , saling mengisi, sebaiknya bukan saling menyalahkan.
>
> Wassalam dan maaf bilo ndak suai.
>
> Asmardi Arbi 70, Kampai, Tangsel.
>
>
>  *From:* Andrinof A Chaniago <[email protected]>
> *Sent:* Friday, December 23, 2011 9:11 AM
> *To:* [email protected]
> *Subject:* [R@ntau-Net] Bencana Alam Bukan Adzab!
>
> Padang Ekspres, 19 Desember 2011
>
>
>
> Beriman (yang Berkualitas)
>
> Paska Bencana
>
> Oleh Andrinof A Chaniago
>
> *Anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat*
>
>
>
> Semenjak Peristiwa Gempa 30 September 2009 (PG 30S09), ancaman bencana
> alam, terutama tsunami, telah menjadi bahan yang digemari oleh sejumlah
> pendakwah dan pemimpin yang ingin merangkap sebagai ulama. Namun, yang
> patut mulai disayangkan dalam menggunakan ancaman bencana sebagai wacana
> untuk mengajak orang meningkatkan keimanan adalah munculnya cara beriman
> yang tidak menjunjung akal sekaligus tanpa landasan dalil naqli yang tepat
> dari Al-Qur’an maupun Hadist. Cara yang tidak menjunjung akal sehat dan
> tanpa landasan dalil naqli yang tepat tadi jelas tampak dengann makin
> gencarnya sejumlah tokoh mewacanakan bancana alam seperti gempat dahsyat
> dan tsunami sebagai adzab dari Allah SWT.
>
> Perhatikanlah pesan yang tertulis di spanduk dengan bunyi berikut ini,
> “Menghimbau warga masyarakat  agar selalu meningkatkan keimanan dan
> ketakwaan dalam mengurangi risiko bencana dan adzab Allah SWT.” Pesan ini
> memang tidak secara tegas menyebut bencana sebagai adzab Allah dan juga
> tidak menekankan arti keimanan dan ketaqwaan dalam pada kegiatan
> memperbanyak ibadah zikir, membaca Al-Qur’an, membaca Asma’ul Husnah dan
> memperbanyak mengerjakan shalat-shalat sunnah. Tetapi, jika dihubungkan
> dengan program kegiatan mobilisasi kegiatan keagamaan yang dilakukan
> pemerintahan daerah dan isi khotbah-khotbah sejumlah pendakwah di Sumbar,
> khususnya di Kota Padang,  pesan spanduk tadi jelas akan memperkuat
> wacana yang memaknai bencana alam sebagai adzab Allah. Mungkin sekali,
> seandainya saat ini dilakukan survei kepada warga Sumbar atau Kota Padang,
> sebagian besar umat yang belum pernah menggali dalil naqli maupun dalil
> aqli tentang bencana yang bisa dikategorikan sebagai adzab akan percaya
> bahwa G30S09 Sumbar dan Tsunami Aceh Desember 2004 adalah adzab dari Allah.
>
> Penulis berharap hasil survei itu tidak demikian. Namun, seandainya survei
> menunjukkan anggapan itu memang sudah terjadi pada sebagian kalangan saja,
> kalaupun tidak pada sebagian besar umat, maka sudah saat ini kita membedah
> wacana bencana yang dimaknai sebagai adzab itu dengan serius. Mengapa
> demikian?
>
> Ancaman tsunami telah menjadi wacana yang menutup pikiran umat untuk
> beriman dengan ilmu. Kalaupun belum bisa dikategorikan membodohi umat,
> wacana yang dikembangkan oleh pemimpin pemerintahan dan sejumlah pendakwah
> tentang tsunami cenderung membawa umat kepada pada situasi makin tertinggal
> dari umat dan bangsa lain dalam menjalani kehidupan di dunia dengan segala
> konsekuensinya.
>
> Tayangan-tayangan gambar berita televisi jelas menunjukkan betapa gempa
> dan tsunami Jepang 2011 tidak kalah dahsyatnya dengan gempa dan tsunami
> yang dialami warga Aceh NAD pada Desember 2004. Namun, dengan menggunakan
> akal yang sudah diwujudkan di dalam sistem, teknologi dan kesadaran warga
> berkat hasil sosialisasi yang sistematis, jumlah korban jiwa dari gempa dan
> tsunami Jepang hanya sekitar 20.000 jiwa. Sementara tsunami yang melanda
> Aceh tahun 2004 dengan jumlah warga yang tinggal di kawasan pantai yang
> dilanda bencana tsunami lebih sedikit dibanding Jepang, jumlah korban
> jiwanya melebihi 200.000, atau lebih dari sepuluh kali lipat dari korban
> tsunami Jepang.
>
> Gempa dan tsunami adalah sunnatullah yang seharusnya dipelajari dengan
> ilmu pengetahuan, bukan dihadapi dengan keimanan buta yang merupakan cara
> beriman yang tidak sesuai dengan sunnah Rasul. Hadist Nabi jelas
> mengingatkan bahwa tidak berguna beriman kalau tidak dengan ilmu.
> Sementara, di dalam Al-Qur’an berulang-ulang diingatkan agar kita berpikir,
> agar kita berakal, agar kita merenung dan agar kita meneliti kerajaan
> langit dan bumi ciptaan Allah. Belum lagi hadist-hadist yang menyuruh umat
> agar menuntut ilmu dan menggunakan ilmu untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.
>
> Membiarkan, apalagi ikut membuat, umat memaknai suatu gejala alam dengan
> menutup minat pada ilmu pengetahuan jelas akan membawa umat kepada kerugian
> yang nyata. Jika kita yang bermukim di kawasan-kawasan rawan bencana tidak
> berusaha mempelajari hukum-hukum pergerakan alam tentu kita tidak bisa
> meminimalisasi dampak yang mengancam jiwa dan harta hasil jerih payah kita
> akibat dari kejadian alami itu. Malahan, karena kita tidak memiliki sistem
> an teknologi yang diperlukan, sementara ada bangsa lain yang memiliki, kita
> terpaksa menjadi bangsa penerima belas kasihan.
>
> Oleh karena itu, menyebarkan wacana yang memaknai bencana akibat
> pergesekan besar lempengean bumi, semburan panas dari perut  bumi dan
> sebagainya berikut gerak fisika yang ditimbulkannya, sebagai  adzab,
> jelas membawa orang beriman tanpa mendatangkan manfaat. Di satu sisi, orang
> yang menelan wacana ini mungkin makin percaya pada kekuasaan Allah melalui
> bumi dan langit ciptaanNya. Tetapi, di sisi lain, umat yang beriman seperti
> ini akan kehilangan kesempatan untuk hidup lebih lama dan lebih aman,
> karena kesempatan itu memang diberikan Allah lewat ilmu pengetahuan. Patut
> direnungkan juga, apabila cara mengajak beriman seperti ini mengakibatkan
> ratusan ribu orang kehilangan kesempatan itu, bagaimana
> pertanggungjawabannya kelah di hadapan Allah.
>
> Para pemimpin politik dan pemerintahan, dan para pendakwah, janganlah
> menggunakan ukuran yang keliru dalam memperlihatkan kemajuan keimanan umat.
> Peningkatan kualitas keimanan bukanlah dari makin banyaknya orang yang
> menitikkan air mata karena khusuk berzikir dan membaca asma’ul husnah,
> makin ramainya ibu-ibu berkumpul dalam majelis taklim, makin banyaknya
> anak-anak sekolah mengikuti pesantren kilat, dan sebagainya. Ukuran yang
> lebih penting dalam kemajuan kualitas iman adalah membuat penerapan rukun
> iman makin ditopang oleh penggunakan akal sehat dan ilmu yang bermanfaat
> bagi orang banyak.
>
> Pemaknaan bencana alam, seperti gempat dahsyat dan tsunami, sebagai adzab
> selama ini jelas tidak bisa dicocokkan dengan isi Al-Qur’an yang
> menceritakan turunnya adzab Allah kepada sejumlah kaum di jaman nabi-nabi.
> Adzab itu memang ada, tetapi jelas berbeda dengan bencana gempa dan tsunami
> yang dialami umat dalam beberapa tahun terakhir ini. Gempa dan tsunami itu
> tidak bisa disamakan dengan adzab Allah yang diturunkan kepada kaum ‘Ad di
> jaman Nabi Nuh, kepada pengikut Fir’aun di jaman Nabi Musa, kepada kaum
> Samud atau kepada kaum Lut. Meski adzab itu diberikan dengan menggunakan
> kekuatan alam, seperti angin kencang (kaum ‘Ad), hujan batu (kaum Lut),
> hujan mahalebat ditambah semburan air dari perut bumi, petir (kaum Samud),
> selain laut yang terbelah, semuanya bukan dalam bentuk pergerakan alam yag
> berupa mukzizat yang tidak bisa dijelaskan dengan akal manusia. Semuanya
> itu berbeda dengan gempa bumi atau tsunami yang dijadikan oleh sejumlah
> pemimpin dan pendakwah sebagai tanda-tanda datangnya adzab Allah, bahkan
> ada yang langsung mengatakan itu adalah adzab Allah.
>
> Kriteria kaum yang mendapat adzab dengan kekuatan alam yang tidak
> terjangkau pikira manusia itu juga jelas disebutkan di dalam Al-Qur’an,
> yakni mereka yang melakukan kezaliman, atau perbuatan yang melampaui batas
> (lihat QS Al-Qasas: 59, dan Saba’ 17). Semua adzab itu juga dalam rangka
> Alllah menolong Rasul-Rasulnya yang hampir putus asa menghadapi orang-orang
> musyrik, fasik, kafir dan munafik yang perbuatannya sudah melampaui batas.
>
> Masyarakat Nanggro Aceh Darussalam (NAD) dan masyarakat Sumatera Barat
> jelas jauh dari kriteria orang-orang yang patut mendapat adzab seperti itu.
> Di samping itu, gempa dan tsunami jelas adalah gejala alam yang bisa
> dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tentang gejala alam
> yang logis ini telah dijadikan oleh bangsa-bangsa lain, seperti Jepang,
> untuk menggunakan akal mereka lebih lanjut  guna menghasilkan teknologi
> pendeteksi gempa dan tsunami, dan ilmu manajemen bencana yang membuat
> mereka bisa mengurangi 90 persen korban jiwa apabila ilmu itu tidak
> dimiliki dan diterapkan. Apakah kita mau membiarkan umat kita hanya
> memiliki kemampuan menyelematkan diri 10 persen seperti yang terjadi di
> Aceh, atau yang memiliki kemampuan sebaliknya seperti di Jepang, dengan
> kemampuan menyelamatkan diri 90 persen? Pilihan ini banyak bergantung  kepada
> para cara pemimpin dan pendakwah mengajak orang beriman setelah umat
> mengalami bencana alam.
>
>
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke