Sdr Andrinof dkk,
 
Bgmn pemahaman Anda tentang ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan bencana alam 
yang saya siterkan sebelumnya: "Zhaharal fasaadu fil barri wal bahri bimaa 
kasabat aidinnaas. Telah nyata kerusakan di daratan dan di lautan akibat dari 
tangan2 manusia." Bukankah Allah mengazab manusia karena perbuatan 
tangan-tangannya yang merusak itu?
 
Coba Anda ulas dan komentari.
 
MN111227 
 

________________________________
 From: Andrinof A Chaniago <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Tuesday, December 27, 2011 5:13 PM
Subject: Re: [R@ntau-Net] Bencana Alam Bukan Adzab!
 

Pak Asmardi nan ambo hormati;
Tarimo kasih banyak. Barakallah.. Semoga baguno untuk pambaco di milis ko. amin.
Salam hormat,

Andrinof



2011/12/23 Asmardi Arbi <[email protected]>

 
>Assalamu'alaium wr.wb. 
>  
>Bung Andrinof, kita sering mendengar para Da'I atau 
Khatib menyampaikan bahwa Bencana Alam ( musibah )adalah merupakan 
Peringatan , Ujian dan Adzab  yang diturunkan Allah SWT dan sudah 
tertulis sebelumnya.di Lauful Mahfud .  Peringatan, Ujian dan Adzab itu 
diturunkan Allah sesuai dengan tingkatan pelanggaran umat manusia atas 
perintah2 
dan larangan Allah SWT.  Adzab adalah tingkat kemarahan Allah SWT yang baru 
diturunkan kepada umat manusia karena Peringatan2 dan Ujian belum juga cukup 
untuk dipedulikan/diperhatikan. 
>  
>Kisah -kisah berbagai bencana pada masa nabi-nabi acap 
kita dengar dari para Da'I atau kita baca sendiri didalam Al Qur'an dan selalu 
ada kaitannya dengan pelanggaran2 umat manusia dijamannya termasuk kerusakan 
moral dan akhlak. Apa secara kebetulan, hampir semua bencana yang terjadi di 
Tanah Air kita ada kaitannya dengan pelanggaran2 terhadap perintah dan larangan 
Allah SWT  , seperti Korupsi, melanggar sumpah, berkhianat, dusta, 
pembunuhan, perzinahan, pornografi, perjudian ,minuman keras, Narkoba, illegal 
loging...dst yang semakin marak dewasa ini?   
>  
>Saya kira menuntut atau mengembangkan ilmu  juga 
diperintahkan Allah SWT bukan? Mencari harta sebanyak2nya juga dianjurkan 
tetapi 
yang halal dan tayyib, bukan dengan cara KKN?   Tapi itu juga 
dilanggar tidak diperhatikan manusia. Titik berat tugas para Da'I saya pikir 
adalah memperbaiki iman ,akhlak dan moral. Sedangkan pengembangan ilmu 
Pengetahuan dan Teknologi  adalah titik berat tugas para Cendekiawan 
Muslim, Namun keduanya harus bersinergi , saling mengisi, sebaiknya bukan 
saling 
menyalahkan. 
>  
>Wassalam dan maaf bilo ndak suai. 
>  
>Asmardi Arbi 70, Kampai, Tangsel. 
>  
>
> 
>From: Andrinof A Chaniago  
>Sent: Friday, December 23, 2011 9:11 AM 
>To: [email protected]  
>Subject: [R@ntau-Net] Bencana Alam Bukan Adzab!
>
> 
>Padang Ekspres, 19 Desember 2011 
>  
>Beriman (yang 
Berkualitas) 
>Paska Bencana 
>Oleh Andrinof A 
Chaniago 
>Anggota Dewan 
Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat 
>  
>Semenjak Peristiwa Gempa 30 
September 2009 (PG 30S09), ancaman bencana alam, terutama tsunami, telah 
menjadi 
bahan yang digemari oleh sejumlah pendakwah dan pemimpin yang ingin merangkap 
sebagai ulama. Namun, yang patut mulai disayangkan dalam menggunakan ancaman 
bencana sebagai wacana untuk mengajak orang meningkatkan keimanan adalah 
munculnya cara beriman yang tidak menjunjung akal sekaligus tanpa landasan 
dalil 
naqli yang tepat dari Al-Qur’an maupun Hadist. Cara yang tidak menjunjung akal 
sehat dan tanpa landasan dalil naqli yang tepat tadi jelas tampak dengann makin 
gencarnya sejumlah tokoh mewacanakan bancana alam seperti gempat dahsyat dan 
tsunami sebagai adzab dari Allah SWT.  
>Perhatikanlah pesan yang tertulis 
di spanduk dengan bunyi berikut ini, “Menghimbau warga masyarakat  agar selalu 
meningkatkan keimanan dan ketakwaan dalam mengurangi risiko 
bencana dan adzab Allah SWT.” Pesan ini memang tidak secara tegas menyebut 
bencana sebagai adzab Allah dan juga tidak menekankan arti keimanan dan 
ketaqwaan dalam pada kegiatan memperbanyak ibadah zikir, membaca Al-Qur’an, 
membaca Asma’ul Husnah dan memperbanyak mengerjakan shalat-shalat sunnah. 
Tetapi, jika dihubungkan dengan program kegiatan mobilisasi kegiatan keagamaan 
yang dilakukan pemerintahan daerah dan isi khotbah-khotbah sejumlah pendakwah 
di 
Sumbar, khususnya di Kota Padang,  pesan spanduk tadi jelas 
akan memperkuat wacana yang memaknai bencana alam sebagai adzab Allah. Mungkin 
sekali, seandainya saat ini dilakukan survei kepada warga Sumbar atau Kota 
Padang, sebagian besar umat yang belum pernah menggali dalil naqli maupun dalil 
aqli tentang bencana yang bisa dikategorikan sebagai adzab akan percaya bahwa 
G30S09 Sumbar dan Tsunami Aceh Desember 2004 adalah adzab dari Allah.  
>Penulis berharap hasil survei itu 
tidak demikian. Namun, seandainya survei menunjukkan anggapan itu memang sudah 
terjadi pada sebagian kalangan saja, kalaupun tidak pada sebagian besar umat, 
maka sudah saat ini kita membedah wacana bencana yang dimaknai sebagai adzab 
itu 
dengan serius. Mengapa demikian? 
>Ancaman tsunami telah menjadi 
wacana yang menutup pikiran umat untuk beriman dengan ilmu. Kalaupun belum bisa 
dikategorikan membodohi umat, wacana yang dikembangkan oleh pemimpin 
pemerintahan dan sejumlah pendakwah tentang tsunami cenderung membawa umat 
kepada pada situasi makin tertinggal dari umat dan bangsa lain dalam menjalani 
kehidupan di dunia dengan segala konsekuensinya.  
>Tayangan-tayangan gambar berita 
televisi jelas menunjukkan betapa gempa dan tsunami Jepang 2011 tidak kalah 
dahsyatnya dengan gempa dan tsunami yang dialami warga Aceh NAD pada Desember 
2004. Namun, dengan menggunakan akal yang sudah diwujudkan di dalam sistem, 
teknologi dan kesadaran warga berkat hasil sosialisasi yang sistematis, jumlah 
korban jiwa dari gempa dan tsunami Jepang hanya sekitar 20.000 jiwa. Sementara 
tsunami yang melanda Aceh tahun 2004 dengan jumlah warga yang tinggal di 
kawasan 
pantai yang dilanda bencana tsunami lebih sedikit dibanding Jepang, jumlah 
korban jiwanya melebihi 200.000, atau lebih dari sepuluh kali lipat dari korban 
tsunami Jepang. 
>Gempa dan tsunami adalah 
sunnatullah yang seharusnya dipelajari dengan ilmu pengetahuan, bukan dihadapi 
dengan keimanan buta yang merupakan cara beriman yang tidak sesuai dengan 
sunnah 
Rasul. Hadist Nabi jelas mengingatkan bahwa tidak berguna beriman kalau tidak 
dengan ilmu. Sementara, di dalam Al-Qur’an berulang-ulang diingatkan agar kita 
berpikir, agar kita berakal, agar kita merenung dan agar kita meneliti kerajaan 
langit dan bumi ciptaan Allah. Belum lagi hadist-hadist yang menyuruh umat agar 
menuntut ilmu dan menggunakan ilmu untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. 
>Membiarkan, apalagi ikut membuat, 
umat memaknai suatu gejala alam dengan menutup minat pada ilmu pengetahuan 
jelas 
akan membawa umat kepada kerugian yang nyata. Jika kita yang bermukim di 
kawasan-kawasan rawan bencana tidak berusaha mempelajari hukum-hukum pergerakan 
alam tentu kita tidak bisa meminimalisasi dampak yang mengancam jiwa dan harta 
hasil jerih payah kita akibat dari kejadian alami itu. Malahan, karena kita 
tidak memiliki sistem an teknologi yang diperlukan, sementara ada bangsa lain 
yang memiliki, kita terpaksa menjadi bangsa penerima belas kasihan. 
>Oleh karena itu, menyebarkan 
wacana yang memaknai bencana akibat pergesekan besar lempengean bumi, semburan 
panas dari perut  bumi dan sebagainya berikut gerak fisika 
yang ditimbulkannya, sebagai  adzab, jelas membawa orang 
beriman tanpa mendatangkan manfaat. Di satu sisi, orang yang menelan wacana ini 
mungkin makin percaya pada kekuasaan Allah melalui bumi dan langit ciptaanNya. 
Tetapi, di sisi lain, umat yang beriman seperti ini akan kehilangan kesempatan 
untuk hidup lebih lama dan lebih aman, karena kesempatan itu memang diberikan 
Allah lewat ilmu pengetahuan. Patut direnungkan juga, apabila cara mengajak 
beriman seperti ini mengakibatkan ratusan ribu orang kehilangan kesempatan itu, 
bagaimana pertanggungjawabannya kelah di hadapan Allah. 
>Para pemimpin politik dan 
pemerintahan, dan para pendakwah, janganlah menggunakan ukuran yang keliru 
dalam 
memperlihatkan kemajuan keimanan umat. Peningkatan kualitas keimanan bukanlah 
dari makin banyaknya orang yang menitikkan air mata karena khusuk berzikir dan 
membaca asma’ul husnah, makin ramainya ibu-ibu berkumpul dalam majelis taklim, 
makin banyaknya anak-anak sekolah mengikuti pesantren kilat, dan sebagainya. 
Ukuran yang lebih penting dalam kemajuan kualitas iman adalah membuat penerapan 
rukun iman makin ditopang oleh penggunakan akal sehat dan ilmu yang bermanfaat 
bagi orang banyak.  
>Pemaknaan bencana alam, seperti 
gempat dahsyat dan tsunami, sebagai adzab selama ini jelas tidak bisa 
dicocokkan 
dengan isi Al-Qur’an yang menceritakan turunnya adzab Allah kepada sejumlah 
kaum 
di jaman nabi-nabi. Adzab itu memang ada, tetapi jelas berbeda dengan bencana 
gempa dan tsunami yang dialami umat dalam beberapa tahun terakhir ini. Gempa 
dan 
tsunami itu tidak bisa disamakan dengan adzab Allah yang diturunkan kepada kaum 
‘Ad di jaman Nabi Nuh, kepada pengikut Fir’aun di jaman Nabi Musa, kepada kaum 
Samud atau kepada kaum Lut. Meski adzab itu diberikan dengan menggunakan 
kekuatan alam, seperti angin kencang (kaum ‘Ad), hujan batu (kaum Lut), hujan 
mahalebat ditambah semburan air dari perut bumi, petir (kaum Samud), selain 
laut 
yang terbelah, semuanya bukan dalam bentuk pergerakan alam yag berupa mukzizat 
yang tidak bisa dijelaskan dengan akal manusia. Semuanya itu berbeda dengan 
gempa bumi atau tsunami yang dijadikan oleh sejumlah pemimpin dan pendakwah 
sebagai tanda-tanda datangnya adzab Allah, bahkan ada yang langsung mengatakan 
itu adalah adzab Allah.  
>Kriteria kaum yang mendapat adzab 
dengan kekuatan alam yang tidak terjangkau pikira manusia itu juga jelas 
disebutkan di dalam Al-Qur’an, yakni mereka yang melakukan kezaliman, atau 
perbuatan yang melampaui batas (lihat QS Al-Qasas: 59, dan Saba’ 17). Semua 
adzab itu juga dalam rangka Alllah menolong Rasul-Rasulnya yang hampir putus 
asa 
menghadapi orang-orang musyrik, fasik, kafir dan munafik yang perbuatannya 
sudah 
melampaui batas. 
>Masyarakat Nanggro Aceh Darussalam 
(NAD) dan masyarakat Sumatera Barat jelas jauh dari kriteria orang-orang yang 
patut mendapat adzab seperti itu. Di samping itu, gempa dan tsunami jelas 
adalah 
gejala alam yang bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan 
tentang gejala alam yang logis ini telah dijadikan oleh bangsa-bangsa lain, 
seperti Jepang, untuk menggunakan akal mereka lebih lanjut  guna menghasilkan 
teknologi pendeteksi gempa dan tsunami, dan 
ilmu manajemen bencana yang membuat mereka bisa mengurangi 90 persen korban 
jiwa 
apabila ilmu itu tidak dimiliki dan diterapkan. Apakah kita mau membiarkan umat 
kita hanya memiliki kemampuan menyelematkan diri 10 persen seperti yang terjadi 
di Aceh, atau yang memiliki kemampuan sebaliknya seperti di Jepang, dengan 
kemampuan menyelamatkan diri 90 persen? Pilihan ini banyak 
bergantung  kepada para cara pemimpin dan pendakwah mengajak 
orang beriman setelah umat mengalami bencana alam. 
>   -- 
>
>.
>* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan 
di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
>* 
Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim 
email.
>===========================================================
>UNTUK 
DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>- DILARANG:
>1. E-mail besar dari 
200KB;
>2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur 
pribadi; 
>3. One Liner.
>- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim 
biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
>- 
Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>- Hapus footer & seluruh 
bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>- Untuk topik/subjek baru buat email 
baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
>===========================================================
>Berhenti, 
bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
>
>-- 
>.
>* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
>wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
>http://groups.google.com/group/RantauNet/~
>* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>===========================================================
>UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>- DILARANG:
>1. E-mail besar dari 200KB;
>2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
>3. One Liner.
>- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
>http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
>- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
>subjeknya.
>===========================================================
>Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
>http://groups.google.com/group/RantauNet/
>
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke