Kanda Jo Buyuang sarato Sanak Sa Palanta Nan Ambo hormati

Selalu ada harga yang harus dibayar kalau Sumatra Barat ingin dijadikan
daerah tujuan wisata. 

Tetapi seperti ulasan Kanda sebelum ini setantang kebijakan Gubernur  Sumbar
yang tidak menutup Jam Gadang di pergantian tahun, kita harus arif
memilah-milahkan perihal  kebijakan Gubernur  yang hendak "menjual" Jam
Gadang sebagai salah ikon pariwisata Sumatra Barat dengan apa yang sering
disebut sebagai "panyakik masyarakaik" yang sering disingkat "pekat".

Pertanyaannya tentu, apakah dengan menutup Jam Gadang di pergantian tahun
"pekat" itu akan berkurang. Jawabannya tentu, seperti sesederhana
pertanyaannya, yaitu "tidak", karena tidak ada penyebab tunggal
masalah-masalah  sosial  dan tidak ada jawaban tunggal pula untuk
mengatasinya. Tidak juga dengan membentuk laskar-laskar partikulir yang
alih-alih memecahkan, malahan sering menjadi penyebab masalah baru. 

Bahwa pariwisata bisa menstimulir "pekat", kita semua tahu jawabannya.
Karena itu pariwisata Sumatra Barat perlu dikembangkan sesuai dengan budaya
dan sistem nilai masyarakat adat yang dirumuskan dengan ABS-SBK, parawisata
yang memakmurkan rakyat badarai, bukan hanya para pemodal atau orang-orang
bekerja di sektor pariwisata saja.

Parwisata yang tidak merusak/merampas hutan, lahan pertanian rakyat serta
pesisir pantai tempat para nelayan kecil menggantungkan kehidupan mereka.

Dalam perspektif ini, pariwisata model Bali tentu bukan model yang perlu
ditiru-tiru atau dikopi begitu saja.

Karena itu saya tidak bosan-bosannya mengingatkan, bahwa jika Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) terakhir (2009) digunakan sebagai mistar,
pariwisata Bali yang sangat gemerlapan itu belum berhasil memakmurkan rakyat
badarai mereka. IPM Provinsi Bali tidak saja lebih rendah daripada IPM
Sumatra Barat, tetapi juga masih berada di bawah rata-rata nasional. 

Akhirul kalam, sebagai cendekiawan dan pemangku  adat yang berwawasan ulama
serta  berpengalaman luas melanglang buana sebagai diplomat, semoga Kanda JB
tidak bosan-bosannya berbagi pengetahuan dan kearifan di Palanta ini.

Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 68+), asal Padangpanjang, tinggal di Depok
Alam Takambang Jadi Guru

 

======================

Re: [R@ntau-Net] Tahun baru di Kiktenggi 
Posted by: "[email protected]" [email protected] 
Sat Dec 31, 2011 3:58 pm (PST) 

Kanakan TR,kalau memperhatikan thread kanakan soal Jam Gadang dipergantian
tahun ini,tampaknyo lai bisa diminalisir  panyakik masyarakaik' komah. Hal
nn dikhawatirkan dek urang palanta atas kebijakan Gubnur Sumbar nn indak
manutuik Jam Gadang,kan indak tabukti. Syukuur.

JB,DtRJ,72,di Bonjer.

NB.Indak maramikan pergantian tahun doh!

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerryR smartphone

-----Original Message-----

From: [email protected]

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke