Barangkali, nan lakeh jalan maminteh: Jaan disikolakan anak-anak awak nan dibanggakan dari daerah penghasil "industri otak" ko, sahinggo kalau lah gadang-gadang anak-anak tu nanti kasadoalahe bisa jadi Masril Koto pulo...:)
-- MakNgah --- In [email protected], ajo duta <ajoduta@...> wrote: > > Baa caronyo mampabanyak Masril di Sumbar, kemudian memberdayakan > nagari seperti konsep pak MN. > > 2012/1/2 Yuhefizar <ephi.lintau@...> > > > trism infonyo Mak...tapi satalah ambo klik link nan email tuh...., nan > > lain nan tabukak...., iko ambo kirimkan lsg berita lengkapnyo. > > > > Masril Koto, Dosen S3 UI yang Tak Tamat SD > > Penampilannya sederhana. Kemana-mana biasa menggunakan baju kaos > > oblong dan sandal jepit. Perawakannya seperti orang Minang umumnya, na > > mun siapa sangka pria yang hanya duduk hingga kelas empat Sekolah > > Dasar ini kini menjadi dosen luar biasa pada program doktor (Strata 3) > > di Univeritas Indonesia. Tak hanya itu, pria kini memiliki omset > > hingga Rp150 miliar ini, juga telah didaulat menjadi konsultan Bank > > Indonesia. Jika ada yang masih ingat, ia bahkan telah menjadi > > salah satu pembicara dan inspirator di program Kick Andy Metro TV. > > > > Saat Haluan sempat berbincang dengannya beberapa saat lalu di Ad News > > Café di kawasan Damar Padang, Masril Koto menggunakan kaos berwarna > > hitam bertuliskan "Jangan Remehkan Masyarakat Miskin" di belakangnya. > > Ternyata memang slogan inilah yang membuatnya berhasil mencapai semua > > yang tak pernah terbayangkan oleh orang lain. > > > > Berasal dari daerah Baso, Masril Koto atau akrab disapa Maih ini kini > > dikenal sebagai orang yang berhasil mendekati masyarakat kecil di > > daerah terpencil dan tertinggal untuk kemudian memberdayakan mereka > > mencapai kehidupan dan perkenomian yang lebih baik. Hal inilah yang > > kemudian selalu diajarkannya kepada para calon doctor besutan UI. > > Bagaimana mendekati dan membangun masyarakat kecil di Indonesia? > > > > "Berangkat dari hobi yang dikemas dengan baik. Akhirnya menjadi > > kegiatan yang tak berhenti hingga kini," ujar Masril. > > > > Awalnya pada tahun 2000, Masril yang memang suka bersosialisasi ini > > kerap bergabung dari satu kumpulan kelompok petani ke kelompok petani > > lainnya. Di sanalah ia mulai bergerak. Sebagai permulaan ia membangun > > lembaga keuangan mikro. > > > > "Mendekati orang Minang biasanya akan mudah jika diberitahu ada > > untungnya. Mendengar kata uang biasanya masyarakat akan berkumpul," > > ujarnya. > > > > Dia mengaku bekerja di Lembaga Kewirausahaan Sosial Indonesia. Lembaga > > keuangan ini kemudian dijadikannya sebagai alat untuk mengumpulkan > > masyarakat. Setelah masyarakat berkumpul, di sanalah saya mulai > > bercerita memberikan pemahaman tentang apa saja ke mereka. Mulai dari > > reproduksi perempuan hingga bagaimana menvariasikan makanan untuk > > menghemat beras agar bisa menabung. > > > > "Ya, sebelum kita berikan tanda jadi peminjaman uangnya di lembaga > > keuangan tadi kita ceritakan sedikit misalnya bagaimana cara memeras > > air susu atau tentang kesehatan reproduksi lainnya. Atau dengan > > bercerita sedikit saja mengajak mereka mau memakan pisang sebelum > > makan untuk mengurangi konsumsi beras," jelasnya. > > > > Pendekatan dengan membangun kesadaran ini ternyata lebih ampuh. "Orang > > Minang kalau disuruh berhenti makan nasi pasti langsung mengamuk. Nah, > > kita coba masuk dengan alternatif-alternatif lain seperti itu," > > terangnya. > > > > Ini, baru segelintir cara yang digunakan Masril untuk mendekati > > masyarakat kecil. Kemudian hari diketahui lembaga keuangan mikro yang > > dibangun Masril menjadi acuan bagi pemerintah untuk meletakkan > > berbagai dana hibah untuk pemberdayaan masyarakat. > > > > Dan hal ini, tak hanya dilakukannya di Sumbar, Masril yang kini telah > > menggandeng Garuda Indonesia menjadi mitranya, pun telah terbang ke > > berbagai penjuru negeri melakukan hal yang sama. > > > > Yang paling menarik, menurutnya, ketika ia berada di Pulau Buru, > > Ambon. "Di pulau itu, di bagian pegunungannya, masyarakat perempuan > > tidak mengenal pembalut. Waktu itu saya coba berikan alternatif kepada > > mereka untuk menggunakan kain handuk yang dicuci dengan air sirih > > sebagai pembalut," kenangnya. > > > > Di Pulau ini pula ia kemudian mengajarkan para ibu-ibu memasak rendang > > yang bisa tahan lama, dan sangat berguna bagi mereka masyarakat > > pegunungan. > > > > Bagaimana ia mendekati masyarakat Pulau Buru yang terkenal dengan > > adat membunuh manusia dan menjual anak ini? "Waktu itu saya minta > > bantuan kepada 18 orang mantan tapol yang lebih tahu seluk beluk Pulau > > Buru. Dengan mendekati orang-orang berpengaruh di sini, saya bisa > > mendekati masyarakat lainnya," kenangnya lagi. Melakukan berbagai > > kegiatan sosial, diakui Masril sebagai investasi yang hasilnya tak > > akan pernah merugi. > > > > "Semua penghasilan yang saya dapat saya putarkan kembali untuk > > kegiatan-kegiatan social lainnya. Bagi saya ini semua pekerjaan Tuhan, > > panggilan, dan Ia pula yang mengatur pertemuan saya dengan orang-orang > > yang kemudian membantu saya melakukan kegiatan-kegiatan ini," akunya. > > > > Selain itu, menurut Masril, cara-cara yang digunakan sector ketiga > > ini, akan sangat efektif jika diselipkan oleh pemerintah, sebagai > > sector pertama, dalam menjalankan programnya. "Mengingat kini ada > > sekitar 500 lembaga keuangan di Sumbar yang bisa diberdayakan," ujar > > lelaki yang kini tengan menggarap program sejuta buku bagi petani. > > (Laporan Meidella Syahni/haluan) > > > > On Jan 3, 7:00 am, "Darwin Bahar" <dba...@...> wrote: > > > Ditulis oleh Teguh > > > > > > HALUAN, Selasa, 03 Januari 2012 05:1 > > > > > > Penampilannya sederhana. Kemana-mana biasa menggunakan baju kaos oblong > > dan > > > sandal jepit. Perawakannya seperti orang Minang umumnya, namun siapa > > sangka > > > pria yang hanya duduk hingga kelas empat Sekolah Dasar ini kini menjadi > > > dosen luar biasa pada program doktor (Strata 3) di Univeritas Indonesia. > > Tak > > > hanya itu, pria kini memiliki omset hingga Rp150 miliar ini, juga telah > > > didaulat menjadi konsultan Bank Indonesia. Jika ada yang masih ingat, ia > > > bahkan telah menjadi salah satu pembicara dan inspirator di program Kick > > > Andy Metro TV. > > > > > > (lengkapnya di: > > http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article... > > > 31:masril-koto-dosen-s3-ui-yang-tak-tamat-sd&catid=21:khas&Itemid=91) > > > > > > Wassalam, HDB-SBK (L, 68+) -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
