Assalamulaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dunsanak yang terhormat.


Artikel  "Kesalahan Penggunaan Kata Sapaan dalam Masyarakat Minangkabau" oleh 
Leni Marlina yang dikirimkan oleh sanak Nofend Sutan Mudo, menggugah serta 
mengingatkan dan baik. Tapi terdapat beberapa pernyataan yang perlu kita 
perhatikan dengan cermat seperti; "...............untuk memanggil orang yang 
dihormati atau
yang lebih tua digunakan sidi, sutan,
mamak, anduang, uwai, inyiak, etek, mande dan yang lainnya. Anduang dan uwai 
adalah sapaan untuk orang yang sudah tua atau nenek dari kita
, inyiak untuk kakek, mande untuk saudara perempuan ibu, sidi atau sutan untuk 
menyapa urang sumando (Para suami di Minangkabau), sedangkan kata sapaan mamak 
digunakan
untuk menyapa saudara laki-laki dari ibu..........".

Di ranah Minang dan atau dalam bahasa Minangkabau disamping kata sapaan 
seperti, angku, mamak, mande, amai, waang, kau (dibaca kawu),  juga ada gala 
(gelar) yang juga dipergunakan untuk menyapa dengan cara yang terhormat atau 
beradat, misalnya para lekali yang sudah menikah oleh keluarganya diberi gelar 
seperti; Sutan Muncak, Sutan Pamenan, Sutan Sati, Sutan Bandaro, Sutan Mudo dan 
lain-lain sebagainya. Dan dengan gelar inilah mereka disapa oleh pihak keluarga 
perempuan (terutama) atau oleh orang-orang yang lain.

Di ranah Minang, gelar itu ada juga yang diturunkan dari mamak tapi ada pula 
yang diturunkan dari garis ayah, seperti Sidi, Bagindo dan Sutan. Ini terdapat 
di daerah atau enclave Pariaman. Walaupun kata-kata Sidi, Bagindo dan Sutan 
dipakai untuk menyapa seseorang, tapi kosa kata ini bukanlah kata sapaan, tapi 
adalah gelar yang diturunkan dari ayah ke anak. Dan biasanya, ini juga ada 
hubungannya dengan pitih jemputan.

Banyak yang menarik untuk dilakukan dan dijadikan studi kebudayaan di ranah 
Minang. Oleh sebab itu kami menyarankan kepada Saudari Leni Marlina untuk juga 
melakukan studi sosial budaya ke Pariaman, karena ini tentu menarik ditengah 
etnis yang menganut matrileniar tapi gelar itu diturunkan dari garis ayah ke 
anak. Bagaimana sejarah dan ceritanya. Terima Kasih.


Wassalam,

Ambiar Lani
L/59/Jakarta-Bekasi.

  


________________________________
 From: Nofend St. Mudo <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Sunday, January 8, 2012 11:09 AM
Subject: [R@ntau-Net] Kesalahan Penggunaan Kata Sapaan dalam Masyarakat 
Minangkabau
 

Oleh: LENI MARLINA
Mahasiswa
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
 
BAHASA menunjukan bangsa.
Dengan bahasa yang dipakainya, seseorang akan diketahui dari mana ia berasal.
Hal ini terjadi karena bahasa itu adalah identitas bagi bangsa manapun di
belahan bumi ini. Minangkabau merupakan masyarakat yang menggunakan bahasa 
Minangkabau
untuk berkomunikasi dalam keseharian. Bahasa Minangkabau adalah salah satu anak
cabang dari bahasa Austronesia dengan penutur aslinya adalah suku Minangkabau.
Bahasa Minangkabau dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah berfungsi sebagai 
lambing
kebanggaan daerah Sumatera Barat, dan sebagai alat penghubung masyarakat
Minangkabau saat berkomunikasi sesama mereka. Tapi seiring zaman telah terjadi
perubahanperubahan dalam penggunaan bahasa Minangkabau tersebut.
 
Dahulu
orang Minang adalah masyarakat yang menyapa dengan menggunakan kata ganti sapaan
yang mereka dapat dari nenek moyang mereka sendiri. Misalnya saya dalam bahasa
Minang disebut dengan ambo atau awak,
dia disebut inyo, sedangkan sapaan untuk memanggil orang yang dihormati atau
yang lebih tua digunakan sidi, sutan,
mamak, anduang, uwai, inyiak, etek, mande dan yang lainnya. Anduang dan uwai 
adalah sapaan untuk orang yang sudah tua atau nenek dari kita
, inyiak untuk kakek, mande untuk saudara perempuan ibu, sidi atau sutan untuk 
menyapa urang sumando (Para suami di Minangkabau), sedangkan kata sapaan mamak 
digunakan
untuk menyapa saudara laki-laki dari ibu. Dengan memakai semuan sapaan ini,
kita bisa membedakan di mana posisi orang yang kita ajak bicara, dan seperti
apa kita harus menghormati orang tersebut. Oleh sebab itu, di Minangkabau
dikenal istilah kato mandaki untuk orang yang lebih tua, kato
malereang untuk orang yang dihormati atau disegani, kato manurun untuk yang 
lebih muda dan kato
mandata untuk mereka yang seumuran.
 
Tapi
akhir-akhir ini, seiring perkembangan zaman, sapaan seperti yang disebutkan di
atas sudah jarang sekali kita dengar. Para remaja Minang seakan–akan tidak tahu
atau malah tidak mau tahu dengan hal-hal seperti itu. Anak muda sekarang semakin
hari seperti semakin kehilangan bahasa nenek moyang mereka. Bahasa yang menjadi
identitas ini perlahan-lahan hilang diterjang arus modernisasi. Zaman 
benar-benar
telah mengubah mereka sehingga hampir benar-benar meninggalkan bahasa ibu 
tersebut.
Dalam keseharian, mereka lebih senang mengganti sapaan yang sudah ada dengan
sapaansapaan baru yang bukan berasal dari bahasa Minangkabau.
 
Dahulu
orang Minangkabau menggunakan sapaan, aden,
denai, waden, atau ambo untuk kata ganti diri dan untuk orang
lain mereka menggunakan sapaan kau atau waang. Sekarang kata ganti diri itu 
sudah
jarang digunakan. Jika namanya Arif, saat berbicara dengan orang lain dia lebih
senang menggunakan nama sendiri dari pada memakai kata ganti awak atau ambo, 
misal “ Arif dak mau dow”
katanya. Lebih mirisnya lagi, ada di antara mereka yang menggunakan kata sapaan
tidak sesuai dengan kata sapaan yang ada di Minangkabau, contohnya banyak
remaja perempuan yang memanggil waang pada teman sejenis atau sahabat
perempuannya atau  sebaliknya remaja laki-laki
menyebut wakau pada teman laki-lakinya, padahal dalam bahasa Minang kau 
harusnya dipakai
untuk perempuan dan waang untuk kaum laki-laki.
 
Semua
kesalahan pemakaian bahasa oleh remaja yang telah disebutkan di atas terjadi 
karena
lemahnya penguasaan bahasa daerah yang mereka punya. Selain itu, realita ini
juga disebabkan karena peraturan tegas untuk wajib menggunakan bahasa daerah
atau bahasa Minangkabau sepertinya tidak pernah diterapkan dengan baik. Memang
ada pelajaran budaya alam Minangkabau (BAM) di sekolah-sekolah, tetapi dalam
proses belajar mengajarnya, guru dan siswa terkadang masih menggunakan bahasa 
Indonesia,
dan mata pelajaran tersebut hanya digunakan sebagai pelengkap. Rendahpun 
kemampuan
dalam berbahasa Minangkabau tidak akan menjadi penghalang untuk tidak lulus
atau naik kelas.
 
Saat
ini, mereka yang berdiam di kampungkampung sudah banyak terpengaruh oleh budaya
luar yang di dalamnya mencakup pengaruh bahasa. Notabenenya ini mengakibatkan 
kesalahan
dan perubahan dalam pemakaian bahasa daerah. Apalagi bagi mereka yang lahir
atau tinggal di rantau, walaupun merantau hanya dengan jarak Pariaman-Padang
atau Solok- Padang saja, itu sudah cukup membuat bahasa yang mereka pakai
mengalami perubahan. Perubahan terlihat ketika pulang kampung dihari libur atau
lebaran. Dengan bangga, mereka menyebut dirinya dengan sebutan “gw” atau “aku”,
sedangkan kepada orang lain mereka memanggil “kamu” atau “loe”. Bukan sapaan
untuk diri sendiri atau pada teman sebaya saja yang telah berubah dalam diri 
remaja
tersebut, tetapi juga panggilan untuk orang yang lebih tua. Misalnya, mamak 
atau saudara
laki-laki ibunya disapa dengan sebutan Om.
 
Di
Minangkabau, sapaan mamak bukan hanya sekadar panggilan biasa, makna mamak di 
sini memilki
makna yang dalam. Jika seseorang sudah mendapat gelar mamak, ia harus bisa
menjalankan fungsi dalam keluarga inti dan komunalnya dengan baik. Seorang
mamak tidak bisa melimpahkan kewajiban untuk mengayomi anak dan kemenakannya
pada orang lain. Peranan dan fungsi mamak tersebut merupakan kearifan dari
struktur dan budaya masyarakat Minangkabau. Keberadaannya sangat sangat
menentukan eksistensi masyarakat Minangkabau.
Berbeda
dengan Om yang
hanya punya kewajiban dan hak atas anak dan istrinya saja, Om tidak punya 
tanggunga
jawab moral dalam mengayomi kaumnya. Jadi sangat disayangkan sekali jika
panggilan mamak ini tiba-tiba dirubah menjadi Om, karena mamak di sini memiliki
fungsi yang tidak akan pernah bisa disamakan sedikitpun dengan Om. Sampai 
kapanpun mamak tetaplah mamak, dan Om akan tetap
akan menjadi Om. 
 
Menurut
Syamsuri (1985:16), bahasa-bahasa yang tidak lagi dipakai dalam kehidupan
seharihari biarpun masih ada secara tertulis ataupun dalam keadaan tertentu, 
bahasa-bahasa
semacam ini disebut bahasa yang mati.  Berpijak
dari pandangan ini, jika kita masih terus mengabaikan kesalahankesalahan yang
terjadi dalam penggunaan bahasa sepertinya kita hanya menungggu saat bahasa 
daerah
yang kita punya ini menuju ambang kematian.
 
Epaper,
Harian Haluan MINGGU, 8 JANUARI 2012
 
-- 
Wassalam
Nofend | L-35 | CKRG

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke